Fun activities Kelompok B di sekolah
![]() |
| Belajar berhitung menggunakan fasilitas dan teknologi layar LED di sekolah |
Di tahun kedua pembelajaran, tampaknya beberapa kegiatan rutin kembali hadir sebagai bagian dari tradisi sekolah, seperti field trip, lomba, manasik haji, market day, kelas mengaji, persiapan pentas seni, praktik sholat dan lainnya. Bedanya, jika field trip tahun lalu diadakan di kebun binatang, kali ini justru memilih lokasi taman bermain yang dekat dari kawasan sekolah. Atau hafalan surat yang sudah bergeser dari Surat An-Naba' ke Al-Muzammil. Namun yang paling menarik, ada beberapa kegiatan baru yang diselenggarakan buat menambah warna di tahun ajaran ini.
Pertama: Dongeng bersama Kak Yono
![]() |
| Interaksi Kak Yono Sirine bersama anak-anak yang begitu hangat dan lekat |
Nama Yono Sirine mungkin terdengar cukup familiar di dunia dongeng anak. Sosoknya pun dikenal sebagai pendongeng yang penuh energi, unik, kreatif seperti julukannya, 'si pemilik seribu suara'. Sebut saja saat ia menirukan beragam suara, mulai dari hewan, benda hingga tokoh-tokoh cerita. Dalam penampilannya di TK Aisyiyah 13 kali ini, Kak Yono Sirine berhasil membuat kisah nabi terasa hidup dan memikat. Dan terbukti, saat ia duduk di tengah gerombolan anak-anak, Kak Yono tidak hanya pandai bercerita, tetapi juga bisa bermain peran, menghidupkan tokoh-tokoh dari kisah para nabi dengan menampilkan ekspresi dan suara yang begitu mengesankan. Riuh ruangan pun semakin dipenuhi antusiasme anak-anak, selain hadiah yang didapat usai menjawab pertanyaan, yang menarik adalah penampakan Boneka Hafidz bgitu mencuri perhatian, mengingatkan mama di masa kecil yang lekat dengan tontonan Kak Ria Enes bersama boneka Susan.
Kedua: Kegiatan Sentra
Pembelajaran yang efektif di sekolah bisa tetap menyenangkan, apalagi jika dipadukan dengan metode yang menghibur, sebagai wadah untuk menstimulasi perkembangan mereka di sekolah, banyak hal bisa dilakukan melalui kegiatan bermain yang terarah dan terstruktur. Apalagi dengan bimbingan Ibu Guru, Kannel dan teman-teman kini tidak hanya belajar mengenal huruf dan angka, tetapi juga merasakan keseruan kelas melalui berbagai aktivitas bermain, bereksplorasi, dan bercerita tentang hal-hal baru. Seolah hal tersebut selaras dengan konsep pembelajaran di TK Aisyiyah-13 Jakarta yang mengusung metode Fun Learning.
a. Sentra Persiapan
![]() |
| Pengenalan pra-literasi terkait angka hingga huruf vokal bersama benda sekitar |
b. Sentra sains dan alam
Salah satu contoh serunya adalah ketika anak-anak kelompok B (Abu Bakar) mulai diajak untuk belajar sains di sekolah. Secara umum, sains adalah ilmu yang mengajarkan manusia tentang segala hal yang ada di sekitar seperti air, tumbuhan dan udara. Hal tersebut tentunya yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Di sekolah, anak-anak tidak hanya doajak untuk mengamati, tetapi juga diperkenalkan mengenai teori-teori dasar sains yang menyenangkan selama proses belajar mengajar.
![]() |
| Praktik percobaan tekanan udara dengan lilin |
Kali ini, giliran Kannel, Zoku dan Ansell mencoba melakukan praktik sains sederhana dan bereksperimen mengenai "Lilin di dalam Gelas" dengan cara dibakar di ruang tertutup menggunakan alat-alat sederhana piring, gelas, lilin, korek api dan air yang diberi zat pewarna. Praktik percobaan tekanan udara dengan lilin ini seolah menunjukkan kepada anak-anak bagaimana perubahan suhu dan tekanan udara bekerja. Nah! Teorinya, pada saat api membakar lilin, udara di dalam gelas pun menjadi panas dan pada saat gelas ditutup, udara tersebut mulai mendingin sehingga volumenya menyusut. Akibatnya, tekanan udara yang terjadi di dalam gelas akan lebih rendah daripada di luar gelas hingga menyebabkan air yang ada di luar gelas pun terhisap masuk ke dalamnya. Percobaan ini merupakan contoh sederhana yang dilakukan untuk memahami seperti apa konsep tekanan udara dan perubahan suhu yang terjadi di waktu bersamaan.
Selanjutnya, mengangkat tema alam bebas. Di semester ini Kelompok B kembali berkesempatan menanam pohon Rosemary dan Yodium Betadine di sekolah.
