Bergabung di Kelompok Bermain Al-Insan
Memutuskan menetap cukup lama di kampung halaman sejak tahun lalu, dimana Solok menjadi kota kelahiran Kannel. Tak disangka, kini anakku sudah memasuki tahap prasekolah. Berkat ajakan seorang teman, aku mengambil keputusan untuk menyekolahkan Kannel berbarengan dengan anaknya yang bernama Aqila di Kelompok Bermain KB Al-Insan, Koto Hilalang.
1. Administrasi
Berbekal lembaran fotocopy Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga, wali murid diminta untuk melakukan administrasi dan mendaftarkan Kannel dengan melengkapi persyaratan-persyaratan di atas.
2. Ukur lingkar kepala, tinggi dan berat badan
Dikarenakan lokasi dan bangunan KB Al-Insan kerap digunakan warga sekitar untuk Posyandu, hal ini dijadikan kesempatan untuk Kannel melakukan mengukuran lingkar kepala, mencaritahu tinggi dan berat badan. Selain itu, pengukuran lingkar lengan anak turut dilakukan sebagai persiapan pembuatan seragam sekolah.
3. Bertemu orang baru
Membangun sebuah kebiasaan baru tidaklah mudah! Kannel yang selama ini terbiasa bangun di atas jam 08:00 pagi, di hari pertama sekolah justru sedikit kewalahan karena dipaksa terjaga dan diajak buru-buru mandi dalam kondisi masih sangat linglung.
Hari ini, Kannel dijadwalkan untuk datang ke lembaga pendidikan/sekolah bermain/ruang belajar yang ada di daerah tempat tinggal. Harus tiba sekitar jam 07:30 WIB, nyatanya di hari pertama ini, ia justru agak sedikit terlambat datang ke sekolah. Selain Kannel, ini menjadi pengalaman pertama bagiku dan suami tentunya sebagai orangtua untuk mengantarkan anak datang ke sekolah. Saking tidak ingin melewatkan momentum sama sekali, suami bela-belain menunda pekerjaannya hanya untuk menyaksikan bagaimana reaksi Kannel saat melakukan aktivitas terbaru. Dan benar saja, tidak ada ketakutan/rasa canggung atau tangis yang keluar ketika ia ditinggalkan di sekolah bersama dua orang guru yang disapa 'Ibuk' tersebut, Kannel pun langsung buru-buru turun dari kendaraan memperlihatkan ekspresi bahagianya saat diberi kesempatan untuk bermain bersama teman-teman seumuran yang lain.
Ada Vanessa, Artha, Arkana, Aqila, Salma dan beberapa nama dan wajah baru yang dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi teman bermain Kannel di sekolah.
4. Greeting
Setiap pagi, Kannel dkk yang rata-rata masih berusia 3-4 tahun dipandu oleh 2 orang pengajar yang sudah menunggu kedatangan di pintu masuk.
Setiap kedatangannya, anak-anak disambut dengan senyum ramah, tak lupa menyalipkan satu kebiasaan yang sejak lama sudah diajarkan kepada Kannel, yaitu menyalami gurunya sambil mengucapkan 'Selamat pagi'.
Setelah itu, anakku dibantu untuk melepaskan alas kaki sebelum memasuki ruangan sambil menyimpan barang bawaan seperti tas, botol minuman dan topi di deretan gantungan yang sudah dilabeli dengan papan nama masing-masing murid.
5. Learn & play
Memulai aktivitas dengan berdo'a, hal yang kemudian diajarkan sembari melakukan aktivitas lain yang sudah dirancang agar tetap mengutamakan kegiatan menyenangkan dengan bermain sambil belajar. Hal ini bertujuan untuk membantu mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak-anak seumuran Kannel agar perlahan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Di hari pertama, Kannel dan teman-teman yang lain diajak untuk membuat sebuah mahakarya dan yang pertama dilakukan oleh anakku yaitu menempel kertas, jika melihat bentuknya huruf tersebut tentu tak sepenuhnya hasil keterampilan Kannel.
Ada saja cerita lucu yang ku terima dari guru saat menceritakan kembali perilaku anakku di sekolah. Jika sebelumnya ia diajarkan menggunting dan menempel kertas, di hari berikutnya Kannel dkk diajak menyusun balok kayu ke dalam seutas tali. Jika anak-anak yang lain kompak bermain balok kayu berbentuk tabung, kubus, prisma, segitiga dan lainnya, sejak awal Kannel langsung tertuju kepada mobil-mobilan yang terbuat dari kayu. Bukan untuk menyusun sejajar di dalam tali tersebut tetapi dijadikan media untuk menggerek mobil-mobilan.
Anakku yang selama ini terbiasa bermain sendiri, berperilaku sesuka hati mengikuti ego dan keinginannya sendiri bahkan masih agak sukar untuk diarahkan, kini naik satu level dan dipersiapkan memasuki pendidikan dasar beberapa tahun ke depan, serta untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.
