Pertemanan setahun sekali

Terinspirasi dari Qs. Al-Insyirah ayat 6:

"...Tidaklah Allah mengambil sesuatu dari hamba-Nya kecuali Dia menggantinya dengan yang lebih baik".

Kondisi dimana aku dijahatin sedemikian hebatnya, ditindas, dikucilkan dan difitnah habis-habisan oleh rekan kerja satu tim, kemudian Allah ganti yang jahat dengan orang-orang baik seperti Kak Leni, Kak Ica, Hesti, Rani dan Mella. 

Foto terupdate saat buka puasa di Restaurant Seafood Seanayan

Aku pikir setelah resign dan memilih menetap di kampung halaman, komunikasi dengan eks rekan kerja hanya akan sebatas aktivitas basa-basi. Kalaupun sempat, mungkin sesekali sekedar saling sapa di pesan singkat. Tapi nyatanya, mereka tetap hadir, mengisi kolom komentar di Instagram, mengirim DM atau pesan WhatsApp, dan tak pernah lupa bertanya "Kapan balik?..." atau sekedar,"...Tar kalau udh di Jakarta berkabar ya, meet-up kita".

day by day and it was happened!

Resto Tiongkok: Imperial Kitchen Dimsum

Rasanya melelahkan jika harus menemui satu per satu dari mereka. Sebelum aku kembali ke Jakarta, muncul ide sederhana: Kenapa tidak mempertemukan semuanya dalam satu waktu saja? Sekalian 'curi' sedikit waktu istirahat makan siang mereka serta memboyong bayiku ke De Entrance Arkadia yang berada TB Simatupang-Jakarta Selatan, kawasan yang pernah menjadi tujuan GOJEK ku selama 5 tahun bekerja disana.

Berawal dari pertemuan di Arkadia

Sebelum pertemuan itu terjadi, kenyataannya hubungan kami hanyalah sebatas rekan kerja. Berada di perusahaan yang sama, tapi belum benar-benar saling mengenal satu sama lain. Mungkin satu divisi, tapi beda departemen. Atau pernah bertukar sapa, namun tidak pernah bertukar cerita. Kemudian, semua berubah setelah usai pertemuan ini. Dari yang semula canggung, obrolan mulai mengalir. Tawa kecil hingga pergosipan duniawi seputar lingkungan bekerja pun tampak mencairkan suasana siang itu. Dan siapa sangka, pertemuan tersebut justru menjadi awal dari keakraban yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Beberapa waktu setelahnya, aku melihat mereka semakin dekat. Satu sama lain saling follow akun Instagram, berbalas komentar di postingan foto hingga bertukar hampers saat hari raya, olahraga bareng, tak jarang nongkrong di luar jam kerja. Sampai pada akhirnya, mereka membentuk WhatsApp Group sendiri… tanpa melibatkanku yang sempat menghilang dari media sosial dan sulit dihubungi. 

Semua ini berawal dari pertemananku dengan:

a. Leni Cahyani

Orang pertama yang ku kenal saat ditaruh bekerja di Home Credit Indonesia. 

b. Anisah Mayasari

Teman makan siang yang selalu ada di masa kehamilan. 

Sebelum kami akrab, aku hanya tahu Kak Ica sebagai rekan dari divisi QA yang kemudian berpindah ke tim Trainer. Sesekali kami berpapasan di lorong kantor, sekadar saling sapa dan saling melempar senyum utak. Hingga suatu hari, teman satu tim tiba-tiba pergi begitu saja, meninggalkanku tepat di depan pintu lift saat hendak turun beli makan siang bersama. Di saat bersamaan, Kak Ica tiba-tiba muncul. Ia tampak sedang mencari teman untuk makan siang di area Backyard dan secara random menawarkanku pergi bersama. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan ajakannya. Siapa sangka, momen yang tadinya terasa pahit justru membuka jalan pertemuan dengan seseorang yang begitu hangat, tulus, dan penuh energi positif ini. Sejak hari itu, aku dan Kak Ica semakin dekat bahkan selalu bertemu dijam sarapan dan makan siang bersama. Lucunya lagi, kehamilan anak pertama kami hanya berselang dua minggu saja, seolah semesta tahu bahwa kami ditakdirkan berjalan beriringan dalam fase hidup yang serupa.

