Inner child

Ada rasa kehilangan dan luka yang belum sempat ditangisi sepenuhnya...
Sebab kesedihan harus dihadang sendirian
dan sulit meminta bantuan untuk menunjukkan kelemahan
Ternyata, dinding emosional tak kasat mata tercipta di tengah-tengah
Kenapa aku merasa sepi meski tak melulu sendiri? 

Ternyata hidup mendewasa membuatku resah, ingin menyerah dan pasrah. Banyak perjuangan diam-diam di dalamnya, air mata dan kesakitan yang menyelimuti, ditambah dunia ku pun telah runtuh usai ditinggal ayah. Fase kritis sebagai perempuan dewasa yang dipaksa menjadi pilar, ambruk juga rasanya. Padahal dulu ia dijaga oleh tiang kokoh bernama ayah. Tampaknya, aku sedang hidup di antara dua dunia dimana kenangan perlindungan dari masa lalu dan kenyataan perjuangan hari ini terus berjalan beririsanMengorek satu per satu luka yang dibawa, inner child  itu terus menjadi bayangan hingga mengantarkanku pada satu kondisi yang disebut dengan Performance Anxiety Disorder.

Baca selengkapnya: Performance Anxiety Disorder


Meratapi masa luka

Dulu, aku tumbuh sebagai anak yang begitu dicintai. Anak yang ditunggu-tunggu hingga 8 tahun kehadirannya itu begitu dijaga sedemikian rupa, beralaskan ketulusan nan nyata dirasa dan hidup di atas rumah yang selalu hangat oleh kehadiran ayah, ibu, uwak dan angku yang menjadikan aku segalanya. Predikat anak tunggal membuat posisiku semakin kokoh hingga kehidupan fairytale berasa hampir di depan mata. Kemudian angku sakit tak biasa, kondisi keluarga pun mulai goyah. Salah satu pilar itu rubuh, sosok yang selama ini dikenal bukan lagi tampak seperti dirinya. Berselang waktu, ayah pun ikutan pergi dengan membawa rasa sakit yang janggal. Kenapa tiba-tiba semua orang meninggalkan aku?

"Rumah rasanya tak lagi sama dikala aku tetap ingin hanya menjadi anak agar terus merasa aman, tapi dunia terus berubah hingga rasanya sulit bertahan..."

Ibu, pundak yang ku rindukan kemudian perlahan meruntuhkan harapan. Anak yang ingin bersandar, ingin menganggapnya rumah dan tumpuan pun sebab dari kerapuhan hingga menghantam ku pada sebuah pernikahan. 

Pernikahan yang banyak menemukan duka! Terus bertolak belakang dengan kehidupan masa kecil yang penuh kenyamanan dan kejelasan peran, konflik batin yang muncul secara terus-menerus baik secara sadar maupun tidak. Satu per satu luka mulai bertumpuk, mengantarkan perjalan hidup dari seorang anak yang disayang sepenuh hati menjadi seorang perempuan yang harus menanggung begitu banyak beban sendiri, terlalu cepat dan terlalu berat.

Katanya jodoh itu dari Tuhan, dan takdir itu yang terbaik. Tapi kalau ini adalah takdir, kenapa rasanya seperti hukuman?

Dalam perjalanan, ada luka yang terjadi berulang-ulang dalam diam. Ditambah, orang-orang di sekitar tidak bisa menampung keberadaanku apa adanya. Aku merasa dikecilkan. Koneksi, ketertarikan semua memudar! di satu sisi semua pun menjadi hambar. Apakah hubungan ini mulai tidak setara? Hingga sampai di satu titik, aku terus bertahan dalam bentuk cinta yang tidak bisa memberiku pulang. Dukanya, aku merasa berada di hubungan yang kering dan begitu melelahkan. Komunikasi pun tidak pernah dua arah sejak awal dan terus menerus menyebabkan konflik yang akhirnya menjadi polemik. Pada akhirnya, hal inilah yang mengantarkanku menciptakan fantasi emosional semata untuk menyelamatkan energi batin akan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Sesekali, sadarku mengingatkan untuk keluar namun hidup di dalam narasi yang dibuat seketika menyelamatkanku saat sedang butuh tempat berlindung. Pemantik lainnya, ada rasa lelah yang muncul setiap hal kecil yang terus menerus dijadikan alasan untuk disalahkan. Apa yang sangat tidak bisa kudapatkan dari pasangan yang nyata, hingga aku harus menciptakan sosok lain untuk bisa bernapas?

Comments