Nyekolahin anak di yayasan Muhammadiyah

Anak sekolah di TK Aisyiyah 13
Mendaftarkan anak ke sekolah Islam secara mendadak tanpa riset terlebih dahulu adalah salah satu keputusan paling gegabah yang pernah kami ambil sebagai orangtua. Terutama bagiku, yang sejak kecil tumbuh dan dibesarkan di lingkungan surau, dibekali pengetahuan dasar agama yang dirasa cukup. Sayangnya hidup di tengah mayoritas, lingkungan mengajarkan ku tampak skeptis untuk ajaran agama lainnya yang masih asing didengar.
Suatu hari, aku dibuat terkejut saat mendengar video anakku sedang melafalkan bacaan salat. Hal itu bermula saat aku mendapati sebuah video kegiatan anak di sekolah dimana pada saat belajar praktek sholat, Ibu guru mengajarkan bacaan ruku, i’tidal, dan sujud dengan versi yang tak sama seperti yang diajarkan kepadaku dulu. Kenapa ada perbedaan? Pertanyaan lain pun mulai bermunculan di benak, perlahan menggiringku untuk menelusuri lebih jauh latar belakang sekolah ini. Mengapa Kelas A dinamakan Kelompok Siti Badilah.
Puncaknya terjadi saat pembagian rapor semester pertama tahun ajaran 2024/2025. Di halaman pertama buku rapor tertulis jelas bahwa peserta didik diperkenalkan dengan nama-nama dan tokoh Muhammadiyah di sekolah. Seketika, kekhawatiranku memuncak.
Kalimat pertama yang refleks keluar dari mulutku saat itu adalah:
"Wah, kayaknya kita salah daftarin anak masuk sekolah deh, pa".
PERSPEKTIF AGAMA
Sempat terbersit kegundahan di hati saat mengetahui fakta bahwa TK Aisyiyah Jakarta berafiliasi dengan Muhammadiyah. Berbekal persepsi yang terbentuk dari kecil jika kelompok ini punya pandangan keagamaan yang cukup tegas, bahkan cenderung eksklusif dalam beberapa hal. Misalnya fanatik dalam mengagumi seorang tokoh/habib, kebiasaan memulai puasa atau merayakan Idul Fitri lebih awal dari ketetapan pemerintah hingga tata cara salat yang tak menyertakan bacaan basmalah di awal surat membuatku mulai menggugat dalam hati: Apakah ini lingkungan yang tepat untuk anakku tumbuh belajar agama?
Mengingat tumbuh dalam keberagaman (Bhineka Tunggal Ika), aku diajarkan sejak kecil untuk menghargai perbedaan. Bukan untuk membenci keyakinan orang lain, melainkan untuk tetap waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang dirasa menyimpang dari nilai-nilai Islam yang damai. Berangkat dari didikan keluarga yang menanamkan pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah, ajaran yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, sebagai pedoman hidup. Dalam pandanganku saat itu, Muhammadiyah terasa berseberangan. Mulai dari cara beribadah, pendekatan dalam memahami dalil, hingga sikap terhadap tradisi yang sejak kecil sudah akrab bagiku. Namun sebelum prasangkaku berkembang lebih jauh, aku memilih untuk mencari tahu secara langsung. Fakta yang baru ku ketahui setelah mencaritahu semua, rupanya Muhammadiyah juga mengindentifikasi dirinya sebagai bagian dari paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah, meskipun dalam bahasa dan prakteknya cukup berbeda dengan organisasi Islam lainnya.
Setelah itu, aku mulai mencari tahu lebih dalam tentang profil sekolah yang menjadi madrasah pertama anakku. Dan ternyata, di luar semua kegelisahan awal yang sempat membayangi, sekolah ini justru menyimpan banyak hal positif yang tak pernah aku duga sebelumnya. TK Aisyiyah-13 Jakarta memiliki kurikulum yang terstruktur rapi, fokus pada pembentukan karakter, serta menjunjung nilai-nilai akhlak dalam keseharian anak. Guru-gurunya juga terlihat sabar dan penuh perhatian, tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga mendampingi dengan hati. Lambat laun, kekhawatiranku mulai mereda, digantikan rasa syukur karena anakku berada di lingkungan yang tetap aman dan kondusif untuk tumbuh kembangnya, baik secara akademik maupun spiritual.
Sejarah 'Aisyiyah
Berada di bawah naungan Program Pendidikan Dasar dan Menengah ‘Aisyiyah, sebuah organisasi perempuan pertama Muhammadiyah yang didirikan pada 27 Rajab 1335 H atau 19 Mei 1917 oleh K.H. Ahmad Dahlan. Dalam proses pencarian, aku mulai mengenal sejarah berdirinya ‘Aisyiyah yang rupanya berakar dari sebuah perkumpulan gadis-gadis terdidik bernama Sapa Tresna pada tahun 1914. Perkumpulan ini menjadi cikal bakal gerakan kesetaraan perempuan dalam pendidikan formal.
