Les pertama Kannel

Memasuki tahun kedua pembelajaran TK, aku merasa jika selama 1 tahun bergabung di Yayasan Bustanul Athfal, Kannel sudah cukup waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Ia yang sudah mulai akrab dengan ritme harian, wajah-wajah guru serta nilai-nilai yang ditanamkan selama berkegiatan di sekolah. Bagiku, tahun pertama adalah fase pengenalan, sedangkan tahun kedua mulai memasuki tahap pembentukan karakter, kemandirian hingga mencoba mengimplementasikannya terhadap kehidupannya. 

Berbekal pengalaman di tahun sebelumnya, aku memahami bahwa setiap anak memiliki kecepatan belajarnya masing-masing. Dalam hafalan ayat misalnya, Kannel masih terlihat tertinggal jika dibandingkan teman-teman yang lain. Sementara di lain sisi, minatnya tampak lebih besar pada aktivitas seni dan kelas kreativitas daripada murajaah. Oleh karenanya, membandingkan anak dengan yang lain bukanlah hal yang tepat, namun perlu mencari cara lain agar Kannel bisa mendapatkan dukungan yang tepat. 

Sama dengan aku yang sedari dini sudah diserahkan mengaji ke surau lalu mengikuti kelas TPA/MDA, tadinya aku pun berencana ingin memasukkan Kannel mengaji di mesjid dekat rumah. Kupikir, selain memperbagus hafalan ayat, ia juga bisa bersosialisasi dengan anak-anak seusianya dan tak hanya terpaut dengan teman-teman di sekolah semata. Namun jika melihat pemahaman Kannel yang masih cukup terbatas dan butuh pendekatan khusus, aku memutuskan untuk mencari cara agar lebih fokus dan terarah. Akupun memberanikan diri menghubungi Guru Tahfidz di sekolah, memohon supaya Kannel bisa mendapatkan bimbingan tambahan di luar jam pelajaran. Syukurlah! Gurunya bersedia meluangkan waktu di akhir pekan meskipun di luar jam sekolah, ia memiliki jadwal mengajar yang cukup padat. Mulai dari berpartisipasi di yayasan hingga pondok pesantren. 

Sepertinya gayung bersambut, untuk beberapa waktu ke depan, Kannel masih mendapat tempat untuk dibimbing langsung oleh sosok yang dikenal dan di hormati.

1. Les Privat Ngaji

Awalnya, Guru Tahfidz tersebut menawarkan diri untuk datang ke rumah. Agar lebih nyaman dan fleksibel menyesuaikan jam mengajarnya mengingat di akhir pekan, Kak Ira, sapaan guru Thafidz Kannel di sekolah masih ada jadwal kegiatan mengajar di Yayasan, jadinya aku mempertimbangkan kembali dan lebih memilih mengantarkan Kannel ke Panti Asuhan Aisyiyah, lembaga yang masih berada di bawah naungan yayasan yang sama dengan sekolah Kannel. Jika di hari biasa, Kannel diantar papa, setiap hari sabtu, pukul 10 pagi aku berbagi tugas untuk mengantarkan anak menuju ke lokasi mengaji yang berada persis di dekat Polsek Setiabudi-Jakarta Selatan.

Jika di minggu pertama Kannel cukup antusias usai diberitahu akan belajar ngaji bareng kak ira, kemudian di pertemuan berikutnya ia mendadak tak ekspresif seperti biasa. Langkah kakinya pun tertahan, sempat hendak melangkah turun dari kendaraan, lalu kembali ke arahku walau kehadiran kak Ira sudah menyambut ceria di depan pintu. Sebaliknya, tatapan hening dari sudut mata Kannel terus menyapu ruangan, mencari satu demi satu keberadaan sosok dan wajah yang daritadi kerap ia sebut-sebut. Namun tak tampak Zain, tak ada pula keberadaan Bilal, Queera dan Hanin disana. Harapannya yang ia bawa sejak dari rumah, perlahan runtuh. 

