Bahasa pertama Kannel
Melihat tumbuh kembang anak secara baik dan bertahap selalu menjadi keinginan banyak orangtua karena pada dasarnya, masing-masing anak memiliki perkembangan yang berbeda - beda. Aku masih bisa mengingat dengan jelas, betapa saat itu bayi yang baru saja dilahirkan hanya bisa telentang sambil bereaksi sembari menggerakkan anggota tubuh kaki dan tangan saja, perlahan ia mulai bisa belajar tengkurap; duduk; merangkak; berjalan; tumbuh gigi hingga sekarang dalam tahap melatih diri untuk bisa berbicara dengan lancar.
Di awal, Kannel terbilang anak yang memiliki perkembangan lebih unggul daripada bayi lain seusianya, hal itu terlihat saat di usia 7,5 bulan Kannel mulai bisa melangkah satu per satu dan dua hari kemudian ia pun sudah bisa berjalan tanpa bantuan dari orang - orang yang berada di sekitar.
Tumbuh gigi pun terbilang lebih cepat, bahkan di usia 16 bulan giginya pun sudah tersusun penuh dan sempurna.
Lalu ada satu tahapan yang cukup penting terhadap tumbuh kembang anak yaitu belajar berbicara untuk mengucapkan kata per kata. Seharusnya stimulasi pada anak sudah bisa dilakukan sejak dini agar ia terhindar dari masalah keterlambatan berbicara. Meskipun dari awal, aku selalu membiasakan diri untuk melakukan komunikasi yang menyenangkan dengan anak bahkan sejak saat hamil, kemudian ia dilahirkan hingga tumbuh besar seperti sekarang. Dari saat Kannel masih bayi hingga berusia 2-3 bulan, aku kerap mendapati anakku mulai bisa membuat suara. Kannel mulai bisa mengoceh atau babbling seperti mengucapkan dadaa atau mamamama.
Aku tidak begitu mempermasalahkan ini semua karena dari awal Kannel terlihat sehat dan tumbuh normal seperti anak - anak lainnya. Seiring bertambahnya usia, Kannel pun acapkali menunjukkan gerakan yang sifatnya meniru suara atau sesuatu yang ia saksikan, termasuk instruksi yang ku lakukan sebagai orangtua dan kerap menemaninya beraktivitas sehari - hari. Makanya menurutku ini bukan sebuah masalah yang harus dipertimbangkan lebih jauh.
Hal yang cukup mengganggu kemudian mulai muncul dari pihak luar, seolah mereka lebih risau melihat tumbuh kembang Kannel yang dinilai cukup lambat. Menjadi orangtua, egoku kini dipertanyakan. Jelas saja, orangtua mana yang ingin anaknya lambat berbicara?
Di satu sisi, aku tidak ingin memenuhi ekspektasi orang lain agar Kannel terlihat jago berbicara di depan mereka. Walau tak bisa menampik jika tumbuh berkembangnya soal kecakapan dalam berbicara pun kini menjadi concern serta prioritasku saat ini.
Oleh karenanya, merencanakan untuk mendatangi dokter anak dalam waktu dekat kemudian menjadi prioritasku juga.
Anak speech delay?
Menurut journal parenting yang ku baca, perkara anak - anak yang belum sepenuhnya bisa berbicara meskipun sudah memasuki masa toddler memang kerap dialami oleh pertumbuhan anak lain, bahkan bukan menjadi hal tabuh jika anak - anak seusia Kannel kerap mengalami ini. Namun mengingat usianya yang kini sudah mencapai 3 tahun 1 bulan, ia masih belum menunjukkan kecakapannya dalam menyusun kalimat. Kannel masih kerap berbicara menggunakan bahasa yang hanya ia sendiri mengerti dan kesulitan dalam mengulang - ulang lebih dari dua kata, tidak seperti anak seusianya yang sudah enak di ajak berkomunikasi oleh orangtua ataupun lingkungan sekitar.
Mulailah ada sedikit kekhawatiran, apakah anakku mempunyai masalah saat mengertikan suatu bahasa, masuk kategori anak yang telat berbicara ataukah speech delay?
