Jalani prosesi pengobatan spiritual: Ruqyah (1)

Untuk mendapat kesembuhan, berbagai usaha dan upaya turut dikerahkan. Dalam perjalanan itu, berbagai metode pengobatan dijalani, termasuk prosesi-prosesi yang menyentuh sisi batin dan spiritual:

Ruqyah

Secara harfiah, aktivitas ruqyah (رقية) berhubungan dengan salah satu metode yang dilakukan sebagai proses dan upaya penyembuhan seseorang dari penyakit 'ain, sihir hingga gangguan jin dengan cara melafalkan ayat-ayat suci Al-qur'an yang dilantunkan sesuai kepercayaan agama islam.

Menjalani pengobatan tradisional bukanlah perkara mudah. Serangkaian proses pun dilewati, tak hanya menguras waktu tapi juga energi. Butuh waktu bertahun-tahun, bahkan belasan tahun kemudian sampai akhirnya hati ini tergerak untuk benar-benar mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ada tabir yang perlahan mulai terbuka hingga akhirnya aku siap untuk menyingkap itu semua.

Salah satu ikhtiarku adalah dengan menyambangi seorang ustadz yang dikenal mampu membantu orang-orang keluar dari jerat gangguan gaib. Setelah bergulat cukup lama, akhirnya aku memberanikan diri menempuh perjalanan jauh menuju lokasi yang sunyi, terpencil dan berada di tengah hutan pada malam hari. Bisa dibilang, ini adalah pengalaman pertamaku, pengalaman yang tak akan pernah aku lupakan. Malam itu, aku benar-benar merasa sedang berusaha memperbaiki hidup dari cengkeraman sesuatu yang selama ini tak kasatmata, gangguan jin, atau mungkin lebih dari itu.

a. Berpindah dari satu ustadz ke yang lainnya

Sebelumnya, aku sempat menjalani pengobatan dengan bantuan Ustadz A. Seiring waktu, aku merasa perlu pendekatan yang berbeda. Entah bagaimana, aku dipertemukan dengan Ustadz B, seorang yang memiliki metode penyembuhan yang lebih tenang dan tertutup. Nah, berbeda dari sebelumnya dimana pada saat melakukan pengobatan berlangsung, aku harus mengantri panjang, bahkan kadang disaksikan banyak orang dalam satu ruangan. Namun disini, jauh lebih private. Hanya aku dan ustadz yang membantu mengobati, tanpa keramaian dan hanya didampingi. 

Seiring dengan upaya melepaskan diri dari gangguan yang datang, aku pun perlahan diajak untuk kembali berdamai. Bukan hanya dengan keadaan, tapi juga dengan diriku sendiri. Ternyata, yang selama ini paling menyakitkan bukan sekadar gangguan dari luar, melainkan luka-luka batin yang lama terabaikan, disimpan begitu dalam dan tak pernah benar-benar diberi ruang untuk sembuh. Proses penyembuhan ini tak sekadar tentang doa-doa atau rukyah. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan untuk kembali terhubung dengan rasa, nurani dan keberadaan Tuhan yang mulai jauhLewat percakapan yang menenangkan, aku dipandu untuk melepas satu per satu beban yang selama ini membelenggu. Bukan hal instan, namun setiap pertemuan serasa membuka pintu kecil dalam hati yang lama tertutup. Di situlah, aku mulai belajar kembali terhubung dengan Sang Pencipta, hubungan yang sempat terputus oleh luka, marah dan kecewa yang kupendam begitu lama.

b. Pengusiran makhluk halus dari tubuh

Menjalani proses ini bukan perkara mudah. Aku diberitahu bahwa ada makhluk tak kasat mata yang sudah lama menetap dalam tubuhku. Karena itu, upaya untuk melepaskannya tidak bisa dilakukan sekali jalan—butuh waktu, tenaga, dan ketenangan batin. Gangguan yang selama ini diam-diam menguras energi, kini mulai dipaksa keluar. Tak heran, tubuh dan pikiranku ikut lelah, seolah semua yang selama ini tertahan dipaksa keluar sekaligus. Ini bukan hanya proses fisik, tapi juga perjuangan mental dan spiritual.

