The Sinovac-CoronaVac to Pzifer COVID-19 Vaccinated effectiveness
Mobilitas keluar masuk Jakarta di masa pandemi C19 membuat ku seringkali berurusan hingga kerap mengikuti serangkaian proses perlindungan diri, mulai dari swab/PCR test dan juga suntik vaksin sesuai dengan prokes. Bahkan ketika hendak melakukan suatu perjalanan antar provinsi, peraturan terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah setiap orang diwajibkan untuk mengikuti tes antigen sesuai dengan salah satu program mereka cetuskan guna memutus mata rantai penyebaran virus corona yang angkanya masih belum stabil.
Hal ini juga menjadi salah satu upaya ku sebagai masyarakat yang harus tetap taat dengan protokol kesehatan karena setiap harinya, peraturan yang diterapkan masih sering berubah - ubah sesuai dengan keadaan dan juga perkembangan virus corona di Indonesia. Sehingga setiap WNI diminta turut berpartisipasi dalam program suntik vaksinasi nasional yang diadakan di beberapa pos dan juga tempat fasilitas kesehatan lainnya. Aksesnya pun dipermudah sehingga kita bisa memilih sendiri lokasi yang akan dituju, atau lebih dekat dari tempat tinggal.
Dosis Pertama : Sinovac Vaccine
Dari awal kemunculan mengenai kebijakan peraturan pemerintah yang mewajibkan masyarakat Indonesia menjalani suntik vaksinasi dosis pertama, aku langsung mencari tahu vaksin mana yang dipilih untuk booster tubuhku serta sejauh mana peran pemerintah di balik proses ini semua. Ternyata, Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan tujuh jenis vaksin COVID-19 yang diproduksi oleh PT Bio Farma.
Sedikit informasi, CoronaVac merupakan vaksin yang mengandung virus SARS-CoV-2 yang sudah tidak aktif. Penyuntikan vaksin Sinovac akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk mengenali virus yang sudah tidak aktif guna memproduksi antibodi untuk melawannya sehingga tidak terjadi infeksi COVID-19.
Cukup lama menunggu timing yang tepat, akhirnya aku dijadwalkan mengunjungi Puskesmas Tanah Garam-Solok, dimana nama ku sudah pernah terdaftar sebelumnya di tempat fasilitas kesehatan ini. Seperti pasien umumnya saat mendatangi fasilitas kesehatan, setiap orang yang datang diwajibkan untuk registrasi data pada selebaran kertas yang ditaruh di pintu masuk dengan mengisi nama dan juga data diri yang dibutuhkan. Selang satu jam menunggu, satu per satu panitia memanggil nama yang akan divaksinasi sesuai daftar yang mereka terima hingga akhirnya giliran nama ku yang dipanggil. Suasana memang cukup ramai pada saat itu, tapi mau tidak mau karena sudah terlanjur tiba di lokasi. Terlihat ada sekitar 5 nakes beserta asistennya yang siap berjaga di setiap pos dengan mengemban tugas yang berbeda di masing - masing mereka.
Pos 1: Setelah nama ku dipanggil, seperti biasa aku di minta untuk menunjukan e-KTP guna melengkapi data yang dibutuhkan. Setelah proses administrasi selesai lalu diarahkan ke arah pos berikutnya;
Pos 2: Melakukan cek suhu tubuh dan mengukur tensi. Tidak seperti biasanya, tekanan darahku mencapai angka 130/70, padahal sebelumnya selalu stuck di angka 110/70.
Pos 3: Kemudian bergeser ke pos sebelahnya lagi, dimana ada dokter umum yang bertugas untuk menanyakan riwayat kesehatan apa saja yang dialami oleh peserta vaksin sebelumnya, sesuai dengan isian pada lembaran yang sudah di buat di kertas yang sebelumnya dibagikan saat berada di pos pertama, hal ini dilakukan sebagai proses screening apakah aku bisa divaksin atau tidak.
Pos 4: Di tempat inilah, peserta yang mendaftarkan diri sebelumnya melakukan suntik vaksin jenis Sinovac yang dibantu oleh perawat yang bertugas di dalamnya.
Pos 5: Terakhir, menunggu sertifikat vaksin yang pertama keluar. Butuh waktu lebih dari dua puluh menit untuk proses administrasi karena petugas di pos tersebut harus melakukan data entry terlebih dahulu baru menyerahkan secarik kertas yang berisi hasil vaksin. Sebagai tambahan, nakes yang bertugas di pos ini juga menginformasikan lebih lanjut kapan jadwal vaksin kedua bisa dilakukan, tepatnya satu bulan dari sekarang.
Perlu diketahui, setiap orang sudah bisa mengakses sertifikat data vaksin elektronik yang sudah ada barcode nya. Caranya dengan download aplikasi Pedulilindungi di playstore iOS maupun Android.
