Masa kecil anak milenial ngapain aja sih?

Aku salah satu milenial lintas generasi yang terlahir di era nineties, tumbuh dan besar di tahun milenium lalu hidup di masa sekarang berdampingan dengan peradaban yang mulai dikuasai oleh Teknologi AI. Jika mengenang kembali kehidupan masa kecil, betapa menyenangkannya hari - hari tanpa gadget. Belum melek dengan teknologi seperti anak-anak sekarang karena sejatinya Gen-Y tumbuh di era peralihan analog ke digital.

1. Foto Studio

2. Ke Timezone rakyat

alias naiak oya! Hanya anak Solok can relate karena tempat ini menjadi hiburan anak milenial setiap diajak orangtua ke Pasar Raya Solok.

ANAK KAMPUNG

Tidak hanya soal penyesuaian zaman, di waktu yang bersamaan aku juga mengalami masa transisi anak kota menjadi anak desa. Seorang anak yang tadinya tidur berdampingan dengan kipas angin dan raket nyamuk, kini harus bersahabat dengan jaket dan selimut tebal setiap malamnya. Jangan tanya bagaimana rasanya tinggal di dekat pegunungan, karena disanalah cikal bakal mandi pagi seketika menjadi musuh terbesarku sampai detik ini, sampai-sampai dulu memasak air panas di atas api tungku menjadi rutinitas ibu setiap paginya agar aku bersedia berangkat ke sekolah. Ya, anak Jakarta ini perlahan mulai meresapi kehidupan perkampungan dimana saat tinggal di rumah panggung yang dibangun di tengah sawah, namun harus melewati pematang yang sarat akan lumpur ketika keluar dari pekarangan. Tak jarang sepatu yang sudah disemir hitam pun menjadi lembab usai terkena embun rerumputan di sekitar, syukur-syukur tidak sampai terkena becekan. Karena pada saat hujan, genangan air disekitar yang meresap masuk melalui sela-sela sepatu membuat kaus kaki sampai ujung jari pun ikutan basah. Walau situasinya cukup memprihatinkan, namun aku masih jauh lebih beruntung karena rumah kami dibangun di dekat Masjid Raya, dimana lokasinya tidak begitu jauh dari sekolahan maupun surau. Tak seperti teman-teman lain yang tinggal di jorong atau bahkan bermukim di bawah kaki bukit, dimana setiap pagi harus menempuh perjalanan yang sangat jauh agar bisa belajar. Ada yang harus menyebrangi penitian atau jembatan bambu yang dibangun di atas aliran sungai setiap paginya, dan bisa dipastikan mereka tidak bisa datang ke sekolah jika hujan deras mengguyur kampung karena air sungai bisa saja meluap dan menutupi akses ke sekolah. Jika dipikir-pikir lagi, wajar saja beberapa teman SD ku harus putus sekolah di bangku pertama bahkan kedua setelahnya. Selain dipaksa bangun ekstra pagi agar bisa tiba sebelum pukul tujuh pagi di sekolah juga tantangan alam dan jarak yang jauh membuat mereka sulit menempuh rutinitas setiap hari. Belum seperti sekarang, dua puluh lima tahun yang lalu, kebiasaan jalan kaki begitu melekat bagi kehidupan masyarakat Nagari Kotohilalang dan bisa dibilang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa diantar menggunakan kendaraan ke sekolah. Oleh karenanya, selain hidup bebas tanpa paparan polusi asap kendaraan, dulu rasanya hidungku benar-benar plong abis persis sensasi rasanya makan permen hexos saat menghirup O₂ pagi karena selain dinginnya suasana hari diperkampungan juga kondisi alam begitu menyertai.