Sebagai seseorang yang tumbuh dengan mengagumi perjuangan R.A. Kartini, aku melihat semangat yang sama dalam gerakan ‘Aisyiyah dengan memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, berpikir, dan berdaya. Padahal, saat itu konstruksi sosial masih memposisikan perempuan hanya di ranah domestik, jauh dari akses pendidikan. Namun justru dari rumah Kiai Dahlan di tahun 1917, lahirlah gebrakan awal yang membuka jalan bagi kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan secara lebih setara. Pertemuan bersejarah itu dihadiri oleh K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Fachrodin, K.H. Mochtar, Ki Bagus Hadikusumo, serta enam gadis kader: Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busjro, Siti Wadingah, dan Siti Badilah. Dan di titik inilah, pertanyaan yang sempat menggelayut di pikiranku akhirnya terjawab. Nama “Kelompok A Siti Badilah” rupanya bukan sekadar nama acak, melainkan bentuk penghormatan terhadap salah satu perempuan pelopor pendiri ‘Aisyiyah. Perlahan, pandanganku mulai berubah. Kekhawatiran yang sempat tumbuh kini bergeser menjadi penghargaan atas sejarah dan semangat perjuangan yang melekat di balik nama itu
Diketahui, nama 'Aisyiyah terinspirasi dari istri nabi Muhammad, yaitu ‘Aisyah yang dikenal cerdas dan mumpuni. Jika Muhammadiyah berarti pengikut nabi Muhammad, maka Aisyiyah bermakna pengikut ‘Aisyah.
PROFIL SINGKAT YAYASAN BUSTANUL ATHFAL
Lahir dari semangat Islam berkemajuan dan keyakinan akan pentingnya pendidikan, ‘Aisyiyah menjadi pelopor berbagai pembaruan dalam gerakan perempuan Muhammadiyah. Salah satu kontribusi besarnya adalah mendirikan pendidikan usia dini di Indonesia. Pada tahun 1919, bentuk awal pendidikan ini dikenal dengan nama Frobel School, yang kemudian berkembang dan dikenal luas sebagai TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA).
Perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa sejak awal, pengembangan pendidikan sudah menjadi inti dari dakwah ‘Aisyiyah. Mereka tidak hanya berbicara tentang pemberdayaan perempuan, tetapi juga mewujudkannya melalui akses pendidikan bagi anak-anak sejak usia dini. Kini, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (‘Dikdasmen’) ‘Aisyiyah menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pendidikan dasar dan menengah. Tugasnya mengawal kebijakan, menjaga kualitas, dan memastikan bahwa visi dakwah ‘Aisyiyah tetap hidup dalam setiap proses pembelajaran di sekolah-sekolah yang berada di bawah naungannya.
Adapun ruang lingkup Pendidikan Dasar dan Menengah ‘Aisyiyah tersebut diantaranya:
- Pendidikan Usia Dini meliputi PAUD formal yakni Taman Kanak-kanak, Bustanul Athfal, SLB dan PAUD non formal meliputi Kelompok Bermain/Play Group, Taman Pengasuhan / Penitipan Anak (TPA), Satuan PAUD Sejenis/ TBA (Taman Bina Anak) dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ);
- Pendidikan Dasar adalah merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah, meliputi : Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) , Madrasah Tsanawiyah (MTS), Sekolah Luar Biasa (SLB), Pondok Pesantren , dan bentuk lain yang sederajat;
- Pendidikan Menengah adalah merupakan lanjutan pendidikan dasar, meliputi : Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah ’Aliyah (MA), Sekolah Luar Biasa (SLB), Pondok Pesantren, dan bentuk lain yang sederajat;
- Pendidikan Non formal adalah pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal,meliputi Madrasah Diniyah, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan Remaja, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan kesetaraan, pendidikan ketrampilan, dan pelatihan kerja, dan bentuk lain yang sejenis;
Hingga saat ini, amal usaha ‘Aisyiyah di bidang Pendidikan Dasar dan Menengah telah berkembang pesat. Tercatat ada 20.125 lembaga pendidikan anak usia dini, 4.398 sekolah setingkat SD, SMP, dan SMA, serta 3.904 lembaga Keaksaraan Fungsional di seluruh Indonesia. Angka-angka ini menjadi bukti nyata bahwa kiprah pendidikan yang dibangun oleh ‘Aisyiyah telah menapaki usia lebih dari satu abad. Bukan hanya bertahan, tapi juga terus tumbuh dan memberi dampak nyata.
Namun, di tengah gempuran era Gen Alpha yang kini bersekolah dengan seragam bergaya modern, desain minimalis dan warna-warna kalem, ada hal menarik yang masih dipertahankan di sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Bustanul Athfal. Seragam para siswa-siswinya tetap mencolok dan khas, dengan warna-warna cerah yang sudah digunakan sejak puluhan tahun lalu. Sebuah perbedaan mencolok yang seolah jadi penanda identitas, bahwa di balik kesederhanaan penampilan, ada warisan nilai yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Comments