High priority: Perbaikan gigi for rescue
Pernah menggunakan behel metal di tahun 2007 silam, ternyata hal tersebut menjadi awal mula permasalahan kesehatan gigiku hingga menyebabkan banyak kerusakan seperti sekarang.
Minimnya pengetahuan, di tahun ketiga penggunaan kawat gigi akhirnya sadar jika selama ini aku mendatangi ahli gigi, alih-alih dokter gigi spesialis ortodonti. Pantesan, di awal pemasangan bracket untuk merapihkan gigi malah diminta untuk mencabut empat gigi belakang sekaligus tanpa penjelasan yang memadai, dan bodohnya pada saat itu nurut-nurut aja karena nggak tahu apa-apa. Sampai suatu hari, aku sempat ditegur oleh seorang Dokter Spesialis Gigi. Beliau kaget melihat kondisi gigi yang makin kacau. Alasan tersebut kemudian membuatku ingin melepas behel meskipun belum genap pemakaian tiga tahun. Setelah itu, bukannya ditangani hingga selesai untuk melakukan perawatan, justru habis begitu saja. Alhasil, efek samping setelah melepas behel yang ditimbulkan adalah gigi kuning, rapuh dan gampang patah hingga plak yang tak bisa lagi dibersihkan persis di bagian pemasangan ring gigi di bagian geraham atas dan bawah.
Pokoknya sejak 2010, gigi yang tadinya kuat mendadak rapuh. Menyusul beberapa tahun kemudian, tiba-tiba sensasi ngilu akibat gigi patah dan copot saat mengunyah tak terbantahkan. Bahkan gigi di sisi kiri mulai berlubang hingga memancing bakteri untuk terus menerus menumpuk. Bau mulut menjadi satu permasalahan serius hingga mengharuskanku rutin mendatangi dokter untuk membersihkan karang gigi enam bulan sekali.
1. Appointment
Bolak-balik Jakarta-Solok selama menikah dan lebih banyak tinggal di kampung selama satu tahun terakhir menjadi kesempatan bagiku untuk menghubungi teman lama yang buka praktek klinik Gigi. Sayangnya untuk mendapatkan jadwal prakteknya, aku harus menunggu hampir 1 bulan lebih karena dokter gigi yang merupakan teman SMP tersebut sedang melaksanakan ibadah haji.
2. Scalling (Pembersihan karang gigi)
Dulu rajin bersihin karang gigi, setelah sekian lama akhirnya aku kembali bertemu dengan alat medis ultrasonic scaler yang biasa digunakan dokter gigi untuk merontokkan tumpukan karang di sela-sela bagian terdalam gigi yang sulit dijangkau. Meskipun bukan orang yang aktif minum kopi, gula, merokok hingga minum alkohol, namun plak gigiku terus muncul karena beberapa kondisi.
Pertama, tidak telaten saat menyikat.
Kedua soal gigi berlubang yang tidak bisa digunakan untuk mengunyah lalu aktif hanya digunakan sebelah; dan
Ketiga, keberadaan gigi berlubang dibagian geraham yang akhirnya memancing bakteri untuk masuk.
Alhasil, karang gigiku hanya menumpuk di bagian kiri saja karena pada dasarnya di bagian kanan masih bersih terjaga.
Melihat kondisi geraham bawah yang sudah pecah dan menghitam, aku pikir tadinya butuh suntikan obat bius untuk menghindari rasa ngilu saat dibersihkan, nyatanya kondisi gigiku tidak separah itu. Bahkan, gigi depan yang tadinya ku anggap baik-baik saja justru terasa ngilu saat bersentuhan dengan alat scalling karena selama ini posisinya berdiri di atas gusi atau akar yang tidak kokoh.
Sedikit flashback ke belakang, ternyata hal ini ada pengaruhnya ketika beberapa tahun yang lalu masih menggunakan behel dan gigi seri depan bagian bawah tersebut naik dan menonjol ke permukaan, beda dan tidak sejajar dari yang lain (Salah satu case fatal yang disebabkan oleh pemasangan behel metal tidak dengan profesional).
