Pulang ka kampuang

Pulang ka kampuang...
menjadi keputusan terbesar yang pernah diambil oleh ayah saat ia yang sedari kecil hidup dan tumbuh di perantauan, kini harus kembali ke Nagari yang sudah lama ia tinggalkan, lebih tepatnya hampir 36 tahun lalu. Aku tahu, ini pasti tidak mudah! Namun ada panggilan halus dari kampung yang tak bisa ayah abaikan kali ini yaitu permintaan angku, sebutan kakek di Minangkabau yang berasal dari pihak ibuku begitu ingin hidup berdampingan bersama anak cucu perempuan serta menantunya. 

Bukan tanpa alasan, sebagai bagian dari masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, dimana anak perempuan dianggap sebagai pusat garis keturunan, penjaga rumah hingga pewaris ditambah latar belakang angku yang berpuluh-puluh tahun selalu menjabat sebagai Ketua Adat Nagari di Koto Hilalang tentunya begitu kokoh memegang teguh ketentuan adat dan istiadat. Baginya, adat bukan lagi sekadar aturan melainkan napas kehidupan, sebuah nilai yang kini mulai tergerus seiring perkembangan jaman dan tak begitu lagi banyak ditemukan di kehidupan sekarang. Hal itu pula yang kemudian dijadikan sebagai alasan utama kami harus pindah ke kampung karena menghuni rumah pusako pun dianggap mutlak. Seolah pada saat itu, resiko ayah menikahi anak perempuan pertama angku, membuatnya tak lagi bisa beralasan selain harus mengiyakan permintaan kala itu. Mungkin, angku terkesan begitu memaksa namun kepulangan H-1 bulan insiden '98 ini menyelamatkan kami dari tragedi kelam serta kerusuhan di Jakarta, dimana Mall Klender yang menjadi lokasi bisnis ayah dan sangat dekat dengan tempat tinggal kami terjadi pembakaran bsar-besaran hingga menewaskan orang-orang yang berada di dalam gedung tersebut. Seolah takdir Tuhan tidak pernah salah memang, dan siapa sangka keputusan ini pula yang mengantarkanku menjadi anak atau cucu paling bahagia sedunia. Aku yang tadinya hidup bertiga bersama ayah dan ibu, kini merasa lengkap karena setiap hari bisa bertemu uwak dan angku.

RUMAH PANGGUNG

Bangunan sederhana yang menyimpan beribu kenangan di dalamnya

Angku, dikenal memiliki jiwa seni luar biasa, bereksplorasi mendirikan sebuah rumah panggung yang sarat akan makna dengan memikirkan setiap detail yang ada. Tak hanya menyediakan hunian nyaman untuk anak istri, atau tempat kami pulang namun setiap sentuhan bangunan yang didirikan sejak tahun 1970an tersebut tetap memancarkan jejak sejarah serta tidak meninggalkan unsur nilai-nilai adat. Seperti sengaja membeli lahan pertanian dan menimbun ulang untuk dijadikan rumah lalu memilih lokasi strategis. Di bawah kaki bukit dan tak jauh dari aliran air sungai yang mengalir dari hulu. Walau hanya bisa diakses melewati pematang sawah, rumah itu berdiri kokoh berdekatan dengan satu-satunya mesjid raya yang terdapat di Nagari Koto Hilalang, Kab. Solok.

Terinspirasi kuat dari tata letak Rumah Gadang, penempatan kamar utama sengaja diposisikan di sisi paling kanan bangunan, sebuah tradisi yang paling umum dalam arsitektur Rumah Gadang. Begitu pula dengan pemilihan atap rumah yang tidak menghadirkan elemen bagonjong, atau menahan keinginan untuk tidak membuat ukiran-ukiran khas bangunan Rumah Gadang. Terakhir, tidak ada panggung tinggi yang didirikan. Keputusan itu dipilih bukan tanpa alasan, menurut ketentuan adat jika rumah tinggal yang difungsikan untuk kehidupan keluarga sehari-hari tidak wajib mengadopsi seluruh simbol atau atribut Rumah Gadang, karena bukan ditujukan sebagai rumah adat kaum/suku yang menjadi tempat bermusyawarah atau pewarisan nilai. Makanya, angku sengaja membuat rumah sederhana dan fungsional sesuai kebutuhan keluarga.

