Hidup Seperlunya, Nggak FOMO!

Di era media sosial saat ini, influencer seolah berlomba-lomba membagikan tren gaya hidup yang terus berganti. Dari skincare routine,dekor rumah hingga jajanan viral kemudian menjadi salah satu topik yang menarik perhatian. Namun, di tengah gempuran tren tersebut, aku justru tertarik pada sesuatu yang bertolak belakang yang berhubungan dengan gaya hidup sederhana: Minimalism Living. Dimana aku mulai merasa nyaman untuk hidup lebih tenang, terukur, dan bebas dari kebiasaan konsumtif, sebuah lifestyle yang tanpa kusadari telah kujalani sejak lama.

Dalam salah satu episode YouTube Greatmind: On Marissa’s Mind berjudul Menyederhanakan Hidup, dibahas pandangan seorang filsuf tentang makna kesederhanaan yang begitu melekat dibenak. Salah satu kalimat yang paling membekas bagi saya adalah:

"Hidup sederhana lebih terasa penuh dan berarti dibandingkan hidup dalam kemewahan".

I agree with! Semakin sedikit yang kita miliki, semakin banyak ruang untuk merasakan. Bukan hanya ruang secara fisik, tapi juga ruang batin untuk bersyukur, bernapas, dan benar-benar hidup.

Lifestyle

Seni hidup minimalis pun ku mulai membatasi konsumsi sosial media. Yang ada, kini hanya notifikasi penting yang muncul di layar ponsel seperti pesan singkat, SMS Banking, atau hal-hal mendesak lainnya. Bahkan, aku sengaja menyembunyikan postingan beberapa kenalan, bukan karena tak peduli, tapi lebih sebagai bentuk self-therapyTujuannya sederhana: agar aku tidak mudah terpancing membandingkan atau mengomentari kehidupan orang lain lewat unggahan-unggahan mereka. Meski terkadang, yang terlihat bahagia belum tentu benar-benar bahagia pun sebaliknya, dan aku tak ingin terseret dalam ilusi tersebut. 

Alih-alih menghabiskan akhir pekan di bioskop atau pusat perbelanjaan, aku memilih berlangganan platform OTT seperti Netflix, Disney+, VIU, dan Spotify. Dengan begitu, aku bisa menikmati hiburan kapan pun dari rumah, tanpa harus keluar atau ikut dalam euforia yang kadang terasa melelahkan. Kesederhanaan ini ternyata menghadirkan ketenangan yang tidak kutemukan dalam gaya hidup yang serba ramai dan cepat.

Minimalism

Di usia sekarang, aku mulai hidup dengan prinsip seperlunya saja. Walau gaya hidup minimalism tengah menjadi tren positif, aku tidak pernah merasa perlu ikut-ikutan. Apa yang kini aku jalani bukan sekadar meniru gaya hidup populer di media sosial, melainkan kebiasaan yang sudah terbentuk sejak lama dan didasari keyakinan pribadi maupun kebiasaan mendengarkan kata hati.

Aku tidak punya boneka Labubu, masih setia menggunakan ponsel lama yang masih layak pakai, dan kalau pun ingin menonton konser, alasannya sederhana: karena aku benar-benar menyukai musik dan si musisi dan bukan demi konten atau biar dianggap up-to-date di linimasa. Bukan berarti orang lain tidak boleh melakukannya, hal itu sebenarnya sah-sah saja. Hanya saja, aku memilih tidak ikut arus itu. Bahkan sejak kecil, konsep perayaan seperti tiup lilin saat ulang tahun terasa asing bagiku. Kata "anniversary" juga terdengar jauh. Aku tidak terbiasa dirayakan, dan tidak terlalu antusias dengan momen-momen hari jadi, bahkan untuk hal besar seperti Lebaran sekalipun. Aku tidak punya baju seragam keluarga, apalagi pasangan. Bukan karena pelit atau gimana, tapi memang sejak awal terbiasa hidup dengan cara yang biasa-biasa saja.

Gaya hidupku pun cenderung sederhana. Aku bukan perokok, bukan pengguna vape, apalagi peminum alkohol dan bagiku minuman manis dalam kemasan seperti NU Green Tea, Teh Botol Sosro, minuman soda berkaleng atau apalah itu.. masuk dalam kategori produk mahal. Dalam arti penilaian bukan dari segi harga, melainkan untuk kebutuhan tubuhku. Kalaupun berkesempatan untuk mengkonsumsinya, hanya di kesempatan tertentu saja. Dan lagi, tubuhku juga cukup sensitif terhadap kafein, membuatku tak tergoda mengikuti tren ngopi di kafe ala Gen Z yang bisa menguras dompet. Dalam aspek lain, aku juga mencoba hidup lebih ramah lingkungan. Beberapa tahun terakhir, aku beralih menggunakan deodorant tawas dan beberapa barang zero waste alih-alih produk tisue sekali pakai yang bisa didapat dengan mudah di minimarket. Bahkan kini, aku cukup berani bilang “nggak usah, Mas” ketika ditawari kantong plastik oleh pedagang. Pada akhirnya, hidup seperlunya bukan berarti hidup kekurangan. Justru di situlah aku merasa cukup.

