Beberapa hal riskan yang masih kerap dilakukan orangtua kepada anak

Jika membahas pola asuh terhadap anak, tidak hanya hal positif saja yang seru untuk dijadikan topik pembahasan. Kali ini, aku justru ingin mengutarakan hal - hal yang kurang berkenan namun seringkali terjadi. Entah secara sadar atau tidak, namun keadaan seperti ini sering dilakukan oleh para orangtua terhadap anak-anaknya. Padahal mana ada sih ibu - bapak yang secara sengaja ingin melukai perasaan buah hati mereka? Meskipun tidak ada niatan sama sekali, namun pada akhirnya orangtua kerap menyakiti perasaan buah hati mereka melalui perkataan kasar ataupun tindakan yang kurang pantas sekalipun. Ya, sepertinya love and hate relationship antara orangtua dengan anaknya ini akan selalu ada.

Ada banyak faktor yang bisa menjadi pemicu, salah satunya adalah perbedaan persepsi yang didasari dari dua orang yang saling ketergantungan ini pada akhirnya kerap menimbulkan konflik. Kenyataannya, ada hal dasar yang harus digaris bawahi sebelumnya di dalam parenting bahwa kebiasaan orang dewasa cenderung berorientasi pada hasil akhir, namun hal yang berbeda justru ditunjukkan oleh balita karena mereka masih selalu berorientasi pada proses. 

Nah! Berbicara mengenai proses di dalam sebuah ikatan keluarga, seharusnya yang terjadi adalah bentuk penyesuaian. Yang namanya berproses tidak ada yang instan dan langsung menemukan hasil akhir. Oleh karena itu, dibutuhkan hubungan timbal balik yang bisa saling mengerti. 

Jika A bersikap dominan, maka B sebaiknya mengalah. 

Hal itu dikarenakan, di dalam suatu hubungan tidak ada penyesuaian, maka yang terjadi hanyalah kekesalan, kemarahan dan juga keegoisan yang menjadikan sang anak lah sebagai korban dari tindakan tersebut. 

Berikut beberapa bentuk tindakan yang hanya akan membuat sikap anak semakin bertambah parah seperti :

1. Orangtua selalu merasa yang paling benar

Aku ingin mematahkan stigma bahwa sebagai orangtua, kita tidak harus selalu memandang anak sebagai sosok anak kecil yang lemah, tidak mempunyai kemampuan, tidak punya perasaan dan belum mengerti apa - apa. Apalagi menjadi orangtua toxic yang selalu merasa dirinya paling benar dan merasa lebih mengerti apa yang dibutuhkan oleh anak. 

Tahukah bahwa sebenarnya cara tersebut hanya akan membuat anak merasa terlalu dikendalikan, lelah dan kerap memendam perasaan yang sewaktu - waktu bisa saja menjadi bom waktu untuk mereka melampiaskan keresahannya dimasa mendatang. Tidak hanya berdampak sampai disitu saja, anak - anak yang dianggap melakukan sebuah kenakalan dan bentuk pemberontakan tersebut merasa semakin terintimidasi karena selalu disalahkan dan di cap sebagai anak bandel. Bukannya menemukan solusi masalah, justru menimbulkan konflik baru lagi yang hanya akan membuat hubungan anak dan orangtua menjadi semakin renggang. 

Yang harus diketahui oleh orangtua, kerap kali penolakan yang sering dilakukan oleh anak merupakan bentuk usahanya untuk memberitahu kepada kita bahwa ada yang perlu diubah sebagai orangtua yang kerap merasa dirinya superior.

2. Mengontrol anak secara berlebihan

Dengan alasan anak takut sengsara, takut tidak sesuai dengan harapan yang dibuat oleh para orangtua, atau takut kenapa - kenapa dan sejuta ketakutan yang bergelut di dalam benar kita hanya akan membuat anak tidak bisa berbuat banyak tentang hal - hal yang ingin dilakukannya. 

Sebagai anak yang sedang tumbuh, ia sangat membutuhkan ruang untuk mengeksplor apa yang ingin dilakukannya. Bahkan hal yang harus kita lakukan kepada diri sendiri sebagai orangtua tidak lebih dari membangun kekuatan agar bisa membuat anak menjadi pribadi yang tangguh. Dengan cara itu, orangtua dapat menolong anak bukan justru menjatuhkan dari kekurangannya. 

