Cewek kalo lagi dapet...
Kira-kira begini jadinya cewek kalo lagi dapet:
Selain hamil, melahirkan dan nifas, salah satu hal universal lain yang dikodratkan khusus kepada wanita adalah saat mengalami menstruasi.
Secara medis: Menstruasi merupakan suatu peristiwa keluarnya darah dari rahim wanita secara berkala.
Secara biologis, jika seorang wanita yang sedang mengalami menstruasi, itu artinya mereka sudah bisa reproduksi.
Hal itu terjadi ketika sel ovum tak dibuahi atau gagal mengalami pembuahan seperti peluruhan dinding rahim karena tidak adanya embrio di dalamnya. Singkatnya, proses menstruasi bisa terjadi ketika didalamnya terjadi pelepasan bakteri-bakteri jahat di dalam sistem reproduksi, termasuk mengeluarkan zat besi yang berlebihan dalam tubuh. Ketika rahim melepas atau meluruhkan lapisannya, jaringan yang menempel pada dinding rahim kemudian ikut lepas dan keluar dari vagina. Dalam arti kata, jaringan inilah yang akan keluar bersamaan dengan darah menstruasi. Terkadang wujudnya tampak tak jauh berbeda seperti darah, luka atau mimisan pada umumnya, mesipun tak jarang juga ditemui seperti gumpalan daging kecil-kecil. Hal ini dikarenakan adanya sisa jaringan dari dinding rahim yang luruh setelah proses ovulasi.
Hampir semua wanita mengalami nyeri pada perut bagian bawah ketika mengalami menstruasi. Meskipun ada kalanya nyeri ini bisa menyebar sampai ke punggung bawah, bahkan sampai ke paha.
Secara hukum islam, wanita yang sedang dalam masa haid akan dilarang untuk melaksanakan ibadah tertentu, termasuk tidak boleh dijatuhi talaq. Haid juga bisa dijadikan patokan untuk menentukan masa iddah. Dalam kajian fiqih, masa iddah adalah masa menunggu bagi perempuan yang mengalami perceraian ataupun ditinggalkan oleh suami.
SHaid biasanya dimulai di usia remaja sebagai pertanda akil baliqh, artinya bagi siapapun yang mengalami hal tersebut mulai dibebankan taklif (beban) seperti ibadah, dosa dan pahala setiap apapun yang ia kerjakan.
Pengalaman pertama kali haid
Momen pertama kali haid akan mengagetkan remaja manapun, tanpa kecuali aku.
Something happened and I have no idea what I did.
Terjadi secara tiba-tiba, singkat cerita seorang teman memberitahu jika seragam sekolahku berlumuran warna darah. Tepatnya di hari jum'at, baju muslim dengan rok warna putihku nyaris membentuk sebuah tumpukan warna yang mencolok dan tak lagi bisa disembunyikan.
Seketika dalam hati:
"Oh! Ini yang namanya haid".
Dengan ekspresi bingung, ia pun mendapatiku yang masih tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian, ia berinisiatif untuk mengajakku berjalan ke ruang UKS, dimana lokasinya tak jauh dari pekarangan sekolah untuk menemukan stock pembalut yang sudah tertata di sebuah rak yang terletak persis di pojok penyimpanan.
Aku masih memproses kejadian tersebut. Remaja yang baru menginjak usia 12 tahun pada 2005 silam, berjalan ke arah toilet wanita. Untuk beberapa saat aku masih mencerna peristiwa ini, ditambah rasa panik memuncak saat mendapati underwear sudah berlumur darah. Lantas, apa yang harus ku lakukan?
Alih-alih menggunakan pembalut yang sudah digenggaman, aku kembali menaruhnya di saku seragam. Waktupun berlalu hingga jam pelajaran berakhir. Entah secara kebetulan ataupun timing yang tepat, di hari tersebut siswi sekolah wajib menghadiri kelas KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja) sebagai bekal ilmu fiqih yang bisa diterapkan di masa pubertas, termasuk pembelajaran soal fase reproduksi yang baru saja ku alami.
