Sahabatan dari kecil & sukses bareng sesuai pilihan karir masing-masing

Foto kelas 2 SMP, circa 2005-an

Anak sekolahan

Torehan prestasiku di usia 11 tahun adalah ketika menjadi satu-satunya anak kabupaten yang tinggal di Koto Hilalang angkatan tersebut lulus tes masuk ke sekolah favorit jalur luar rayon. Aku masih bisa mengingat dengan jelas, betapa ribetnya berurusan dengan Dinas Pendidikan Kota Solok kala itu, dimana untuk bisa sekolah disini pastinya diminta untuk mengikuti prosedur administrasi pemindahan yang luar biasa ribetnya. 

Pada masanya, tidak semua anak bisa masuk ke SMP Negeri 1 Kota Solok apalagi ditaruh ke kelas unggulan. 

Ketika lulus murni dan bergabung dengan siswa lain, aku sadar betul jika kurikulum pembelajaran yang dipelajari lulusan SD Inpres sebelumnya masih sangat jauh ketinggalan dari sekolah lain. Kemudian, ayah dan ibu mendaftarkanku les di PRIMAGAMA sepulang sekolah. 

Dengan jadwal sekolah yang full seharian, anak perempuan yang sedang beranjak remaja tersebut dipaksa tangguh memikul beban berat dipundaknya, mambawa banyak buku pelajaran hingga pakaian ganti di waktu yang bersamaan. 

Tidak sampai disitu saja, segudang jadwal dan aktivitas yang padat kemudian menyertai ku di fase tersebut. Saat itu, aku dipaksa harus:

  • Berangkat ke sekolah jam 6.15 WIB hingga wajib tiba sebelum pukul 7 WIB setiap paginya. 
  • Sepulang sekolah, disibukkan dengan jadwal les 3x seminggu;
  • Tetap mengikuti lab biologi di hari rabu sepulang sekolah;
  • Kelas PIK-KRR di jum'at siang;
  • Ekstrakurikuler Marching Band setiap hari sabtu jam 3 sore
Dengan jarak tempuh rumah ke sekolah yang memakan 12 KM untuk sekali berkendara menggunakan angkutan umum dan sudah dijadwalkan, ada hal lain yang membuat gadis remaja ini harus kembali belajar menyesuaikan diri dengan cepat. Di awal, butuh waktu bagiku untuk menyamakan dialek bahasa serta lingkungan pertemanan dengan orang-orang baru.

Di sisi lain, aku begitu kewalahan dengan padatnya aktivitas yang dimulai sejak 6.30 sampai 19.30 WIB, sehingga sama sekali tidak punya waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah beserta tugas-tugas sekolah yang diberikan. Alih-alih meluangkan waktu untuk belajar sepulang sekolah seperti anak-anak lain, aku malah tertidur pulas setibanya di rumah. 

Jadwal kegiatan di Semester pertama
saat masih bolak-balik dari Koto Hilalang

Mengingat jadwal sekolah yang begitu hectic, aku kemudian diboyong oleh ayah dan ibu tinggal ke kota. 

nge-geng

Jadi punya lebih banyak waktu untuk berkegiatan layaknya seorang remaja, tidak hanya disibukkan dengan aktivitas belajar mengajar di lokal, namun aku mulai menikmati pertemanan dengan teman-teman di kelas. Saking serunya, aku masih bisa mengingat dengan jelas pada momen ulang tahun yang ke-12, aku berkesempatan memboyong teman satu kelas hanya untuk di traktir makan bakso atau sate ke Pasar Raya. Jika dihitung-hitung lagi total semuanya bahkan lebih dari 15 orang. Bukan karena royal tapi karena semuanya sudah dianggap akrab. Sebaliknya, reward yang di dapat setelah mentraktir orang-orang terdekat ialah menerima kado yang dibeli di toko langganan lengkap dengan kartu ucapan dan pesan-pesan lucu.


Yup, posisi sekolah kami bisa dibilang sangat dekat dengan Pasar Raya Solok sehingga membuat aktivitas pulang belajar di kelas sepenuhnya dihabiskan di tempat tersebut. 

Mulai dari makan sate dan es tebak, bakso Simpang Denpal, bakso Mas Toher, Saiyo yang selalu menjadi langganan anak-anak sepulang sekolah, atau membeli pernak-pernik jilbab di serba seribu atau pasa ateh

Berjalan ke counter HP di deretan Pasar Raya menjadi aktivitas mingguan ku saat sengaja membeli Mp3 seharga Rp10 ribu untuk tiga buah lagu alih-alih melakukan transaksi via infrared yang cukup memakan waktu, atau sekedar belanja aksesoris HP maupun casing yang wajib updated setiap minggunya. 

