Belasan tahun diguna-guna, siapa sangka pelakunya...

1. Ciri orang terkena guna-guna

a. Secara Psikis

Dulu aku mengira jika perilaku negatif yang kulakukan hanyalah bentuk kelemahan pribadi. Namun, belakangan aku menyadari bahwa beberapa tanda justru menyerupai ciri-ciri orang yang terkena guna-guna.

  • Tidak bisa terlelap dan selalu tidur di atas jam 4 dinihari
  • Malas melakukan apapun entah itu mandi dan juga ibadah
    Butuh perjuangan yang luar biasa untuk bisa menahan rasa malas saat hendak melaksanakan sholat, dzikir dan selalu dihadapkan dengan pertentangan luar biasa untuk bertaat 
  • Tidak bisa mengontrol diri, hidup selalu dikuasai oleh perasaan kesal dan amarah
  • Mood yang gampang berubah-ubah, penyesalan selalu datang saat sadar usai melakukan hal fatal, bahkan kerap merasakan transisi perasaan senang dan sedih di waktu yang hampir bersamaan
  • Kerap melakukan tindakan masif dan implusif
  • Enggan dinasehati
  • Sulit berkonsentrasi dan susah memfokuskan pikiran pada suatu hal
  • Cenderung menutup diri

Tak kusangka, ternyata hal-hal itu bisa jadi pertanda bahwa selama ini aku berada dalam pengaruh guna-guna.

b. Menyerang fisik 

    b.1. Bertahun jari tangan dan kaki luka nanah

Anehnya, eksim mulai muncul di ujung jari-jari tanganku tak lama setelah menikah.

Aktivitas sederhana seperti mencuci piring ataupun pakaian mendadak jadi peristiwa menyakitkan. Kulit tanganku tak hanya kasar, tapi juga dipenuhi benjolan yang berisi nanah bening bercampur darah dan menimbulkan rasa perih luar biasa. Seiring waktu, kondisinya makin memburuk. Selama lima tahun menikah, luka bernanah di jari tangan dan kaki datang silih berganti dan nyaris tanpa jeda hingga akhirnya mencapai titik paling parah.

Keadaan pun semakin memburuk! Bukan hanya aku yang terdampak, tapi juga menyeret anak dan suami.

    b.2 Vonis Dokter

Ketika di bawa ke dokter:

  • Mulanya didiagnosa Dishidrotic eczema (Eksim Dishidrosis), kondisi dimana muncul gelembung kecil berisi cairan nanah di area jari tangan yang terasa gatal. 
    Mulanya tumbuh satu dua di sisi jari, perlahan kondisi kulitku kian memburuk hingga terdapat banyak ruam. Aku kira ini soal alergi, sampai mencoba berbagai cara agar tetap bisa menjalani hidup dengan normal. Memilih laundry pakaian alih-alih mencuci seperti biasa, membatasi kontak langsung dengan air dan selalu mengenakan sarung tangan karet setiap kali harus mencuci piring. Tapi tetap saja, semua itu tak cukup. Pada akhirnya, suami pun turun tangan. Ia mengambil alih hampir semua pekerjaan rumah tangga. Mulai dari dapur, cucian sampai memandikan dan mengurus anak.
  • Seiring waktu, obat dan salep dari dokter tak banyak membantu. Kondisi tanganku tak kunjung membaik. Dari yang awalnya hanya disebut alergi, kini dokter memvonis bahwa aku mengidap Scabies
    Dilansir dari laman halodoc.com, scabies adalah penyakit kudis atau infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau yang bereproduksi di area kulit. 
    Biasanya, fase tragis ini berlangsung sekitar dua minggu. Sembuh sebentar, lalu kambuh lagi. Begitu terus berulang hingga hampir 3,5 tahun pernikahan. Masa di mana tangan dan kakiku tak pernah benar-benar lepas dari luka bernanah berwarna kekuningan.

