Insiden kecil anak aktif yang bikin mama ketar-ketir
Berkali-kali alami insiden berisiko yang bikin ketar-ketir, petualangan tak terduga seolah selalu menemani perjalanan tumbuh kembang Kannel, anak laki-lakiku yang kini sudah memasuki usia pra-sekolah. Tak bisa dipungkiri, serangkaian peristiwa menegangkan tampaknya sudah menjadi bagian dari keseharian si kecil yang kini sedang aktif-aktifnya dimana sikap keberaniannya pun mulai dipertanyakan. Bagaimana ia musti dihadapkan dengan rasa sakit, takut, dan cemas dalam waktu bersamaan.
![]() |
| Reaksi bibir dan di sekitar wajah menjadi bengep dan jeding usai disengat tawon |
Dari sekian banyak kejadian yang berlangsung, siapa sangka jika Kannel kerap terjebak dalam situasi yang penuh tantangan. Seperti:
1. Terpapar bahan kimia
Semua bermula ketika anak bayiku baru saja menyusul papanya ke Jakarta, namun tiba-tiba harus mengalami kejadian tak mengenakkan. Belum seminggu menetap, tau-tau seluruh kulitnya menjadi ruam dan memerah cukup parah sehingga memunculkan reaksi aneh pada wajah. Dalam hati, kecerobohan apa yang terjadi sampai-sampai bayi 7 bulan ku harus terpapar cairan berbahan kimia, usut punya usut sabun mandi batangan yang digunakan oleh Kannel sempat jatuh ke lantai yang baru saja disikat dan dilakukan pembersihan kamar mandi secara menyeluruh. Hal itu tentu saja menyebabkan kulitnya bersinggungan dengan senyawa berbahaya seperti cairan berbahan kimia yang digunakan untuk membersihkan lantai kamar mandi tersebut. Alhasil, penampakan dibagian wajahnya begitu memilukan dan bikin gatal, bersamaan kepanikan pun turut dirasakan oleh mama baru yang tak pernah dihadapkan dengan situasi mencekam tersebut.
![]() |
| wajah bayi 7 bulan ku terpapar cairan pembersih lantai kamar mandi yang mengandung zat kimia dan beracun |
2. Insiden benjol dan berdarah
Bocah kecil yang begitu menikmati hidup di alam bebas tampaknya menjadi bagian dari keseharian Kannel yang sedari bayi sering bolak-balik kampung. Asyik berlarian dan bermain di pekarangan rumah, suatu hari ia tersandung selang yang membentang saat sedang mengejar kucing kampung. Jatuh pun tak terhindarkan, seketika hidung dan jidat langsung menghantam kerikil tajam di sekitar sehingga insiden berdarah terjadi secepat kilat. Perasaan kaget, sakit akibat benturan hingga kondisi mengkhawatirkanpun semakin mencekam saat didapati bagian hidungnya mulai mengeluarkan darah, disusul oleh dahi yang perlahan membiru dan membentuk benjolan besar sehingg teriakan dan tangisan kemudian memecah suasana siang itu.
![]() |
| darah pun mengucur mengotori tubuh dan pakaian Kannel usai insiden jatuh di pekarangan rumah |
3. Digigit Tawon
Sekali lagi, hidup di alam bebas pastinya selalu menghadirkan cerita tak terduga! Sampai-sampai bangunan atap rumah bisa saja dihinggapi sarang tawon, sementara pepohonan di sekitarnya ramai oleh sangkar burung. Dan ya, bukan pertama kali melainkan kesekian kalinya wajah Kannel kembali bengap disengat tawon. Apakah kalian berharap jika anakku akan menangis kejar? Nope, yang ada ia hanya terdiam sambil terus mendekap, seolah baru menyadari bahwa hal yang selama ini diperingatkan akhirnya benar-benar terjadi. Meski sudah berulang kali diberitahu agar tidak sembarangan mendekati hewan menyengat, rasa penasaran Kannel tampaknya selalu lebih besar. Padahal di insiden sebelumnya ia sempat menangis kesakitan karena kedapatan mencoba meraih serangga terbang menggunakan tangan mungilnya. Kali ini, dengan cerita yang hampir serupa sengatan tawon kembali membuat gaduh, bukan di tangan namun mengenai wajah sampai-sampai membuat bibirnya jeding dan bengap.
4. Nyaris telan jarum
Tak sampai di situ, peristiwa naas kembali terjadi saat aku dilanda kepanikan luar biasa dan berasumsi jika Kannel menelan jarum. Kejadian itu berlangsung begitu kilat usai anaknya ditinggal sebentar di kamar. Bukan karena ceroboh, melainkan rasa parno yang muncul begitu saja, mengingat beberapa hari terakhir ia tampak asyik bermain jarum yang tergeletak di meja rias.
Malam itu, aku hanya meninggalkan Kannel sejenak untuk mengaduk susu sebelum tidur. Namun ketika kembali, aku mendapati reaksi yang berbeda, seperti seseorang yang baru saja menelan sesuatu. Ia tampak sedikit gelagapan, dan seketika kepanikan pun menyergap orang tua mana yang tidak cemas melihat anaknya bereaksi demikian? Ditambah, situasi semakin mencekam karena di usia Kannel yang sudah lebih dari dua tahun, ia belum mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ironisnya, setelah membuat orang tuanya diliputi kekhawatiran luar biasa, lucunya ia justru tertidur pulas. Tak ingin terus terjebak dalam asumsi, aku pun segera mengambil keputusan untuk membawanya ke rumah sakit, menembus hujan dan dinginnya udara di malam hari.