3. Bermain di Alam Bebas

Masih soal udara perkampungan, siklus cuaca dingin di pagi hari pun bisa saja berubah terik usai pergantian jam. Hidup di alam bebas, angin sepoy kemudian mengiringi pergerakan pepohonan di udara siang hari. Kondisi alam yang masih dipenuhi dengan hijaunya tumbuhan, sejuknya pemandangan serta suasana alam bebas benar-benar mengawani masa kecilku kemanapun pergi. Bahkan jika hujan turun, kami pun menyambut air yang jatuh dari langit dngan sorak-sorai, berlarian di penjemuran heler padi agar bisa bermain dan berseluncur sepuasnya. Anehnya, aku yang takut air menjadi betah mandi di sungai selama berjam-jam. Hujan dan sungai adalah kombinasi yang pas. Entah dalam keadaan arus normal atau kuat berwarna kecoklatan setelah hujan tiba. Tak heran jika destinasi pulang sekolah sebelum bermain ialah nyebur ka batang aia. Dari yang mandi pakai pelampung ala anak kota lalu menggunakan benen oto puso! Alih-alih bakal hanyut terbawa aruh, orangtua justru lebih takut jika anak-anak akan tertimpa ranting daun kelapa. Aneh bukan?

Baok nasi, nah mau makan di tepi sungai ataupun rumah sarongkok menjadi kebahagiaan lainku seusai pulang sekolah karena memang makan di alam bebas sesyahdu itu! Tak sekali dua kali makan di rantang atau beralas daun pisang yang dibentangkan di atas bebatuan besar sambil membawa sebatang tebu sebagai penutup sesi makan-makan yang diambil dengan cara mencabut dari gundukan tanah, bukan dipotong menggunakan pisau parang. Lalu, bagaimana cara kami mengkonsumsinya jika tidak dibantu alat kupas buah tersebut? Nah disinilah skill anak milenial dipertaruhkan. Alih-alih mengupas menggunakan benda tajam, kami menggunakan gigi sebagai alat bertarung, memotong sekaligus mengunyah agar mendapatkan air manisnya. Dan yah, tanaman di rumah kami selalu menjadi incaran anak-anak seumuran untuk dimintai hasil buahnya karena hidup dibalut tanaman buah hingga sayuran menjadikanku sebagai anak paling beruntung di dunia. Sejak kecil, ibu tidak musti belanja ke pasar untuk membeli buah segar karena di pekarangan rumah semuanya ada. 

4. Nonton TV bareng tetangga

Tidak hanya tanaman buah yang menjadi incaran anak tetangga, nonton di rumah kami pun menjadi salah alasanku tidak pernah kesepian. Hidup di zaman peralihan dari TV hitam putih menuju TV Tabung, tidak semua rumah berkesempatan memasang parabola hingga dilengkapi VCD Player. Bagi ayah, agar aku tidak larut bermain seharian di luar kemudian memfasilitasi kebutuhan sekunder tersier tersebut. Oleh karenanya, menonton televisi bisa dilakukan di satu tempat secara bersama-sama, kondisinya persis seperti menonton pertunjukkan di balai desa, semua mata tertuju pada satu layar oleh orang banyak. 

Menyaksikan tayangan Deru Debu, Si Manis Jembatan Ancol hingga sinetron mingguan yang biasa ditayangkan satu kali dalam seminggu menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu kala itu. Pada masanya, Masayu Anastasia dan Marshanda adalah dua dari banyaknya artis ibukota yang diidolakan orang-orang. Nonton sinetron Senandung Masa Puber, ABG, Bidadari, Kisah Sedih di Hari Minggu hingga Bawang Merah Bawang Putih adalah produksi tontonan yang selalu dinantikan setiap minggunya, walaupun jika dipikir-pikir lagi pesan moral yang kerap ditampilkan adalah kebencian dan pembullyan. 

Pokoknya dulu itu, apalah artinya privasi? Adapun segala aspek kehidupan yang berlangsung, selain berdasarkan hasil keputusan musyawarah dan mufakat, kehidupan bertetangga menjadi hal yang kini hanya bisa dikenang, meskipun di masa sekarang keberlangsungan tersebut masih ada di pelosok negeri dan pastinya sudah tak lagi sehangat dulu.  