Jangan gagalkan anak kita menjadi manusia yang alami hanya karena peraturan yang dibuat, menciptakan goals dan punya ekspektasi sendiri yang harus dipenuhi oleh anak. Padahal jelas - jelas mereka sendiri yang punya andil atas keputusan apapun yang ingin dilakukannya. Sayang kan! Masih banyak orangtua yang bersikap overprotektif seperti ini bahkan secara tidak langsung selalu mengambil alih dan terlalu mengatur kehidupan anak - anaknya seperti yang orangtua inginkan hingga kerap menginterupsi dan mengambil alih peran mereka. 

Pada akhirnya, ini juga yang menjadi salah satu kebiasaan buruk kita sebagai orangtua karena kerap bersikap tidak menghormati dan menghargai pilihan anak. Tugas orangtua hanya perlu hadir di dekatnya dan memberikan bantuan jika dibutuhkan, sebisa mungkin menahan diri untuk mengoreksi dan beri ia waktu untuk mencoba atau menemukan, hingga bisa membangun self - efficacy. Karena jika bad action ini terus berlanjut, cara tersebut hanya akan membuat anak kita menjadi tidak percaya diri, takut mencoba hal - hal baru, takut jika berbuat salah, kerap menutup diri, sulit diajak berbicara, hingga tidak mampu membuat keputusan dan mendengarkan dirinya sendiri. 

Anak bukanlah robot atau benda mati yang
bisa dikendalikan dan diinstruksikan oleh orangtua sesuka hati.

3. Menaruh ekspektasi tinggi terhadap anak

Sebagai orangtua, kita boleh saja berasumsi tentang apa yang terbaik maupun terburuk untuk anak. Tidak ada yang salah jika mempunyai harapan agar anak mendapatkan hal yang lebih baik di kehidupannya, asal itu semua dapat membantu dengan cara mengarahkan dan mendorong tumbuh kembangannya secara baik, dan bukan untuk mematahkan asanya karena cepat atau lambat anak akan memiliki kehidupannya sendiri bahkan jika ia tumbuh dewasa kelak, dimana ia mulai berani untuk membuat keputusan apapun dalam hidupnya, harus bersikap mandiri, bahkan sanggup untuk melayani kebutuhan dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain atas keputusan yang dibuat, termasuk ketika ingin menjadi apa suatu saat nanti. Karena ia lah yang punya kendali penuh atas dirinya, bukan orangtua.

4. Terlalu melibatkan diri dalam urusan anak

Seringkali aku menahan diri saat anak menghadapi suatu kondisi dimana ia sedang bermain namun tiba-tiba yang dilakukan tidak sesuai dengan semestinya. 

Memberi tahu itu biasa, wajar jika anak kecil masih banyak butuh arahan dari orangtuanya. Namun aku lebih banyak memberi ia ruang untuk berkreasi, mengeksplorasi sebisa mungkin apapun yang dilakukannya termasuk untuk menanggulangi permasalahan yang tengah dihadapi pada saat itu. 

Seperti saat sedang di rumah, aku sengaja menyediakan space yang besar untuk ia bisa bermain sepuasnya. Kebetulan anakku senang sekali bermain building blocks. Ia kerap menyusun blocksnya secara random, padahal di buku arahan permainan tersebut terdapat bermacam gaya sebagai pedoman untuk anakku bermain. Sebagai pendamping, aku berperan untuk memberikan gambaran dan contoh kepada anak termasuk ketika sedang bermain bersama, namun ia selalu melakukan segala sesuatunya sesuai dengan yang ingin melakukannya bahkan secara berulang-ulang sekalipun. Awalnya aku ingin sekali melibatkan diri, namun memilih urungkan niat daripada ikut menambahkan dari apa yang telah ia kerjakan. Aku memilih untuk menahan diri dan tidak terlalu mengoreksi ataupun menginterupsinya dengan apa yang sedang ia kerjakan. Semua ini kulakukan kepada anak agar ia bisa belajar bagaimana cara menemukan pemecahan masalah atas apa yang sedang dilakukannya termasuk dari hal - hal sepele sekalipun, kecuali memang anak ku sedang membutuhkan bantuan. 