c. Rani Eva Dewi

Bukan hanya Kak Ica, Rani pun kemudian menjadi teman makan siang yang mengisi hari-hariku setelah berpindah divisi. Awal mula perkenalan kami terbilang sederhana. Saat piket di akhir pekan, teman-teman cowok dari tim Back Office sering mengajakku istirahat dan cari makan bareng ke luar. Ditinggal oleh 2 orang teman kerja satu tim, Tuhan menggantinya dengan belasan atau bahkan puluhan teman baru yang baiknya Masyaa Allah dan datang di waktu yang bersamaan, salah satunya Rani. 

Selain Kak Leni dan Kak Ica, Rani menjadi bagian dari lingkaran teman baik yang hadir, meski banyak yang bilang:

"Si Wefni nyari temen kok mukanya mirip-mirip semua..."

Bersama Rani, hubungan kami tak lagi sebatas rekan kerja. Aku dan dia mulai sering jadi partner dadakan untuk hal-hal kecil yang ternyata meninggalkan banyak kenangan dan tumbuh lebih dari itu. Seperti jajan kopi di Indomaret, berburu gorengan pagi, makan siang bareng, hingga sholat bareng ke mushola.

Rani bukan sekadar teman belanja yang rela meminjamkan limit kartu kredit saat kami beli tas kembaran di PIM. Ia juga teman olahraga dengan semangat yang selalu menular, sekaligus partner nonton konser yang rutin mengajakku menonton pertunjukan musik setiap tahun. Semakin lama, ia bukan hanya menjadi rekan kerja atau sahabat biasa, tapi sudah seperti adik sendiri. Tempat berbagi cerita, keluh kesah, dan tawa di tengah hiruk-pikuk dunia kerja yang sering terasa melelahkan.

d. Hertati Ratna Kusuma

Sama halnya dengan Rani, aku pertama kali mengenal Hesti karena sering main bareng anak-anak BO di akhir pekan. Awalnya cuma ketemu sekali dua kali, tapi entah kenapa langsung merasa nyambung dan satu frekuensi. Rasa itu semakin kuat setiap kali kami menghabiskan waktu bareng, ke Dufan, nonton film horor tengah malam sampai ke XXI ITC Depok, buka puasa hingga karaokean di Kawasan Fatmawati Jakarta Selatan. Pokoknya bersama mereka, aku merasa punya ruang aman. Lingkaran pertemanan yang sehat, suportif, dan apa adanya. Jauh dari atmosfer meja kerja yang kadang kaku, penuh formalitas, dan basa-basi. Di antara tawa dan kejujuran yang kami bagi, aku merasa benar-benar diterima.

Menariknya, selain Kak Ica, Hesti juga menjadi teman hamilku. Bedanya cuma seminggu doang. Kebayang nggak sih, tiap jam makan siang kita jalan bertiga kayak rombongan emak-emak baru, susur lantai LG Plaza Oleos dalam keadaan busung? LOL

e. Mella Harmelia Putri

Mungkin aku adalah teman pertama Mella saat ia pindah dari Kantor Region ke Head Office di Jakarta. Semua berawal dari kebiasaanku melakukan video call dengan salah satu rekan tim di Denpasar. Namanya Meri, anak FOA dari cabang sana. Jauh sebelum pandemi dan tren WFH, kami memang sudah akrab lewat panggilan daring seperti Zoom Call atau Video Conference yang jadi rutinitas. Dari situlah, sosok Mella mulai sering muncul di layar, kadang sekadar lewat, menyapa atau ikut nimbrung sebentar.

Aku dan Mela pun sempat beberapa kali saling menyapa via Lync kantor. Tapi titik kedekatan yang sesungguhnya terjadi saat aku berlibur ke Bali dan mengatur janji temu, bukan hanya dengan Meri dan adiknya, tapi juga mengajak Mella, Anin, dan beberapa teman Region lainnya. Bertemu di salah satu klub malam di kawasan Seminyak, malam itu terasa seperti pertemuan antar dunia yang selama ini hanya terjadi lewat layar. Menyenangkan sekali bisa membawa hubungan kerja virtual ke dalam realita yang lebih hangat dan seru.

