Slow-run

Belasan tahun yang lalu, aku adalah sosok anak yang punya ketakutan luar biasa dengan aktivitas lari. Detak jantung yang berdegup luar biasa kencang, tubuh yang rasanya berat sekali untuk digerakkan hingga pergerakan kaki yang tidak bisa selaras dengan kapasitas tubuh saat melakukan olahraga berat jenis ini membuatku begitu enggan melakukannya. Mindset tersebut seolah sudah terbentuk bahkan sejak kecil. Kalau kata ibu, jangankan berlari, jalan biasa saja pun terkadang bisa terjatuh sendiri tanpa ada penyebab pasti. Hal tersebut kemudian terus berlanjut sampai aku masuk ke sekolah dasar. 

Ketika aku mengikuti mata pelajaran penjaskes, sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak melibatkan diri saat berlari. Bahkan di saat teman-teman bahagia bisa lari marathon, jogging atau melakukan sprint, aku justru memilih jalur lain. Merasa punya pakem sendiri untuk mendalami olahraga badminton hingga beberapa kali berkesempatan mengikuti turnamen atau perlombaan di tingkat Kabupaten. Pokoknya terengah-engah hingga terlihat pucat karena tubuh dipaksa mengikuti ritme melangkahkan kaki dengan cepat membuatku terus urung hingga suatu hari aku terlibat dalam pelatihan Paskibraka selama 30 hari ke depan. Dalam kurun waktu tersebut, setiap pagi aku bersama 69 peserta lainnya diminta untuk berlari mengitari lapangan sepak bola. Semula dari 2 keliling hingga 7 putaran setiap paginya dengan ritme langkah yang cukup cepat mengikuti rekan sejawat. Rasanya tubuhku dipaksa berlatih dengan hebat, bahkan aku sampai diseret hingga dipapah kiri kanan agar tidak mundur selama latihan. 

12 Tahun berlalu, untuk pertama kalinya aku mencoba untuk melawan semua rasa ketakutan menjadi kebiasaan baru. Terbiasa mengikuti kelas membuatku terus terpacu untuk melakukan aktivitas kardio lainnya. Terlebih, hidup di tengah gempuran sosial media, perilaku FOMO pun tak bisa terhindarkan. Dipicu oleh unggahan orang-orang yang sibuk melakukan olah tubuh yang terus bermunculan di beranda hingga explore Instagram membuatku turut ingin mencoba berbagai jenis aktivitas membakar kalori. 

Seolah ingin menguasai segala cabor! Sepeda, poundfit, drumming cardio hingga dance class, kini berakhir slow-run. Semua itu dilakukan semata karena ingin keluar dari jebakan rutinitas yang terus-menerus berada di depan layar. Mengakali jam bekerja dengan aktivitas kardio di pagi hari, membuat pola hidup dengan sendirinya mulai beraturan. Bangun pagi dan tidur lebih cepat dari biasanya kini menjadi gaya hidup baru, ditambah jam istirahat hingga produktivitas pun mulai tertata.  

Semua bermula ketika aku yang selalu memulai aktivitas jogging di jam 6 pagi.

Lari di GBK

Lari pagi dan jogging malam di lingkar luar Stadion Bung Karno, Jakarta

Popularitas jogging di GBK sebelum dan sepulang bekerja akhir-akhir ini dianggap sebagai salah satu destinasi yang cukup populer di kalangan orang-orang yang mendadak atlet, seolah ke Gelora Bung Karno pagi dan sore hari pun kini bak menjadi candu. Hal itu dikarenakan suasana yang nyaman dan biaya masuk gratis menjadi alasan orang-orang memilih untuk berolahraga di tempat ini.

CFD

FotoYu by @shaddam_molari

Mengitari lingkar luar stadion utama GBK hingga CFD menjadi rutinitas di akhir pekan yang tak ingin dilewatkan.

Tergolong slow-run, berlari dengan kecepatan rendah pun tergolong jenis olahraga kardio yang memiliki manfaat luar biasa. Terlebih bagi orang-orang yang ingin menurunkan berat badan sepertiku.  Berangkat dari pace yang relatif lambat bahkan memulai dari jarak 2-6,5 KM per hari, semakin giat berolahraga pada akhirnya daya tahan tubuh ku pun turut meningkat dan jauh lebih baik. Berangkat dari 2 KM sehari, semakin kesini durasi berlari pun jauh lebih lama. Selain membuat tubuh mampu menyerap, mengirim, dan menggunakan oksigen dengan lebih efektif, lama-lama untuk bisa jogging selama satu jam non-stop dengan kecepatan 5-10 KM per jam merupakan achievement buat pemula sepertiku yang tengah nge-push diri agar kuat melawan semua rasa ketakutan yang di-create sejak lama, terlebih di tengah gempuran orang-orang yang achieve 25-40 KM sehari. 

Tidak hanya itu, menyusuri kawasan Karet Pedurenan, melewati Jl. Denpasar hingga gedung kedutaan besar, kemudian bergeser ke Mayapada Tower, Gedung World Trade Center hingga Chillax adalah rute lari pagi sebelum memulai aktivitas pagi hari. 

Comments