Libur akhir tahun
| Momen eksplorasi Kannel bersama Aqila menunggangi kuda di kawasan Pulau Belibis, Solok |
Di akhir tahun 2025, banjir besar melanda sejumlah daerah, Nagari Koto Hilalang salah satunya. Kampung halamanku mendadak dikenal sebagai salah satu wilayah hulu yang disebut-sebut menjadi pemicu meluapnya sungai. Di lini masa, video-video bencana pun berseliweran. Debit air yang tak terbendung menenggelamkan sejumlah kawasan, jembatan roboh hingga rumah-rumah di bantaran sungai beberapa hanyut terbawa arus.
Mulanya situasi mencekam itu sempat membuatku ragu untuk pulang. Namun setelah menimbang banyak hal, aku akhirnya tetap memutuskan membawa Kannel pulang ke kampung halaman.
Beragendakan libur akhir tahun, usai terima rapor semester I papa lantas buru-buru mengunjungi PO Bus antar kota yang terletak di Pondok Pinang-Jakarta Selatan untuk pesan tiket H+1 keberangkatan, dimana sudah sejak lama ia ingin sekali berkendara menggunakan bus sleeper yang kini begitu happening namun malah kami yang bisa merasakannya terlebih dahulu.
Naik bus sleeper
Memilih perjalanan via darat di akhir tahun, lantas ini kali pertama ku berjalan berdua bersama Kannel, tanpa ibu, amak ataupun suami. Ternyata, tidak semenyeramkan yang dibayangkan ketika anak 6,5 tahun ku sudah bisa diajak berkompromi dengan baik. Tidak ada rewel-time, anak tantrum, susah makan, buang air berserakan apalagi mabuk darat. Malahan aku yang tumbang selama di perjalanan. Ia benar-benar menikmati kondisi selama berada di dalam ruang kapsul bertingkat tersebut, sebuah bilik kecil yang didapat oleh masing-masing penumpang Miyor Bus Sleeper Dream Class yang didalamnya tak hanya disediakan bantal dan selimut atau colokan USB, namun ada TV LED kecil yang terkoneksi dengan jaringan internet, bangku pijat, sendal serta cemilan. Dan yah, keberangkatan pukul 10.30 WIB lalu tiba pukul 20.30 WIB. Kira-kira butuh waktu sekitar 27-30 jam selama diperjalanan jalur darat untuk sampai di kampung halaman. Melewati jalan tol, ngantri berjam-jam untuk bisa masuk ke kapal penyebrangan lalu melintasi jalur lintas sumatera, total 6 provinsi terlewati dalam waktu lebih dari satu hari tersebut.
Setelah tiba di kota tujuan, tidur di kamar suami lalu besok paginya pulang ke rumah. Ritual pulang kampung seperti ini kira-kira wajib dilakoni ketika memilih pulang via darat. Setelah 2 tahun lalu meninggalkan rumah panggung yang terpisah di tengah sawah, kini kami kembali menginjakkan kaki di kerikil pekarangan rumah, berlatar pemandangan perbukitan serta hawa rumah yang begitu khas, entah mengapa selalu berhasil membawa pulang seluruh perasaan. Di depan pintu, rupanya ibu sudah menunggu kedatangan kami. Dari kejauhan, ada Kannel berupaya lari sekencang-kencangnya sambil membentangkan tangan menuju sosok oma yang tengah berdiri di ambang pintu. Seketika, pelukan hangat pun terjadi begitu erat, lama dan sangat emosional. Dekapan Kannel seakan mewakili seluruh perasaan yang selama ini tertahan, membuat momen kepulangan itu terasa sangat dramatis sekaligus mengharukan.
Bertemu teman lama
Adegan serupa lantas terjadi pula saat Kannel bertemu dengan Aqila, teman Kelompok Bermain pertama sekaligus anak perempuan dari sahabat kecilku. Pertama saat berpapasan, kedua ketika ia ikut dengan Oma belanja ke warung lalu bertemu lagi. Pelukan gemas yang mereka bagi secara berulang-ulang, spontan dan penuh tawapun terjadi di atas jembatan pada sore hari. Pemandangan lepas rindu yang begitu semarak bikin ibu tak kuasa menahan tawa. Barangkali, itulah pertemuan kembali dua sahabat kecil yang sudah dua tahun terakhir tak pernah saling jumpa.