Baca selengkapnya: https://wfnazlen.blogspot.com/2017/09/menikmati-pojok-seminyak-di-malam-hari.html

Lucunya, jauh-jauh ketemu di Bali eh kironyo Urang Muaro Paneh-Solok. 

f. Dian Wijayanti

Nah selama masa kehamilan, frekuensi ku makan di Backyard jadi tak sesering biasanya. Kak Ica pun lebih sering mengajakku sarapan atau makan siang di pantry. Hingga suatu hari, ia mengenalkanku pada seorang Senior Finance yang bertugas mengurus gaji karyawan HCI. Dari perkenalan singkat itu, aku dan Mba Dian—begitu aku memanggilnya jadi kerap janjian makan siang bersama di luar gedung kantor, terutama saat kelas training Kak Ica sedang padat.

Kami punya misi yang sama: berburu makanan enak di sekitar Arkadia. Nasi Iga Bakar, Ikan Pecak, dan Ayam Sambel Penyet jadi trio kuliner andalan yang seolah wajib kami datangi di siang hari. Momen-momen sederhana ini pelan-pelan jadi ikatan pertemanan yang menyenangkan, dibangun dari selera makan dan obrolan hangat di sela-sela jam kerja.

g. Avril Lavenia

Sebelum kak Leni dan Avril akrab seperti sekarang, aku terlebih dahulu bertemu hingga kerap menghabiskan olahraga bersama di Gedung Arkadia, kadang nyusulin ke Lantai 9 untuk makan siang bareng Avril. Yap, dia teman IT cewek yang ku kenal setelah kak Leni yang sebelumnya berasal dari Operations pindah ke Departement IT, dan siapa sangka jadi akrab kini se-project bareng hingga di beberapa kesempatan, meskipun Avril dan Mba Dian tidak masuk ke dalam WAG (i don't know the reason why) bentukan Rani, namun ia kerap dilibatkan untuk Poundfit bareng ke AEON Mall. 

Kemudian, hal-hal lainnya pun terus berlangsung hingga tradisi pertemuan sekali setahun mulai diselenggarakan.

Tahun 2023: Di rumah Mella, kawasan Jati Asih-Bekasi

Kompak mengenakan atasan putih dan celana gelap, tanpa aku.

Tahun 2024: mall-to-mall

A. Kota Kasablanka

Pertemuan ini diinisiasi sebagai bentuk sambutan atas keputusanku for good kembali bekerja di Jakarta. Maka sore itu, sepulang jam kantor, kami sepakat untuk berkumpul. Lokasi pun dipilih di salah satu mal di bilangan Jakarta Selatan.

Anggota WhatsApp Group MINORITAS yang selama ini hanya saling sapa lewat layar, akhirnya dipertemukan secara langsung. Dan tempat makan pertama yang kami tuju untuk merayakan momen reuni ini adalah:

Resto Jepang: SUSHI TEI

Baca selengkapnya: https://wfnazlen.blogspot.com/2024/02/sushi-tei.html

Restoran Prancis: MONSIEUR SPOON 

Setelah menghabiskan banyak waktu untuk berbagi cerita sekaligus makan malam dengan sesi deep talk di sebuah restoran Jepang di lantai 1, kami pun melanjutkan pertemuan ini dan berpindah ke lokasi berikutnya. Kali ini, tujuan kami adalah sebuah tempat yang tengah viral karena sajian makanannya yang unik dan ramai dibicarakan di media sosial.

yang lagi viral: #CROMBOLONI 

Cromboloni yang dijual di Monsieur Spoon lantai Ground Kota Kasablanka (Kokas) kini sedang jadi perbincangan hangat. Kue ini sering muncul di FYP TikTok, menjadikannya salah satu tren kuliner yang sulit dilewatkan begitu saja. Bagi aku yang bisa dibilang kudet alias kurang update soal makanan hits, kesempatan jalan bareng teman-teman untuk mencicipinya jadi semacam upgrade pengetahuan. Setidaknya, kini aku tahu apa yang sedang hype di kalangan foodies. Sebelumnya, aku hanya sempat melihat video-video shorts dari selebgram yang rela belepotan makan croissant lumer ini demi memberikan review tentang si croissant viral tersebut.

