Fase Terrible Two

Saat Kannel memasuki usia dua tahun, aku mulai mendapati sikap anak yang tiba - tiba suka melempar barang jika sedang kesal, memukul atau menunjukkan perilaku yang menjengkelkan lainnya saat menolak sesuatu yang tidak diinginkan tanpa pernah tahu dari mana sikap tersebut ia dapat. Yang paling sering ditunjukkannya adalah sikap susah diberi tahu sebuah kebenaran karena ia ingin sekali melakukan segala sesuatunya dengan cara sendiri. Menurut artikel tentang psikologi anak yang pernah kubaca mengatakan bahwa kondisi seperti ini wajar dialami pada anak seusia Kannel karena mereka masih memiliki sifat egosentris atau self centered. 

Egosentris merupakan sikap ketidakmampuan pada anak saat melihat sudut pandang orang lain dalam melihat suatu masalah karena mereka masih mementingkan perspektif dirinya sendiri; sedangkan kondisi self centered kerap dialami anak pada usia Kannel apalagi bagi yang belum atau tidak mempunyai adik, jadi semua mata maupun perhatian masih tertuju padanya seorang. 

Setelahnya, seringkali aku menjadi tersulut emosi dan reflek menunjukkan sikap ketidaksukaan atas apa yang dilakukan oleh anak ku kepada orang - orang terdekat yang sedang berinteraksi atau berada di dekatnya meskipun sikap itu kurang bijak karena reaksi tersebutlah yang akan memancing anak untuk melakukannya lagi di lain kesempatan. Ini cara Kannel yang sedang menguji kemampuan dirinya karena ingin melihat respon orang lain. Pasti di sini tidak cuma aku saja yang mengalaminya, moms di luar sana juga kerap mendapati kondisi yang demikian, bukan? Adapun sikap yang mustinya dilakukan sebagai orangtua:

1. Memberi anak pilihan

Daripada memaksa anak yang ada semakin berujung tidak karuan, sebisa mungkin aku mencoba menghindari pertanyaan terbatas kepada anak dengan memberinya pilihan. Hal ini ku upayakan agar Kannel tetap bisa melakukan sesuatu hal dengan cara yang berbeda. Sesimpel saat ia menolak diajak mandi. Dari pada aku memaksanya justru mengajak atau menawarkan dua pilihan yang mungkin menyenangkan seperti kalimat:

"Yuk mandi yuk!"
"Hari ini Kannel mau mandi berenang di kolam belakang
apa semprot air pake shower di kamar mandi nih?"
 

Itu akan terdengar lebih menyenangkan daripada nge-block keadaan dengan memberi mereka pertanyaan yang bahkan sudah tentu jawabannya ya atau tidak.

2. Tetap beri anak batasan

Mendampingi anak dengan pilihan-pilihan hidup yang dibuat, di sisi lain aku juga mencoba menerapkan batasan kepada anak seperti memilih pertanyaan yang tepat. Seperti saat anak mulai lulus ASI, ia kerap menolak diajak minum susu bubuk yang diseduh menggunakan air hangat. Sebaliknya, ia lebih memilih UHT yang jauh lebih praktis secara pengemasan. Sebagai ibu, tentu perasaan worry pun muncul, namun aku mensiasati dengan selang - seling terkait penjadwalan anak minum susu dengan sajian gelas. 

3. Bersikap tenang di depan anak

a. Jangan terpancing emosi

Ketika Kannel sedang meluapkan amarah melalui tangisan, aku berusaha untuk tidak terlalu cepat mengomel atau memarahinya apalagi menggunakan suara tinggi. Meskipun tidak 100% terealisasikan dengan sempurna dan menjadi PR besar bagi seorang ibu yang memiliki watak emosional tinggi sepertiku. Perlahan, aku berlatih untuk kontrol emosi dengan banyak-banyak sabar. Huh tidak mudah memang, apalagi dampak kemarahan yang dilakukan oleh orangtua hanya akan menimbulkan rasa takut pada anak. Dan itu serta merta mempengaruhi psikologis maupun perkembangan anak. 

