Eksplorasi Emosi Anak 6+

Menginjak usia 6 tahun, aku dikejutkan oleh perubahan sikap Kannel yang tak lagi bisa disebut bayi kecil. Anak yang selama ini dikenal penuh tawa dan kelucuan, kini mulai menunjukkan sisi berbeda yaitu fase "rebel" yang penuh drama.


Menangis saat lapar, tertawa saat senang atau merengek saat mengantuk. Dulu, bentuk ekspresi Kannel tampak sederhana. Namun kini, ia mulai bereksplorasi dengan sikapnya, mengingat di usia 6 tahun anak sudah bisa mengenali, menamai dan mengekspresikan emosi dengan lebih kompleks. Ketika egosentris anak muncul, sebetulnya ia belum begitu memahami bagaimana seharusnya bersikap. Dulu, Kannel anak yang kerap memendam perasaannya. Ketika perlahan ia bisa dibujuk untuk lebih jujur dalam mengekspresikan apa yang dirasakan, letupan amarah dalam dirinya pun turut dimunculkan sebagai bentuk frustrasi yang timbul saat tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Beberapa bentuk penyaluran amarah yang dilakukan ialah dengan cara membanting mainan, membantah dan berbicara dengan nada tinggi. Kadang, volume suaranya akan meningkat hanya karena hal kecil yang terjadi atau mencari pojok ruangan sambil merintih saat sesuatu yang terjadi tidak sesuai keinginannya. Sebagai orangtua, tentunya ini menjadi kejutan tersendiri saat anak berada dalam masa transisi.

Sadar jika anak sedang bertumbuh dari dunia batita yang serba intuitif memasuki dunia anak usia sekolah yang mulai lebih kompleks, baik dari segi emosi, sosial maupun pemahaman akan aturan. Oleh karenanya, sebagai orangtua aku diingatkan kembali untuk belajar ilmu parenting baru bahwa di balik perilaku menantang tersebut, ada pesan yang ingin disampaikan. Yap! Perilaku seperti mlempar benda disekitar saat sedang marah, membangkang atau menaikkan nada suara sebenarnya bukan karena anak ingin melawan orangtua secara langsung. Sering kali, itu adalah bentuk ekspresi frustrasi yang belum bisa diungkapkan oleh anak dengan kata-kata yang tepat. Di satu sisi, Kannel ingin menunjukkan bahwa ia mampu, bahwa ia punya suara dan pilihan. Tapi di sisi lain, ia belum sepenuhnya bisa mengelola dorongan emosional yang datang tiba-tiba. Alhasil, percikan drama terus terjadi belakangan ini. 

Ketika kata jangan dan tidak kini mulai sering terlontar secara sadar siring meningkatnya intensitas perilaku menantang ini terjadi, aku mulai memahami betapa besar kekuatan dari setiap ucapan orangtua terhadap jiwa anak hingga suatu hari, ia menangis sesegukan karena merasa terpojokkan atas sikapnya. Dengan suara lirih ia berujar, 

"Kannel bukan anak baik. Kannel udah gak disayang mama lagi!
Kannel jahat, Kannel gak baik..." 

Duniaku pun hancur mendengarnya! Sontak, penghakiman diri yang dilakukan Kannel siang itu benar-benar membuatku merasa bersalah. Ternyata, kata-kata yang terucap dari mulut orangtua saat larut dalam kemarahan bisa menyisakan luka atau bahkan trauma mendalam bagi anak. Ego pun seketika ku hancurkan, ku raih tubuh mungilnya dan membalut dengan pelukan serta rasa bersalah. Ada tangisan, kemarahan dan perasaan bersalah di dalamnya. Seolah, semua pembenaran yang kupegang hancur bersama air mata.

Betapa dilemanya sebagai orangtua meskipun maksudnya untuk mengarahkan, aku tahu betul bahwa terlalu banyak larangan tanpa penjelasan justru bisa membuat anak merasa terpojok, bahkan kehilangan rasa percaya dirinya. Dan aku merasa berdosa, pernah membuatnya diposisi tersebut. Padahal, pada usia ini anak justru sangat sangat membutuhkan bimbingan yang tegas tapi penuh kasih sayang. Oleh karenanya, langkah bijak yang seharusnya diambil dalam menemani anak di masa transisi ini ialah aku kembali belajar ilmu baru terhadap kebutuhan anak dalam menemaninya bertumbuh di fase penting, fase dimana ia mulai mengembangkan logika, rasa ingin tahu yang lebih dalam serta kebutuhan untuk merasa didengar dan dihargai.

Kini, aku sedang belajar untuk memberi anak:

  1. Konsekuensi yang logis, bukan hukuman keras
  2. Pilihan yang memberdayakan, bukan sekadar larangan
  3. Aturan yang konsisten, tapi fleksibel ketika perlu
  4. Validasi emosi, bukan sekadar “kamu jangan marah”.
Pada praktiknya, fase ini memang tidak mudah! Butuh kekuatan ekstra untuk kami berperan sebagai orangtua gar lebih sabar dalam menghadapinya. Terlebih, mendampingi anak kecil yang sedang belajar mengenali dunia, mengenali dirinya dan juga mengenali batas-batas yang akan membentuknya kelak. Aku sadar betul, bukankah disinilah letak peran orangtua?

Comments