Satu hal lagi yang menjadi memori anak-anak seusiaku pada saat itu ialah menyusuri ke arah belakang pasar hanya untuk membeli seri komik yang belum dimiliki seperti Doraemon, Detektif Konan lengkap dengan majalah aneka Yes! Gogirl! Cosmo Girl! tabloid Gaul, Teen.id ataupun novel teenagers khas Gramedia jika memiliki waktu luang saat berlibur ke kota Padang. 

Berfoto di studio juga salah satu dari sekian hal lainnya yang sengaja dilakukan sepulang sekolah. 

Foto studio deretan Terminal Pasar Raya
dengan cara patungan Rp2 ribu per orang

Pertemanan di masa sekolah ini semula berasal dari kelas 1A di semester kedua. 

teman kelas 1A semester 2

Kemudian berlanjut dengan teman-teman kelas 2B.

Dulu, peraturan yang super ketat membuat siswa tidak diperbolehkan menggunakan HP ke sekolah kecuali beberapa orang kemudian nekat membawanya secara sembunyi-sembunyi. Beruntung pada saat itu tidak sampai bertemu dengan jadwal razia. Masa kejayaan bisa didapat ketika sekolah mengadakan acara seperti class meeting.

Bermain ke rumah teman pun menjadi keseharian yang tak pernah lepas dari aktivitasku bersama teman-teman. Dari yang awalnya pertemanan satu kelas, ada nama Nila Permata Sari, Ridha Mardhiah, Yoza Ratuhmaesa, Apriliana, Vesly Trianofita, Lailatul Hadiza, Roza Dewita, Sherly Anggrainy dan masih banyak lagi hingga menyisakan beberapa nama, jumlahnya semakin mengecil menjadi 9 orang hingga kini yang masih bertahan sebanyak 7 orang. 

Teman sebangku

Pernah sebangku dengan Monica Theresia
. Semester 1 Kelas 1A: Utari Nanda Rismi
Semester 2 Kelas 1A: Astrie Karunia
Kelas 2B: Anisa Nadia

Jam istirahat kelas menjadi ajang bercanda bagi kami berdua yang sama-sama memiliki perangai pecicilan dan nerd haha. Sebelum Ica pindah ke Binjai ikut sang papa pindah dinas, kediamannya pun begitu sering untuk disambangi bersama teman yang lain karena tidak jauh dari lokasi sekolahan. Sama-sama ngefans Westlife sejak kecil, lagian siapa sih yang tidak suka boyband satu ini? Nah, menghafal lirik lagu-lagu hits Boyband asal Finlandia tersebut menjadi hal menyenangkan dilakukan di ruang kelas di sela guru menerangkan pelajaran di depan papan tulis. Bersama Ica yang biasa ku panggil Nyunyuk tersebut, selain latihan menari tradisional di luar jam sekolah, kami pernah ditugaskan mewawancarai penyiar radio lokal oleh guru Bahasa Indonesia. Belum banyak yang menggunakan telepon genggam seperti sekarang, dulu rasanya menjadi suatu kebanggan bisa menelpon stasiun radio bahkan meminta diputarkan lagu Westlife favorit kami berdua. 

Pada masanya, kirim salam sebelum menutup panggilan di telepon saat siaran radio sedang berlangsung menjadi suatu kebanggan tersendiri, apalagi suara si penelepon tersebut dinotice oleh teman-teman lain yang sedang mendengarkan saluran yang sama. 

Kelas 3G: Syari Rahma Yanti

PUBERTAS

Tidak pernah satu kelas dengan Tya, namun bisa menjadi akrab karena merupakan sepupu Wara. Selain menghabiskan waktu bermain ke rumah Ica, kamar Tya pun menjadi tempat berkumpul kami di akhir pekan. Tya yang suka warna biru sengaja membuat dekorasi kamar tidurnya senada, begitupun dengan pernah-pernik yang ada di dalamnya. Tya hobi musik, bahkan satu-satunya yang pandai memetik gitar. Bakat seni yang ditularkan dari orangtuanya, tak heran jika pada akhirnya Tya menjadi vokalis band. 

Bangunan rumah Wara 

Selain rumah Ira, kediaman Wara kemudian menjadi titik kumpul kami di minggu pagi untuk marathon hingga bersepeda.

Lulus SMP

Saat lulus, masing-masing kemudian ditempatkan berdasarkan zonasi sekolah. 