Lebih baik menjadi penonton yang jika ia berhasil membuat suatu karya, aku akan menjadi orangtua riang yang paling antusias dan mengapresiasi apa yang sudah ia kerjakan. Anakpun ikutan happy karena tahu apa yang sedang dilakukannya bisa membuat orang lain bangga, dan inilah cara kecilku untuk menghargai segala usaha yang kerap dilakukan oleh anak dengan memberinya kebebasan, pengharhaan alih - alih selalu ikut campur karena dari sini aku bisa mengetahui bahwa repetisi yang dilakukan oleh anak ku sebenarnya menjadi bentuk dan upaya yang sudah dilakukannya untuk menyempurnakan kemampuan yang dimiliki, dan ia juga perlu merasakan sukacita karena berhasil mengerjakan sesuatu tanpa keikutsertaan orang lain sehingga akan memotivasi dirinya sendiri untuk terus mencoba.

5. Sekolah adalah tempat serah terima anak

Pada akhirnya, setiap orangtua hanya akan mengirimkan anaknya ke sekolah untuk belajar berbagai kemampuan akademis menggunakan kurikulum yang dirancang sedemikian rupa oleh orang dewasa. Apalagi jika bertemu dengan situasi dimana para pendidik memberikan pendidikan dengan "hanya mengajar" semata dimana dari si pengajarlah yang memfasilitasi semua-muanya seperti bentuk pertolongan, peraturan dan arahan bukan dari dua belah pihak. Cara yang hanya menjadikan murid - murid memilih untuk bertindak pasif karena tidak ada pilihan lain lagi! 

Mayoritas sistem pembelajaran yang diberlakukan hampir mirip dengan cara memberikan anak - anak tugas sekolah terus menerus, di ruang kelas lebih suka memerintah anak untuk meringkas daripada menjelaskan mata pelajaran. Kalau ingin mendapatkan keahlian lebih ya harus ikut ekstra dan les di luar jam sekolah. Alhasil? Anak - anak hanya akan menganggap sekolah itu membosankan karena terus menerus dibebankan akan suatu hal.

Bukan berarti pada saat orangtua menyerahkan anaknya ke sekolah akan menjadi sepenuhnya tidak ikut terlibat dalam membahas mata pelajaran di rumah ya, Tanyakan! Apa yang sudah dipelajari di sekolah hari ini? Bagaimana perasaan mereka ketika belajar dan bertemu teman - teman di sana atau bentuk pertanyaan lain yang akan membuatnya senang saat menceritakan kegiatan yang dilakukan di luar rumah, karena sebagai orangtua kita juga harus mencari tahu perkembangan anak sendiri sudah sejauh mana menguasai mata pelajaran dan apa saja yang didapat dan dipelajari oleh anak kita di sekolah?

Oke! Persepsi ini mencuat ke permukaan bukan dari seorang ibu yang masih punya balita tapi bisanya cuma berkomentar saja, ini ceritaku sebagai peserta didik yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah negeri dengan sistem pembelajaran yang masih harus diperbaiki.

6. Anak sebagai pelampiasan amarah karena bentuk kekesalan orangtua

Tidak bisa dipungkiri, ada kalanya kita menjadi orangtua toxic yang merespon berlebihan pada saat anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, lalu merespon dengan cara membentak hingga meneriakinya menggunakan suara keras. Meskipun orangtua juga manusia biasa dimana masih banyak kesalahan demi kesalahan yang kerap dilakukan, yang pasti bukan porsi anak diciptakan sebagai pelampiasan amarah apalagi karena sikap orangtua yang mungkin sedang banyak beban atau memiliki tekanan dalam hidup. 

Untuk pertama kalinya, aku menyalurkan energi negatif kepada anak sebagai pelampiasan dengan memukulnya hingga menimbulkan bekas. Sungguh perbuatan paling disesali baru-baru ini terjadi hingga membuat perasaan bersalahku hanya semakin menumpuk kepada anak. Padahal aku paham betul jika memarahi anak hanya akan menggeser fokusnya untuk memahami batasan di lingkungan sehingga yang paling diingat hanyalah kemarahan tersebut, bukan pesan disiplin yang sebenarnya terdapat di balik kemarahan yang sedang dilakukan oleh orangtua tersebut. 

Dalam situasi tersebut, yang bikin amazed adalah isi hati anak ku yang luar biasa ini bukannya kesal justru saking ia tidak pernah membenci mamanya. Bahkan ia segera datang menghampiri untuk mendekat diri sambil membuka tangannya seperti ingin memelukku karena tahu sudah membuat orangtuanya marah. Cara dia hanya akan membuat ku merasa bersalah dua kali bahkan berkali - kali lipat. 

