Kannel siap MPLS 2024
Setelah memutuskan kembali bekerja kantoran, aku dan suami mulai berbagi tugas dalam mengasuh buah hati. Sebelum berangkat, sudah menjadi tanggung jawabku untuk memastikan dan menyiapkan segala kebutuhan, persiapan serta perlengkapan ke sekolah tanpa kecuali seperti pakaian yang akan dikenakan hingga bekal instan. Kemudian untuk urusan membangunkan anak, menyikat gigi, mandi, mengganti pakaian dan mengantar ke sekolah dilakoni oleh suami.
a. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah
Di hari pertama pertemuan, KB-TK ABA 13 mengadakan penyambutan murid baru tahun ajaran 2024-2025.
Di tengah gempuran ibu-ibu dan baby sitter yang lebih dominan untuk melakukan peran mengantar anak ke sekolah, papa Kannel adalah satu diantara dua wali murid laki-laki yang menjalankan tugas tersebut. Uniknya, di saat teman sebaya Kannel tantrum, penuh drama dan takut dengan situasi baru, anakku justru sangat menikmati bahkan tidak butuh pendampingan orangtua sama sekali.
Kalimat seperti:
"Papa pulang aja!"
Santer terucap dari mulut bocah 5 tahun 2 bulan tersebut. Alhasil, papa kerap menjadi ejekan orang-orang disekitar.
Ada perasaan sedih karena tidak bisa menemani anak di momen pentingnya, apalagi ketika teman-teman lainnya masih didampingi oleh para orangtua dan fakta bahwa papa memilih pulang ke rumah alih-alih menemani Kannel full berkegiatan di sekolah di hari pertama. Untungnya ada banyak ibu guru baik yang lebih banyak mengawasinya.
Di hari berikutnya, kegiatan pengenalan pun masih terus dilakukan. Untuk 3 hari ke depan, murid-murid di sekolah masih boleh didampingi oleh orangtua. Namun lagi, hal itu tampaknya tidak begitu berlaku untuk Kannel. Alhasil, si papa hanya memantau keseruan aktivitas anak yang tampak ceria bisa bermain dan berkenalan dengan lingkungan baru yang nantinya akan menjadi teman sekelas untuk satu tahun ke depan.
Kemudian, banyakan kegiatan seru seputar pengenalan dengan lingkungan lainnya yang diadakan di sekolah. Bernyanyi, menari, berdo'a dan menyantap bekal menjadi aktivitas lainnya yang turut dilakukan hingga di hari ke-empat, setiap anak mulai diajarkan agar tidak ketergantungan dengan orang tua atau wali murid lagi. Di pintu gerbang, orangtua yang tadinya diperbolehkan masuk ke lingkungan sekolah hanya bisa memantau anak-anak dari luar bahkan disarankan agar tidak menampakkan diri.
Mendekati jam pulang sekolah, guru pun memberikan penilaian kepada masing-masing anak dengan cara memberikan stamp di tangan. Salah satu metode fun-learning yang diterapkan, jika berkelakuan baik, patuh dan taat akan mendapat stamp ceria. Sebaliknya, jika bekal tidak habis atau memukul di sekolah makan akan diberikan cap cemberut.




Comments