Prosedur lanjutan perawatan gigi
Sebelumnya: Perawatan Saluran Akar Gigi di RSAL dr. Mintohardjo
Terhitung sudah 1,5 bulan terakhir, aku rutin bolak-balik ke Rumah Sakit di Benhil guna menjalani serangkaian prosedur perawatan gigi yang cukup menyita waktu, mulai dari Perawatan Saluran Akar, kunjungan kontrol, hingga kini memasuki ke tahapan perawatan gigi lanjutan.
![]() |
| Hasil Rontgen Panoramic pasien Poli Bedah Mulut RSAL dr. Mintohardjo, Jakarta |
Setelah kontur permukaan restorasi gigi ditutup dengan sinar laser, dokter spesialis pun melakukan pengecekan secara keseluruhan. Awalnya aku merasa sedikit lega, akhirnya perawatan panjang ini usai juga. Perasaan ingin buru-buru pindah ke tindakan berikutnya ini langsung terselak oleh temuan baru lainnya:
"Nih ada lagi lubang kecil (di geraham kanan atas).
Tapi gak harus perawatan akar, cukup tambal aja"
Seperti sedang de javu, ucapan dokter Agung langsung mengingatkan ku dengan kalimat yang sama yang diucapankan oleh Ica dua tahun silam. Andai saat itu terlontar ucapan,
"Yaudah tambal aja ca!"
dan nggak memilih diam, mungkin tidak akan berkelanjutan seperti sekarang. Gigi yang semula berawal dari lubang kecil, kini mengantarkan ku pada proses panjang Perawatan Saluran Akar yang harus melakukan setidaknya 3-4 kali kunjungan dokter di setiap minggunya.
Dan lagi, upaya untuk mencabut gigi patah dan berlubang dibagian geraham kiri bawah kembali disela oleh kerusakan lainnya. Terhitung sejak tahun 2017 hingga detik ini, ada saja kendala lain yang muncul setiap kali mendatangi Rumah Sakit. Minta rontgen terlebih dahulu-lah, harus dilakukan tindakan PSA dan tidak usah dicabut karena masih terlihat bagus; dan kini sudah difase gigi tersebut tampak membusuk hingga satu-satunya jalan ya harus dicabut. Namun, alih-alih memprioritaskan gigi yang sudah semestinya disingkirkan, Asisten Dokter justru menjadwalkan prosedur Pro Poles di pertemuan berikutnya.
B. Pro Poles
Pro Poles merupakan prosedur yang dilakukan oleh dokter spesialis untuk memoles permukaan gigi agar tampilannya menjadi lebih halus dan bersih. Namun, untuk pasien BPJS biasanya hanya mencakup proses pembersihan karang gigi saja dan tidak untuk pemberian pasta pemutih atau estetika.
Kembali bertemu dokter Agung, kali ini aku dijadwalkan untuk scalling dibagian dalam mulut yang mulai dikuasai oleh tumpukan karang di sela-sela gigi dan sulit dijangkau. Seharusnya, pencopotan karang gigi rutin dilakukan setiap enam bulan sekali, dibantu dengan rutin menyikat 2x sehari sembari membiasakan flossing setelah mengkonsumsi makanan atau berkumur dengan larutan baking soda. Namun, sepertinya hal tersebut tidak berlaku untuk si pemalas sepertiku. Alhasil noda, plak dan sisa tartar yang menempel pada permukaan gigi pun harus dibersihkan secara menyeluruh oleh ahlinya.
Surat Rujukan Internal
Semula, aku dijadwalkan agar kembali minggu depan HANYA untuk pengurusan surat rujukan internal karena PSA dan scalling bersama dokter Agung sudah selesai dilakukan. Di satu sisi, Surat Keterangan terkait tindak lanjut perawatan gigi di Poli Endodontik sudah bisa dilepas, itu akhirnya aku sudah bisa berpindah ke jenis perawatan gigi lainnya. Beruntung aku bertemu perawat Annisah, salah satu petugas yang berjaga di pintu masuk ruangan praktek dengan sigap memberikan penjelasan mengenai proses administrasi lanjutan sebagai calon pasien Poli Bedah Mulut. Singkat cerita, alih-alih harus menunggu seminggu ke depan hanya untuk secarik surat, ia kemudian menyarankanku kembali masuk ke ruang Poli Periodontik untuk meminta surat dimaksud. Beruntungnya, sesuai prediksi Asisten Dokter yang bertugas menuliskan diagnosa sesuai dengan arahan drg. Agung Wibowo, Sp.KG terkait rujukan internal apa yang akan dilakukan berikutnya.
Meninggalkan serangkaian perawatan gigi dengan diagnosa 45 Pulpitis, kini beralih ke diagnosa berikutnya yaitu 36 Necrologie Pro Exo, dimana:
- Gigi No.36: merupakan gigi geraham permanen pertama bawah yang terletak di sebelah kiri
- Necrologie (Nekrosis): Istilah ini merujuk pada kondisi pulpa gigi di bagian terdalam yang berisi saraf dan pembuluh darah telah mati.