Dari yang ku baca, suntik vaksin yang pertama ditujukan sebagai memicu respons kekebalan di awal, lalu suntikan yang kedua barulah untuk menguatkan respons imun yang telah terbentuk di dalam tubuh.
Dosis kedua: Sinovac Vaccine
Seharusnya, untuk vaksin Sinovac ini jarak waktu penyuntikan dari vaksin pertama ke vaksin kedua hanya berselang 28 hari. Bahkan, aku sudah dijadwalkan untuk melakukan vaksinasi dosis kedua di bulan berikutnya, namun dikarenakan kondisi kesehatan yang belum pulih dari covid membuat jadwal vaksin kedua ini suspend. Kemudian, penyuntikan dosis kedua baru terealisasikan enam bulan kemudian, itu pun karena kebutuhanku yang harus bepergian antar pulau. Di mana aturan penerbangan domestik terbaru, setiap calon penumpang akan diminta untuk menunjukkan bukti lampiran pernyataan hasil tes rapid - Antigen jika sudah memenuhi kriteria dan tanda hijau untuk melakukan penerbangan dengan keterangan sudah pernah melaksanakan penyuntikan vaksin dosis kedua.
Lho kok bisa tertular? Kan sudah di vaksin? Jawabannya bisa saja! Apalagi setelah melakukan vaksinasi, tubuh memang masih dalam tahap penyesuaian, kekebalan tubuh pun tidak bisa langsung terbentuk karena butuh waktu dua minggu hingga satu bulan lamanya baru bisa mendapatkan perlindungan terbaik sehingga menciptakan kekebalan yang efektif bagi tubuh manusia. Another reason, pada saat aku ketahuan positif bahkan setelah vaksinasi itu artinya pada saat disuntik bisa saja sebelumnya sudah terpapar/terinfeksi Covid-19, dan sedang dalam masa inkubasi.
Merunut sedikit ke belakang, salahnya beberapa hari setelah vaksin pertama aku justru menempuh perjalanan darat dan laut, atau mungkin faktor X. Aku merasa pada saat itu sedikit lalai dan tidak begitu taat dengan prokes, beberapa kali memang berada di kerumunan hingga tidak heran bisa terpapar virus covid - 19.
Salah satu source yang ku baca menjelaskan bahwa vaksinasi memang menjadi salah satu senjata terbaik untuk memerangi Covid-19 tapi vaksinasi tidak akan membuat siapa saja 100℅ kebal terhadap penyakit sekalipun dalam kasus Covid-19 yang sudah mendapatkan dosis lengkap, karena tidak ada vaksin yang menawarkan perlindungan utuh terhadap penyakit, namun bisa memberikan kesempatan yang lebih baik untuk melawan konsekuensi menular dari terpapar virus SARS-CoV-2, sekalipun orang yang sudah di vaksin masih bisa menularkan bahkan siapa saja masih memiliki peluang untuk tertular virus corona. Sumber Dr. Lyssette Cardona, MD
Ilustrasi tubuh sebelum vs setelah suntik vaksin
Analoginya, aku akan menggambarkan penyebaran virus corona ini ibarat rumah berpagar yang berdiri di pinggir jalan raya,
dimana banyak kendaraan lalu lalang di sekitarnya dan siapapun bisa mengakses ke dalam rumah tersebut. Namanya juga di pinggir jalan dan kita tidak pernah tahu musibah apa yang akan menimpa, seperti tiba - tiba ada kendaraan yang meleset keluar dari jalur lalu menabrak rumah tersebut, who knows?
Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi hal membahayakan tersebut, sebaiknya kita mendirikan pagar rumah, kalaupun ada kendaraan yang akan menerobos masuk secara tiba - tiba, itu tidak akan langsung menghantam rumah beserta isinya. Nah, membuat pagar di depan rumah pasti membutuhkan proses, pertama digali dulu tanahnya dan diperbaiki dulu akar masalahnya, walau sempat terlihat sedikit berantakan namun dirapikan kembali agar bisa berdiri kokoh di halaman rumah.
Dalam situasi ini sama halnya dengan tubuh manusia yang hidup dan beraktivitas sehari - hari, entah itu saat berada di dalam maupun di luar ruangan. Manusia tidak akan berada jauh dari yang namanya virus maupun bakteri baik dan jahat dimana - mana yang terus bertebaran di udara, yang kita hirup setiap detik sehingga selama ini tidak jarang tubuh manusia yang kelihatan selalu fit justru bisa kapanpun diterpa pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan atau penyakit lainnya yang selama ini dianggap sebagai penyakit ringan bahkan sering disepelekan oleh masyarakat kita. Namun mendadak booming semenjak covid - 19 melanda dunia.