Dalam proses pembuatannya, angku benar-benar memikirkan dengan sangat matang serta melimpahkan seluruh isi kepalanya sendiri. Berprofesi sebagai petani, tak heran jika aku selalu menganggap rumah panggung itu sebagai sebuah karya seni orang dulu yang hingga kini terhitung berusia setengah abad sekalipun masih dapat berdiri kokoh dan bisa dinikmati oleh anak cucunya karena setiap aspek yang dibuat selalu terhubung dengan memberdayakan kondisi alam sekitar.

Pertamaangku memanfaatkan mata air yang berasal dari lereng bukit di belakang rumah sebagai sumber kehidupan. Jadi, akses air bersih untuk mandi, wudhu dan membilas pun benar-benar langsung didapat dari asalnya.Tak heran pada masanya, banyak orang datang ke rumah membawa jirigen untuk mengangkut air bersih agar bisa pula dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.

Kedua, pada proses pembangunannya, Angku sepenuhnya memanfaatkan hasil bumi sebagai bahan utama. Ia menebang sendiri kayu atau manyinso dari rimbo, lalu menarik dan membawanya pulang untuk dijadikan struktur dan lantai rumah yang harus melalui beberapa proses, pernis lantai sampai dengan finishing. Tidak sampai disitu, kreativitas angku terus dieksplore dengan menjadikan sisa pohon kelapa yang tersambar petir sebagai bangku taman lalu disusun di bawah pohon rindang sebagai tempat bersantai. Ia juga mengangkut batu kerikil dari sungai sedikit demi sedikit, hingga halaman rumah tertutup rapi oleh taburan bebatuan tersebut. Terakhir angku sengaja meninggikan posisi rumah dengan gundukan tanah agar sewaktu-waktu tidak mudah terkikis oleh banjir atau luapan air yang meninggi di sekitaran sawah yang bisa mengerus kapan saja bagian bangunan rumah saat hujan turun.

KEHIDUPAN DI KAMPUANG

Dijadikan sentral kehidupan dan dirancang sedemikian rupa oleh angku agar kami yang menghuninya bisa menikmati hasil bumi sekitar tanpa harus mencari kesana-kemari, baik ibu maupun uwak tidak harus bolak-balik ka lapau untuk membeli rempah masakan karena daun salam, kunyit, lengkuas, daun limau, sereh hingga daun pandan semua tersedia di pekarangan belakang atau tanaman herbal untuk obat-obatan seperti daun jarak, daun bungo rayo, daun sirih hingga lidah buaya. Bahkan jika melihat ke sisi kiri bangunan rumah, 400 meter di ujung sana terdapat parak laweh yang sengaja ditanaman puluhan pohon kelapa, cengkeh, pala dan tanaman yang tidak hanya bisa dijadikan sebagai kayu bakar untuk memasak namun juga menghasilkan uang. 

Seolah angku benar-benar memanjakan kami dengan hasil bumi lainnya dengan sengaja menanam buah-buahan disekitar pekarangan rumah agar tidak perlu kelaparan. Ada pohon tebu, segala jenis pepohonan jambu dan tingkatan buah mangga (mangga golek, palem, kweni, bacang), sirsak, duku, rambutan, sawo, belimbing, delima, jeruk, pisang, buah nona dan buah-buahan lainnya. Sehingga kebutuhan serat serta asupan gizi ku benar-benar sudah tercukupi karena bisa memakan buah-buahan yang kaya akan vitamin langsung dipetik dari pohonnya. 

Ketiga, melihat betapa kreatifnya Angku memanfaatkan kondisi alam di sekeliling rumah, ayah pun juga tak mau kalah. Jika Angku begitu ahli memanfaatkan hasil bumi, maka ayah pun juga melihat peluang besar dan memanfaatkan lahan yang ada untuk dijadikan sumber uang. Setelah kembali menetap di kampung, bagaimana caranya agar keberlangsungan hidup keluarga tetap harus terpenuhi dan berjalan semestinya. Ayah tak perlu lagi bekerja keras sekuat tenaga, bahkan di umurnya yang sudah menginjak 50 tahunan kini ia mulai menjalani bisnis di sektor pertanian dengan berinvestasi pada tanah, lahan sawah maupun jasa orang-orang yang mau menjalankan bisnis lalu berbagi hasil, seperti misalnya tidak lagi perlu repot-repot membeli beras ke warung untuk kebutuhan sehari-hari karena bisa kapan saja meminta jatah bareh dari heler yang didapat sebagai hasil pertanian orang-orang yang menggunakan lahan sawah ayah tersebut untuk bercocok tanamSecara citra Bareh Solok yang begitu mendunia menjadikan kami bisa menikmati bareh sokan dan dimasak menggunakan api tunggu hingga menjadi nasi dengan kualitas nomor satu. 