Dalam kasus kedokteran gigi, nekrosis biasanya terjadi akibat kerusakan gigi yang sudah berlangsung cukup lama tanpa penanganan, sehingga bakteri berhasil menembus dentin hingga mencapai ruang pulpa. Salah satu tanda yang paling mudah dikenali dari kondisi gigi yang sudah mengalami nekrosis adalah perubahan warna, biasanya sudah tampak menghitam. - Pro Exodontia: tindakan yang harus dilakukan berikutnya yaitu pencabutan gigi
C. Cabut Gigi
POLI BEDAH MULUT
Datang ke Poli Gigi di hari berikutnya tanpa harus menunggu jeda waktu seminggu ke depan seperti pasien BPJS pada umumnya, berbekal dua carik kertas ditangan, lalu menyerahkan ke petugas, kali ini aku dijadwalkan bertemu dengan dokter yang berbeda di ruangan yang berbeda pula, sesuai dengan Surat Rujukan Internal yang didapat dari diagnosa dokter spesialis sebelumnya. Sesuai bocoran arahan yang didapat dari Bu Annisah yang berjaga di bagian Administrasi Poli Bedah Mulut, benar saja setelah bertemu dengan dokter Sp.BM yang bertugas, aku kemudian diminta untuk melakukan foto rontgen gigi.
2.b. RSGM LADOKGI TNI AL R.E Martadinata
Setelah sebelumnya mendaftarkan faskes di Klinik yang fokus terhadap pelayanan dasar/rawat jalan, lalu dirujuk ke Rumah Sakit umum lengkap. Kali ini, aku kembali diarahkan menuju ke bangunan lainnya, sebuah Rumah Sakit spesialis kedokteran gigi dan mulut yang masih berada di bawah naungan TNI AL, dimana tindakan medis lanjutan dimaksud tak hanya berlangsung di gedung RSAL dr. Mintohardjo seperti kunjungan-kunjungan yang pernah dilakukan sebelumnya, melainkan harus berjalan melewati sekitar 350 meter ke ujung sana agar tiba di gedung LKG lantai 3 Rumah Sakit Gigi dan Mulut LADOKGI TNI AL R.E Martadinata, Jakarta Pusat.
a. Rontgen Gigi
Umum dilakukan sebelum tindakan pencabutan, diketahui prosedur medis Rontgen gigi kerap dilakukan guna mencaritahu detail dari permasalahan apa saja yang terdapat di bagian dalam mulut pasien termasuk gigi dan gusi. Dalam kasus ku, radiografi paniramic/cephalometric sengaja dilakukan untuk mengetahui seberapa besar keparahan yang terjadi pada gigi berlubang bahkan mungkin mendeteksi sudah sejauh mana pembusukan terjadi di antara penampakan gigi molars tersebut.
![]() |
| Gigi no.36 dengan kondisi Necrologie yang harus dilakukan tindakan Pro Exodontia |
Untuk mendapatkan hasil medis yang akurat, selama rontgen gigi berlangsung ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pemindaian dimulai.
Pertama, melepaskan semua perhiasan yang terpasang di area kepala dan leher seperti anting, kalung, jarum, atau benda logam lainnya agar tidak mengganggu proses Radiografi Ekstraoral.
Kedua, setelah memastikan tidak ada benda logam yang tertinggal, aku diminta mengikuti instruksi berikutnya:
- Berdiri dengan posisi tubuh tegak dan menempatkan wajah di bagian penyangga mesin
- Memastikan letak dagu harus menyentuh sandaran khusus pada Panoramic X-ray machine dengan menyesuaikan tinggi badan pasien
- Selama proses pemindaian, aku diminta menggigit bite-block yang sudah dilapisi plastik sekali pakai
- Setelah semuanya siap, mesin mulai berputar perlahan mengelilingi kepalaku, memancarkan X-ray dari satu sisi ke sisi lainnya
Proses ini hanya berlangsung sekitar 10 detik, tanpa rasa sakit, tinggal diam dan menunggu mesin yang terus berjalan menyelesaikan putarannya.
b. Resep Obat di Apotek
Punya beberapa misi yang musti diselesaikan siang ini, berbarengan dengan surat pengantar yang sebelumnya diberikan untuk melakukan tindakan Dental X-ray di bangunan gedung RS berbeda, dokter juga memberikan resep obat antibiotik berupa Mefenamic Acid dan Amoxicillin Trihydrate Kaplet 500 mg yang harus diambil di bagian apotek RSAL dr. Mintohardjo Benhil sehingga aku jadi punya cukup waktu untuk bakar kalori karena harus bolak-balik RS.
Sesuai anjuran, sebelum tindakan cabut gigi nanti aku diminta untuk mulai mengonsumsinya H-1 dan harus menghabiskannya sesuai dosis yang diberikan.
c. Jadwal Dokter
Diberi beberapa opsi nama Dokter Spesialis Gigi Bedah Mulut dan Maksilofasial yang akan menangani prosedur pencabutan gigi, awalnya aku berpikir jika hal tersebut bisa saja dilakukan dalam waktu dekat mengingat jadwal MCU yang tak bisa diprediksi kapan. Ternyata jadwal janji temu yang paling memungkinkan baru bisa dilakukan 1,5 bulan ke depan, sehingga mau tidak mau aku harus memilih awal bulan Januari di Tahun 2026 mendatang agar bisa ditangani oleh DR. drg. Hari Sumitro, Sp.BM.




Comments