Denial 

Denial adalah caraku bertahan selama ini. Aku mencoba menenangkan diri, meyakinkan bahwa segala hal yang mengusik pikiran hanyalah prasangka belaka. Toh, hidup manusia memang tak pernah lepas dari ujian

2. Guna-guna mantan

Setelah mendatangi ustadz, paranormal bahkan berurusan dengan dukun santet, akhirnya aku menemukan satu kenyataan pahit. Bukan sekali dua kali, dalam setahun terakhir aku merasa ada saja yang mengganggu. Ternyata, semua itu berakar dari masa lalu yang mengantarkanku pada suratan kehidupan naas hingga aku bisa tahu, hal keji apa yang sudah ia perbuat sejauh ini. 

Adapun praktek guna-guna yang konon dilakukannya menggunakan:

a. Jimat

Kembali mencoba mengingat-ingat peristiwa belasan tahun yang lalu, rupanya secara berulang, ia kerap melontarkan kata-kata yang serupa, tumbuh dengan harapan palsu selama bertahun-tahun agar bisa tetap bersama dan tidak sungkan berucap serta memamerkan jimat pemikat kepunyaannya agar katanya: "Aku tidak akan bisa berpaling"Segala upayaku untuk lepas dari hubungan toxic ini, perlahan melemah oleh usahanya yang begitu gigih hingga rela menempuh berbagai cara demi mempertahankan apa yang seharusnya sudah lama ku lepas. Sayangnya, dulu aku mengira semua itu hanya akal-akalan untuk terus mengusik hidupku. Aku tak pernah percaya hal mistis hingga akhirnya menyaksikan sendiri dampak nyata dari perbuatan yang sengaja ditujukan padaku. Aneh rasanya, di zaman modern masih ada orang yang rela mengorbankan waktu dan akal sehat demi sesuatu yang sejak awal tak mungkin dimiliki. Kupikir saat semuanya usai, ia akan berhenti. Nyatanya, obsesinya tetap hidup sampai hari ini.

b. Tamakan cirik barandang

Entah hanya mitos atau warisan kepercayaan lama, istilah Cirik Barandang sebagai pemikat nyatanya sudah dikenal sejak dulu. Ketidaktahuan terhadap hal-hal yang belum terbukti secara ilmiah ini sempat membuatku berada di ambang krisis kepercayaan. Apa benarkah semua ini? Namun faktanya, cerita-cerita tentang Cirik Barandang tetap bertahan. Konon, pengaruhnya cukup kuat untuk menaklukkan hati seseorang. Tanpa disadari, membuat korbannya tak bisa berbuat apa-apa, seolah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Namanya cirik barandang. Serbuk yang dibuat dan berasal dari kotoran nan diracik dalam ritual kegelapan, lalu ditaburkan dalam makanan korban. Fakta menjijikkan, si korban itupun adalah aku. Setelah dipikir-pikir lagi, semuanya terasa masuk akal. Kenapa ia dulu begitu sering mentraktir, mengirimi hadiah-hadiah tak perlu, dan mengajakku ke tempat-tempat aneh. Termasuk ke sebuah lokasi yang konon dikenal sebagai sarang dukun sakti. Tujuannya tak pernah jelas, tapi kini terasa mengerikan jika diingat kembali.

Setiap kali bertatap muka dengannya, ada sesuatu yang berubah di dalam diriku. Aku tak bisa menolak, tak mampu marah, sekeras apapun untuk mengakhir, hati kemudian mendadak lunak, pikiran buyar dan tubuhku seperti dikendalikan sesuatu yang bukan aku. Aku seperti boneka, hidup tapi tak berdaya. Padahal jauh di dalam hati, aku ingin pergi. Aku ingin bebas bahkan tidak pernah mengharapkan hubungan ini sejak awal. Insiden yang membuatku akhirnya menerima ajakan untuk berpacaran, siapa sangka benar-benar membawaku menghadang petaka. Tapi setiap kali mencoba mengucap kata putus, segalanya runtuh hanya karena satu tatapan mata. Dan entah mengapa, semuanya selalu berujung pada satu hal: kami kembali bersama, lagi dan lagi.