Area sawah belakang rumah yang semula digunakan untuk menanam padi kemudian digarap menghasilkan sayur-sayuran. Seolah, semua kebutuhan hidup bisa didapat disekeliling rumah. Ada terong, sawi, umbian seperti singkong, kentang, wortel, tomat mentimun, saledri bawang prei, buncis, labu, kangkung, cabe rawit hingga baparak ladoTak hanya untuk dikonsumsi sendiri namun hasilnya juga akan dijual ke pemasok. Walau hasil panen cabe sempat merugi, hal itu tak serta membuatnya kapok dan kembali mencoba merambah bisnis biji kopi, luwak hingga yang paling mendatangkan banyak cuan yaitu bisnis peternakan sapi. Ayah sengaja menaruh modal bagi siapapun yang mau menggarap sawah, siapa saja yang ingin beternak sapi simmental, dari satu ekor bisa berkembangbiak melahirkan anak hewan lainnya agar bisa mendapatkan untung berkali-kali lipat. Bahkan, akan sangat menggiurkan sebagai pemodal untuk ayah bisa menjadikan potongan hewan dijual kembali jelang mendekati hari raya besar dimana masyarakat sekitar tidak perlu jauh-jauh turun ke kota untuk berbelanja kebutuhan atau daging ke Pasar Raya namun bisa didapat di dekat rumah. 

Menerapkan gaya hidup dengan memanfaatkan sumber daya alam untuk kebutuhan sehari-hari, tinggal di desa menjadikanku benar-benar meresapi kehidupan nature-based living. Selain beras, rempah dan sayur-mayur yang didapat dari hasil bercocok tanam, atau bahkan memasok daging sapi dari hewan ternak yang dikembangbiakkan oleh orang kepercayaan, tumbuh sebagai anak desa kebutuhan protein hewaniku juga didapat dari belut yang ditangkap disekitar rumah atau bahkan sengaja dibudidayakan di pinggir sawah. Selain itu, alih-alih membeli potongan ayam boiler di pasar, aku terbiasa mengkonsumsi ayam kampung yang dirawat di halaman rumah. Karenanya, membantu ayah memasukkan ayam ke kandang di sore menjadi aktivitas harianku tumbuh di kampung bahkan alih-alih membeli telur ayam ras ke warung, aku lebih sering diminta masuk ke kandang dan harus bertarung dengan galaknya ayam betina yang lagi mengeram untuk mengambil telur ayam kampung tersebut.

Keempat, membangun rumah di tengah sawah, angku juga memilih untuk membuat dua kolam air tawar di sekelilingnya dan sengaja memanfaatkan air sawah disekitar sebagai aliran air di tabek ikan, sehingga kolam selalu terisi segar dan berfungsi secara alami tanpa perlu sistem tambahan. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, selain membudidayakan ikan lele untuk dijual kembali ke pasaran, ayah juga membagi beberapa space kolam di depan untuk diisi dengan ikan gurame, patin, nila dan lokan menyebar disekitar. Begitulah aku hidup ketika ingin makan belut, tinggal cari di sawah. Ingin mengkonsumsi telur ayam kampung, tinggal ambil dikandangnya, jika ingin menyantap ayam kampung tinggal disembelih atau jika ingin makan ikan ya tinggal di pancing. 

Saking akrabnya hidup berdampingan dengan alam, hewan-hewan pun seolah menjadi bagian dari keseharian. Sarang semut yang sering dibersihkan, sarang lebah yang begitu menakutkan namun kerap ditemukan di area genteng, sipasan atau lipan yang suatu hari pernah menggigit kaki ibu, kehadiran capung yang berterbangan atau sarang burung di atas pohon. Sesekali biawak bersembunyi di balik batu, dan tak jarang ular air melintas begitu saja. Suasana pagi ku selalu dimulai dengan ayam berkokok, sementara malam hari diiringi suara kodok, jangkrik, dan bunyi bebatuan yang hanyut terbawa aliran sungai saat hujan deras. Bahkan suatu hari, babi hutan pernah nyasar dan muncul dari semak belakang seolah alam dan segala isinya adalah teman-teman lama yang tak terpisahkan dari keseharianku selama 6 tahun tinggal di kampung.

Comments