Jam Tidur Anak Menjadi Tertukar

Anak aktif seperti Kannel biasanya akan berhenti dari aktifitas bermainnya jika sudah merasa lelah, bahkan tanpa disuruh pun ia sudah tahu kapan akan beristirahat, terutama pada malam hari. Jika waktu sudah menunjukkan larut atau keadaan di dalam rumah mulai terasa sunyi, ia pun menuju kamar tidur tanpa paksaan atau harus membuatnya menangis terlebih dahulu. Salah satu bentuk kebebasan berekspresi yang ku terapkan kepada sang anak dari awal adalah untuk tidak menjadwalkan jam tidur.

Karena hingga saat ini, Kannel masih mendapatkan ASI eksklusif (aku banyak bersyukur akan hal itu) jadi sebelum masuk ke dalam kamar, ia akan menarik tangan mamanya (lucu banget deh) lalu menutup pintu kamar sendiri untuk tidur sambil nen. Karena yang ia tahu sejauh yang aku tangkap adalah ia akan terlelap setiap sedang ASI jika benar – benar sudah merasa mengantuk. Semua hal ini terjadi karena kebiasaan yang diterapkan kepada anak ku sehari – hari, termasuk bagaimana peran orang tua membuat suatu kebiasaan pada anak. Bahkan dari usia yang saat itu masih tiga minggu, aku mulai menerapkan kebiasaan ASI kepada anak sambil ikut tiduran di sebelahnya. 

Aku mempraktekan cara seperti ini awalnya karena setiap kali Kannel sedang ASI dengan posisi badanku yang dalam kondisi duduk, ia akan tertidur setelahnya. Namun saat aku menaruh ke tempat tidur, yang ada justru anakku terbangun. Kadang, ada kalanya juga ia akan tertidur dengan sendirinya tanpa harus di kelon atau di beri ASI terlebih dahulu. Jika jam tidurnya normal, biasanya Kannel akan terbangun dari tidurnya di  jam 6 – 9 pagi tergantung suasana hati. Seperti ini kira - kira jadwal tidur anak ku:


Semua berubah semenjak memutuskan balik ke Jakarta, kebiasaan tidur Kannel tak lagi seperti sedia kala.

Comments