Melihat kebersihan gigi dan gusiku yang benar-benar bermasalah, kemudian munculah gusi berdarah saat karang gigi mulai dibersihkan. Dikutip dari laman Hellosehat, hal itu disebabkan karena gigi yang berkarang sedang menyesuaikan diri dengan proses scaling agar kembali bersih dan gusi akan merekat lebih baik ke gigi karena dengan adanya karang gigi yang perekatannya menurun.
3. Filling (Tambal gigi)
Dari beberapa case yang harus dituntaskan setelah membersihkan kotoran dan karang gigi, agenda selanjutnya yang harus dilakukan untuk mendapatkan gigi membaik adalah pengisian gigi yang berlubang.
Selama ini, orang awam sepertiku biasa menyebutnya tambal gigi.
Betapa buruknya kondisi dalam mulutku selama ini! Selain plak yang melekat lalu terdapat berlubang yang harus ditutup hingga warna gigi yang tidak pada umumnya.
Lagi-lagi, minimnya kesadaran diri untuk melakukan perawat di area dalam mulut membuat kesehatan gigiku terancam. Terlalu lama membiarkan kondisi dimana bakteri di dalam mulut memproduksi zat asam hingga mengikis enamel atau lapisan terluar menyebabkan lubang hingga secara tak sengaja aku sudah memberikan banyak kesempatan bakteri hidup dan berkembang didalamnya. Alhasil, mendatangi ahli dianggap solusi yang tepat karena pada dasarnya, prosedur melakukan penutupan di bagian gigi yang berlubang tersebut bisa untuk mengembalikan bentuk dan fungsi gigi yang rusak.
Melakukan direct filling dengan membersihkan area gigi berlubang yang akan ditambal menjadi prosedur awal yang dilakukan oleh dokter gigi didampingi oleh Dental Assistant. Ternyata, semua ketakutan soal rasa ngilu yang ditimbulkan oleh penggunaan bor gigi saat proses pembersihan tidak semenyeramkan itu. Aku bisa melalui proses scalling hingga filling tanpa bantuan bius lokal.
Mengoleskan bahan tambal resin komposit diketahui berfungsi sebagai pengganti struktur serta memodifikasi bentuk dan warna gigi, hal ini umum dilakukan untuk mengembalikan fungsi asli gigi di dalam mulut.
Agar semakin kokoh, komposit yang ditempel kemudian diberi sinar UV.
![]() |
| Resin komposit gigi dan dikuatkan oleh sinar UV |
4. Cabut gigi
Memutuskan untuk perbaikan gigi, aku harus siap dengan resiko bolak-balik ke Klinik. Hal itu juga yang terjadi saat beberapa hari terakhir.
Usai menambal gigi geraham, aku diberikan antibiotik Topcillin 500 mg atau Amoxicillin Trihydrate kaplet yang harus dikonsumsi sampai habis selama 3 hari ke depan untuk persiapan mencabut gigi patah yang sudah menghitam di bagian geraham kiri atasku di hari selanjutnya.
Mencabut sisa patahan gigi geraham kiri atas yang sudah menghitam dan masih kokoh menjadi prosedur pembuangan gigi rusak yang kerap menyebabkan bau mulut. Dikutip dari laman Alodokter, proses mencabut gigi bisa dilakukan ketika mahkota gigi yang akan dicabut masih terlihat atau tidak terhalang gusi. Namun untuk kasus pencabutan sisa gigi patahan yang ada di posisi miring ini, rasanya agak begitu pelik dan butuh banyak waktu hingga tenaga karena tidak semudah biasanya. Jika sebelumnya berjalan alami, akhirnya kali ini menggunakan anastesi.
