Transisi pemakaian ponsel dari waktu ke waktu
Faktanya, ponsel masih menjadi teknologi atau media komunikasi yang sangat penting dari dulu hingga sekarang. Buat kamu kelahiran 90an, rata-rata pasti mengalami sebuah pergeseran yang luar biasa diera peradaban 2000an dimana kebiasaan, trend, kecenderungan masyarakat hingga segala hal yang terjadi mengalami transisi. Kemudian, ada satu fenomena baru yang muncul terkait cara berkomunikasi jarak jauh yang selama ini dilakukan mulai dari surat, pager, pesawat telepon hingga menggunakan handphone.
Gengsi rasanya ketika diminta teman sekolah mengisi biodata di Binder lalu mengosongkan kolom No.Telp dan juga No. Hp, karena tidak semua remaja di usia tersebut mendapatkan kesempatan untuk memiliki ponsel genggam apalagi ada masanya bertukar nomor hp menjadi hal yang waw banget bagi remaja seusiaku pada saat itu. Meskipun oleh pihak sekolah sangat melarang siswanya untuk membawa hp ke sekolah, ada kalanya guru BP tiba-tiba melakukan razia termasuk salah satunya alat komunikasi ini. Nyatanya, masih banyak siswa yang colongan atau sengaja membawa ke sekolah sambil bersembunyi dari guru agar tidak ketahuan, makanya ajang show-off terbaik kala itu bisa dengan santai dilakukan di tempat les.
Cukup telat bagiku turut serta dalam kepemilikan benda canggih tersebut, mengingat baru diberi kesempatan untuk menggunakan telepon genggam oleh orang tua
saat memasuki kelas 2 di bangku SMP pada 2006 awal, bahkan jika
teman-teman di sekolah sudah menggunakan Nokia kamera seri 3230, 3660,
6600 hingga 7610, justru hp jadul pertama yang dibelikan oleh ayah ialah
hp Polyponic.
1. Nokia 2610
Jauh sebelum menggunakan iOS dan juga Android seperti sekarang, handphone jadul Nokia menjadi satu-satunya perangkat komunikasi yang bisa mengajak penggunanya bernostalgia dengan Mp3 Ringtone, Screensavers dan juga beberapa menu yang tersedia, mulai dari fitur Pesan, Panggilan, Kontak, Galeri, Pengaturan hingga Multimedia yang mencakup didalamnya perangkat radio, jam, kalender, kalkulator dan juga permainan. Bahkan kegiatan bertukar pesan singkat menggunakan SMS (Surat Masa Singkat) dianggap sebagai layanan yang hanya bisa mengirimkan pesan teks saja menggunakan provider GSM atau 2G Network. Mungkin bagi sebagian pengguna monophonic pernah mengalami metode mengirimkan pesan gambar multimedia berupa MMS dengan tarif Rp150, namun tidak bagi pengguna polyphonic. Handphone yang memiliki layar kecil berukuran 1.8 inch dengan resolusi 128x128 pixels ini pada dasarnya masih bisa di genggam menggunakan satu tangan, mengetik teks dengan menekan keypad secara berulang-ulang hingga menyingkat pesan teks dianggap alternatif yang tepat agar jempol tidak pegal dan juga pesan terkirim secara keseluruhan <sebagian teks hilang>.
2. Sony Ericsson k310i
Bisa membeli handphone kamera untuk pertama kalinya di usia belasan apalagi saat di bangku sekolah menjadi salah satu pencapaian ku saat mendapatkan upah dari kegiatan pengibaran bendera 17 Agustus menggunakan baju Paskibra. Di tahun 2007an, Sony Ericsson menjadi salah satu merk hp yang banyak digemari karena tampilan dan perangkatnya yang cukup menarik, meskipun kini perusahaan tersebut sudah diakuisisi oleh Sony. Merk tandingan yang juga muncul bersamaan dengan handphone ini ialah Siemens dan juga Motorola.
Secara tampilan, handphone k310i ini memiliki tombol keypad menggunakan joystick, bahkan memiliki kapasitas baterai sebesar 750 mAh dengan resolusi 128 x 160 pixels. Handphone ini kemudian mengusung single camera 0.3 MP dan memiliki memori sebesar 15 MB, makanya bisa dibilang foto-foto yang dihasilkan masih sangat-sangat buram. Pernahkah kalian berada di satu kejadian dimana ketika akan mengambil suatu gambar yang hanya bisa digunakan menggunakan kamera belakang kemudian muncul notifikasi Memori sudah penuh? Nah, ketika kamu berpikir untuk menyimpan sekitar 20 foto saja, siap-siap diminta untuk menghapus sebagian foto yang tersimpan didalamnya, atau jika perlu mengirimkan file foto tersebut menggunakan Infrared ke perangkat lainnya dengan cara menempelkan ujung hpmu ke hp lainnya.
