Program pembelajaran di Yayasan Bustanul Athfal

Buat mama muda masa kini, istilah untuk jenjang anak usia dini yang terus berganti mulai dari PAUD, Kelompok Bermain, Kindergarten A, hingga K1 kadang bisa jadi kebingungan tersendiri. Padahal rasanya baru kemarin mengASIhi, sekarang sudah sibuk milih sekolah Islam swasta di ibukota.
Waktu memang terasa berjalan begitu cepat. Sebagai perempuan kelahiran '93 yang sering merasa stuck di umur 23 tahun, tiba-tiba kini mulai akrab dengan urusan tanda tangan surat izin kegiatan anak, daftar ulang sekolah, sampai pusing mikirin tagihan bulanan. Ditambah, aku masih bergelut dengan pikiran rumit soal jadi ibu bekerja yang juga punya anak. Di kota besar, ini mungkin sudah dianggap hal biasa, bagian dari ritme hidup kaum urban. Tapi bagiku, jujur tidak semua orang mampu menjalaninya. Rasanya seperti sedang belajar dari nol lagi. Tentang waktu, prioritas, dan berdamai dengan ekspektasi diri sendiri.
RUTINITAS
Keriweuhan pagi menjelang pukul 08.00 selalu terasa panjang dan padat. Semua dimulai dari membangunkan Kannel, lalu berbagi tugas rumah dengan suami. Ada yang menyiapkan bekal instan sembari cek ulang isi tas sekolah. Apakah botol minum sudah masuk? Bagaimana dengan seragam sekolahnya, buku dan pernak-pernik apa semua sudah tidak ada yang tertinggal? Di lain sisi, suami harus berurusan melewati drama mandi pagi yang tak berkesudahan lalu padu padan seragam yang tak selalu sesuai jadwal karena terkadang ibu cuci tidak selalu tepat waktu menaruh kain siap pakai. Antusiasme dan rasa deg-degan di pagi hari itu baru akan berhenti saat ia sudah mengantarkan anak sampai di pintu masuk gerbang sekolah.
Sesampainya di sekolah, dari Senin hingga Jumat, anak-anak menjalani kegiatan belajar yang berlangsung dari pukul 07.30 hingga 11.30 WIB, baik di semester pertama maupun kedua. Dari beberapa kali intip bocoran kegiatan, biasanya setelah anak diantar dan masuk ke kelas, mereka akan:
1. Sambut kedatangan anak didik dengan 3S
- Salam
- Sapa
- Senyum
2. Ikrar
Untuk mengawali hari dengan semangat dan ritme yang teratur, setiap pagi Kannel dan teman-temannya diminta untuk berbaris rapi di halaman sekolah. Selama kurang lebih 30 menit, mereka bersama-sama melafalkan ikrar, menyanyikan lagu dan menyerap energi positif dari suasana pagi dengan penuh antusiasme. Walau tak sedikit, masih dalam suasana mengantuk.
Setelah kegiatan baris-berbaris selesai, anak-anak naik ke lantai atas menuju ruang kelas mereka. Di sanalah kegiatan belajar mengajar dimulai. Suasana berubah dari riuh menjadi lebih fokus. Dengan langkah kecil dan semangat besar, mereka siap menjalani hari-hari yang penuh warna dan pembelajaran baru.
3. Hafalan Do'a, Surat dan Hadist
Setelah selesai berbaris dan melafalkan ikrar pagi, anak-anak yang telah resmi diserahkan kepada sekolah akan diarahkan untuk membaca Iqro’. Ini menjadi rutinitas harian yang perlahan membentuk kedekatan mereka dengan huruf-huruf hijaiyah, bukan sekadar sebagai pelajaran, tapi juga sebagai bagian dari kebiasaan.
Selanjutnya, saat circle time, anak-anak duduk melingkar dan mulai memasuki sesi mengaji. Di momen inilah Guru Tahfidz membimbing mereka untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan target yang telah ditentukan. Tahun ini, misalnya, Kannel dan teman-temannya diarahkan untuk menghafal surah An-Naba. Sebuah tantangan yang cukup besar untuk anak seusia Kannel dkk diajarkan bacaan 40 ayat dengan tenggat satu tahun. Namun dengan metode yang menyenangkan dan pendekatan yang sabar, mereka diajak mencintai prosesnya, bukan hanya mengejar hasilnya.