Sekarang mendengar orang bersin saja, kita sudah parno duluan. Salah satu hal yang disarankan oleh pemerintah termasuk Kemenkes RI dalam upaya mengurangi penyebaran virus C19 adalah dengan melakukan suntik vaksin, yang kini banyak variannya sebut saja Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, dan lain - lain. Jika banyak orang yang bilang takut divaksin karena berbagai alasan seperti takut demam, meriang, badan tidak enak itu sama halnya seperti bangun pagar rumah tadi, semuanya butuh proses dan penyesuaian pada tubuh tergantung imunitas masing - masing akan bereaksi seperti apa.
Sayangnya masih banyak masyarakat kita yang belum begitu paham, namun namanya program tentu tidak akan selalu berjalan sesuai rencana. Biasanya keberhasilan akan dicapai jika dua - duanya bisa bekerja sama dengan baik, termasuk dari pihak masyarakat dan juga pemerintah yang saat ini lagi berperang melawan penyebaran virus mematikan ini. Kalau cuma satu pihak saja, bagaimana hal yang diharapkan tersebut akan berlangsung?
Lantas, kenapa masyarakat harus tetap di vaksin?
Alasannya ketidakmampuan seseorang untuk menularkan Covid-19 setelah mendapatkan vaksin dosis lengkap mempunyai kemungkinan yang lebih rendah daripada mereka yang belum disuntik, dan sejauh ini vaksinasi masih merupakan pilihan yang lebih aman untuk mencegah penyebaran virus maupun penyakit serius bagi diri sendiri dan juga orang - orang yang berada di sekitar yang kita cintai (perisai). Jadi kalaupun ada unsur kekebalan kemudian terjadi perlawanan dalam tubuh hanya akan sakit ringan saja, sangat kecil peluang infeksi maupun cacat organ dalam hingga resiko kematian.
Sepertinya upaya pemerintah dalam menanggulangi kasus penyebaran virus Covid - 19 mulai nampak titik terang bersamaan dengan kondisi Jakarta yang sudah masuk ke zona hijau, sehingga satu per satu segala jenis aktivitas yang tadinya pending kini mulai menuju normal kembali. Beradaptasi lebih cepat dari keadaan yang sempat membelenggu akhir - akhir ini pun sedikit banyaknya merubah seluruh aspek kehidupan, termasuk gaya hidup baru yang tetap selalu dikawal untuk menjalankan protokol kesehatan maupun penjagaan yang ketat di setiap unsur aktivitas, mulai dari kegiatan perkantoran yang sudah kembali work from office, sekolah yang mulai dibuka kembali, fasilitas umum seperti tempat ibadah, pusat kebugaran, hiburan, transportasi umum yang mulai dapat digunakan kembali oleh seluruh lapisan masyarakat lainnya.
Aplikasi Pedulilindungi
Ada lagi kebiasaan baru yang mulai menjadi standar kehidupan khususnya di Ibukota dimana saat hendak memasuki suatu tempat entah itu kawasan pusat perbelanjaan, keramaian dan tempat umum lainnya, setiap individu harus memenuhi syarat, seperti:
- Telah melakukan vaccinated
- Terdaftar sesuai data diri yang di input ke sebuah aplikasi yang wajib diunduh dan bisa didapat melalui playstore maupun appstore yaitu Pedulilindungi
Cara penggunaan aplikasi Pedulilindungi dengan scan barcode saat check in/out.
Selain itu, dampak kegiatan yang terjadi setelah masa pandemi ini juga bisa terlihat dari pengalihan fasilitas yang lebih canggih, seperti:
- Tombol lift yang menggunakan censored
- Penerapan physical distancing dimana - mana termasuk saat sedang mengantri, di tangga eskalator maupun bangku duduk.
Dosis ketiga: Vaksin BioNTech, Pfizer
Setelah mendapatkan dosis lengkap bersamaan saat memasuki era endemi, ada lagi surat ederan baru yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI tentang dosis ketiga.
Diketahui, penerapan dosis ketiga dilakukan sebagai upaya pemerintah dalam mengembalikan imunitas dan juga proteksi klinis guna menurunkan angka penyebaran Covid-19 varian Delta di era new normal. Bahkan, program pemerintah tersebut bentuk dari lanjutan vaksinasi primer dosis penuh pertama dan kedua saat memasuki mobilitas masyarakat yang terbilang masif.
Kali ini, aku dijadwalkan mengikuti vaksin booster jenis Pfizer yang disuntikkan secara homolog dengan interval sesuai ketentuan.8
Kecenderungan penurunan antibodi sejak 6 bulan pasca vaksinasi lengkap membuat pemerintah gencar memberlakukan peraturan tersebut. Selain itu, pemerintah juga menjaga-jaga untuk memproteksi kondisi kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih kebal saat menghadapi gelombang baru nantinya yang akan muncul jika masih ada penyebaran virus yang sempat menjadi wabah mematikan untuk beberapa waktu terakhir ini.



Comments