Tradisi Mudiak
Bernostalgia dengan kejadian masa kecil, hal yang tadinya rutin dilakukan kini berubah menjadi kenangan mahal. Pasalnya, situasi, kebersamaan dan hangatnya sambutan orang-orang tersayang menjadi momentum yang tak semua orang bisa dapatkan. Dan semua hal itu hanya bisa didapat saat pulang ke kampung halaman.
Pulang kampung dikenal sebagai salah satu ritual tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada saat mendekati hari lebaran. Pastinya, tradisi pulang kampung hanya bisa dilakukan oleh anak rantau. Fun fact, hal tersebut sudah dilakoni sejak aku berumur 3 tahun. Oleh karenanya, imej perantau barangkali begitu melekat dengan sosok ku yang lahir dan berkarir di Ibukota.
![]() |
| Cucu angku Dt. Rajo Bajolang |
Keakraban milenial yang belum melek gadget saat itu, jauh lebih menyenangkan karena keseharian anak-anak yang tumbuh di tahun 90an menuju 2000an selalu diisi dengan aktivitas fisik. Termasuk jika lebaran tiba, bermain dan berinteraksi dengan sanak saudara yang dipertemukan di momen-momen tertentu salah satunya pada saat pulang kampung seperti lebaran menjadi satu dari sekian banyak nostalgia luar biasa yang tak akan pernah bisa terulang.
Pulang Kampuang
Nagari Koto Hilalang menjadi saksi bisu betapa aku bersama Bang Indra, Kak Nita, Bang Yayan, Kak Risa, Yanti dan sepupu lainnya Bang Inji, Uni Saiki dan Saiko dipertemukan dengan sejuta keceriaan dan penuh gelak tawa setiap tahunnya. Aku yang merantau ke Jakarta, ada yang mudik dari Medan hingga Kota Sijunjung menjadi cucu jauh yang paling ditunggu-tunggu oleh angku dan uwak pada saat itu. Bahkan mendekati hari baiak, biasanya Angku dan Uwak yang merupakan sebutan kepada kakek dan nenek di Minang, merasa menjadi orang yang paling sibuk sedunia pertanda sebentar lagu anak cucu mereka akan segera pulang ke rumah.
Punya rumah panggung di tengah sawah, dikelilingi oleh kolam ikan dan taman bebatuan yang begitu luas, selain beribadah, waktu pertengahan menuju akhir bulan puasa biasanya digunakan oleh angku dan uwak untuk beberes pekarangan. Memotong daun bonsai, mengisi ikan baru di kolam air tawar, memastikan satu per satu kail untuk memancing apakah layak digunakan, bahkan memperbaiki kayu lapuk di kandang ayam dan lainnya.
A. TANGKAP IKAN
Namun, ada ritual wajib lainnya yang rutin dilakukan sehari sebelum hari raya tiba, yaitu Manangguak, yang artinya menangkap ikan menggunakan jaring. Tinggal di desa, aktivitas menangkap belut di sawah hingga mangalah ikan di sungai mungkin menjadi aktivitas umum. Namun di keluarga kami, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Ketika air kolam mulai di kuras, orang-orang dewasa bekerja lebih keras untuk menangkap ikan gurame, mujair, nila, patin hingga lokan, sedangkan kami para bocah beraksi menghebohkan suasana dengan bermain lumpur seharian.
B. MANDI DI SUNGAI
Tidak hanya tinggal di bawah kaki gunung, selain membangun rumah panggung di tengah sawah dan dikelilingi oleh kolam ikan, di seberang rumah kami mengalir sungai yang berasal dari hulunya. Angku yang tahu akan kesenangan anak cucu, rela membuat lubuak, bagian dari sisi sungai yang dibuat cekung dan dibatasi dengan bebatuan guna mengantisipasi keadaan yang tidak diinginkan saat kami larut dalam keceriaan pada saat mandi di sungai mengalir, lantas amit-amit tetiba hanyut terbawa arus.
C. TRADISI MALAMANG
Kemudian malamang. Sebuah tradisi masyarakat Minangkabau yang lagi-lagi hanya bisa didapat saat mendekati hari baik seperti lebaran dan berlangsung secara turun temurun. Bukan memasak nasi lemang dengan cara dibakar tersebut yang dirindukan, tapi momentumnya. Melihat uwak bolak-balik membawa bambu berisikan beras ketan, santan, dan garam yang dibungkus sebelumnya menggunakan daun pisang, lalu dibakar dengan api arang di udara terbuka kini benar-benar menjadi sebuah kenangan. Ada lamang pisang, lamang kundua serta lamang sapuluik putiah yang menjadi favoritku.
Dan satu lagi, lamang tapai. Berbeda dengan cara pengolahannya yang dibakar di atas bara api besar, lamang tapai buatan uwak diolah seperti fregmentasi ketan hitam yang direndam menggunakan ragi, disimpan di tempat tertutup berhari-hari menggunakan kain.
C. PANEN KE SAWAH
Keceriaan pun masih berlanjut saat musim panen tiba.
Momen manjujuang nasi, bawa termos dan jerigen air minum menjadi kegiatan tradisional yang hanya dilakukan oleh orang-orang saat padi yang sudah ditanam di sawah kemudian harus diambil. Rombongan anak kecil ini kemudian turut serta bukan untuk membantu orang-orang yang bekerja di sawah namun turut meramaikan. Makan di saung yang dibikin langsung oleh angku atau kami sering menyebutnya rumah sarongkok dengan hamparan pemandangan sawah terbentang luas persis sejauh mata memandang. Tidak jarang dengan kondisi kaki yang masih berlumuran lunau alias lumpur. Bau air sawah yang begitu khas serta terik yang menyengat menjadi hawa lain yang hanya bisa didapat di momen-momen tertentu. Dan keceriaan semakin heboh saat tiba waktunya untuk mangipeh.
Mayoritas di huni oleh masyarakat yang berprofesi sebagai petani, terhitung sejak dua puluhan tahun yang lalu bahkan sampai sekarang Tek Ros, sebutan kepada istri om sekaligus mamanya Bang Yayan dan Yanti masih menjadi orang yang membantu mangipeh, manyiang padi atau batanam di sawah yang sama.
D. MINUM LIMUN DI LAPAU
Selain kue mangkuak dan kue sangko kemudian limun menjadi jajanan jadul yang mulai susah ditemui. Pulang kampung dan mampir ke rumah kerabat satu dan lainnya, kemudian Muaro Busuak menjadi tujuan wajib ku yang selalu diajak oleh ibu ke rumah Etek. Selain buka warung dan menjual miso ceker hingga jajanan langka di atas, beliau juga punya kandang ayam dan beberapa hewan ternak lainnya dan menjadi warna lain kepulangan kami ke kampung.
![]() |
| Dokumentasi 1997 |
Seminggu berlalu tanpa terasa! Lantas, usai keseruan mengeksplore kampung halaman, jalan dan macet-macetan keliling Sumatera Barat kini tiba waktunya satu per satu dari kami harus balik ke kota tujuan masing-masing. Tidak jarang, aku ibu dan ayah yang harus kembali ke Jakarta, diajak memutar rute kepulangan dan ikut rombongan Medan terlebih dahulu untuk bertandang sebelum balik ke perantauan asal, Jakarta.







Comments