Atau kegiatan berikutnya, Kannel, Ahsan, Bilal dan teman-teman lainnya diajak mengamati hewan-hewan kecil yang hidup di air seperti ikan. Aktivitas ini dilakukan tidak sekadar memperkenalkan mereka pada bentuk atau warna ikan, tetapi juga mengajaknya untuk memahami seperti apa cara hidup ikan yang bernafas dengan insang. Misalnya, pada saat mereka belajar tentang alat pernapasan ikan, seperti apa ikan itu bergerak serta bagaimana hewan bersisik tersebut bisa berinteraksi dengan lingkungannya. Yang paling menarik, ibu Guru membuat kegiatan pengamatan hewan air tersebut dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak pun bisa melihat ikan dari dekat, ada yang berani memegangnya dengan tangan kosong walau tak sedikit yang merasa geli. Pokoknya aktivitas tersebut didesain guna melatih tingkat keberanian anak, tidak hanya menerima informasi secara teori, tetapi juga mengalami sendiri proses belajar melalui panca indera dan rasa ingin tahu mereka.
c. Sentra Balok dan Coding Angka
Kegiatan sederhana seperti merangkai huruf di papan keyboard untuk mengenalkan kata pada anak sebenarnya sudah termasuk dalam tahap pengenalan pra-coding yang kerap dilakukan di rumah. Namun, seiring bertambahnya pemahaman dasar, Kannel mulai diperkenalkan pada logika berpikir, urutan langkah serta pemecahan masalah secara kreatif. Terkesan berat, padahal aktivitas tersebut sangat dekat dengan kehidupan anak sehari-hari, tentang bagaimana caranya anak-anak usia 5-7 tahun tersebut bisa diajak berpikir sistematis untuk menyelesaikan persoalan, mengenali pola serta membuat rencana langkah demi langkah dengan fokus terhadap computational thinking. Contoh paling dekat adalah saat Kannel menyukai permainan balok, puzzle, atau Lego dan kerap melakukan aktivitas permainan asah otak tersebut di rumah dimana anakku terbiasa bermain sambil mengasah kreativitas, imajinasi, dan kemampuan berpikir kritis.
d. Sentra Seni
Saat anak-anak diajak menonton film kartun, ibu Guru lantas mengajak mereka untuk memvisualisasi ulang apa saja yang mereka tangkap. Aktivitas ini dipercaya mampu menstimulasi kemampuan anak saat mengamati, mengingat detail dan menyalurkan imajinasi. Terbukti dengan cara ini, Kannel mampu menghubungkan pengalaman indera penglihatannya dengan ekspresi kreatif sekaligus melatih konsentrasi, koordinasi tangan-mata dan kemampuan motorik halusnya dimana ekspresi kreatif dan pengembangan estetika ini kemudian terealisasikan di buku gambar.
Serta masih ada kegiatan sentra lainnya yang berhubungan dengan aktivitas anak seperti sentra bermain peran, sentra bahan alam hingga sentra musik dan gerak.
Ketiga: Pengayaan
Jelang tahapan persiapan menuju Sekolah Dasar, kini Kannel punya kegiatan tambahan di luar jam pelajaran utama, dimana setiap hari selasa dan kamis ia bersama 8 orang teman lainnya memiliki waktu khusus untuk belajar mengenal huruf, angka, bentuk dan pola lebih banyak hingga pukul 14.30 WIB. Secara garis besar, pengayaan diharapkan bisa memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan menyenangkan bagi anak-anak Kelompok B, diinisiasi oleh wali murid dan guru yang sepakat ingin mendampingi anak-anak tumbuh positif dengan harapan bisa memperkuat dasar literasi dan numerisasi sebelum mereka naik ke jenjang berikutnya. Nah, setelah mendapatkan pelatihan di sekolah, tak lupa ibu Guru juga menyelipkan satu dua tugas sederhana yang bisa dikerjakan saat pulang. Dengan begitu, proses belajar anak tidak berhenti di sekolah saja, tetapi berlanjut dengan pendampingan orang tua di rumah.
Baca selengkapnya: Les Calistung di Sekolah
Terakhir, jadi mu'adzin
![]() |
| Kannel jadi mu'adzin saat praktek sholat berjamaah di sekolah |
Dalam upaya menanamkan nilai agama di sekolah, setiap hari jum'at anak-anak pun diperkenalkan dengan kegiatan beribadah umat muslim. Di sekolah, mereka pun turut diajarkan tata cara wudhu, membaca do'a pendek hingga bacaan apa yang hendaknya dibaca usai mendengarkan panggilan salat sejak dini. Namun kali ini ada berbeda, akhirnya untuk pertama kali Kannel mendapat giliran menjadi muadzin saat kegiatan praktek sholat berjamaah di sekolah. Yap, jika di akhir tahun ajaran lalu ia bersama teman-teman tampil bersama di pentas seni, namun ini momen pertama kalinya Kannel menjadi penampil seorang diri. Unjuk gigi melantunkan panggilan sholat di depan teman-teman yang lain, pastinya dibantu pendampingan oleh ibu Guru dalam membisikkan setiap lafaz dan menuntun agar bacaan dan intonasinya tepat.
Usai azan berkumandang, disusul dengan iqomah oleh murid yang lain. Seketika, semua anak pun bersiap melaksanakan salat berjamaah dengan tertib, mengikuti arahan Ibu Guru baik saf laki-laki maupun perempuan yang dibuat terpisah. Seolah, membangun momen spiritual anak dari kebiasaan yang dibentuk sejak usia dini dengan terus mengedepankan kedisiplinan berlangsung khidmat dengan pengenalan betapa pentingnya ibadah sholat wajib dilakukan bagi seorang muslim.







Comments