3. Samsung GT B3310
Memasuki 2010 awal, kemudian aku mendapatkan kesempatan menggunakan handphone keluaran Samsung dengan tampilan terutama di bagian keyboard nya yang sedikit unik. Pertama dengan menaruh tombol angka berjejeran di samping kiri layar yang berukuran 2.0 inch tersebut. Maka aku masih bisa mengetik teks secara berulang seperti menekan angka 9 sebanyak 4x hanya untuk mengetik huruf Z. Kedua, menggeser slide samping untuk menemukan papan tombol jenis QWERTY. Memiliki resolusi 240x320 pixels, wajar saja jika handphone ini memiliki kapasitas memori penyimpanan sedikit lebih unggul dari handphone ku sebelumnya yakni sebesar 40 MB.
Selain peralihan keyboard, penyimpanan Mp3 Player yang sudah bisa dipindahkan menggunakan Bluetooth saat mengirimkan pesan gambar dan suara, untuk mengakses Opera Mini atau sekedar masuk ke Facebook sites melalui
menu browse pun juga sudah bisa dilakukan melalui handphone bahkan dari
rumah, jadi tidak lagi harus jauh-jauh datang ke warung internet
(Warnet) terlebih dahulu, karena pada dasarnya fitur yang disajikan
inilah menjadi awal mula pergeseran gaya hidup lainnya yang mulai
mengandalkan cara browsing.
4. Blackberry Curve 8520 Gemini
Bersamaan dengan kemunculan Twitter pada 2013, Blackberry menjadi warna baru tersendiri bagi orang-orang yang tidak ingin ketinggalan zaman. Jika biasanya banyak orang yang bertukar pesan melalui SMS, wall to wall di beranda facebook kemudian muncul satu gebrakan baru yang bernama chat. Untuk terhubung dengan yang namanya Blackberry Messenger, terlebih dahulu kalian harus terhubung melalui pin BB. Hingga akhirnya banyak cara yang dilakukan pengguna lain agar bisa terhubung dengan kontak lainnya, mulai dari mempromosikan pin BB dari teman ke teman lainnya menggunakan fitur chat Broadcast. Istilah PING kemudian muncul sebagai cara baru untuk menyapa dan memulai percakapan dengan seseorang, menggantikan kata Hello dan sebagainya. Kemunculan media sosial sebelumnya seperti Facebook dan Twitter mengantarkan sebuah kebiasaan baru dimana privacy mulai ditampilkan kepada orang-orang seperti isi percakapan, foto yang sengaja di unggah untuk dipertontonkan kepada orang-orang, begitu juga di fitur BBM ini. Kita bisa leluasa menyaksikan aktivitas seseorang saat sedang mengganti Display Picture (DP), mengganti status BBM, memperlihatkan musik apa yang sedang didengarkan di recent update, dsb hingga muncul yang namanya Autotext sebagai salah satu trend yang membuat penggunaan smartphone jenis BB ini semakin banyak diminati.
5. Samsung Galaxy GT-19082 Grand Duos
Pergeseran penggunaan keyboard QWERTY menjadi touchscreen dengan tampilan layar sebesar 5.01 inches atau 480x800 WVGA ini menjadi trend selanjutnya yang masuk di Indonesia saat mengikuti kecanggihan yang dibawa oleh negara lain. Ditambah peralihan kebiasaan masyarakat konsumtif yang tadinya menjadikan BlackBerry sebagai cerminan gaya hidup kini mulai ditinggalkan menuju Android, seperti aku yang kemudian berkesempatan untuk menggunakan Android OS 4.1 Jelly Bean. Awal mulanya diyakini karena penggunaan kamera depan dengan resolusi 2MP dinilai cukup baru hingga muncul trend selfie, juga kamera belakang sebesar 8MP. Adanya aplikasi chat baru yang muncul bernama WhatsApp kemudian memperbolehkan penginstalan aplikasi BBM di Android hingga membuat orang-orang yang sudah terlanjur menggunakan smartphone ini tidak mau rugi, lama-kelamaan banyak orang yang mulai beralih ke perangkat terbaru ini.
Ada sedikit cerita dibalik kepemilikan ponsel ini, tadinya orang tua memberikan ku sedikit dana segar untuk membeli kamera digital, dimana pada 2013 lalu aku masih menjadi seorang mahasiswa yang tengah disibukkan dengan kegiatan syuting di lapangan untuk beberapa project film pendek yang sedang digarap. Alih-alih membeli kamera yang hanya bisa dipakai untuk dokumentasi gambar dan video, salah satu dosen menyarankan ku untuk membeli iPhone 4s dengan budget yang sudah dikeluarkan oleh orang tua. Namun dengan gegabah aku justru memilih perangkat Android dengan kapasitas memori internal sebesar 8GB ini.
6. Apple iPhone 5S
Beberapa
tahun kemudian ketika layar Android ku sudah benar-benar retak hingga
baterai bocor dan tidak bisa digunakan lagi, aku menggunakan credit card pertama kalinya untuk membeli iPhone di Apple Store dengan mengajukan installment selama 12 bulan.
Tampilan chat di iOS yang terlihat eksklusif menjadi ciri khas yang masih saja dikangenin hingga detik ini. Bahkan yang membedakan iOS dengan perangkat lain terletak pada fitur-fitur tertentu yang hanya dimiliki oleh Apple saja seperti AirDrop, App Store, Assistive Touch, Face Fime, Find my iPhone, iCloud, iMessage, iTune, Safari hingga Siri. Saking eksklusifnya, tampilan icons nya kini juga sudah ada replika di perangkat Android.