  1. Wara, Ira, Lucy, Tya, Tari dan Ola diterima di SMA N 1 Solok
  2. Seli yang kebagian di SMA N 2 Solok, serta
  3. Aku yang awalnya keterima di SMA N 3 Solok, namun harus pindah ke SMK N 1 Solok karena orangtua merekomendasikanku untuk sekolah kejuruan dan mengambil jurusan Broadcasting

Tak ada penghalang untuk kami bisa bermain seperti biasanya, bahkan jika tidak disibukkan dengan jadwal les, latihan basket ataupun olahraga di sore hari, kami kerap meluangkan waktu untuk berkumpul di rumah Ira yang lokasinya persis di samping Smansa. Bahkan, menjadikan Pondok bakso 88 sebagai titik temu. 

Bangunan rumah Ira persis di sebelah SMANSA
yang kini sudah dihancurkan dan diganti dengan bangunan ruko

Anak Solok yang tumbuh di pertengahan tahun 2005an pasti related banget! 

Mulai dari bangunan Pondok Raos masih kecil, sempat pindah tempat ke seberangnya, konon sempat terbakar hingga dirombak habis-habisan menjadi instagramable dan besar seperti sekarang, tempat ini masih tetap menyisakan kenangan. Mungkin tidak sebanyak kini, berkumpul di tempat makan Bakmi Raos menjadi tujuan yang paling sering dikunjungi karena hanya terdapat satu atau dua restoran yang buka, belum menjamur seperti sekarang. 

Kemana-mana masih suka jalan kaki

Bersama mereka, aku menyaksikan tumbuh kembang anak remaja yang tadinya kemana-mana masih jalan kaki, bersepeda, naik motor, disopirin hingga masing-masing sudah bisa menyetir. 

Ketika perjalanan jarak jauh masih disopirin sama Om Ira hehe

Hingga Ola yang pertama kali sudah mulai nyetir sendiri dan disusul oleh yang lain.

Lantas, menyisir satu per satu tempat makanan yang sedang hits menjadi kebiasaan lainnya di saat kami memiliki waktu untuk bertemu.

Di tempat minuman jus depan DPRD Kota Solok

Menyusuri tempat hits untuk update di unggahan Facebook

Foto di Stasiun Kereta Api

di Gawan yang kini di kenal Sawah Solok
di Laiang yang kini dijadikan jalan baru atau tembusan
di rumput ilalang, Laiang
yang kini banyak di bangun perumahan serta cafe hits

Meskipun Tari jarang bisa ikutan ngumpul, namun sama-sama memutuskan  mundur satu tahun hingga bimbel di GAMA Padang sebagai persiapan masuk perguruan tinggi selanjutnya membuat kami jadi sering bertemu.

Ia mengambil jurusan IPA karena fokus ingin masuk ke kedokteran, sedangkan aku belajar di kelas IPC karena ingin mengejar materi pembelajaran anak SMA yang tidak pernah dipelajari di sekolah kejuruan seperti Sosiologi, Sejarah, Geografi, Biologi hingga Matematika Al-logaritma semata untuk mengincar kuliah Hubungan Internasional. Meski pada akhirnya, Tari menjadi lulusan Pendidikan guru PAUD dan kini mengajar di lingkungan Dinniyah Puteri Padang Panjang, beda halnya denganku yang akhirnya mengambil jurusan Bahasa Inggris Penyiaran (Broadcasting).

Ketika pertemanan mulai silih berganti, prioritas yang mulai berubah serta kesibukan yang berbeda-beda. Ada yang kuliah di Bukittingi, namun sebagiannya lagi di Kota Padang, membuat pertemuan tak lagi sesering dulu. 

Suara hari, si pemilik karakter melankolis seperti Ira membuat dirinya tiba-tiba mengirimkan format .Mp3 yang berisikan lagu karyanya sendiri.

Kira-kira begini lirik lagunya:

Ku tak ingin ada benci
Ku tak ingin ada ...
Yang ku ingin kita selalu baik-baik saja

Kenangan kita takkan ku lupa
Ketika kita masih bersama
Kita pernah menangis
Kita pernah tertawa
Pernah bahagia bersama

Semua akan selalu ku ingat
Semua akan selalu membekas
Kita pernah bersatu dalam satu cinta
Dan kita harus terpisah

Semenjak ada jarak, pertemuan hingga perayaan ulang tahun hanya sebatas ucapan. 

Seolah tak mau kalah, Wara juga suatu hari pernah mengirimkan ku sebuah voice note yang isinya bikin melted, tepatnya di momentum peringatan ulang tahunku yang ke-20. 

Begini isinya: 

Maaf ya Vi...

