Terapkan Training Toilet pada anak sejak 3 tahun
Ibu bilang, aku sudah tidak menggunakan pempers sejak usia satu tahun, namun hal yang berbeda justru diterapkan kepada anakku, Kannel.
Bukan tanpa alasan, mengingat Kannel yang belum terlalu komunikatif jika dibandingkan anak-anak seusianya dan masih belum begitu menyambung diajak berkomunikasi menjadi alasan terbesarku menunda kebiasaan anak untuk tidak ketergantungan dengan pempers lagi. Ya, Kannel memang sedang di fase belajar untuk mengucapkan kata per kata hingga menyambungnya menjadi sebuah kalimat singkat. Salah satunya yang paling gencar dilakukan ialah mengajarkan Kannel untuk memberitahu orangtuanya saat merasa ingin buang air.
Bersamaan dengan training toilet, aku juga berproses dalam mengajarkan anak untuk menanggapi komunikasi dua arah, terbiasa menyantap hidangan nasi dan pelan-pelan meninggalkan susu formula menjadi keberlangsungan yang masih dalam proses merubah kebiasaan sekaligus fase terbaru.
Jika biasanya aku khawatir dengan sikap Kannel kerap bertingkah semaunya, masih sulit untuk diajak bekerjasama namun kali ini aku memberanikan diri untuk mengajak anak mandiri. Ternyata, semua berjalan tak begitu lancar. Menghabiskan waktu untuk pulang kampung dan tinggal bersama ibu akhir-akhir ini, aku tak diizinkan untuk membiarkan anak melepas pempers yang biasa ia kenakan hanya karena takut rumah bau pesing. Hingga suatu hari, Kannel mengeluhkan area penisnya perih. Bahkan ketika keesokan harinya, aku menemukan ujung kulup anak mengeluarkan nanah berbau dan gumpalan putih.
![]() |
| Pagi hari dibuat panik dengan cairan putih dan bau yang keluar dari alat vital anak |
Setelah memeriksa apakah kondisi tersebut aman atau tidak, hal pertama yang dilakukan oleh orang tua awam sepertiku adalah googling dan komunikasikan kepada teman dekat yang merupakan seorang bidan di Rumah Sakit Ibu dan Anak.
Jika melihat gejalanya, konon hal tersebut mirip seperti balanitis. Disebutkan jika kejadian ini umum terjadi pada anak usia 3-4 tahun. Bahkan jika ditangani dengan cara yang tepat, hal ini bukanlah kondisi yang mengharuskan dirinya dibawa ke RS terdekat. Terbukti, nanah maupun cairan berbau tersebut tak lagi ditemukan. Tampaknya, kebiasaan anak yang masih menggunakan pempers, cebok menggunakan sabun ataupun menabur bedak setelah mandi menjadi penyebab balanitis pada anak di bawah 4 tahun seperti Kannel yang belum di sunat.
Sadar akan semua hal memang membutuhkan proses, ku gunakan lagi fase training toilet ini untuk kami sama-sama belajar dan melatih diri sebagai anak dan orang tua yang tengah berusaha untuk menjauhkan diri dan ketergantungan popok sekali pakai. Aku pun kembali menerapkan:
1. Kenakan pempers hanya di malam hari
Jika biasanya, dalam sehari butuh 2-3 kali berganti pempers, atau dalam sebulan butuh 2 packs berisikan 44 lembar, kini aku bisa menghemat lebih dari setengahnya karena sekarang penggunaan pempers hanya berlaku untuk malam hari saja.
Akupun menciptakan rutinitas baru dengan penggunakan celana dalam di siang hari kemudian membiasakan untuk mengajak anak ke toilet terlebih dahulu sebelum naik ke tempat tidur untuk beristirahat di malam hari, lalu memasangkan pempers agar tidak membasahi kasur.
Memang tidak mudah, ada cerita lain yang terjadi saat Kannel merasa tidak nyaman dengan area vitalnya yang terasa begitu plong tak seperti biasa. Kecenderungan dirinya selama ini dengan pempers sekali pakai membuat suasana beberapa hari ini penuh drama. Bahkan setiap bangun tidur, sadar pempers celana yang biasa digunakan kemudian dilepas dari tubuhnya, ia akan uring-uringan. Seringkali, anakku lebih memilih tak menggunakan celana karena merasa asing dengan perubahan tersebut. Ia terus-terusan mencari pempers sambil menangis.
Memang membiasakan sesuatu hal baru butuh waktu dan juga proses yang pastinya tidaklah mudah.
2. Ajarkan cara mengungkapkan hasrat ingin buang air hingga penanganannya
Berjalannya waktu, perlahan Kannel mau dibujuk menggunakan celana pendek dan sudah tidak dilapisi pempers di siang hari. Walau sesekali, ia masih kedapatan buang air di lantai rumah sambil dipandu dan diajarkan ke toilet jika hasrat buang air muncul. Dalam proses pembelajaran dan mengubah kebiasaan baru tersebut, ia turut menyaksikan bagimana proses pembersihan lantai rumah menggunakan pel lantai dan kain lap jika di area bekas genangan pipis tersebut dibersihkan. Surprisingly, ia pun ikut membantu melakukan hal serupa.
