METAMOR-FASE
Terlahir dari rahim ibu adalah suatu keajaiban yang pernah ditakdirkan oleh Tuhan kepada seorang anak. Walau tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke muka bumi, tapi Tuhan memberi ku kesempatan untuk bertemu mereka and I should be more grateful for being the only child of Ayah and Ibu, as I called them.
Anyway, aku ingin sedikit bercerita bagaimana awalnya ayah dan ibu bertemu.
Konon, ini menjadi pertemuan yang tidak di sengaja oleh keduanya yang sama - sama sedang pulang kampung. Ayah yang sejak tahun 1950-an memutuskan merantau ke Jakarta, dan ibu yang mulai di asrama sejak lulus SD di Bukittinggi.
Ibu sedang libur tenang sebelum skripsi kemudian dijodohkan oleh Angku (sebutan kakek dalam bahasa Minang) dengan seorang pria yang lebih tua 25 tahun darinya. Bahkan pada saat itu, selisih usia mereka lebih lama daripada jumlah usia ibu yang saat itu baru menginjak 21 tahun. Tidak seperti anak-anak zaman sekarang, dulu Gen-X akan melakukan apapun yang diminta oleh orang tuanya termasuk saat dijodohkan.
New Born
Jauh sebelum ibu pernah melewati fase dua kali keguguran dan IUFD dimana kondisi bayi dinyatakan meninggal pada 2005 silam, ia pernah berjuang bertaruh nyawa saat melahirkanku.
Melewati kontraksi dan rasa sakit luar biasa jelang lahiran dalam hitungan belasan jam dan hampir seharian, bahkan harus menggunakan alat bantu vakum untuk menarik bayi keluar, aku tidak tahu seberapa mengerikannya proses mengeluarkan seorang anak yang dilewati wanita hebat dan tangguh seperti ibu pada saat itu. Usai penantian panjang selama 7 tahun akhirnya terbayar dengan lahirnya seorang bayi perempuan di hari senin, 19 April 1993 tepat pukul 18.27 WIB, and it was me!
Potret beberapa jam setelah dilahirkan
| dokumentasi: 1993 |
Aku lahir di Klinik Bersalin Rahiem, kini bertransformasi menjadi Apotik Rahiem Farma yang berada di Jl. Duren Sawit-Jakarta Timur.
Baby
Euforia tak berkesudahan, seolah ayah dan ibu tidak pernah absen mengabadikan momen kebersamaan serta tumbuh kembang anak semata wayangnya hingga aku bisa menyaksikan potret masa kecil dengan konkrit seperti hari ini.
Bahkan agar memudahkan pekerjaan, ibu juga dibantu oleh ART hingga aku berusia 4 tahun.
Pre-school
Dibesarkan di lingkungan yang penuh kehangatan, di lain sisi ayah dan ibu mendidik ku begitu disiplin. Dari kecil, aku sudah punya jadwal tersendiri usai bangun tidur. Rutinitas mandi, sarapan hingga tidur siang menjadi agenda yang tidak terlewatkan. Bahkan mendekati waktu sore, ibu selalu mengajak ku ke tempat usaha ayah agar bisa pulang ke rumah bersama-sama usai kios ditutup.
Anyway, ayah ku seorang wiraswasta. Mendedikasikan banyak waktu di rumah cukur yang ia punya serta pemilik beberapa kios/toko untuk disewakan di Pasar Kelender.
Pulang Kampung
Di usia 3 tahun, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di nagari Koto Hilalang Kab. Solok-Sumatera Barat.
Diperkenalkan kembali dengan om, etek, uwak angku hingga banyak sanak saudara lainnya, agenda pulang kampung kali ini menjadi pengalaman pertama yang tak terlupakan bagi bocah 3 tahunan yang selama ini hidup bertiga dengan ayah dan ibu di perantauan.Jika selama ini aku mengenal Revi, Indah, Riris, Ica, dan teman-teman gang di Perumnas Kelender yang lekat di kepala sebagai teman kecil pertama, kini sosok Bang Yayan, Yanti, Bang Indra, Kak Nita, Kak Risa, Bang Inji, Uni Saiki dan alm. Saiko hadir sebagai sepupu dan cucu uwak angku generasi pertama. Pertemuan seminggu dengan mereka di acara akikah ku benar-benar melekat, bahkan rasanya seperti menemukan dunia baru, penuh dengan keceriaan yang membuat hari-hariku tak lagi terasa sepi.
Baca selengkapnya: Mudik ke Kampung Halaman
Middle-childhood
Sayangnya, sebelum kerusuhan 1998 di Jakarta, ayah memboyong kami pindah ke kampung halaman.
Anak kota ini pun, perlahan bertransisi sebagai gadis desa. Meninggalkan kehidupan di dalam gang, bangunan kecil, sempit dan berdempetan dengan tetangga untuk hidup di alam bebas, asri nan begitu luas.
Selanjutnya, baca Kehidupan di Kampung disini



Comments