Sebelum proses pencabutan gigi dilakukan, dokter gigi pun memastikan terlebih dahulu jika aku tidak memiliki masalah atau efek samping pada bius lokal. Selama 1 jam lebih, dokter dibantu oleh Asisten dokter mengerjakan gigi geraham yang sulit untuk dieksekusi. Meskipun sudah dibantu oleh antibiotik sebelumnya, melihat kondisi tumpukan bakteri di patahan gigi yang tersisa di geraham tersebut membuat rasa nyeri yang ditimbulkan masih saja terasa. Bahkan, butuh tiga kali pengulangan saat menyuntikkan bius lokal di bagian gusi luar dan dalam dengan dosis Novocaine 0,5 hingga baru terasa ngefek.
Diketahui, Novocaine digunakan sebagai obat bius regional yang memberikan efek mati rasa di area dan durasi tertentu guna menghambat rangsangan nyeri yang dikirimkan oleh sel saraf menuju otak sehingga rasa nyeri hilang untuk sementara.
Perlahan, efek obat bius yang disuntikkan tersebut menghilang hingga rasa sakit yang ditimbulkan kembali terasa. Seperti yang sudah diresepkan oleh dokter, aku disarankan untuk tetap mengkonsumsi Amoxicillin hingga Paracetamol Novagesic 500 3x sehari sampai habis. Terbukti, rasa nyeri yang tadinya benar-benar bikin badmood seketika hilang. Namun, darah yang keluar setelah gigi dicabut cukup lama berhenti dari biasanya hingga dalam kurun waktu tertentu aku masih harus bolak-balik menutupnya dengan kapas/kain kasa.
5. Bleaching (Memutihkan gigi)
Insecure dengan warna gigi yang berubah drastis usai penggunaan bracket beberapa tahun silam, aku sempat bertanya bagaimana jika aku melakukan prosedur estetika memutihkan gigi. Bukannya jualan produk atau jasa, alih-alih memberikan support malahan temanku langsung melarang dengan berbagai alasan, karena menurutnya:
Pertama, permasalahan gigiku tidak separah ketakutanku
Kedua, belaching sifatnya tidaklah permanen.
Ketiga, "Tidak semua gigi akan kuat usai melakukan pemutihan," ujarnya.
Terlebih, gigi sensitif sepertiku takutnya akan semakin rapuh usai melakukan pemutihan gigi ini karena kandungan asam pada gel yang akan ditempelkan ke permukaan gigi hanya akan menyisakan efek samping yang lebih parah.
Paling tidak, hal ini bisa membantuku untuk menjalani habit yang positif untuk mengubah warna gigi setingkat lebih putih alih-alih menggunakan cara singkat ini. Bahkan, untuk memberikan perbandingan, drg tersebut langsung mengeluarkan shade guide atau panduan menentukan warna gigi untuk memastikan kondisi tersebut.
"Gigi avi masih normal, kok! Masih A2," katanya lagi.
Sedikit informasi, jenis gigi A1, A2 dan A3 dalam istilah kedokteran disebut reddish brown karena memiliki tone warna cokelat kemerahan. Sebaliknya, level gigi yang dikatakan parah ketika sudah mencapai A4.
6. Disarankan menggunakan gigi palsu lepasan untuk mengisi kekosongan
Alih-alih melakukan pemutihan gigi, aku justru disarankan untuk melakukan pemasangan gigi tiruan lepasan dibagian Bicuspid atau gigi yang dicabut sebelumnya. Mengingat geraham atas (pre-molar) ku tiga-tiganya sudah dilepas, agar tidak menimbulkan pergeseran dan perubahan bentuk rahang kemudian dokter gigi memberikan arahan terkait prosedur pembuatan gigi palsu untuk mengisi kekosongan.
Lokasi: Solok Dental Care, Praktek drg. Annisa Desva Elia
![]() |
| Jl. Prof. Dr. Moh. Yamin No.87 Pandan, Kota Solok, Sumatera Barat 27317 |
Kira-kira berapa banyak budget yang dikeluarkan?
Scalling Rp200,000
Felling Rp100,000

.jpg)

Comments