Yang lebih mengerikan, selama tiga tahun menjalin hubungan, ia rela melakukan hal-hal di luar nalar. Bolos sekolah berbulan-bulan hingga tak naik kelas, menjauh dari teman, band, organisasi hingga memutus hubungan dengan keluarga. Semua itu dilakukan demi satu hal, memastikan aku tak pergi. Sampai akhirnya, orangtuanya datang ke rumah dalam keputusasaan, meminta tolong karena mereka tak lagi mampu mengendalikan anak mereka sendiri. Ia seolah meninggalkan seluruh hidupnya hanya untuk satu tujuan: menggenggamku erat, seolah aku miliknya sepenuhnya. Dan aku? Seperti dikurung dalam ruang tak kasat mata, tak berwujud, tapi nyata menjerat. Ini bukan cinta, bukan pula logika. Ini obsesi. Sebuah kekuatan gelap yang mengikatku diam-diam, membuatku tak berdaya untuk pergi. Apa ini cinta... atau kutukan yang menyamar?

c. Menaruh jin pendamping

Selama ini aku percaya jika manusia hidup berdampingan dengan makhluk gaib. Hal itu pun memang ada dan sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Konon, sebagian dari kita bahkan memiliki khodam warisan leluhur yang melekat sebagai penjaga. Tapi aku tak pernah menyangka bahwa ada orang yang dengan sengaja mengirim makhluk gaib untuk mengawasi hidupku dari kejauhan. Aku muak dengan kenyataan bahwa hidupku, bahkan hal-hal paling pribadiku tak pernah lepas dari pantauannya. Ia seperti menanam radar gaib di tubuhku, mengikuti ke mana pun aku pergi, seolah tak ada ruang aman lagi bagiku. Rasanya mustahil membayangkan isi pikirannya sampai rela melakukan ritual khusus, menyematkan benda pusaka atau menjalankan praktik mistis hanya demi bisa terus membuntuti dan mengganggu kehidupanku. Cara yang keliru, bahkan tercela hanya untuk memuaskan obsesinya yang tak kunjung padamNaudzubillahimindzalik.

Ritual

Kebenaran itu mulai terungkap saat aku mendatangi sebuah tempat pengobatan yang menggunakan bantuan jin pendamping dimana ada energi gaib yang dihadirkan untuk menyatu sementara dalam tubuh manusia. Saat ritual berlangsung, tiba-tiba seorang Kiyai bersuara lantang muncul. Dengan sorot mata tajam, ia menyibak tabir misteri yang selama ini tak kusadari tentang sosok tak kasat mata yang terus membuntutiku kemanapun aku melangkah. Sosok itu, kata beliau, bukan sekadar bayang-bayang... tapi bentuk nyata dari niat jahat yang telah lama dikirimkan kepadaku.

"Hai! Laki-laki yang ada di belakang (tubuhku),
ngapain kamu terus-terusan mengikutinya?" teriaknya.

Sontak bulu kudukku di buat merinding. 

Pertama, rasanya cukup kaget mendengar sosok laki-laki yang masuk ke tubuh perempuan dan mengeluarkan suara yang menggelegar seisi ruangan. 

Kedua, tatapan bangsa jin yaang melotot ke arahku tiba-tiba berubah menjadi senyuman dan cara pandang licik namun tak asing bagiku. 

Secara kasat mata, ia tampak seperti perempuan biasa yang bertugas menjadi perantara di malam itu. Tapi tutur kata dan sikapnya, rasanya terlalu familiar. Seolah tubuh itu dipinjam oleh seseorang dari masa laluku.

Saat seorang ustadz menanyakan siapa sosoknya, tubuhku langsung merinding hebat. Seutas, senyum picik dilemparkan kearahku, sambil menyebut satu nama yang selama ini sangat ingin kulupakan. Nama yang menyimpan trauma dan kemarahan. Ekspresinya seakan puas, entah karena berhasil muncul di hadapanku secara gaib atau karena merasa sukses mengguncang rumahtanggaku yang kini di ambang kehancuran. 

d. Jampe-jampe

Satu fakta mengejutkan kembali terungkap! Ternyata, ia tak pernah absen melakukan ritual tengah malam. Setiap menjelang tidur, ia merapal mantra sambil membayangkan wajahku… perempuan di masa lalunya yang masih hidup di dalam pikirannya, dan bukan istrinya. 