Padahal, inilah hal yang benar - benar sedang dibutuhkan oleh anak seumuran Kannel:

  1. Ia hanya butuh diberikan kesempatan untuk menemukan dorongan atau potensi yang terdapat di dalam dirinya. 
  2. Tidak hanya orangtua saja, anak kita pun butuh untuk dimengerti. Sebagai orangtua, daripada sibuk mengendalikan anak lebih baik mencoba untuk observasi yang sekiranya kita jadi bisa meninggalkan seluruh judgement terhadap si buah hati. Ini menjadi salah satu bentuk usaha orangtua untuk mengenal lebih seperti apa kebutuhan anaknya sendiri.
  3. Peran orangtua adalah sebagai role model yang baik bagi anak - anaknya. Menjadi contoh hidup adalah alat yang paling efektif untuk membantu memberikan anak arahan yang tepat.
  4. Mengerti dan mengasihi mereka tanpa syarat. Siapa sih yang tidak sayang kepada orangtuanya? Apalagi anak kecil yang masih sangat ketergantungan dengan orangtuanya. Oleh karena itu, sebisa mungkin gunakan kesempatan bersama anak kita. Jangan sampai menyia - nyiakan waktu karena semua terasa sangat cepat berlalu. Kalau di hitung - hitung lagi, ini saja tiga tahun mendatang anak ku sudah harus masuk sekolah, lho! 

Yuk, bahas lebih detail apa sih yang sebenarnya paling dibutuhkan oleh anak - anak

Salah satu source yang ku baca menyatakan bahwa setiap anak yang masih berusia di bawah 6 tahun biasanya dianugerahi pikiran yang terus menyerap atau disebut dengan absorbent mind, yaitu kemampuan yang dapat membantu anak merespon terhadap lingkungannya. Sedangkan untuk usia 0-3 tahun seperti Kannel, ia masuk ke dalam kategori unconscious mind. Yah, sepertinya anakku yang masih belum bisa diajak untuk menggunakan nalar dalam memaknai sesuatu, dan pada tahap inilah terjadi pembentukan kemampuan anak. 

Di fase ini, ada empat kebutuhan yang seharusnya terlihat menonjol :

Pertama, kebutuhan bekerja menggunakan tangan dengan menyentuh segala sesuatu yang ada disekitarnya.

Kedua, kebutuhan bergerak. Seperti yang selalu aku ceritakan pada tulisan ku di blog bahwa Kannel adalah anak super aktif yang seringkali beraktivitas sepanjang hari. Ini semua terjadi karena dorongan yang luar biasa dari dalam dirinya untuk selalu bergerak dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuannya.

Ketiga, kebutuhan untuk mengekspresikan diri ketika berinteraksi dengan lingkungan termasuk pada saat ia merasa senang, sedih, lapar, marah, dan mengantuk.

Keempat, kebutuhan berkomunikasi. Perasaan ingin dimengerti adalah apa yang paling diinginkan oleh anak anak seumuran Kannel. Mereka tidak segan untuk menunjukkan kebutuhan untuk didengarkan dan juga mendengarkan.

Anak akan mampu mengenal dirinya dan mengetahui passionnya ketika ia diberikan kebebasan dan kesempatan untuk bereksplorasi dan juga mendengarkan dorongan dari dalam dirinya. Ia akan tumbuh menjadi individu yang rendah hati, peduli dan baik ketika orangtua memberikannya contoh kebaikan yang tulus tanpa syarat. Ia pun akan menjadi pribadi yang tidak akan mudah menyerah apabila sebagai orangtua, kita dapat menghargai anak dan tetap memberikannya kebebasan untuk terus mencoba. 

Secara teori hal ini mungkin sangat mudah untuk dimengerti, namun pada prakteknya seringkali sulit untuk dilakukan. Mungkin awalnya akan terlihat sulit untuk menaruh kepercayaan kepada anak. Ibaratnya berjalan kaki saja masih sering terjatuh, bagaimana caranya untuk mempercayai mereka? 

Nah, buang jauh - jauh pemikiran yang seperti itu. Anak itu akan selalu tumbuh dan mereka juga mempunyai kemampuan untuk beradaptasi yang luar biasa lho, berbeda dengan orang dewasa yang sering atau sulit menolak untuk beradaptasi.

Comments