Baca selengkapnya: https://wfnazlen.blogspot.com/2024/02/nyoba-jajanan-cromboloni-viral.html 

B. AEON Mall Tj. Barat

Setelah cukup lama hiatus dari hingar-bingar kehidupan metropolitan, perlahan aku kembali eksis seperti dulu. Usai bertemu dengan Rani dan teman-teman di Kokas, kali ini giliran Mall AEON Tanjung Barat, yang terletak di perbatasan Jakarta Selatan dan Depok, yang menjadi tujuan kami selanjutnya. Kali ini bukan untuk nongkrong, kami datang untuk berolahraga.

Rani memilih tempat itu sebagai spot olahraga, lalu disusul oleh kak Leni dan Avril yang masih bekerja di kantor lama, berbeda dengan aku, Hesti, dan Mella yang sudah berpindah haluan ke perusahaan lain. Karena letaknya dekat dengan kantor kami dulu, mall ini pun jadi titik temu ideal. Bukan untuk hangout atau membicarakan masa lalu, tapi kami datang demi mengikuti sesi Poundfit, olahraga kardio yang kini tengah naik daun di kalangan pekerja kantoran dan kaum urban.

Baca selengkapnya: https://wfnazlen.blogspot.com/2024/01/jajal-olahraga-poundfit-yang-lagi-tren.html

Usai mengurangi kalori, kemudian diisi kembali dengan makanan berat di malam hari adalah segelintir kegiatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang yang menjadikan olahraga sebagai alasan untuk bertemu teman lama. 

Resto Korea: Chadol Gujeolpan

Usai olah tubuh di lantai 4 kemudian masuk ke resto Korea di lantai dasar!

Resto Seafood: Sentosa Senayan

Seiring meningkatnya intensitas pertemuan, anggota WAG: MINORITAS AJA tampaknya mulai sepakat untuk mengadakan agenda kumpul minimal setahun sekali. Beberapa tetap rutin kutemui, seperti Avril yang biasanya hanya kujumpai di kelas kardio dan Mbak Dian yang belakangan ini sudah jarang muncul. Namun, Mella, Kak Ica, Rani dan Hesti tetap menjadi wajah-wajah familiar yang wajib dikumpulkan.

Jika di acara buka puasa tahun lalu aku yang berhalangan hadir, maka di tahun 2025 justru gantian: Kak Ica mendadak batal datang karena kondisi kesehatannya.

Malam itu, buka puasa kami dimulai dengan takjil berupa bubur kacang hijau, disusul deretan appetizer seperti hakau, lumpia kulit tahu, dan siomay. Perlahan, satu per satu menu utama dari Sentosa Senayan Seafood pun disajikan: Ada udang bakar, ikan goreng, hingga cumi goreng yang menggugah selera. Sebagai pelengkap, hadir pula sayur-sayuran seperti buncis ebi dan sayur empat raja melengkapi kehangatan pertemuan sekaligus buka puasa kami malam itu.

Yang menarik, tema di pertemuan kali ini kami sepakat menggunakan dresscode bernuansa pink.

Usai huhu-haha bercerita kesana-kemari, emak-emak milenial ini lantas menuju view andalan berlatar gedung-gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Sayangnya, momen matahari terbenam berlatar pemandangan ibukota tak sempat terabadikan karena udah laper duluan. 

Waktu terasa berjalan terlalu cepat, padahal langit Jakarta sedang cantik-cantiknya! Sebagai gantinya, kawasan Parking Elevated di Parkir Timur Gelora Bung Karno yang berada di lantai empat tersebut menjadi ruang bercengkrama singkat sekaligus spot foto dadakan. Meski waktu kami terbatas selepas iftar, tempat ini menjadi saksi kecil hangatnya tawa, cerita yang saling bersahutan dan pertemuan yang tak selalu butuh durasi lama untuk terasa bermakna.

yang lagi viral: Bikin Video #VELOCITY Saat Bukber

Kira-kira tahun depan ada apa lagi ya? 

Comments