Konon, semakin ia larut dalam bayang-bayang masa lalu, semakin berat pula perjuangan sang istri untuk menyelamatkan kewarasan si suami. Aku tidak tahu pasti detailnya. Apa yang dibacanya? Bagaimana prosesnya? Yang jelas, efeknya begitu nyata, Setiap malam... ya setiap malam aku merasa gelisah tanpa sebab, perut terasa anyang-anyangan dan tubuhku seperti terbakar setiap kali berbaring di sisi suami. Ada sesuatu yang tidak kasat mata, namun begitu mengganggu hingga membuatku bertanya… Apakah ini semua masih bisa dianggap kebetulan?

3. Berdampak terhadap aspek kehidupan

Malapetaka yang ditimbulkan:

a. Usai putus

Setelah putus, aku pikir perasaan lega dan kebebasan akan segera menyusul. Kupikir, aku bisa menutup lembaran lama dan mengubur semua luka masa lalu. Bertemu pria baru, sosoknya pun berlalu. Nyatanya, itu semua hanya harapan semu.

Langkah pertama yang kulakukan adalah mengganti nomor ponsel dan berharap bisa memutus akses darinya, sekecil apa pun jejak yang masih tersisa. Syukurlah, usai lulus SMA ayah dan ibu memutuskan untuk membawaku kembali ke kampung halaman. Aku merasa diselamatkan. Jauh dari kejaran, jauh dari pertemuan, jauh dari bayang-bayangnya. Untuk beberapa waktu, hidupku tenang. Ku anggap, ia tak lagi tahu keberadaanku. Aku sempat percaya bahwa ini adalah titik akhirnya. Tapi rupanya, tidak butuh waktu lama baginya untuk mencariku lagi meski ia sudah menikah.

  • Teror: 
    • Di berbagai kesempatan, ia terus mencari celah. Tak putus asa, bahkan setelah aku menghilang dari pandangannya. Ia terus berusaha mengirim pesan ke nomor ibuku secara berulang-ulang, tanpa henti dan itu berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Sampai akhirnya, kami semua merasa resah dan sangat terganggu.
    • Meski semua kontak sudah terhapus dan tak ada lagi koneksi di media sosial, pesan darinya tetap bermunculan di Kotak Masuk. Rupanya,  ia tak pernah benar-benar pergi.

  • Menguntit: 