Biasanya, aku memilih untuk berdiam di sekolah, kemudian kondisi tersebut membuatku bergegas pulang ke rumah. Tanpa menceritakan terlebih dahulu kepada ibu, aku langsung buru-buru ke kamar mandi. Mendadak harus bisa menggunakan pembalut yang tampaknya menjadi barang baru bagiku. Tanpa terasa, 20 menit berlalu. Akupun bisa bernafas lega dan berjalan keluar dari toilet sambil mengendap-ngendap menaruh seragam sekolah yang kumuh tadi ke tumpukan kain bekas pakai.
Bermaksud untuk tidak memberi tahu orang tua pada saat itu, tak lama ibupun mendapati seragam sekolah yang kumuh tersebut. Alhasil, ibu langsung berinisiatif membelikanku pembalut alih-alih pergi membelinya sendiri ke warung. Bahkan hari itu, aku sengaja bolos kelas KRR hanya karena seragam yang tak bisa lagi digunakan.
Siklus haid berantakan
Semakin kesini, aku mulai terbiasa dengan kondisi tersebut. Begitu juga ketika tamu bulanan tiba.
Tidak seperti kebanyakan perempuan yang mengetahui pasti kapan tanggal haid tiba, siklus menstruasiku sejak awal hingga sebelum menikah cukup berantakan. Puncaknya saat sebelum menikah, aku pernah mengalami 5 bulan nyaris tak pernah mengalami menstruasi sama sekali. Kalaupun sedang dalam keadaan tidak suci, aku harus mengalami rasa sakit yang luar biasa hingga membutuhkan bantuan asupan produk kesehatan yang bisa dibeli secara bebas seperti Kiranti maupun Feminax. Sempat memeriksakan ke dokter kandungan (obgyn), nyatanya kesehatan reproduksiku baik-baik saja, kecuali gaya hidup yang terkadang membuat siklusku sesekali menjadi berantakan.
Tidak ingin berdampak terhadap kesehatan jangka panjang, sebisa mungkin aku mengurangi kebiasaan mengkonsumsi Feminax karena tak ingin ketergantungan dengan obat pereda nyeri haid serta keram perut.
Aplikasi pelacak haid
Hidup bergandengan dengan teknologi yang semakin berkembang, mengantarkanku berkenalan dengan aplikasi Flo (Ovulation & Period Tracker). Kini, aku bisa melihat masa period di kalender haid, apakah teratur atau tidak? Bahkan data-data sejak aku masih single, hamil hingga usia anak memasuki angka 4 tahun, semuanya lengkap tersimpan di aplikasi ini yang masih merekam semua aktivitas seksual, kalender haid dan hamil serta aktivitas apapun yang berhubungan dengan reproduksi wanita.
Setelah melahirkan anak pertama, aku sempat kembali dibuat pusing ketika berbulan-bulan baru kembali mengalami pendarahan haid. Hormonal yang kembali menjadi masalah kesehatan reproduksi membuatku lagi-lagi mengalami stress hingga dituntut paksa untuk menyesuaikan diri. Terlebih, buat ibu yang sempat melakukan operasi caesar, menstruasi pertama kemudian dihujani aliran darah yang cukup deras karena suatu hari, rahimku tengah mengeluarkan semua jaringan endometrium yang terjadi selama kehamilan. Ternyata setelah mendiskusikan dengan teman-teman, hal itu umum terjadi.
Sempat 8 bulan nyaris tak mengalami menstruasi, setelahnya siklus haid perlahan mulai teratur. Perlahan tubuhku mampu menyesuaikan diri cukup baik, bahkan kelendar haid kembali terisi setiap tanggal, meskipun ada pergeseran yang mundur satu hingga tujuh hari di bulan selanjutnya.