Selain sibuk bermain di luar rumah, berinteraksi antar tetangga satu sama lainnya masih terjalin begitu intens, saling memperdulikan keadaan lingkungan sekitar karena adanya pendekatan individual yang dilakukan antar sesama makhluk sosial untuk hidup saling bertenggang rasa, bermartabat dan sebagainya. Sekarang? 

Semuanya mulai sirna dengan kehadiran gadget, lama - lama slogan hidup mencari kesenangan untuk mampir sebentar ke dunia maya pun berbalik arah menjadi:

 'Pengen deh rasanya balik hidup ke dunia nyata, ya gak sih?'

5. Rental DVD

Sewa kaset adalah tren yang turut masuk ke desa tanpa kecuali. Dipatok tarif Rp6 ribu per film, pada masanya Ratapan Anak Tiri, Film Horor Suzana hingga Petualang Sherina menjadi tontonan wajib anak-anak seumuranku pada masanya. 

6. Permainan Tradisional

Mandi di sungai, memanjat pohon buah, menonton TV sekampung lalu bermain permainan tradisional, semua aktivitas pun selalu dilakukan di luar rumah. Beragam permainan anak sebaya seperti ngemil permen kaki atau jagoan neon, berburu chiki buat menambah koleksi tazos, tiup balon sedotan ibaratnya jajan iya kenyang enggak. Pokoknya setelah selesai mengikuti pelajaran di sekolah, pulang dulu ke rumah untuk makan siang dan ganti baju. 

Jika hari ini bertandang di rumah siapa, besokannya mungkin ke tempat siapa lagi. Tidak heran jika julukan palala pernah disematkan kepadaku karena alih-alih betah di rumah aku justru kerap bertandang ke rumah teman yang berada sampai ke pelosok Nagari sampai-sampai cara ibu dan ayah agar anaknya bisa membatasi diri dengan cerita penculikan anak yang pada masanya mobil Hardtop menjadi ketakutan kami si anak milenial. Terkadang, semarak mesjid tak hanya diisi oleh kegiatan beribadah namun juga ada anak-anak kecil yang suka bermain diterasnya. Main kajai, dore, kelereng, domikado, cimancik, tokok lele, congkak, ya oma ya oma, asek gambar dan bongkar pasang. Di tempat kalian, apa namanya?

7. Ngaji

Pokoknya setelah puas bermain seharian, MDA dan mengaji adalah kegiatan lain anak yang musti dilakukan. 

Tinggal di tengah-tengah mayoritas masyarakat muslim, sebagai seorang anak sudah menjadi haknya untuk mendapatkan dan dibekali oleh ilmu agama sejak dini. Tidak hanya diserahkan ke sekolah formal yang digagas oleh pemerintah, namun juga diimbangi oleh pembelajaran ilmu agama berbasis kurikulum.

Diberi kesempatan untuk menuntut ilmu di Madrasah Diniyyah Awaliyah di tingkat dasar untuk 4 tahun ke depan yang dilakukan setiap senin, rabu dan jum'at, adapun 5 pendidikan keagamaan jalur luar sekolah ini wajib ditanamkan kepada anak yang sedang di fase masa berkembang. Mulai dari penerapan ilmu Aqidah Akhlak, menghafal Al'qur'an dan Hadist, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) hingga belajar Bahasa Arab.

Lain halnya dengan mengaji ke surau yang dilakukan selepas sholat magrib, pendalaman tentang ilmu Tajwid dan mengaji agar bisa katam Al-qur'an menjadi keseharianku selama berada di bangku sekolah dasar. 

8. Kerjakan PR

Belajar dan bermain adalah dua hal yang lekat dengan keseharian anak-anak seusiaku. Setelah seharian beraktivitas, pagi ke sekolah, siang bermain, sore ke surau lalu malam hari setelah bersantap bersama keluarga, meja belajar kemudian menjadi tujuan selanjutnya sebelum berakhir di ranjang tidur di jam 22.00 WIB. Dan yah, sebuah ritme hidup yang terbentuk karena pembiasaan diri seorang anak milenial yang tumbuh di desa kecil bernama Nagari Koto Hilalang.  

Comments