    • Rela menunggu berminggu-minggu di depan rumah, meskipun sudah berpindah tempat tinggal
      Menurut seorang informan, untuk beberapa bulan ke depan ia masih kerap terlihat
      duduk menunggu dan berseliweran di sekitar tempat tinggal lamaku.
    • Pasang mata-mata: Diketahui, ia bahkan memiliki satu orang informan yang rutin memberinya kabar tentang kehidupanku sehari-hari, meski kami sudah tak lagi tinggal di kota yang sama.
    • Rela datang jauh-jauh dari Pariaman menuju Solok hanya untuk menghadiri acara buka puasa bersama. Tak sendiri, namun memboyong sang istri. Ironisnya, ia memilih menitipkan pasangannya, ibu dari anak-anaknya ke rumah teman dan datang sendiri ke acara reuni hanya untuk bertemu mantan. 
    • Kerap muncul dan mencegat saat berkendara di jalan raya
      Saat tahu berada di kota yang sama, aku terpaksa mengganti rute perjalanan ke tempat bimbel karena merasa sering diikuti. Ia kerap muncul tiba-tiba di tengah jalan, seolah-olah kebetulan berpapasan. Entah itu memang disengaja atau tidak, yang jelas aku beberapa kali dicegat di sekitar jalan kampus UPI YPTK Padang dan diikuti kemanapun pergi.
    • Tiba-tiba muncul di tempat yang kerap dikunjungi 
      Hidup di era teknologi membuat keberadaanku mudah dilacak, apalagi jika aktif membagikan aktivitas di media sosial. Momentum tersebut lantas dimemanfaatkannya untuk memantau, melacak bahkan kerap muncul tiba-tiba saat aku sedang bersama teman, entah saat berada di pusat perbelanjaan, di tempat makan atau lokasi lainnya.
    • Nyamperin ke kampus: Tak lama setelah pengumuman hasil SBMPN, seorang teman tak sengaja bertemu dengannya. Memberitahu jika sosoknya terlihat datang ke kampus dimana aku baru saja diterima kuliah. Dalam pertemuan yang katanya tidak disengaja tersebut, ia justru menanyakan banyak hal tentangku. Mulai dari jurusan apa yang kuambil hingga di mana letak gedung tempatku akan menjalani perkuliahan nantinya. 
    • Nekat terbang antar pulau mendatangi tempat magang
      Terhitung sejak tahun 2007 hingga 2024, setelah menyadari rentetan kenyataan pahit yang ternyata masih saling terhubung, aku mencoba menelusuri akun media sosialnya untuk mencari rekam jejak dan hal-hal lain apa yang mungkin masih berkaitan dengan kejadian masa lalu. Di luar dugaan, selain masih menyimpan foto-foto lamaku ada hal lain yang paling mengusik, ialah unggahan fotonya di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta. Jika dicek lagi detail hari, tanggal dan tahun foto tersebut sama persis dengan momentum jadwal aku menjalani PKL di Jakarta.
  • Stalk
    • Suatu hari, entah untuk yang keberapa kalinya aku kembali menerima pesan BBM dari istrinya. Isinya masih sama: Peringatan agar aku tidak terlalu sering mengunggah postingan di media sosial. Awalnya aku memang merasa terganggu dan kesal. Tapi semuanya berubah saat ia mengungkap fakta mengejutkan. Ternyata, foto-foto yang kuunggah di Facebook kerap dibagikan ulang oleh mutual friends ke hp suaminya
    • Di waktu yang hampir bersamaan, si istri juga mengonfirmasi bahwa password yang digunakan di ponsel sang suami masih menggunakan tanggal jadian kami, meski hubungan itu telah lama berakhir. Ia bahkan mengaku terkejut saat menemukan banyak foto terbaruku tersimpan di galeri hpnya.
    • Yang lebih mengganggu lagi, hingga detik ini, entah sudah berapa banyak akun yang mengatasnamakan si istri kedapatan mengikuti akun Instagram-ku dan juga suamiku. Akun-akun tersebut bahkan terdeteksi mengikuti teman-teman dekatku, teman kuliah, sepupu hingga orang-orang yang sering berinteraksi denganku di media sosial.

15 Tahun berlalu, tapi drama ini seolah tak pernah menemukan ujung. Nasibku terasa seperti ironi yang tak kunjung usai bahkan setelah berumah tangga, bayang-bayang masa lalu masih saja menghantui. Gangguan dari mantan tak berhenti di dunia maya-nyata, kini merambah ke ranah yang lebih menggetarkan dan hadir dalam wujud yang tak kasat mata. Seakan semesta ingin mengujiku tanpa jeda.

b. Saat berpacaran dengan orang lain

Setelah kupikir-pikir, kisah cintaku selalu berakhir tragis. Berkali-kali ditinggalkan tanpa alasan yang jelas. Perjuangan mereka di awal untuk mendapatkan hatiku seolah tak sebanding dengan sikap mereka saat hubungan sudah terjalin hingga akhirnya satu per satu memilih pergi. Aneh, ketika lukaku mulai sembuh, mereka selalu datang lagi membawa penyesalan. Pola ini terus berulang, terlalu rapi untuk disebut kebetulan semata. Semakin hari, aku mulai menyadari: Mungkin ini bukan sekadar luka lama, tapi jejak gangguan dari masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai. Seolah ada sesuatu yang terus menghalangi langkah ku untuk menemukan kebahagiaan dengan pria lain.

c. Mengusik kehidupan pernikahan

Seiring berjalannya waktu, ia tak lagi punya banyak celah untuk menguntit secara langsung. Tapi siapa sangka, ia masih punya cara lain untuk mengusik dari kejauhan.

Baru kusadari, selama ini hidupku seolah digerakkan oleh skenario yang ia bentuk agar aku tak pernah benar-benar merasakan kebahagiaan dengan pria lain. Awalnya, aku mengira segala ujian dalam pernikahan ini adalah bentuk cobaan dari Tuhan, bagian dari proses pendewasaan dan penguat iman. Namun belakangan, semuanya terasa berbeda. Tujuannya bukan lagi soal pelajaran hidup, tapi lebih seperti sebuah jebakan yang dirancang rapi agar rumah tanggaku runtuh dan berakhir di meja hijau Pengadilan Agama.