Dengan keterbatasan bahasa yang masih dialami oleh sang anak, ia belum bisa membedakan untuk menyebut pipis ataupun ingin buang air besar. Bagi Kannel, rasa buang air ia tunjukkan dengan mengatakan o'a.
Selama berproses juga, Kannel akan datang menghampiriku setelah buang air dan bukan sebelumnya. Masih menjadi PR besar bagiku tentunya untuk membiasakannya rutinitas baru tersebut berjalan dengan semestinya.
SETAHUN BERLALU
3. Support dari orang tua yang konsisten
Terbukti, dua poin di atas hanya berlaku beberapa hari saja lantas Kannel kembali ke kebiasaan awal dengan menggunakan popok sekali pakai.
Hari pertama
Hal itu terus terjadi hingga setahun berlalu, Kannel yang kini sudah menginjak usia 4 tahun tersebut suatu hari melihat seorang teman laki-laki seumuran yang sedang berkunjung ke rumah lalu melakukan aktivitas buang air kecil di toilet sambil berdiri. Ia yang penasaran langsung mempraktekan dan ternyata tidak ada penolakan seperti biasa ketika tidak menggunakan pempers lagi. Bahkan ketika di malam hari, ada perasaan deg-degan untuk membiarkan Kannel tidur hanya menggunakan celana dan tanpa bantuan perlak sekalipun. Namun untuk jaga-jaga aku sengaja melapisinya hingga tiga lembar.
Tentunya sebelum tidur di malam hari, ia terus dipandu untuk buang air kecil terlebih dahulu dan tetap mengingatkan Kannel untuk selalu mengutarakan hasrat ingin buang air. Surprisingly, hal itupun berhasil. Sungguh, ini menjadi berita baik yang didapat. Tentunya belajar dari kesalahan sebelumnya saat memaksa anak menyapih ASI hingga meninggalkan trauma, aku tidak mau hal buruk itu kembali terulang.
Hari kedua
Memasuki hari kedua training toilet, ada hal lucu yang terjadi layaknya balita yang baru memulai kebiasaan baru, lantas Kannel langsung menunjukkan ekspresi panik ketika keinginan buang air besar muncul dan melihat ada bekas kotoran di celana yang ia kenakan. Sontak, ia langsung berlari dengan kondisi belum membilas kotoran di tubuhnya ke arahku sambil menunjukkan ekspresi jijik.
Ketika beberapa hari terkahir Kannel sudah cukup mandiri untuk melakukan buang air kecil sendiri tanpa harus ditemani setiap kali merasa ingin ke toilet, namun ia masih terlihat sedikit kebingungan ketika hasrat buang air besar muncul. Jika sebelumnya ia sudah tidak membutuhkan bantuan lagi saat pipis, kali ini aku harus turun tangan langsung untuk membersihkan tubuhnya dari kotoran yang masih menempel sembari mengingatkan untuk tetap melakukan toilet training di tempat yang semestinya. Tentunya agar kebiasaan tersebut kedepannya bisa terus lakukan, sebagai orang tua aku dituntut harus konsisten dalam mencapai tujuan tersebut.
Hari ketiga
Kini, Kannel mulai nyaman mengenakan underwear alih-alih pempers meskipun bolak-balik berganti celana.
Dari yang masih harus dibantu untuk membersihkan bekas kotoran di pakaian dalamnya, pelan-pelan ia sudah bisa mencuci pakaian kumuh bekas BAB sendiri menggunakan sikat kain, lantas menyiram kotoran yang berserakan di lantai toilet tersebut.
Kannel yang terlatih mandiri sejak awal, tak ingin dibantu urusan apapun jika memang benar-benar tidak membutuhkan bantuan orang lain karena ia bisa melakukannya sendiri. Dan lagi, tak bosan-bosannya aku untuk terus mengajak Kannel jongkok dan duduk langsung di toilet alih-alih pup di celana ketika perasaan ingin buang air muncul. Hebatnya kini, saat Kannel diajak berbelanja di Minimarket, ia langsung menolak dengan tegas saat aku terlihat masih sengaja nyetok pempers sekali pakai untuk berjaga-jaga.
Memang butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi sebuah perubahan besar di dalam kehidupan sang anak, namanya berproses jadi tidak ada yang langsung berhasil tiba-tiba. Aku masih ingat dengan jelas, tak sedikit pihak yang menyayangkan pola asuh serta perkembangan Kannel yang dianggap mereka telat jika dibandingkan dengan anak-anak yang lain, namun sebagai orangtua yang punya kendali penuh atas itu semua justru merasa tidak ada yang terlambat karena semua terjadi di waktu yang tepat.
Bagiku, tidak harus ada sebuah pemaksaan yang terjadi. Entah itu saat Kannel sudah mulai makan 2x sehari, bisa lancar berbicara layaknya anak seumuran, dan sekarang tak lagi menggunakan pempers, atau harus sama dengan anak orang lain.
.jpg)

Comments