Kannel si 'Bolang' (Bocah Koto-Hilalang)

Jika menghabiskan masa kecil di desa dan menyatu dengan alam hanyalah kenangan bagi anak Milenial, tampaknya hal tersebut tidak berlaku bagi Kannel!

Sejak memutuskan pulang kampung dalam kurun waktu yang cukup lama, Kannel yang tadinya dicap anak Metropolitan dan cuma mengurung diri di satu ruangan kini mendadak dipanggil Bocah Tolalang eh Petualang alias 'Si Bolang'. Bagaimana tidak, anak kecil yang tadinya cuma mengeksplore diri dengan mainan yang ia punya di dalam ruangan dan hanya bertemu papa dan mama semata, kini jadi punya banyak teman. Ia puas bermain seharian di pekarangan rumah yang luas dikelilingi suasana alam nan hijau disepanjang mata memandang. 

Perubahan fisiknya pun mencolok. Jika dulu kulit Kannel cenderung kuning langsat, kini berubah menjadi sawo matang karena sering terpapar matahari. Bahkan, orang-orang sudah jarang menyebut Kannel mirip mamanya waktu kecil semakin ke sini, wajahnya justru makin mirip sang papa! Lucunya lagi, tanda lahir di tangannya yang dulu begitu jelas, kini malah hampir tak terlihat karena sudah menyatu dengan warna kulitnya yang menggelap, asli! 

Sungguh ironi, ketika hasrat orangtua yang masih menginginkan punya anak lucu dan gemas dengan warna kulit terawat kini benar-benar seperti anak kampung lainnya yang punya banyak bekas luka di bagian tubuh luar. 

Tak peduli panas terik, Kannel sudah terbiasa mandi di sungai, bermain pasir hingga bersepeda di bawah sengatan matahari.

Menyatu dengan tanah, apa itu pakaian bersih? 

Suatu hari, Kannel mendadak kepeleset dan masuk ke dalam sawah di sebelah rumah. 

Dia juga yang tiba-tiba jatuh saat berlarian di bebatuan hingga menimbulkan benjolan di dahi lalu mengeluarkan darah di hidung. 

Lantas, aku yang tadinya sempat menjadi orangtua parnoan kaget dengan kabar anak kecemplung ke dalam kolam saat memberi makan ikan 

Mulai menormalisasi peristiwa Kannel tetiba kena luka duri ikan mujair yang baru saja ia tangkap dan insiden lainnya. 

Termasuk, Kannel yang mulai suka mengkonsumsi buah-buahan seperti jambu, jeruk hingga belimbing yang dipetik langsung dari pohonnya. 

Anak kecil ini pun mendadak bisa manjat pohon, bisa naik ke bagian akar pohon kelapa saat menemaniku menjemur pakaian di samping rumah. 

Ia gemar menangkap capung, burung, kupu-kupu hingga kecebong di kolam air keruh. Bahkan kelomang, anak ayam warna-warni hingga kucing kampung pun kini sudah menjadi teman mainnya. 

Pokoknya, kehidupan Kannel yang sekarang tidak jauh berbeda dengan masa kecilku yang juga dihabiskan banyak waktu di alam. 




Bedanya, ada jam-jam tertentu dimana anak-anak kini menghabiskan waktu di depan gadget, tidak sepertiku yang full menghabiskan masa kecil dengan bermain bersama teman tanpa gangguan teknologi yang tentunya belum ada saat itu. Namun jika dibandingkan dengan anak-anak yang lain, rasanya Kannel masih begitu menikmati masa kecilnya dan tak begitu terpaku dengan tontonan anak yang bisa disaksikan melalui genggaman. Ia masih bisa dialihkan, bahkan no gadget seharian pun tidaklah menjadi masalah karena sebagai orang tua, balik lagi sudah menjadi tanggung jawabku untuk tidak membiasakan sesuatu yang dapat merusak kebiasaannya. 

Kini, ia sudah tahu kapan dirinya harus berhenti menatap layar yang menghasilkan radiasi tinggi. Dengan sigap, ia menaruh ponsel ke tempat semula atau berlari ke arahku sambil berkata "Kannel udah nontonnya, sakit mata!" diikuti suara cemprengnya yang begitu khas. 

Comments