![]() |
| Selalu memantau periode haid dari kalender dan aplikasi Flo |
Catatan:
- Tanggal yang berwarna merah muda menunjukkan period haid
- Tanggal yang berwarna biru merupakan tanggal masa subur (ovulasi)
Lantas, ini yang terjadi ketika cewek lagi dapet:
Day 1: Normal
Setiap perempuan akan mengalami yang namanya period secara berkala dengan cerita yang berbeda-beda, begitu juga denganku walau kisahnya rata-rata hampir sama. Beberapa hari sebelum haid datang, biasanya wanita sudah merasakan gejala nyeri di bagian perut bawah. Hal itu umum terjadi, konon rasa sakit yang disebabkan menyerupai kontraksi kecil pada kehamilan.
Di hari pertama, aku merasakan hal yang biasa pada umumnya. Darah haid yang keluar dengan kadar normal. Perasaan dan juga mood yang masih terbilang stabil, begitu juga dengan rasa nyeri yang tidak begitu mengganggu aktivitas harian.
Day 2: Tepar seharian, ngalahin orang tipes
Namun di hari kedua, perubahan besar mulai terjadi. Hal itu disebabkan oleh kadar prostaglandin yang meningkat. Karena itulah, gejala keram perut dan nyeri di area tertentu kemudian membuat ku cukup terganggu. Semakin tinggi kadar prostaglandin, semakin hebat pula rasa sakit yang diderita terutama di bagian perut.
Di hari kedua ini, kemudian jumlah darah yang keluar meningkat dua hingga tiga kali lipat dari hari pertama. Bahkan, aku selalu menggunakan pembalut dengan ukuran yang jauh lebih panjang, dan biasa mengganti 3-4 kali sehari.
Biasanya aku memilih untuk lebih banyak istirahat dan tidur yang cukup. Terlebih setelah memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi obat pereda rasa sakit, secara sadar aku tahu resiko yang akan dialami dan pelan-pelan menjadi lebih bisa menanggung rasa sakit dengan tidur seharian di atas tempat tidur.
Day 3: Mood Swing
Dengan kadar haid yang tak sebanyak hari kedua, namun perubahan besar terjadi saat adanya perubahan horman estrogen dan progesteron dalam tubuh wanita yang menyebabkan mood menjadi berantakan. Turunnya kadar estrogen dan progestin akan memengaruhi kadar serotonin yang berperan dalam mengatur suasana hati.
Intinya, jangan pernah coba-coba cari masalah dengan cewek PMS, terutama berurusan denganku di hari ketiga. Sumpah!
Day 4: Udah bisa mandi wajib nih...
(beberapa jam kemudian) Yah! Ada lagi
Ketika aliran darah yang keluar tak lagi sebanyak hari-hari sebelumnya, di hari keempat biasanya aku mulai ogah-ogahan menggunakan pembalut. Merasa suka lupa diri dan takut kelupaan ganti setelah seharian menggunakan alat peresap darah di celana dalam ini, aku pun lebih memilih free-bandage.
Tak lupa, setelah 3 hari hidup dengan perasaan risih, di hari keempat ini juga biasanya inisiatif ku ingin mandi muncul hingga tak jarang kemudian melakukan mandi wajib. Belum 100% langsung bersih, kadang ketika mood berangsur membaik dan mulai merasa suci, aku langsung dibuat kecewa saat mendapati darah haid yang kembali mengotori dan meninggalkan bercak di celana dalam.
Day 5: Udah bersih tapi nunda-nunda takut masih ada lagi
Frekuensi dan juga pengalaman haidku di hari kelima sebenarnya tak jauh berbeda dengan hari keempat. Tak jarang, aku memutuskan untuk membersihkan diri dengan memasangkan niat bersuci agar bisa beribadah seperti sedia kala. Meski tak bisa menampik di hari selanjutnya, aku mulai merasa keenakan nggak solat dan sedikit kesusahan untuk mulai kebiasaan rutin beribadah dari awal lagi.


Comments