Akikah bantai kambiang

dokumentasi kamera Fujifilm tahun 1996

Dalam bahasa arab, aqiqah berasal dari kata Al-Qa'tu artinya memotong atau menyembelih.

Dalam ajaran agama islam, aqiqah adalah salah satu cara dan bentuk syukur kepada Sang Pencipta usai dikaruniai seorang anak. Kemudian, aqiqah dimaknai sebagai kegiatan menyembelih hewan ternak (domba, kambing dan sapi) yang diselenggarakan usai kelahiran anak. 

Mewarisi garis keturunan yang berasal dari Minangkabau nan kental dengan prosesi adat, agenda pulang kampung pertamaku diselingi dengan acara aqiqah di usia 3,5 tahun. 

Adapun prosesi yang harus dilewati mulai dari:

1. Bantai Kambiang

Menurut syariat islam, ada beberapa perbedaan mengenai berapa jumlah hewan qurban yang harus di sembelih sesuai dengan jenis kelamin anak. 

Proses penyembelihan hewan qurban sengaja dilakukan di pinggir sungai agar daging hasil sembelih yang masih berlumuran darah tersebut bisa langsung dibasuh ke dalam air mengalir di sungai. Untuk anak perempuan, maka harus menyembelih 1 ekor kambing. Bahkan untuk prosesi tersebut, tampaknya peran Induak Bako di masyarakat Minangkabau lebih dominan saat pelaksanaan akikah Anak Pisang dikediamannya.

Note:
* Induak Bako: Kerabat yang berasal dari keluarga ayah
* Anak Pisang
sebutan bagi anak dari saudara laki-laki di Minangkabau

2. Mamasak gulai kambiang

Setelah hewan kambing yang disembelih tersebut dibersihkan, kemudian potongan daging qurban diproses dan dimasak bersama-sama oleh kerabat yang secara sukarela membantu hajatan.

Olahan daging tersebut dibuat dengan beragam jenis hidangan untuk disajikan saat mandua (do'a), mulai dari gulai kambiang, kalio dagiang hingga rendang.

3. Bararak Bako

Namun sebelum itu, ada satu hal yang menjadi puncak dari proses hajatan tersebut. Ialah anak kecil yang aqiqah kemudian diarak dari rumah bako menggunakan pakaian tradisional khas Minangkabau.

Arak-arakan tersebut kemudian diiringi dengan pihak bako yang manjunjuang nasi kunik, apik ayam hingga kado sampai ke rumah orangtua anak yang sedang di aqiqah.

Dalam prosesnya, urang minang dikenal kerap mengadakan hajatan atau pesta besar sebagai sebuah budaya dan simbolis untuk memberitahu kepada masyarakat di sekitar dan keluarga besar jika adanya tasyakuran (do'a selamat) yang sedang berlangsung.

4. Mandua (do'a)

Menutup prosesi yang berlangsung secara adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat, acara makan-makan yang dipimpin oleh alim ulama serta tokoh kemuka adat atau orang yang dituakan di suku Minangkabau tersebut diikuti dengan sajian di tengah rumah, disusul kegiatan menanti kedatangan orang-orang sekitar untuk menyantap jamuan yang sudah disediakan.  

Comments