Hal itu juga berlaku untuk bacaan surat pendek lainnya, hadist, do'a harian hingga bacaan shalat.
SELASA
4. Sanggar Tari
Salah satu kegiatan tahunan yang selalu dinanti di KB-TK ‘Aisyiyah 13 adalah pentas seni. Acara ini menjadi panggung pertama bagi anak-anak untuk tampil di depan umum, dari rangkaian pertunjukkan yang ditampilkan, setiap kelompok juga berkesempatan untuk memberi unjuk gerakan tari yang telah dipersiapkan selama satu tahun ke depan bersama instruktur tari profesional.
Bagi anak-anak, ini bukan sekadar menari. Ini adalah pengalaman pertama mereka belajar percaya diri, tampil di hadapan orang tua, dan merasakan sorotan perhatian dengan cara yang menyenangkan. Sementara bagi orang tua, momen ini terasa haru sekaligus membanggakan. Melihat buah hati yang dulu masih dipangku, kini berani melangkah kecil di atas panggung, menari dengan penuh semangat meski kadang gerakannya belum sempurna.
a. Persiapan Penampilan Pentas Seni dari kelompok-A
Tahun ini, sejak semester awal, anak-anak TK-A sudah mulai dipersiapkan untuk tampil dalam acara pentas seni. Mereka dijadwalkan membawakan dua tarian daerah yang berbeda, masing-masing dengan keunikan dan tantangan tersendiri.
Tarian pertama adalah Tari Kecak yang berasal dari Pulau Bali. Tarian penuh energi dan ritme vokal khas yang mengajarkan kekompakan gerak dan suara.
Tarian kedua adalah Tari Ampar-Ampar Pisang, tarian tradisional dari Kalimantan Selatan yang ceria dan dinamis, sering dibawakan anak-anak dengan gerakan lincah dan ekspresi ceria.
Latihan pun dilakukan secara rutin, dibimbing oleh seorang pelatih sanggar tari yang didatangkan khusus dari luar sekolah. Sejak awal semester kedua, komite sekolah pun sudah memberikan informasi awal terkait biaya yang akan dibebankan kepada orang tua melalui surat resmi nomor 01/KSABA/13/1/2025. Surat tersebut berisi pemberitahuan tentang kegiatan Pentas Seni dan Akhirussanah yang dijadwalkan akan berlangsung pada bulan Mei 2025 mendatang.
Bagi sebagian orang tua, informasi ini mungkin terasa sebagai "biaya tambahan". Tapi bagiku, ini adalah bagian dari investasi pengalaman. Sebuah kesempatan langka bagi anak untuk belajar tampil, berproses, dan membawa identitas budaya sejak usia dini..
RABU
5. Aktivitas Jasmani
KAMIS
Marching Band
JUM'AT
7. Latihan Shalat
Di TK ‘Aisyiyah-13, latihan salat menjadi salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap hari Jumat setelah sesi berbaris pagi. Didampingi oleh guru, anak-anak secara bergiliran dipandu untuk melafalkan bacaan salat sekaligus mempraktikkan gerakannya dari takbir hingga salam.
Momen ini menjadi latihan kecil namun bermakna. Selain membiasakan anak mengenal rukun-rukun salat sejak dini, kegiatan ini juga membentuk kedisiplinan, kekhusyukan, dan keberanian untuk tampil di depan teman-teman. Biasanya, para orang tua akan membekali anak-anak dengan perlengkapan pribadi seperti sajadah kecil dan peci, yang mereka bawa sendiri dari rumah. Sederhana, namun terasa spesial. Kini, ada rasa bangga saat melihat anak mulai memahami dan menjalani ibadahnya sendiri, meski masih tertatih-tatih dalam bacaan ataupun gerakannya.


Comments