Jika ditanya bagaimana rasanya? Ya Tuhaaaan... Capek banget. Pengobatan kali ini bukan cuma dilakukan secara fisik, tapi juga mental dan emosional. Aku harus benar-benar berjuang untuk sembuh, melawan prasangka-prasangka buruk yang muncul di kepala, menghadapi efek negatif yang selama ini membebani hingga diperjalanan kembali dipaksa mengingat rentetan luka lama yang belum tuntas. Semuanya datang bersamaan, ditambah dengan masalah rumah tangga yang terus bermunculan. Rasanya seperti bertarung di banyak medan sekaligus, tanpa waktu jeda. 

c. Reaksi tubuh saat ruqyah

Tak bisa dipungkiri, ada saat-saat di mana aku benar-benar merasa down. Jujur saja, tidak mudah untuk terus stabil dan berpegang teguh pada keyakinan setiap waktu. Untungnya, secara fisik aku cukup kuat, sehingga selama proses ruqyah berlangsung, aku tidak sampai mengalami reaksi ekstrem seperti kesurupan atau kejang-kejang. Namun tetap saja melalui perjuangan batin luar biasa berat. Ada kalanya:

  • Kepala merasa pusing
  • Pundak tiba-tiba menjadi berat, seolah sedang memikul sesuatu tak terlihat. Sensasi itu datang begitu saja, dan menjadi bagian lain dari proses yang harus aku jalani
  • Tubuhku bereaksi dengan cara yang tak biasa—sendawa terus-menerus selama berjam-jam, seperti masuk angin parah, hingga akhirnya muntah.
    Konon katanya, itu terjadi karena makhluk atau energi negatif yang selama ini bersarang di tubuhku mulai dipaksa keluar

Semakin keras ia ditarik pergi, semakin kuat pula reaksi tubuhku. Semua yang selama ini tersembunyi tanpa kusadari, kini perlahan mencari jalan untuk keluar. Semakin tinggi level pengobatannya, semakin tinggi pula perlawanan diri yang dirasakan. Seolah ada perlawanan yang tak terlihat setiap kali aku mencoba mendekat pada hal-hal yang bersifat ibadah. Reaksi itu bukan main, dan membuatku sadar bahwa proses ini jauh lebih berat dari yang kubayangkan. Kabar baiknya, cara ini kemudian menjadi tolak ukur keberhasilan pengobatan tersebut. 

Faktanya, proses mengusir jin yang sudah lama menetap di tubuhku memunculkan reaksi yang tidak main-main. Salah satu puncaknya terjadi saat aku sedang sholat. Baru di rakaat pertama persisnya saat mulai melafalkan bacaan, tubuhku langsung bereaksi hebat hingga muntah dan mengeluarkan isi perut yang cukup banyak. Saat itu aku pun tersadar, kondisi ini bukan sekadar gangguan biasa.

Seolah menemukan jawaban, ini bukan semata karena lemah iman, tapi karena ada dorongan kuat dari dalam diri yang seolah menolak mendekat kepada Tuhan. Baru kusadari, mungkin selama ini aku tak benar-benar mampu melawan bisikan setan yang terus menggiringku menjauh dari ibadah

1. Baca QS An-Naml ayat 30:

Prosesi selanjutnya adalah membaca An-Naml ayat 30 sebanyak 7x sambil menghadap kiblat jam 12:00 malam

انَّهٗ مِنۡ سُلَيۡمٰنَ وَاِنَّهٗ بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيۡمِۙ

Artinya:

Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 

Beberapa kali dianjurkan untuk mengamalkan do'a ini sebagai pengasihan atau doa untuk menundukan pasangan, sebagaimana yang dilakukan Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis.

Ada satu momen dimana aku tidak bisa mengingat wajah suami dengan jelas. Di tengah proses pengobatan seperti sekarang, prosesi ini sangat membantu ketika ada pihak yang sedang berusaha merusak pernikahanku. Begitu kuat pengaruh sihir terasa, sampai-sampai hubungan kami pun ikut terguncang!

2. Rutin minum air yang sudah dibacakan do'a

Air yang sudah dibacakan doa ini dipercaya mampu mengusir jin atau makhluk tak kasat mata yang bersarang di dalam tubuh. Selain melancarkan aliran darah yang tersumbat, air ini juga diyakini bisa membersihkan organ-organ tubuh yang terganggu oleh jin nasab atau jin sihir, sehingga proses pemulihan bisa berjalan lebih cepat.

Namun, reaksi tubuhku jauh dari biasa. Saat pertama kali meminumnya, aku langsung merasakan pusing hebat. Di hari pertama, bahkan aku tak sanggup melakukan aktivitas berat. Efek dari pengobatan spiritual ini terasa benar-benar nyata di tubuhku

3. Mandi dengan air racikan daun bidara

Dilansir dari laman disperta.mojokertokab.go.id, daun bidara (widara) atau dikenal dengan nama ilmiah Ziziphus mauritiana dipercaya sebagai salah satu tanaman yang digunakan dalam melakukan ruqyah untuk menghilangkan gangguan jin dan syaitan sekaligus berkhasiat untuk penangkal sihir. 

Menjalani pengobatan tradisional, secara tidak langsung aku diminta untuk melakukan hal-hal bukan karena syirik, namun bagian dari prosesi yang wajib dilakukan menggunakan ramuan yang biasanya didapat dari hasil alam, seperti ramuan alami dari dedaunan yang diracik, lalu dibasuhkan hingga dimandikan ke tubuh sebagai bentuk pembersihan diri.