Permintaan Kak Ira yang semula mepersilahkan ku untuk tak musti menemani Kannel mengaji dari awal sampai akhir, tak bisa ku turuti hari ini. Yang ada, Kannel minta didampingi. Ku iyakan permintaan anak yang kerap menyita waktu liburku untuk menemaninya beraktivitas di akhir pekan atau hari biasa, meski tak melulu terpenuhi. Namun itulah serunya dunia anak. Mood yang tadi sempat surut langsung terisi usai menginjakkan kaki di lantai dua, dimana ia menemukan sebuah ruang lapang dengan pemandangan mainan dimana-mana. Seketika ia tampak kembali menemukan semangatnya, usai mendapati sebuah mainan favoritnya terletak di ujung sana. 

Sebelum ia menggapai Building Blocks yang berada persis dipojok ruangan, Kak Ira buru-buru menghentikan langkah kaki Kannel dan mengalihkan fokus bermain tersebut untuk melakukan pendekatan, sebelum memulai mengaji di hari pertama.

Mulanya berjalan dengan baik. Seperti sedang membawa suasana kelas di tempat lain, Kak Ira membuka sesi dengan mengulang-ulang bacaan Surah Al-Muzzammil yang menjadi hafalan selanjutnya di Semester awal tahun ajaran kedua Kannel di sekolah. Kemudian kembali diperkenalkan dengan huruf hijaiyah Iqra' 1 lanjutan dimana Kannel sudah memasuki pengenalan huruf  (ص-ض)Kak Ira yang menggunakan metode fun learning dan memang sudah familiar bagi Kannel, untuk satu jam ke depan berkegiatan seperti di kelas mengaji. Bahkan untuk menghindari rasa bosan, materi disisipkan dengan tontonan video interaktif dan lagu pengenalan huruf sambil menebak-nebak huruf yang ditampilkan secara acak. 

Di 30 menit pertama, Kannel terlihat cukup fokus dan antusias mengikuti setiap instruksi. Namun, seiring waktu bergulir dan pelajaran mulai memasuki bagian pengulangan, konsentrasinya mulai goyah. Matanya kembali melirik ke arah sudut ruangan, di mana tumpukan balok plastik warna-warni yang sempat mengalihkan fokusnya seolah memanggil kembali. Fokusnya mulai terpecah, hingga kak Ira akhirnya pun sadar dengan keinginan anakku. Yang ada, mengaji sambil merakit balok menjadi aktivitas akhir pekan Kannel menjelang pukul 11 siang. Namun cerita tersebut hanya berlangsung di hari pertama. Pertemuan selanjutnya, polanya semakin beraturan. 

  1. Kannel selalu dipandu untuk memulai hari dengan membaca surat pembuka Al-Fatihah;
  2. lalu berlanjut pada latihan mengenal huruf hijaiyah beserta harakatnya.
    Bersama kak Ira, pengenalan huruf Arab tidak melulu lewat lembaran iqra’, melainkan dibuat lebih menyenangkan dengan metode interaktif. 
    Misalnya mencari huruf di tayangan konten islami anak di YouTube. Belajar sambil menonton, membuat Kannel lebih mudah menangkap bentuk huruf dan bunyinya.
  3. Setelah itu, kegiatan les mengaji dilanjutkan dengan mengenal serta mengulang-ulang hadist pendek yang sesuai dengan usia dini seumuran Kannel. Hadist sederhana, seperti anjuran berucap salam atau pentingnya berbuat baik kepada orang tua, menjadi materi awal yang mudah ia ikuti. Dengan cara ini, belajar mengaji tak hanya soal bacaan, tapi juga menanamkan nilai adab sehari-hari.
  4. ditutup dengan murojaah Surah Al-Muzammil yang kini menjadi hafalan Kelompok B selanjutnya usai menamatkan Surah An-Nabaa di kelas.
    Pada bagian ini, Kannel diajak mengulang bacaan secara perlahan agar tajwid dan makhraj-nya semakin terasah. Meski terkadang masih terbawa rasa bermain, perlahan ia mulai menunjukkan pola belajar yang lebih teratur.