Baca selengkapnya: Jam 12 malam, Kannel dilarikan ke IGD
5. Balanitis
Usai mengeluhkan rasa sakit pada ujung penisnya, suatu hari aku dikejutkan oleh temuan gumpalan putih kecil dan berbau saat sedang mengganti pempers sekali pakai yang biasa dikenakan oleh Kannel. Seperti biasa, reaksi panik langsung menghampiri begitu tahu ada yang janggal tengah terjadi. Namun tak ingin menimbulkan kegaduhan, aku buru-buru mencaritahu apa yang telah terjadi. Rupanya ini adalah balanitis, peradangan pada bagian ujung kemaluan anak yang bisa saja disebabkan oleh iritasi dari penggunaan popok terus menerus. Di tengah upaya toilet training yang terus maju mundur, meski agak terlambat namun di usia 3 tahun tersebut akhirnya aku mengupayakan untuk anak tak lagi menggunakan popok sekali pakai dan menggantinya dengan penggunaan celana dalam sebagai langkah kemandirian anak yang kian bertambah besar.
Baca selengkapnya: Penampakan gumpalan putih yang keluar dari ujung alat vital anak
6. Konjungtivitis Bakteri
Pernah terjadi saat usia anak 7 bulan sampai harus dilarikan ke Klinik terdekat, baru-baru ini Kannel kembali mengalami kejadian serupa dimana organ matanya tak berhenti mengeluarkan kotoran kuning dan lengket. Padahal, bagi anak-anak kondisi ini bukan sekedar belekan biasa.
Dalam istilah medis, situasi ini dikenal sebagai konjungtivitis bakteri, yaitu infeksi pada selaput bening mata yang membuatnya terasa lengket oleh kotoran. Saking lekatnya, mata Kannel harus dibantu dibuka saat bangun tidur. Aku sadar betul dalam keadaan yang tidak begitu fit, beberapa kali Kannel terlihat risih dengan kondisi yang sedang dialaminya, terlebih jika sakit mata ini sifatnya menular. Namun hebatnya, ia bukan tipe anak yang rewel apalagi tantrum. Ia tampak tenang, menurut jika diteteskan obat mata sesuai yang dianjurkan dokter.
Pada saat sebelum dan sesudah tidur bahkan di siang hari sekalipun, aku rutin meneteskan Cendo Fenicol. Mengandung bahan aktif chloramphenicol, obat tetes ini mampu bekerja untuk menghambat sintesis protein bakteri dalam mengatasi infeksi pada mata, makanya obat keras ini merupakan antibiotik yang bereaksi menghentikan mata agar tak lagi terus-menerus mengeluarkan kotoran berbau karena bersifat bakteriostatik.
Mengingat kesehatan mata yang butuh waktu pemulihan, mau tidak mau Kannel harus beristirahat di rumah dan tidak bisa datang ke sekolah selama sepekan sampai kesehatan matanya benar-benar pulih.
7. Kuku jari copot
Seperti de javu dengan kejadian masa kecil dimana kuku jari tanganku pernah lepas usai tertimpuk batu besar, hal serupa juga dialami oleh Kannel baru-baru ini. Namun dengan versi cerita yang hampir menyerupai, lebih tepatnya dibagian jari tengah sebelah kiri Kannel. Kejadian naas itu bermula saat ia yang kerap meniru aktivitas orang dewasa, turun serta mengambil bagian saat papa tengah asik memperbaiki sepeda fixie di rumah.
8. Alergi sinar UV
Sepertinya, kulit Kannel cukup sensitif jika terpapar sinar matahari berlebih dimana setiap kali kontak langsung dengan sinar UV, tubuhnya akan bereaksi serupa seperti wajah, tengkuk leher, tangan dan kaki terlihat bentol-bentol layaknya reaksi alergi.
![]() |
| Penampakan tengkuk leher yang menghitam dan muncul bintik kecil |
Bukan biang keringat, melainkan kondisi ini secara medis berkaitan dengan fotosensitivitas, di mana kulit merespons paparan matahari dengan peradangan ringan. Timbulnya bintik-bintik kecil, tekstur kulit terasa kasar hingga rasa gatal atau perih setelah beraktivitas di luar ruangan umum dirasakan anak-anak yang memiliki kulit sensitif. Terlebih bagi Kannel, yang 2 tahun terakhir lebih sering menghabiskan hari-hari di dalam ruangan tiba-tiba menjadi anak alam dan tak berhenti bersinggungan dengan paparan sinar terik, bolak-balik menangkap ikan di kolam air keruh hingga bermain pasir di pekarangan rumah. Terakhir kali mengalami situasi serupa pada saat Fieldtrip ke Ragunan, kini ia kembali mengalami hal yang sama, penampakan yang tampak memprihatinkan.






Comments