Speech delay merupakan salah satu gangguan komunikasi yang wajar terjadi pada anak di masa pertumbuhan mereka, karena keterlambatan bahasa itu bukan berarti Kannel mempunyai artikulasi ataupun pengucapan buruk. Hanya saja ia tidak sampai di level tersebut, anaknya sedikit lebih santai untuk mampu mengucapkan atau menyusun kata - kata ke dalam sebuah kalimat yang seharusnya bisa di rangkai lebih panjang pada usia seperti dia sekarang, karena baru bisa mengucapkan beberapa kata per kata saja. Selain itu, tampaknya Kannel juga kesulitan memahami kata atau frasa yang diucapkan oleh orang lain. Belum terlalu menyambung sih di ajak berkomunikasi dua arah. Tapi anakku cukup cerewet kok, ia justru kerap mengulang satu dua kata yang mampu diucapkan, sisanya masih berbahasa yang hanya ia sendiri yang mengerti.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan Kannel sedikit lebih lambat berbicara mungkin ia bingung dengan ucapan yang seringkali di dengar.
Pertama, aku dan suami sehari - hari biasa menggunakan bahasa daerah (minang) di rumah; kalau pun sedang berbicara dengan anak barulah menggunakan bahasa Indonesia, sama seperti teman - teman dan orang di sekitar yang mengajaknya berbicara.
Kedua, di satu sisi, anakku lebih sering disuguhkan tontonan yang berbahasa Inggris jika aku mengizinkan ia untuk screening time. Bahasa pertama yang diucapkan pun justru lebih banyak berbahasa Inggris seperti saat lapar dan ingin makan sesuatu, anakku akan bilang : "eat na..na" (eat banana) seperti lagu Cocomelon yang sering di dengarnya.
Ketiga, Niat hati agar anak bisa multi - bahasa malah berujung petaka. Dan ketika mendekati usia 2 tahun, anakku lebih tertarik dengan tontonan rabbid invasion hingga molang yang kerap berbicara menggunakan cuwitan daripada tontonan anak yang berbicara dengan jelas satu sama lain. Jadi kata - kata yang kerap ku dengar adalah cuwitan juga. Cara yang tidak cukup bijak dan masih kerap dilakukan oleh ibu baru yang masih belajar menjadi orangtua ini.
Rangsang kemampuan berbicara anak
a. Lebih aktif berkomunikasi
Sebagai gantinya sekarang aku semakin aktif mengajak anakku berbicara dan bertanya bahkan menjelaskan sesuatu yang di rasa perlu saat memberikan pengertian kepada anak dengan menggunakan bahasa Indonesia yang jelas dan lugas, tidak seperti menggunakan bahasa bayi seperti mamam, cini peyuk or something like that.
b. Memancing respon anak
Aku kerap memancing respon sang anak pada saat mengajukan pertanyaan - pertanyaan sederhana atau pada saat memanggil namanya. Menghadapi Kannel atau mungkin anak - anak lain rasanya mungkin hampir sama ya, butuh kesabaran nan extra. Tapi aku tidak ingin menyerah hingga di situ saja! Maka dari itu, interaksi dengan anak pun semakin sering ku lakukan dengan mengajaknya menyanyikan lagu - lagu yang biasa didengarkan; menunjuk dan menyebutkan nama gambar yang terdapat di dalam buku cerita anak; serta mengajaknya berdo'a dan duduk di pangkuanku sehabis solat.
Cara sederhanaku yang bisa dilakukan agar Kannel segera bisa aktif berbicara sesuai dengan tumbuh kembang anak diusianya.
c. Bacakan buku yang disukai anak
Berjalannya waktu, Kannel mulai menunjukkan kecakapannya dalam berbicara. Pastinya untuk tumbuh kembang seorang anak, di usia 4 tahun yang seharusnya Kannel sudah fasih berbicara namun anakku baru bisa menyebutkan nama mainan hewan satu per satu yang ia punya.
Kemampuannya untuk menyebutkan nama hewan semakin berkembang saat aku sengaja membelikannya buku atau atribut apapun yang berhubungan dengan binatang, sekaligus mengajaknya bermain dan belajar sambil menggambar hingga mewarnai bersama.
Semakin kesini, anakku cukup 'beo' untuk mengulang kata apapun yang ia dengar. Dari pelafalan yang kurang jelas hingga Kannel sudah mulai menyambung saat diajak berkomunikasi atau mengutarakan apapun yang bisa menjadi percakapan menarik antara orangtua dan anak seperti meminta tolong, ingin sesuatu, menjelaskan apa yang ia rasakan bahkan selalu saja ada satu dua kalimat baru yang terlontar dari mulut mungilnya saat pillow talk sebelum ia benar-benar terlelap. Bahkan kini, Bahasa Indonesia menjadi bahasa pertama Kannel.

Comments