b. Membiarkan anak mengekspresikan emosi dengan tepat

Jika ia masih tampak kesal, aku memberinya ruang sejenak untuk meluapkan perasaan yang sedang menguasai dirinya. Ia menangis, kesal dan teriak. Aku memilih jeda dengan tidak terburu - buru menyuruh anak diam. Ketika emosi mulai redam, tanpa dipaksa ia pun datang menghampiri ku sambil mendekap dan menyiratkan seolah ia merasa lebih baik setelah menangis. Betapa pelukan seorang ibu dapat meredam emosi anak, sentuhan fisik yang dikelola dengan cara yang tepat. Bukan berarti ia cengeng atau lemah, bahkan anak cowok pun boleh nangis! 

4. Jujur soal perasaan

Usai memarahinya, tentu perasaan menyesal muncul. Tidak butuh lama bagiku menghampiri anak lalu mendekap tubuh mungilnya sambil terus mengucapkan kata "Maafin mama, ya nak" diirngi untaian kalimat pengertian:

"Mama tahu kamu kesal karena tidak bisa mendapatkan hal yang kamu inginkan, mama pun begitu. Tapi, tidak semua hal yang diinginkan harus terkabul."

    Seolah menanamkan pesan moral jika di kehidupan ini, tidak selalu hal baik terus terjadi. Kadang, tak semua hal yang diinginkan akan langsung tercapai. Ada kalanya kita mendapatkan suatu penolakan, dituntut lebih bersabar untuk mendapatkan segala sesuatu juga harus ada pengorbanan dan juga sebuah upaya.

    5. Mengalihkan pusat perhatian

    Untungnya Kannel tipe anak yang seketika sangat mudah teralihkan jika sedang melakukan hal - hal yang sedikit membahayakannya. Mengalihkan perhatiannya dengan mengajak bermain dan memperlihatkan ekspresi lucu, bercanda hingga ia tertawa terbahak - bahak dan ulangi melakukan hal yang sama sampai ia lupa akan maksud dan tujuan awal tersebut menjadi trik jitu saat anak mulai berperilaku kurang menyenangkan. 

    Caranya : 

    • Melibatkan anak dalam pekerjaan di rumah; mulai dengan cara - cara yang paling simpel terlebih dahulu. Seperti cara membuat susu, menyusun mainan yang berantakan, meletakkan sesuatu pada tempatnya serta menyapu area sehabis bermain tersebut agar bersih. Aktivitas berulang ini pelan - pelan membekas di memori kepalanya hingga mencontoh hal serupa sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak. 

    • Mengajarkan cara menghadapi situasi lingkungan yang berbeda
      Sebagai anak kecil, Kannel memiliki kemampuan luar biasa untuk bisa menempatkan diri di lingkungan baru. Meski terkadang sifat agresifnya kerap kali memukul teman-teman sebaya membuat suasana bermain menjadi berbeda. 

    "Gak baik memukul teman, di sayang harusnya," 
    sambil mendekat dan memeluk anak. 

    • Mengajarkan sesuatu yang baru; dengan hal - hal yang biasa dilihatnya dari buku bacaan atau tontonan yang biasa disaksikannya.

    6. Papa itu role model

    Tidak cuma ibu saja yang berperan dalam membesarkan anak, partner ku pun memiliki peran dan keterlibatan yang sama besarnya karena sosok papa kerap kali menjadi role model sang anak. 

    Biasanya sosok papa akan menjadi contoh oleh anak seperti bagaimana saat memperlakukan mamanya agar kelak ia juga akan berbuat hal yang sama. 

    Intinya di situasi seperti ini, sebagai orangtua aku dan suami dituntut harus kreatif agar tetap memberikan kontrol terhadap situasi yang ada sehingga tidak terjadi drama dan anak bisa tetap belajar dari realita yang ia saksikan sehari-hari. Untuk itu, aku mulai menerapkan metode didikan pada Kannel untuk pandai berempati terhadap orang lain, peka atas apapun yang dirasakan dan dipersiapkan menjadi sosok anak mandiri. 

    Comments