Sebelum digunakan, baik daun bidara, air mandi maupun yang akan diminum tersebut selalu dibacakan ayat suci terlebih dahulu layaknya saat aku di ruqyah menggunakan bacaan Al-Qur'an. 

Awalnya, ritme pengobatan dilakukan setiap tiga hari sekali, lalu berlanjut menjadi satu kali dalam seminggu. Selama proses ini, aku tetap dalam pengawasan ustadz yang membantuku secara bergantian. Ia membacakan doa, memandu prosesi ruqyah, dan mengingatkanku untuk menjaga ibadah serta rutin mengamalkan bacaan yang telah diajarkan. Aku juga diminta mandi dengan ramuan alami sesuai anjuran untuk membantu proses pemulihan. Namanya juga sedang dalam pengobatan, tahap demi tahap terus berkembang. Jika sebelumnya aku diminta menggunakan 3 lembar daun bidara, kini jumlahnya meningkat menjadi 7 lembar. Proses ini pun dilakukan berulang hingga tiga kali berturut-turut sebagai bagian dari tahapan penyembuhan yang lebih intens. 

4 Rendam jari menggunakan rebusan air sirih dan daun sereh

Ini bukan kelanjutan dari pengobatan sebelumnya, melainkan metode alternatif lain yang mulai aku jalani. Menjelang tidur, aku rutin merendam jari tangan dan kaki ke dalam rebusan daun sirih, serai, dan bidara. Tujuannya untuk membantu menyembuhkan luka-luka bernanah yang tiba-tiba muncul tanpa sebab jelas. Proses ini dilakukan bersamaan dengan mandi daun bidara setiap sore. Fokusku kini benar-benar tertuju pada kesembuhan diri dari gangguan teluh, agar bisa kembali hidup normal seperti orang-orang pada umumnya.

Selama merendam kaki dengan rebusan ramuan herbal, aku diingatkan untuk tidak melewatkan amalan yang menyertainya. Dua ayat utama yang menjadi pegangan adalah Al-Fatihah dan Ayat Kursi. Puncaknya, saat luka bernanah di kaki mulai menunjukkan proses penyembuhan, rasa sakitnya justru semakin hebat. Aku sampai tak mampu menahannya. Di titik itu, aku menyadari bahwa selain ikhtiar spiritual, tubuhku juga butuh penanganan medis. Malam itu juga aku harus segera mengonsumsi antibiotik agar infeksinya tidak makin parah.

Untuk mendapatkan kesembuhan, aku harus membacakan surat yasin ayat 9, lalu meniup bagian jari yang pertamakali dihinggapi luka bernanah tersebut.

Surat Yasin ayat ke-9

وَجَعَلۡنَا مِنۡۢ بَيۡنِ اَيۡدِيۡهِمۡ سَدًّا وَّمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدًّا فَاَغۡشَيۡنٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُوۡنَ

Artinya:

Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

Kemudian tiupkan ke arah jari tangan kanan tersebut sambil berserah diri kepada Tuhan dan memohon:

Ya Tuhanku...
Dengan namaMu, dengan izinMu,
jadikanlah pagar bagi jari tangan sebelah kanan ini
untuk tidak ditularkan dari bagian tangan kiri.

5. Oleskan perasan jeruk nipis dan kapur sirih ke bagian luka nanah

Setelah merendam kaki dengan air rebusan daun bidara, aku diminta melanjutkan proses dengan mengoleskan campuran kapur sirih dan air perasan jeruk nipis yang dibakar terlebih dahulu agar khasiatnya lebih maksimal untuk membantu proses penyembuhan. 

6. Puasa daging sapi, ayam dan telur

Sebagai bagian lanjutan dari proses pengobatan, aku diminta menahan diri selama 30 hari dari konsumsi protein hewani seperti daging sapi, ayam, ikan, dan telur. Ini dilakukan untuk membantu pemulihan luka bernanah yang selama bertahun-tahun muncul silih berganti di jari tangan dan kaki, baik menurut pendekatan medis maupun spiritual. Pantangan ini diyakini dapat mengurangi efek buruk dari gangguan yang bersifat nonfisik, termasuk mencegah kambuhnya luka-luka yang tak jelas penyebabnya. Meski terasa berat, menjauhi makanan favorit pun menjadi bagian dari proses penyembuhan yang harus dijalani dengan kesabaran.

Pada akhirnya, proses ini tidak hanya membersihkan tubuh, tapi juga mendidik hati. Bahwa penyembuhan sejati bukanlah perkara instan, melainkan perjalanan panjang yang menuntut ketulusan, keikhlasan, dan kedisiplinan untuk terus merawat diri—baik lahir maupun batin

Comments