Banyak yang bilang wajah Kannel mirip sepertiku, kemudian Aqila pun mewarisi bentuk dan perawakan Yosa. Dengan kondisi umur mereka yang hampir berdekatan, seolah potongan kehidupan masa kecil kami yang bertumbuh di rentang akhir tahun 90an menuju awal 2000an kembali terulang oleh keberadaan anak keturunan. Banyak yang bilang jika kehidupan anak-anak sekarang membosankan, identik dengan kehidupan generasi Alpha dibubuhi oleh modernisasi berbarengan dengan penggunaan gawai sebagai gaya hidup, nyatanya tidak begitu menyita waktu mereka. Eranya bahkan mungkin berbeda, nyatanya kebersamaan Kannel dan Aqila tak kalah serunya dengan kami yang tumbuh sebagai generasi milenial. Aktivitas nostalgia di alam seperti berenang, mandi di sungai, main hujan hingga mengaji ka surau masih mewarnai kebersamaan keduanya yang tumbuh di masa sekarang, seolah ada benang merah yang belum benar-benar putus.
Bermain seharian dari pagi ke sore hari, di minggu awal, kedatangan Aqila setiap paginya pun berubah menjadi alarm bangun Kannel selama berlibur di kampung. Kemudian:
a. Bermain air
Kegiatan mandi tampaknya tak lepas dari keseharian.
Mandi hujan, berenang di sungai, ke waterpark bahkan bersorak-sorai di dalam bak air.
Seolah, kegiatan di air menjadi keseruan lain yang tak akan ada habisnya sekalipun hujan datang. Bagi Kannel ataupun Aqila, air yang turun dari langit bukanlah alasan untuk menghambat keseruan bermain melainkan undangan yang datang untuk berlari ke luar rumah, menengadahkan wadah dan wajah, membiarkan pakaian basah sampai tawa pecah di halaman rumah.
Memasuki awal tahun, kegembiraan bermain air menemukan bentuk lain. Mengunjungi waterpark lantas menjadi destinasi berikutnya. Seketika percikan kebahagiaan itu menemukan panggung yang lebih besar, bukan lagi sekedar bak air atau tepian sungai mengalir melainkan turut berenang menggunakan pelampung.
Baca selengkapnya: Berenang di Solok Water Park
Lalu mengapung sambil mengayuh bebek air ke tengah-tengah danau buatan. Air dalam segala bentuknya selalu menjadi ruang bermain Kannel.
b. Menunggang kuda
Bahkan, alam dengan sejuta keindahannya, turut serta memberikan ruang lain untuk Kannel terus bermain. Setelah sibuk berakrab ria dengam air, lalu menunggangi kuda mengitari taman wisata di kota Solok menjadi kesenangan lainnya yang bisa dilakukan saat Kannel menghabiskan libur akhir tahun disini.
c. Menangkap ikan
Seolah lekat dengan ciptaan-Nya, hewan yang hidup di alam menjadi kebahagiaan sekaligus objek buruan bocah 7 tahun ini. Selain menangkap capung, laron, kunang-kunang dan kupu-kupu terbang, menangkap ikan di air kolam turut bagian dari keseharian.
Baca selengkapnya: Kannel si Bolang
| manangkok ikan anak pantau di tabek |
Meromantisir kebersamaan dengan keseruan demi keseruan yang dilakukan berdua membuat aku dan ibu hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka begitu asyik sampai-sampai drama orang ketiga menjadi ancaman kala kehadiran Zayn, adik Aqila hadir diantara mereka. Rupanya anakku yang begitu posesif menganggap itu sebagai rival, padahal jika diberi kesempatan main bertiga sekalipun mereka bisa saja larut dalam kebersamaan. Ibaratnya di sekolah ada Queera, di Solok ada sepupunya dan juga Zidan lalu disini bermain bersama Aqila. Kannel yang tumbuh dengan trauma pertemanan yang berakar di bangku Kelompok Bermain beberapa waktu silam, semakin kesini kerap membatasi diri dengan siapapun orang baru yang hadir dikehidupannya. Namun berminggu-minggu dikampung, ia mulai membuka diri. Tak lagi menganggap Zayn orang yang patut dibenci namun kerap menjaganya karena berusia paling muda diantara mereka bertiga.