Ada satu fun-fact yang tidak banyak orang tahu, mengapa sampai saat ini produk Apple masih menjadi barang yang mahal yang cukup lama bertahan? Nyatanya, lisensi yang dimiliki oleh iOS tidak untuk diperjualbelikan seperti perangkat terdahulunya, sebut saja Nokia hingga Blackberry yang sangat booming pada masanya dan tidak ada tandingan lalu tiba-tiba menghilang begitu saja seperti ditelan bumi.
Sejujurnya aku bukan typical pribadi yang gusar dan harus membeli perangkat lain yang baru saja muncul jika ada model keluaran baru, meskipun ponsel lama masih layak digunakan. Buktinya, disaat orang-orang kemudian sudah beralih ke iPhone X, alih-alih memaksakan diri untuk upgrade perangkat yang lama-kelamaan menjadi stereotype dikalangan para pekerja kantoran, aku justru bisa bertahan menggunakan gadget yang tidak begitu up-to-date.
Hal
itu terbukti semakin kesini ketika orang-orang justru semakin
berlomba-lomba untuk menggunakan ponsel pintar keluar terbaru seperti
iPhone 12 pro max hingga para FOMO atau Fear of Missing Out, sebutan untuk orang yang akan merasa cemas jika ketinggalan trend kemudian rela nebeng credit card
orang lain karena limit tidak mencukupi atau memaksakan diri karena
tidak memiliki akses untuk membeli gadget yang dibandrol seharga Rp 23
Juta tersebut, aku merasa cukup sadar diri dan konsisten dengan
idealisme yang dimiliki. Dari dulu, aku lebih tertarik memiliki suatu hal
bukan karena orang lain punya namun masalah prioritas. Gadget seperti
apa yang benar-benar dibutuhkan? Toh buktinya sampai detik ini aku masih
bisa menjalin komunikasi dengan siapapun kontak-kontak yang terhubung
terlebih dengan orang-orang terdekat hingga tetap update tentang berbagai hal. Makanya bagi yang sudah pernah menggunakan produk Apple sebelumnya kemudian memilih untuk upgrade iOS,
aku justru bergeser ke merk lain yang sekiranya bisa gampang diakses
untuk memenuhi segala jenis kebutuhan yang disediakan oleh aplikasi yang
sudah di-install di Android.
7. Xiaomi POCO M3
Dulu vs sekarang
Dibalik segala kemudahan yang didapatkan, sejujurnya aku justru seringkali merindukan kehidupan sebelum mengenal perangkat canggih ini. Prinsip yang tadinya dianggap kehadiran ponsel mampu mendekatkan yang jauh, kini bertambah fungsi menjadi menjauhkan yang dekat juga, miris! Namun itulah kenyataan sebenarnya.
Jika dulu bertukar pesan teks menjadi satu hal yang menyenangkan, kini inbox di ponsel terasa seperti spam. Ratusan pesan teks dari berbagai sumber, mulai dari kode OTP, asuransi, SMS provider bahkan pesan dari nomor yang yang tidak dikenal mengatasnamakan suatu perusahaan. Apalagi nomor ponsel yang tadinya dianggap sangat krusial dan sifatnya sangat privacy kini gampang sekali diakses oleh siapapun. Dengan mudahnya orang-orang kini bisa menemukanmu dengan cara satu kali klik saja lalu para pengguna lain bisa saja meretas semua isi, data dan informasi pribadi yang tersimpan didalam ponsel pintar yang kita miliki.
Dengan segala kecanggihan yang dimiliki di dalam satu genggaman, lalu beralih ke sebuah metode pemakaian paket data yang bisa dibeli dengan cara klik di aplikasi mobile atau m-Banking, lama-kelamaan orang-orang mungkin sudah mulai lupa bagaimana rasanya membeli pulsa ke counter hp lalu mengisi nomor hp di selembar kertas pedagangnya. Kangen rasanya melihat orang-orang hanya di saat tertentu saja memainkan hp mereka, entah itu sebatas memberikan kabar via telpon, misscall untuk sekedar mendengarkan Nada Sambung Pribadi (NSP), berbagi pesan teks via SMS dengan orang-orang terdekat, membuat nada dering mandiri menggunakan composer atau jika perlu menyalin contoh yang sudah dimuat oleh tabloid ponsel yang menyediakan kode ringtone hingga memainkan satu atau dua jenis permainan yang tidak lain permainan Snakes. Tidak seperti kehidupan di zaman sekarang yang sangat mudah untuk melihat hingga mengakses kehidupan orang lain yang dibagikan di akun sosial media mereka karena muncul di beranda aplikasi tersebut hingga sudah menjadi sebuah kebiasaan. Coba dikalikan, berapa banyak dalam 1 jam kalian bolak-balik membuka beranda Instagram, Facebook, atau Timeline Twitter? Seolah trend tersebut membawa kita untuk gemar melihat hingga mengurusi kehidupan orang lain.

.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)



Comments