Dengan rangkaian kegiatan yang variatif mulai dari membaca, menonton, mengulang hadist hingga murojaah, kini mengaji tidak lagi terasa kaku untuknya. Bahkan, jika pada hari pertama Kannel sempat terdistraksi oleh mainan, kini ia mampu bertahan hingga 50 menit penuh untuk fokus belajar. Pendekatan yang lebih intens tampaknya berhasil memotivasi anakku, sehingga perlahan ia tidak lagi tertinggal jauh dari teman-temannya dalam hafalan ayat hingga belajar agama pun akhirnya tak lagi terasa sebagai kewajiban semata. Selain rutin mengaji di sekolah dari hari Senin sampai Jumat, akhir pekan kini menjadi kesempatan tambahan bagi Kannel untuk terus mengulang hafalan dalam kesehariannya. 

Di lain sisi, walau sejak awal ibu guru sebenarnya membebaskanku hanya sebatas antar-jemput Kannel ke Yayasan, aku tak kuasa menolak satu permintaan khusus darinya,

...“Kannel mau ditemenin Mama ngaji.”

Permintaan sederhana yang bagi orang lain mungkin terlihat sepele, tapi bagiku begitu berarti. Sebab, peran antar-jemput sekolah selama ini lebih banyak diwakilkan oleh suami, sementara aku sering terjebak dalam rutinitas pekerjaan dan waktu yang terbatas. Menemani anak les ngaji, ini juga menjadi momen 10 menit di akhir bagiku untuk setiap minggu rutin berkonsultasi dengan guru yang mengajar anak tak hanya di sekolah, namun di luar jam pembelajarannya terkait hafalan dan cara bersikap sehingga setiap saat aku masih bisa terhubung dengan setiap langkah kecil perkembangan anak.

2. Les Calistung

Ketika di luar jam sekolah bertemu dengan guru Tahfidz, kini Kannel pun WAJIB mengikuti kelas tambahan bersama wali kelas usai kelas berakhir.

Pengayaan Kelompok B diisi dengan kelas tambahan Calistung

Menjadi salah satu program prioritas yang diselenggarakan oleh pihak sekolah, khususnya bagi anak-anak Kelompok B yang sudah memasuki tahapan pendaftaran masuk Sekolah Dasar, untuk beberapa bulan ke depan Kannel, Fino, Ansell dan teman-teman yang lain pulang lebih siang dari biasanya. Tentunya, kegiatan pengayaan yang berlangsung setelah pulang sekolah dan dilanjutkan sampai jam 2 siang tersebut dilakukan usai mendapatkan persetujuan orangtua murid yang tak hanya harus menyiapkan waktu ekstra dan bekal tambahan untuk anak, melainkan juga biaya tambahan yang dibebankan di luar iuran SPP ataupun Komite Sekolah. 

Mengingat jumlah siswa di kelas yang terdiri lebih dari 15+ orang, lantas kelas pengayaan pun dibagi menjadi dua kelompok, dimana masing-masing anak dijadwalkan belajar baca, tulis dan berhitung 2x seminggu. Bu Mala, selaku wali kelas yang ditugaskan untuk mengajar anak-anak pun akhirnya merilis jadwal pengayaan yang fektif dilakukan per tanggal 1 Oktober.

Anak 6 tahun ku kini punya jadwal sendiri, dimana jam berkegiatan di sekolah sudah diatur sedemikian rupa. Setiap hari selasa dan kamis, Kannel dijadwalkan pulang sekolah jam 2 siang, dimana di akhir kegiatan pengayaan anak-anak diberi tugas untuk mengerjakan PR. Selain harus menghabiskan 2 kali istirahat makan siang, di sela-sela jam istirahat mereka dituntut belajar mandiri dan dilatih agar bisa mengganti pakaian sendiri. Bahkan  Taman Kanak-kanak yang seharusnya diisi dengan kegiatan bermain, kini bertransformasi menjadi ajang pengenalan baca tulis, sebuah langkah penting yang diambil sebagai syarat untuk melanjutkan ke tahapan pendidikan berikutnya.

Comments