Ruang lingkup pun semakin luas, tak hanya terpaku menangkap ikan di kolam rumah masing-masingnya, Kannel mulai bereksplorasi ka tabek di halaman rumah tetangga lain yang memiliki dua anak kecil juga mengajak Balqis sehingga jangkauan pertemanannya pun lebih luas. Ada Dean dan Kak Lara yang rutin berkunjung kembali ke rumah. Sesekali, adik bungsu Yosa juga datang untuk memancing ikan mujair ke rumah. Bahkan kesini-sini, Etek Fatiha dan Alexa mulai welcome ke Kannel sampai-sampai kerap meluangkan waktu di akhir pekan untuk menghabiskan bermain seharian di rumahnya yang terletak di subarang.
e. Mengaji ka surau
Rumah di tapi tang aia, dakek lo dari masajik (read: Bangunan rumah yang terletak di pinggir sungai plus dekat dari mesjid), sebuah lanskap yang akrab baik bagi masa kecilku maupun di generasi Kannel. Walau cuma sebentar, namun sesekali tinggal di kampung benar-benar menjadikan masa kecilnya tak kalah berkesan.
Tak lupa solat saat tengah asyik bermain, lalu berinisiatif membawa mukena saat berkunjung ke rumah kami, beberapa kali Aqila sempat mengajak Kannel ikutan solat jamaah di mesjid, yang menjadi titik kumpulku juga saat bermain bersama ibunya di masa kecil. Dari yang niatnya hanya berlibur sekolah sampai-sampai bulan suci ramadhan sudah di pelupuk mata. Kali ini, ada sedikit drama menyelimuti pertemanan yang mulai terasa membosankan tersebut. Ketika ajakan solat jemaah 40 bareng terasa begitu menggebu-gebu, Kannel yang enggan dengan paksaan memilih menolak saat Aqila terus-terusan mengajak Kannel pergi ke mesjid. Namun, seperti tak ada celah untuk mereka berpisah dan terus sama, meskipun sempat diwarnai perselisihan namun keduanya tetap bermain kembali. Bahkan kali ini Kannel begitu antusias dengan pengalaman baru lainnya. Ia yang semula les private bersama guru Tahfidz, kini bersedia diajak ka surau.
Baca selengkapnya: Ngaji bareng guru Tahfidz di Yayasan Aisyiyah
Di Minangkabau, kebiasaan menyerahkan anak-anak untuk mengaji ka surau sejak usia dini bukan sekadar rutinitas melainkan bagian dari gaya hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap sore tepatnya sebelum azan magrib berkumandang, anak-anak seumuran berbondong-bondong menuju surau, melewati jembatan titian dan berjalan bersama-sama teman sebaya dan didampingi Etek Alexa maupun Kak Lara, kehadirannya seperti keberadaan Kak Mid dikehidupanku 28 tahun yang lalu, dimana sosok pengayom yang selalu menemani kemanapun pergi, pulang dan pergi ke surau. Ketika matahari memunculkan gelagat untuk tenggelam, sebagian ada yang berjalan mengenakan mukena, tanpa kecuali bagi anak cowok seperti Kannel semestinya gagah menggunakan peci dan kain sarung lalu membawa Iqra, duduk bersila, mengeja huruf demi huruf.
Ada hari dimana ia ikut baramulo rukun sumbayang, sebuah tradisi anak kampung yang begitu semangat mendendangkan bacaan solat hingga tajwid. Sedikit bergeming, apa iya masih ada? Namun, warisan budaya ini masih dilestarikan hingga sekarang bahkan sudah ada sejak uwak kecil, lalu ibu, aku dan sekarang Kannel pun masih menjalaninya. Akupun ikut terkaget ketika diberitahu jika baramulo masih berkumandang di surau-surau sampai sekarang, saking kagetnya benar-benar merasa diajak kembali ke kehidupan lampau. Sebuah kesinambungan sunyi yang membuatku sadar, walau banyak hal yang berubah, namun masih ada pula yang dipertahankan yaitu tradisi yang tak lekang oleh waktu.
Comments