You Only Need One

Biasanya, seseorang yang mengadopsi gaya hidup YONO (You Only Need One) akan lebih memilih menggunakan uangnya untuk kebutuhan yang benar-benar mendasar, daripada membelanjakannya pada hal-hal yang bersifat sementara atau sekadar demi mengikuti tren, informasi, atau aktivitas yang sedang populer karena dorongan Fear of Missing Out.

Yap! Aku bisa berbicara selantang ini karena pada masanya pernah menghabiskan sebagai remaja yang suka beli pernak-pernik tanpa tahu fungsi. 

Batasi Perilaku Konsumtif

Menjalani hidup dengan kesadaran penuh tidak berarti aku kebal dari keinginan memiliki barang-barang fungsional yang berkualitas, bermerek, bahkan didapat dengan harga yang masuk kategori mahal. Meski sejatinya aku tidak butuh banyak barang, aku tetaplah manusia biasa yang kadang terobsesi pada benda-benda bernilai. Namun, prinsip dasar gaya hidup YONO (You Only Need One) menekankan makna di balik kepemilikan menghargai setiap benda yang dimiliki dan memastikan bahwa setiap pembelian benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar impulsif.

Untuk mendapatkan satu barang saja, aku sering kali melakukan berbagai pertimbangan:

Apakah aku pantas memilikinya?
Apakah ini sesuai dengan kondisi keuanganku sekarang?
Adakah pilihan yang lebih rasional?

Setelah akhirnya membeli, aku biasanya memilih menunggu hingga barang tersebut rusak atau tidak layak pakai sebelum menggantinya dengan yang baru. Prinsipku sederhana: If one comes in, one goes out. Ini berlaku untuk tas, sepatu, celana jeans, hingga jam tangan. Biasanya, barang-barang tersebut bisa bertahan hingga 3-10 tahun sebelum diganti.

Punya sedikit barang? Nggak apa-apa.

Setiap benda yang ada di rumahku pasti punya cerita dan alasan jelas kenapa ia ada di sana. Nggak masalah jika fotoku di media sosial memperlihatkan outfit yang itu-itu saja, karena aku sedang belajar menahan ego, mengelola uang, dan hidup lebih sadar.

Soal berpakaian, aku cenderung menyukai busana polos, warna-warna netral dan memilih satu model yang bisa dipadupadankan dengan potongan pakaian apa saja. Belakangan ini aku memang menyukai thrifting, tapi terus terang aku kurang nyaman dengan konsep preloved sebagai barang dagangan. Menurutku, decluttering dan langsung memberi kepada orang-orang terdekat jauh dirasa lebih bermakna.

Hal yang sama berlaku dalam urusan perawatan tubuh dan rias wajah. Aku hanya butuh satu pelembap, satu bedak, satu eyeliner, dan satu produk dari masing-masing kategori lainnya. Kadang aku suka tampilan flawless makeup, tapi ada juga hari-hari saat aku memilih tampil tanpa riasan. Kalau pun sedang ingin tampil full makeup, aku tetap tidak merasa perlu mengoleksi kuas, concealer, atau puluhan warna lipstick. Biasanya, aku hanya membeli lipstick baru ketika yang lama benar-benar habis, bukan karena tergoda warna lucu.

Puncak prinsip ini mungkin terlihat saat pesta pernikahan. Alih-alih menyewa MUA dengan tarif 3–6 juta rupiah, aku justru memilih membeli makeup impian seperti merk M.A.C dan L’OrĂ©al yang bisa digunakan berkali-kali. Dengan bujet tak sampai setengahnya, aku bisa tampil sesuai keinginan, sekaligus punya peralatan make-up branded yang bisa digunakan untuk jangka panjang.

Di zaman sekarang, belanja online bukan sekadar tren, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun aku mencoba menetapkan batas. Dulu, mall adalah destinasi wajib akhir pekan. Kini, aku lebih memilih window shopping sambil menahan diri. Saat berhadapan dengan godaan belanja di e-commerce, bisanya aku tak buru-buru check out dan sengaja membiarkan barang di keranjang selama 1–2 hari. Kalau ternyata tidak urgent, niat belanja itu pun lenyap. Bahkan dengan segala promo dan voucher yang ditawarkan, banyak yang akhirnya tak terbeli. Semakin ke sini, aku merasa gaya belanjaku perlahan berubah. Bukan karena paksaan, tapi karena kesadaran. Cara pandangku terhadap uang, kebutuhan, dan prioritas juga ikut bergeser. Dengan kebiasaan seperti ini, bolehkah aku menyebutnya sebagai bagian dari Frugal Living?

Comments