Serumen Prop bikin telinga pengang

Setiap manusia dilahirkan dengan kondisi yang beragam. Ada yang memiliki rambut ikal bergelombang, wajah berminyak, ada pigmennya, memiliki kulit sensitif dan lainnya sesuai faktor genetika. Jika ada orang-orang memiliki kotoran telinga kering dan rapuh, lain halnya dengan kondisi organ pendengaranku yang justru menghasilkan lebih banyak kotoran basah, lengket atau bahkan berwarna lebih gelap. Ya, Serumen yang moist atau sticky hingga menyebabkan penyumbatan pada saluran telinga menjadi concern kesehatanku kali ini, kondisi dimana produksi kotoran telinga secara berlebihan dan kerap menempel pada dinding saluran telinga sehingga lebih sulit untuk keluar tanpa bantuan. Is it okay?

Secara alami, diketahui kotoran telinga berfungsi untuk melindungi saluran telinga dari debu, kuman atau benda asing yang masuk. Namun, ketika kotoran telinga menumpuk atau terperangkap terlalu banyak di rongga telinga, hal ini bisa memicu beberapa gejala, seperti:

  • Rasa tersumbat/telinga terasa penuh
  • Penurunan pendengaran
  • Rasa gatal dan nyeri

Di tahun 2016 silam, aku pernah mengalami suatu kondisi dimana pendengaranku sedikit bermasalah, bisa dibilang ciri-cirinya persis seperti gejala di atas. Padahal, aku sangat jarang mengorek kuping menggunakan cottonbud. Rasanya seperti ada endapan yang begitu kuat sehingga kualitas pendengaran yang sangat terbatas, persis seperti telinga kemasukan air. Ditambah, kondisi semakin diperparah oleh tekanan udara yang dihasilkan usai bepergian menggunakan pesawat terbang seolah memperburuk keadaan. Puncaknya,  kondisi ini harus segera ditangani ke Rumah Sakit yang menyediakan layanan khusus THT. 

1. Penyedotan (Aspiras)

Sore itu, saat mengunjungi di RS Khusus THT-Bedah KL Proklamasi Jakarta Pusat, aku langsung berurusan dengan Administrasi, lalu diberikan Kartu Identitas Berobat (KIB) sebagai tanda pendaftaran pasien baru. Sebelum bertemu dengan dokter spesialis, seperti prosedur umum pada pemeriksaan medis, perawat terlebih dahulu melakukan pengecekan tekanan darah, menimbang berat badan, serta mencaritahu riwayat kesehatan pasien secara garis besar untuk keperluan pencatatan medis awal.  Setelah itu, barulah dilakukan tindakan oleh Dokter THT (Otolaringolog) beserta Asisten Dokter, dimana dr. Zainal Adhim, Sp.THT-KL (K), Ph.D yang bertugas mengambil tindakan penyedotan. 

Mengutip dari laman Alodokter, prosedur penyedotan kotoran telinga dalam istilah kedokteran disebut Aspiras yang merupakan prosedur medis untuk mengeluarkan penumpukan kotoran telinga berlebih. Biasanya, cara paling umum yang dilakukan dokter THT pada saat membersihkan telinga pasien menggunakan metode microsuction, dimana tindakan penyedotan kotoran telinga menggunakan alat penyedot khusus bernama suction. Tak sampai hitungan menit, sedikit demi sedikit kotoran yang menumpuk di telingaku mulai keluar, dan tampak cukup banyak endapan berwarna cokelat dan melebur dengan air pembersih saat dikeluarkan. Seketika, kuping ku terasa lebih nyaring. Desis kecilpun menggema seolah-olah bisa indera pendengaranku jauh lebih peka hingga kembali normal. 