Berbagai upaya untuk menghancurkan pernikahanku kerap diupayakannya dengan:

  • Tidak bisa mengurus suami
    Tangan luka bernanah di 3 jari inti hanya akan membuatku tidak bisa melakukan apa-apa saat mengurus pekerjaan rumah tangga. Terbukti selama menikah, suami ikut turun tangan mencuci piring, memandikan hingga cebokin anak bahkan membantu cuci pakaian. 

  • Benci tapi rindu dengan pasangan
    Kesal jika bersama namun rindu setengah mati jika tidak bertemu.
    Selama ini aku kerap bertanya-tanya, jika banyak orang hidup selalu berdampingan dengan pasangan kenapa suamiku terus-terusan meminta istrinya untuk pulang ke kediaman orangtua alih-alih berjuang bersama dengan anak?
    Pertanyaan itu cukup lama menggantung di benakku. Tapi ternyata, itulah cara Tuhan menjawab doaku: Agar aku bisa lebih lama bersama keluarga dan dipertemukan dengan orang-orang yang akhirnya membantuku membersihkan diri dari serangan gaib yang selama ini sengaja ditujukan padaku.

  • Pikiran dialihkan, seolah kehadiran suami tidak pernah ada di kehidupan
    Perasaan jatuh cinta pada pasangan perlahan menghilang sejak menikah—terlebih sejak hadirnya buah hati, fokusku sepenuhnya teralihkan. Sampai tiba di satu titik, untuk membayangkan rupa pasanganku sendiri aku tidak bisa melakukannya. Ini seperti pukulan hebat! Aku mulai tertegun, ternyata pernikahanku sudah sehancur ini. Sepersekian detik, air mata langsung bercucuran. Emosi seketika meluap hingga aku dipandu oleh ustadz membaca QS An-Naml ayat 30 sambil mencari-cari wajah suami yang terasa asing dalam ingatan. 

  • Suami bangkrut
    Awalnya aku mengira kegagalan yang dialami suamiku murni karena strategi bisnis yang keliru, perputaran uang yang tidak terarah hingga pemasukan dan penjualan yang sebelumnya luar biasa, tiba-tiba lenyap dalam sekejap hanya karena satu kesalahan fatal. Namun semakin kupikirkan, muncul pertanyaan yang tak bisa kuabaikan: Mungkinkah semua ini bagian dari skenario tersembunyi, agar aku meninggalkan suami saat dia jatuh terpuruk? Entahlah.

  • Rumah tangga berantakan hingga nyaris berpisah
    Peliknya masalah yang datang silih berganti, tak jarang membuatku ingin menyerah. Apalagi, kondisi pernikahan kian hari kian menurun, grafik yang makin landai, harapan yang perlahan memudar, dan komunikasi yang tak lagi berjalan seperti dulu.

    • Dibuat hampir gila
      Sering melamun memikirkan banyak hal, overthinking sebelum tidur bahkan suka menangis di tengah keramaian. Kondisi diperparah saat berapa banyak kata-kata "Hampir gila!" itu keluar spontan dari lisan beberapa tahun terakhir. 

    Tak pernah terlintas dalam benakku bahwa segala aral, penyakit, konflik, dan keretakan rumah tangga ini bisa terjadi karena campur tangan orang lain—hingga akhirnya aku dihadapkan pada kenyataan yang mengejutkan. Rasa sakit di tubuh mungkin masih bisa kutahan, tapi serangan yang menyasar pikiran perlahan merusak mentalku. Setiap kali mengingat sosoknya, aku dipaksa kembali membuka lembaran kelam yang justru kucoba kubur dalam-dalam.

    Sungguh menyakitkan! Setelah sekian tahun berusaha membangun hidup baru, aku belum benar-benar bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui, bahkan menjadi pemicu kekacauan dalam pernikahan yang kujalani saat ini.

    Comments