Masih sama, 
alasan klasik dan kita nggak bisa kumpul (lagi)
Semoga kedepannya lebih baik, sukses selalu dan sehat untuk Avi. 
Selama mendewasa sahabat!:)

Ira dan Wara, dua sahabat yang begitu sweet yang ku kenal. Seli yang gengsian, Tari dan Tya yang sibuk dengan dunianya sendiri, begitu juga dengan Ola...

Anak kuliahan

Meskipun Aku, Ola Seli bahkan Tya masih berada di satu kampus dan rumpun yang sama, namun kebersamaan tampaknya tak lagi seperti biasa. Balik lagi, aktivitas kampus dan pertemanan yang mulai bertukar, membuat semuanya mulai renggang. 

Tidak seperti masa sekolah yang punya banyak waktu luang, namun bukan berarti semuanya berakhir begitu saja. Sesekali aku masih suka bertandang kekosannya, bahkan bimbel di GAMA merupakan ide Ola. Bahkan, Wara pun juga pernah bertandang ke Padang untuk bisa berkumpul dengan yang lain. 

Wisuda

Menjadi mahasiswa tingkat akhir membuat pertemuan hanyalah angan-angan yang mustahil. Namun, di tengah kesibukan masing-masing, saling back-up kehadiran ketika salah satu Wisuda menjadi agenda wajib kami.

Wisuda Wara

Wisuda Avi

Wisuda Ira

bahkan datang ke pesta pernikahan.

Membuat tradisi baru ketika salah satu berhasil menuju pelaminan dan bertemu dengan pasangan, kami pun sepakat untuk memberi perhiasan sebagai simbolis kebahagiaan yang diwakili satu sama lainnya. 

Mereka masih menjadi tujuanku saat pulang. Wajah-wajah lama dengan versi terbaru yang lebih dewasa selalu menyambutku ketika kembali menginjakkan kaki sebelum tiba di kampung halaman. 

Turun dari Bandara, langsung di pick up mereka
untuk makan di Ikan Bakar Khatib Sulaiman

Tak jarang kemudian aku dijemput lalu di antar ke toko oleh-oleh terlebih dahulu sebelum pulang ke Solok; atau sebelum kembali ke Jakarta, janji temu di Padang terlebih dahulu sebelum di antar ke Bandara. 

Grup Obrolan

Namanya juga bersahabat dari kecil, ada kalanya ketika saling merindu tak lagi selalu bisa bertemu, kadang cuma sebatas berbalas pesan, saling memperhatikan di jejaring sosial hingga akhirnya bisa punya momen bersama lagi.

Persahabatan yang tadinya bermula dari satu kelas, mengecil hingga sembilan orang, lama-lama menjadi tujuh orang hingga ada di satu titik tersisa 3 karena Wara, Ira dan Seli lebih sering meluangkan waktu ketimbang beberapa dari kami yang sudah menikah dan memiliki anak. 

Hingga grup chat yang sempat bertahun-tahun senyap itupun kembali diaktifkan kembali. Dan lagi, aku sebagai pelopor kemudian memaksa mereka re-install LINE.

Pertemuan 2004 lalu, bermetamorfase dari rupa anak remaja berseragam SMP yang sama-sama hobi bermain, masih meminta uang jajan ke orangtua kemudian beranjak ke sekolah menengah, kuliah, ada yang sudah menikah hingga bekerja di pilihan masing-masing, seperti:

Karir

CHINTYA HAKITOROSY, S.Pt

Panggilan : Tya

TTL: Solok, 5 November 1992
Zodiak: Cancer
Status: Menikah

Sekolah : SMA Negeri 1 Solok
Kuliah: Universitas Andalas
Jurusan: S1 Ilmu Peternakan
Bekerja di: Dinas Pertanian Kota Payakumbuh, Sumatera Barat

Anak sulung dua bersaudara dari sosok papi yang berasal dari anggota kepolisian. 

Terobsesi ingin menjadi Polisi Wanita sejak lama hingga meluangkan waktu 1 tahun untuk persiapan tes Polri, Tya justru lulus PNS.

LUCY RAHMA DEWITA, A.Md,Keb

Panggilan : Lucy

TTL: Solok, Maret 1992
Zodiak: Pisces 
Status: Lajang
Daerah asal: Painan, Pesisir Selatan

Sekolah : SMA Negeri 1 Solok
Kuliah: STIKes Yarsi Bukittinggi
Jurusan: D3 Kebidanan
Bekerja di: RSIA Permata Bunda Solok, Sumatera Barat

Lucy merupakan bungsu dari 3 bersaudara, terlahir dari sosok mama yang berasal dari golongan PNS serta papa yang merupakan anggota kepolisian di Polres Kota. 