Dikarenakan momentum hari pertama Kannel masuk sekolah berdekatan dengan Hari Kemerdekaan RI, alhasil KB Al-Insan mengadakan lomba makan kerupuk. Sudah menjadi aturan ketika kerupuk yang digantung lalu ditaruh di atas tinggi badan sehingga bagaimana caranya yang ikutan lomba bisa meraih menggunakan mulut. Namun bagi Kannel yang belum mengerti dengan aturan bermain justru berinisatif mengambil kursi untuk manjat dan bisa meraih kerupuk tersebut dengan mudah.
6. Breakfast
Setelah capek bermain, waktunya anak-anak diajak mengkonsumsi bekal yang sudah disiapkan oleh orangtua dari rumah. Karena akhir-akhir ini Kannel lagi suka makan nasi atau mie goreng, kini bangun setengah jam lebih awal dari anak menjadi aktivitas baru ku di pagi hari untuk mempersiapkan segala kebutuhan anak sebelum berangkat ke sekolah. Mulai dari memasak sarapan, memotong bekal buah, mengisi botol minuman dengan air terbaru, mandi, menyiapkan pakaian yang akan digunakan, menaruh uang jajan hingga mengantakan Kannel ke sekolah.
7. Tabungan harian
Sebenarnya, aktivitas menabung di sekolah sudah berlangsung bahkan di era ku bersekolah. Serasa flashback sedikit ke masa kecil, kini aku juga menerapkan hal yang sama kepada anak sebagai cara lain ku menambah tabungan atas nama anak namun bedanya kali ini dihandle oleh guru di sekolah.
![]() |
| Buku tabungan harian yang wajib dibawa setiap datang ke sekolah |
Setiap hari, aku membekali Kannel Rp20 ribu atau setara dengan uang sekolahnya selama sebulan. Ketika jam istirahat anakku hanya menghabiskan 1-2 ribu dan sisanya langsung dimasukkan ke dalam buku kas.
Setelah pulang sekolah
- Selain gaya hidup anak mulai tejadwal dengan tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi di keesokan harinya, bahkan kini aktivitas membersihkan diri sembari menggosok gigi sudah menjadi rutinitas baru, padahal selama ini anaknya selalu mandi di atas jam 10:00 WIB.
- Di usianya yang masih menginjak 4 tahun, Kannel pun sudah paham usai beraktivitas di luar rumah seharian dan bermain di ruangan lembab atau tanah terbuka, tubuhnya harus dibasuh dengan air. Sepulang sekolah dan tiba di rumah, tadinya aku hanya mengganti pakaian dan mengoleskan sanitizer ke tubuhnya, alih-alih mengikuti aturan yang ku buat Kannel justru bergegas kembali mandi. Kini, jam setengah 11 pagi Kannel sudah 2x membersihkan diri.
- Karena aktivitas menyenangkan terus dilakukan selama di jam 7:30 -10:00 WIB tersebut, Kannel termasuk satu dari sekian anak yang harus dibujuk dulu untuk pulang ke rumah. Bahkan setelah sampai dirumah, beberapa kali Kannel reflek mengambil tas dan topi yang ditaruh untuk kembali datang ke sekolah. Parahnya, ketika anak-anak lain bahagia bertemu tanggal merah, lain halnya dengan Kannel yang uring-uringan ingin kembali ke sekolah.
- Sayangnya, anakku masih menerapkan satu kebiasaan buruk ketika bertemu dengan mainan baru. Entah dari mana asal muasalnya, Kannel suka bawa pulang mainan orang lain dalam konteks bukan mencuri namun merasa jika mainan tersebut miliknya. Beberapa kali diberitahu, Kannel malah berontak. Jika hari pertama membawa pulang puzzle berisikan gambar hewan, di hari kedua ia membawa mobil balok kayu yang hari ini menjadi media pembelajaran di sekolah. Mudah-mudahan aku berhasil menghilangkan kebiasaan buruk tersebut karena Kannel hanya perlu diberitahu sampai ia benar-benar mengerti tidak boleh mengambil atau bawa pulang barang yang bukan miliknya.
But...
Semua berubah sejak Kannel mendadak menolak ajakan ke sekolah. Anak yang tadinya antusias bangun pagi dan bahagia setiap kali diantar ke sekolah mendadak menarik diri. Awalnya ku anggap mood anak kecil yang gampang berubah membuat Kannel yang tadinya begitu bersemangat datang ke sekolah mendadak enggan. Seperti yang sudah di bahas, sejak awal aku tidak pernah memaksanya untuk datang bertemu guru dan teman-teman di tempat bermainnya, namun semakin kesini anakku menunjukkan reaksi berlebihan setiap kali aku dan suami membahas kata-kata 'Sekolah'. Muncul pertanyaan besar, WHY?
Untuk Kannel yang belom bisa sepenuhnya menjelaskan apa yang terjadi, memasuki minggu kedua keputusannya enggan datang ke sekolah, setiap kali diberikan pertanyaan serupa untuk mencaritahu mengapa dirinya enggan datang ke sekolah, Kannel mulai speak-up dan menuturkan kata-kata monster, jahat dsb dengan jawaban berbeda di setiap pertanyaan. Sebelum memunculkan spekulasi lebih, ada baiknya aku mencoba mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.




Comments