Kepiluan anak yatim setelah ditinggal ayah
Tuhan itu maha baik ya...
Ketika laki-laki yang begitu dicintai harus kembali kepada Sang Pemilik, tidak butuh lama bagiNya menggantikan kehadiran pria lainnya di kehidupanku. Hebatnya lagi, beberapa tahun kemudian didatangkan dua hingga tiga sosok laki-laki sekaligus. Aku tersadar baik ayah, bapak yang kini menjadi pasangan baru ibu, mertua, suami maupun anak hanyalah titipan Tuhan yang ditakdirkan masuk di kehidupanku. Titipan artinya kapanpun mereka bisa pergi meninggalkanku karena sejatinya kehidupan di dunia hanyalah perjalanan yang sebentar. Siapapun makhluk yang hidup dimuka bumi ini pada akhirnya akan kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa jika waktunya telah tiba.
Rasanya baru kemarin sore, aku bersama ibu diangkut mobil ambulan diiringi suara sirine disepanjang jalan untuk membawa jenazah ayah pulang ke rumah, dimana itu merupakan momen terakhir kalinya kami bersama dalam keheningan yang mencekam, bahkan tidak terasa kejadian tersebut sudah berlangsung persis satu dekade berlalu. Lebih tepatnya sudah 10 tahun terakhir ini kami melewati perayaan bulan suci ramadhan hingga hari raya tanpa sosok ayah yang terlebih dahulu sudah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Jelas, hal ini menjadi kepingan besar yang paling menyiratkan luka besar di kehidupanku di beberapa tahun belakangan ini. Namun di satu sisi, aku merasa jauh lebih beruntung daripada kehidupan ayah di masa lalu yang sudah menjadi yatim piatu dari usia 10 tahun. Berbeda dengan keadaanku pada saat itu yang sudah terbilang dewasa untuk bisa mencerna kejadian itu semua, meskipun sampai detik ini perasaan kehilangan masih selalu ada. Rasa sedih yang timbul di relung hati saat kehilangan orang yang benar-benar disayang memang menyisakan trauma dan rasa sakit luar biasa.
![]() |
| Setelah sekian lama tidak mengunjungi makam ayah yang sudah mulai kumuh dan banyak daun berjatuhan di sekelilingnya |
Bagiku kini, datang ke makam hanya menjadi sebuah simbolik semata. Semenjak ayah meninggal memang butuh effort untuk ku melewati jalanan dan juga tanjakan tinggi agar bisa sampai di makam ayah. Bukit yang begitu curam, terpisah dari makam yang lain pula menjadi alasan aku tidak seleluasa keinginan ayah untuk bisa lebih sering berkunjung. Namun ketika sudah berada disana, ternyata aku masih saja menjadi gadis kecil yang suka merengek dan mengadukan segala perasaan di depan makam ayah. Makanya baik do'a maupun lantunan ayat suci sejatinya tidak pernah lepas diperuntukkan untuk ayah selama ini di akhir sholat, bahkan bertemu ayah di khayalan seringkali membuat hari-hariku merasa jauh lebih baik setelahnya.
Cerita di masa lampau membuat ku tidak pernah ada habisnya selalu merasa bersyukur, karena hidup menjadi anak dari sosok penyayang seperti ayah merupakan blessing yang tidak pernah ingin dihilangkan dari ingatan. Kenangan dan cerita seru di kehidupanku saat masih bersama ayah membuat keberadaanku benar-benar diinginkan. Ayah memang berwatak keras, namun hatinya sangatlah baik kepada sesama tanpa kecuali. Dan karakter tersebut kini diwariskan kepada anak cewek satu-satunya tersebut. Sesungguhnya, aku tidak pernah bisa melepaskan diri dari bayang-bayang ayah, meskipun hanya kesenangan sesaat, paling tidak aku masih bisa merasakan kebahagiaan walaupun hanya di alam pikiran. Ya, sosok ayah memang sampai kapanpun tidak akan pernah hilang dari ingatan dan juga kenangan meskipun raganya sudah terkubur dan hancur menyatu bersama tanah, namun setelah bertahun-tahun berlalu bahkan kini sudah menjadi seorang ibu, aku masih saja menjadi anak perempuan yang suka datang ke pusara lalu sengaja duduk di pinggiran keramik makam tersebut hanya ingin minta dipeluk oleh beliau sembari sesegukan.