Sejak awal, Lucy bekerja sesuai lulusan dan kini berprofesi sebagai Bidan di salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak. 

PRASUTHA HACESTI WARA, S.Psi

Panggilan : Wara

TTL: Solok, Mei 1992
Zodiak: Gemini 
Status: Lajang

Sekolah : SMA Negeri 1 Solok
Kuliah: Universitas Negeri Padang
Jurusan: S1 Ilmu Psikologi
Bekerja di: Dinas Sosial Kota Solok, Sumatera Barat

Bapak Wara merupakan seorang banker di salah satu Bank BUMN cabang Solok.

Sebelumnya, sulung dua bersaudara ini pernah bekerja sebagai asisten Psikolog di sebuah yayasan hingga Human Resource (HR) di perusahaan ekspedisi di Kota Padang. 

RAHMIRA FADRI, S.Pd., M.Pd

Panggilan : Ira

TTL: Solok, 4 Agustus 1992
Zodiak: Leo 
Status: Lajang
Daerah asal: Batu Kambiang-Maninjau, Kab. Agam

Sekolah : SMA Negeri 1 Solok
Kuliah: 1. STKIP PGRI Sumatera Barat 2. Universitas Negeri Padang
Jurusan: S1 & S2 Pendidikan Biologi
Bekerja di: PT. Telkom Indonesia (Persero) Padang, Sumatera Barat

Pernah tinggal di Solok, Ira diboyong sang papa yang merupakan karyawan BUMN Telkom untuk pindah dinas ke Kota Padang hingga menetap di sana.

Sempat terobsesi masuk kuliah kedokteran, Ira justru membuktikan jika ditempat lain dirinya selalu berprestasi dan menjadi lulusan CUMLAUDE dengan IPK nyaris sempurna, 3,98. 

Kini, cewek satu-satunya dari 3 bersaudara ini bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang jasa layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi, persis di tempat sang papa bekerja sebelumnya.  

SELI ERWINDA, A.Md

Panggilan : Ai

TTL: Solok, 28 Mei 1993
Zodiak: Gemini
Status: Lajang

Sekolah : SMA Negeri 2 Solok
Kuliah: Politeknik Negeri Padang
Jurusan: D3 Usaha Perjalanan Wisata
Bekerja di: Pengadilan Negeri Lhoksuemawe, Banda Aceh

Bungsu tiga bersaudara ini sebelumnya pernah bekerja di GraPARI Telkomsel Kota Solok, honorer di kantor Dinas Perdagangan, Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) hingga akhirnya Seli lulus tes PNS Mahkamah Agung penempatan di Banda Aceh. 

WEFNI AZLEN, A.Md


Panggilan : Avi

TTL: Jakarta, 19 April 1993
Zodiak: Aries
Status: Menikah
Daerah asal: Koto Hilalang, Kab. Solok

Sekolah : SMK Negeri 1 Solok
Kuliah: Politeknik Negeri Padang
Jurusan: D3 Bahasa Inggris
Bekerja di: Bank Indonesia Pusat, Jakarta.

Lulus sekolah, anak tunggal ini sempat mengabaikan PMDK demi fokus persiapan sekolah Pramugari.  Lebih memilih mendalami ilmu Broadcasting, sebelum menjadi penulis blog dan novel, Avi pernah bekerja di perusahaan asing yang bergerak di jasa pembiayaan.

Kini menjalani dua profesi sekaligus, selain freelancer Editorial di Media Online juga bergabung di Kesekretariatan BSBI yang membantu Komisi XI DPR RI melakukan pengawasan terhadap Bank Indonesia.

YOLA DWI MALINDA, A.Md

Panggilan : Ola

TTL: Solok, 25 Januari 1993
Zodiak: Aquarius
Status: Menikah
Daerah asal: Payakumbuh

Sekolah : SMA Negeri 1 Solok
Kuliah: Politeknik Negeri Padang
Jurusan: D3 Manajemen Informatika
Bekerja di:Kejaksaan Tinggi Negeri Kota Solok, Sumatera Barat

Ola juga menjadi salah satu anak yang berkesempatan masuk kuliah di jalur PMDK di saat teman-teman lain masih sibuk dengan program Bimbingan Belajar (bimbel).

Menjadi anak kedua dari empat bersaudara, Ola dibesarkan oleh ayah dan ibu yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), lalu mengikuti jejak karir orang tua.

Pernah bekerja di Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Ola memilih pindah dinas ke Kejari Solok.

Comments