Jalani proses pengobatan spiritual: Batuntuang (2)
Setahun berlalu...
Salahnya, aku terlalu gegabah dalam mengambil keputusan.
Ketika amarah memuncak, aku kehilangan kendali. Ketikan yang selama ini ku tahan, kini berubah menjadi senjata yang justru melukai. Dalam ledakan emosi, aku lepas kontrol dan menyerang yang bersangkutan melalui pesan singkat. Kupikir itu akan menjadi jalan keluar, penyelesaian dari luka yang selama ini kupendam. Nyatanya tidak, dan yang terjadi justru sebaliknya.
Dihampiri rasa keputusasaan yang luar biasa, bagaimanapun kerasnya usaha untuk melepaskan diri dari gangguan guna-guna, pada akhirnya terasa sia-sia. Proses ruqyah yang sudah dijalani entah untuk keberapa kali, nyatanya tak berbuahkan hasil. Mungkin hampir, namun kembali lagi. Belum sempat berharap lebih, hanya dalam hitungan jam setelah pengobatan selesai, tubuh dan pikiranku kembali ke kondisi semula. Dan polanya terus berulang-ulang. Lemas, gelisah, seolah tak pernah disentuh penyembuhan. Kini, aku mulai menyerahkan sepenuhnya keputusan serta penanganan terhadap suami, karena berjuang sendiri justru membuatku semakin rapuh. Hingga pada satu titik, takdir membawaku bertemu dengan seorang yang akhirnya memberi harapan baru di tengah rasa lelah yang nyaris tak bersisa.
Dalam rentang waktu satu minggu ke depan, hari-hariku kembali dipenuhi dengan perjuangan pemulihan diri. Bak waktu berjalan melambat, seolah setiap detiknya terasa seperti pertarungan antara harapan dan keputusasaan. Di tengah proses itu, aku dibantu oleh seorang tabib yang tak henti memantau kondisiku. Semua ini dijalani demi satu tujuan: kesembuhan yang sudah lama kudambakan.
H-1
Keheningan kamar tiba-tiba terusik oleh aroma bangkai yang begitu menyengat. Hidungku seolah dicekik bau yang tak masuk akal hingga membuatku mual. Semakin malam, baunya kian kuat dan tak tertahankan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pindah tidur ke kamar lain. Keesokan harinya, aku diberitahu jika hal itu bukan kejadian biasa. Ternyata, aroma tersebut menjadi pertanda bahwa jin pendamping yang selama ini mengikuti akhirnya mulai hengkang, perlahan hancur dan benar-benar pergi.
Setelah mengamati dan menelusuri pola gangguan yang terus menghantuiku selama ini, seorang ahli supranatural menyarankan langkah spiritual lanjutan sebagai sebuah upaya yang dilakukan untuk menutup celah masuknya gangguan sekaligus membersihkan diri dari sisa-sisa energi negatif yang mungkin masih melekat, dan di Sumatera Barat dikenal dengan sebutan Batuntuang.
Batuntuang
Mengadopsi metode pengobatan tradisional yang berasal dari Pesisir Selatan-Sumatera Barat, diketahui media pengobatan batuntuang dilakukan menggunakan aia karambia mudo red:air kelapa muda sebagai media utama. Air Kelapa dipercaya memiliki kemampuan alami untuk menetralisir energi buruk dan menjadi perantara pembersihan batin dari gangguan yang bersifat halus. Dalam ritual tersebut, aia karambia mudo berperan bukan sekadar minuman biasa, melainkan bagian sakral dari proses penyembuhan yang menghubungkan tubuh, jiwa, dan alam semesta. Hal ini dilakukan semata-mata sebagai upaya mengeluarkan segala sesuatu yang tanpa sadar pernah masuk ke dalam tubuhku bertahun-tahun silam, baik berupa makanan maupun minuman yang diduga telah dicampuri serbuk cirik barandang, sejenis ramuan mistis yang konon digunakan untuk memikat lawan jenis. Meski kejadian itu telah lama berlalu, dampaknya masih membekas, dan pengobatan ini menjadi salah satu jalan untuk membersihkan sisa-sisa pengaruhnya yang mungkin masih menetap di dalam diriku.
Selama proses pengobatan dan penyembuhan berlangsung, tampaknya uap dari rebusan air kelapa muda yang telah dicampur dengan ramuan tradisional belum cukup kuat untuk memancing keluarnya kotoran atau penyakit yang bersemayam di dalam tubuhku. Mungkin karena racun itu telah mengendap belasan tahun lamanya, menyatu dengan daging dan darah sehingga dampaknya telah mengakar dan butuh usaha serta metode yang lebih intens untuk membersihkannya. Atas dasar itulah, sang ahli spiritual menyarankanku melanjutkan proses pengobatan dengan mengkonsumsi ramuan lain yang lebih kuat yaitu campuran telur ayam kampung mentah dan perasan air jeruk yang harus diminum dalam satu tegukan sebagai bagian dari proses pembersihan dari dalam.
And then...
Aku memuntahkan cairan pekat yang diyakini menjadi biang penyakit selama ini.
Warnanya aneh, baunya menusuk dan rasanya membuat tubuh gemetar seketika.
Aku bahkan tak sempat mengamati dengan jelas apa yang keluar, saking jijiknya.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyiram muntahan itu dengan air, berharap semua yang buruk ikut hanyut bersama alirannya.
Dan seketika, aroma amis yang begitu menyengat memecah suasana dan menyebar ke seluruh ruangan, membuat semua orang di sekitarku ikut bereaksi. Tak sedikit yang ikut mual dan nyaris muntah. Suasana menjadi tegang dan tak nyaman, seolah tubuhku benar-benar baru saja melepaskan sesuatu yang selama ini tersembunyi dan membusuk di dalam.
*kali ini sengaja tidak menceritakan prosesi pengobatan secara detail dengan alasan keamanan diri
H+2
Beberapa hari setelahnya, tubuhku perlahan mulai stabil.
Masih ada sisa-sisa lemas, efek dari ramuan dan proses pembersihan yang intens. Tapi rasanya berbeda, ada kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku harus mulai beradaptasi dengan kondisi baru yang masih rentan, meski sedikit demi sedikit mulai terasa lebih ringan. Efek dari ramuan tradisional masih terasa menyisakan jejak di tubuh, sebagai pengingat bahwa proses penyembuhan ini bukan sekadar soal fisik, tapi juga batin. Sebagai bentuk ikhtiar lanjutan, aku diminta meminum air rendaman ayat suci yang dipercaya sebagai tameng diri, agar segala bentuk gangguan tak lagi mudah merasuk. Sebab masih ada kabar, bahwa pelaku yang dulu mengirim guna-guna masih aktif melakukan ritual. Tapi kali ini, aku tak lagi gentar.
Dan inilah aku sekarang.
Bukan lagi perempuan yang dibungkam oleh luka, tapi seseorang yang kembali berani berdiri dengan tubuh yang berangsur pulih, hati yang mengikhlaskan dan jiwa yang tak lagi ingin dikurung dalam ketakutan.

Comments