Jika dikenang lagi, sosok ayah sedikit banyaknya menjadikan karakter ku seperti sekarang. Aku suka cara berpikir beliau yang kritis dan visioner, selangkah lebih maju daripada orang-orang di sekitar, sederhana namun bersahaja sekalipun terlahir di tahun 40an dan ada kalanya bersikap sedikit kolot. Hidup berdampingan di tengah orang-orang yang berasal dari generasi berbeda, seperti ibu yang besar di tahun 70an kemudian muncul banyak perbedaan yang terkadang bisa saja menjadi perdebatan dalam membesarkan anak milenial. Contoh kecilnya terjadi ketika aku yang sedari dulu identik dengan tampilan rambut berponi ini selalu dikomentari oleh ayah yang lebih bersemangat dengan penampilan perempuan anggun dan menyisir rambut ke arah belakang, layaknya ibu R.A Kartini. Ia membandingkan sosok tersebut dengan anak kelahiran 90an. Tak tanggung-tanggung, aku pun kerap dipaksa mendengarkan seni tradisi lisan minangkabau 'Salawek Dulang' yang mulai tergerus oleh zaman, serta hal-hal lainnya yang di rasa cukup berbeda zaman dimana pada saat itu sudah memasuki fase kebarat-baratan.
Namun di balik itu, aku banyak belajar cara hidup dari beliau. Hidup ditengah-tengah masyarakat mayoritas yang masih menganggap aneh sebuah perbedaan membuat aku kerap merasa asing hingga diperlakukan berbeda oleh orang-orang sekitar saat tumbuh dan besar dilingkungan tempat tinggal. Kurang pandai berbasa-basi dan suka ngomong apa adanya hingga kerap membuat orang merasa kurang nyaman dengan celetukan yang dikeluarkan menjadi satu dari sekian banyak kesamaan ku dengan ayah. Sekalipun apa yang diungkapkan itu sebuah fakta, nyatanya tidak semua orang siap dengan kritik tajam menyakitkan.
Mendewasa tanpa sosok ayah
Ternyata, menjadi dewasa itu beban! Di tengah tuntutan hidup yang begitu kuat, ada kalanya aku ingin kembali ke masa kecil. Tidak seperti sekarang, dihadapkan dengan masalah orang dewasa. Di sisi lain, perasaan ku masih sama. Kehadiran ayah selama ini masih menjadi sumber kekuatan terbesar, baik dulu maupun di masa sekarang. Merasa kehilangan sosok penting dalam kehidupan, rasanya tentu saja ada yang hilang. Tempat bersandar yang tak lagi ku punya, panutan yang tak bisa lagi ku temukan. Berjalannya waktu, aku bertumbuh dan tertatih, seolah kehidupan terus memaksaku untuk tetap menjalani hidup dengan semestinya, pahit dan getir. Ada kesedihan yang hanya bisa teralihkan oleh kesibukan, atau air mata yang kerap tersapu oleh angin. Begitulah rasanya hidup yang harus dilalui tanpa sosok Ayah.
Setelah ditinggal ayah, aku bukan lagi anak manja yang selalu bersandar dibahunya. Lelahku, sedihku hingga bahagiaku semuanya harus dihadapi seorang diri. Bahkan ada masanya aku merasa kurang siap untuk menghadapi itu semua. Manusiawi sekali bukan, hidup berdampingan dengan derai air mata? Namun semakin berusaha tegar, semakin aku merasa kepiluan yang luar biasa. Begitu kehadiran sosok ayah benar-benar sangat diinginkan untuk berada di dekatku, bahkan terasa semakin mencekam kala dihadapkan dengan beberapa hal dan peristiwa yang membuat hati ini merasa gundah. Padahal ada ibu, tapi beliau masih punya tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan, dan aku... memilih hidup di perantauan alih-alih terus bersama ibu di kampung.


Comments