2. Irigasi Telinga (Spuit)

Beberapa tahun kemudian, kondisi serupa kembali terjadi! Dan jika dilihat-lihat, kejadian serumen prop yang lembap dan menumpuk ini juga turut dirasakan oleh sang anak, dimana telinga anak usia 6 tahun ku kerap menghasilkan kotoran menumpuk yang lengket dan berwarna kecokelatan. Terbilang cukup berani mengambil keputusan saat membeli obat tetes tanpa resep dokter maupun anjuran apoteker, mengingat kondisi kesehatan telinga yang terus berdenging dan membuatku mulai merasa tidak nyaman, akupun memberanikan diri membeli Vital Ear Oil yang sekiranya dianggap bisa membantu permasalahan kesehatan pendengaranku, namun yang terjadi pengang di telinga semakin hebat. Aku yang masih maju mundur untuk mendatangi Poli THT, akhirnya memberanikan diri untuk datang ke Pusat Kesehatan Masyarakat terdekat agar mendapatkan tindakan serius. Kepalang tanggung, rupanya pelayanan Poli THT tidak tersedia di Puskesmas Kecamatan Setiabudi, jika beruntung nantinya akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum. Terlanjur tiba dan sudah mengantri cukup lama, mau tidak mau aku tetap harus menghadang kerumunan dan berhasil menembus puluhan antrian yang hendak berobat di tempat yang sama. Usai berurusan dengan administrasi, kemudian diarahkan ke Poli Umum, lalu bertemu dengan perawat dan dokter yang bertugas. Keinginan untuk mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit Umum terdekat langsung urung usai berkonsultasi panjang lebar dengan Dokter Umum. Untungnya hanya penyumbatan, bukan kasus medis yang sampai mengalami pendarahan atau gendang telinga pecah sehingga aku hanya disarankan masuk ke ruang tindakan Puskesmas untuk dilakukan penyemprotan pada telinga. 

Ada seorang asisten dokter atau perawat yang bertugas di IGD. Aku segera menyerahkan surat rujukan, kwitansi, dan struk dari meja administrasi kepadanya. Ia pun memproses tindakan medis sesuai dengan isi surat rujukan yang didapat dari dokter umum sebelumnya. Disana, aku duduk di atas tandu emergency Instalasi Gawat Darurat dengan rasa ketakutan, berusaha menyiapkan diri secara mental meski semuanya terasa begitu mendadak. Sambil menanyakan keluhan, petugas kesehatan tersebut mencoba membidik telinga kiri ku menggunakan Otoskop dan betapa terkejutnya ia saat melihat kotoran telingaku telah menutup rapat akses pendengaranku di sekitar rongga dan dalam telinga sehingga pada saat penggunaan obat tetes/ear oil tak lagi berfungsi dengan semestinya. Untuk melunakkan kotoran telinga yang menyumbat, upaya penyemprotan pun segera dilakukan menggunakan spuit agar cairan saline masuk ke dalam saluran telinga. Part ini tentunya bikin perasaan semakin deg-degan, bahkan sebelum diambil tindakan, aku meminta penjelasan kira-kira efek sampingnya akan seperti apa. Aku pikir, tindakan penyemprotan cairan yang dimaksud sama halnya seperti penyemprotan parfum ke badan, yang hanya mengenai bagian luar saja namun ternyata tidak seperti dugaan awal. Duarrrr... rasanya jauh lebih menyeramkan. Dan yah, jauh lebih sakit daripada tindakan penyedotan yang pernah dilakukan 9 tahun silam.

Niat hati ingin bawa anak kesini seketika urung! 

Dalam hati, "Aku saja tidak sanggup menahan kesakitan, apalagi Kannel!".

Setelah menembus tumpukan serumen, di penyemportan yang ke-3 kalinya, aku merasa hendak menyerah. Seketika tubuhku mulai bereaksi pusing dan mual hebat. Aku langsung mengganti posisi duduk, mencoba menyandarkan tubuh dan berpegangan semakin kuat, berusaha tetap bisa mengendalikan diri agar tidak sempoyongan atau terjatuh, persis seperti apa yang dikatakannya. Dan perasaan tidak menyenangkan itu terus berlanjut. Melihat kondisi ku yang sedikit syok, perawat pun menyarankan ku datang 3 hari kemudian, namun pagi itu aku hanya meminta sedikit waktu agar bisa menenangkan diri di bangku luar. Duduk sebentar sambil mengkonsumsi permen berharap rasa mual bisa dicairkan. Tak lama ketika mencoba kembali masuk ke ruang tindakan, aku pun bertemu dengan Dokter IGD yang bertugas dan menghentikan tindakan Aspiras tersebut mengingat jika dipaksakan, yang ada hanya menyisakan trauma dan rasa kesakitan luar biasa. 

Sebagai solusi, akupun diresepkan obat tetes Phenol Glycerol 10 % 5 ml sekaligus antiseptik yang bisa digunakan 3x sehari untuk meredakan rasa sakit pada bagian luar dan tengah rongga telinga. Dan kali ini, jauh lebih manjur daripada Vital ear oil yang kugunakan sebelumnya, bahkan diminta untuk kembali untuk melihat perkembangannya mengingat kotoran yang tersisa di dinding dan pinggiran telinga bagian dalam ku masih begitu banyak. 

Comments