Ikuti Prosedur Penerbangan di Masa Pandemi (Rapid Test Antibodi, SWAB & PCR Test)

Setahun terakhir dunia memang sedang kewalahan menghadapi pandemic dimana mendengar orang meninggal melalui pemberitaan media setiap harinya karena terjangkit Virus Corona bukan lagi menjadi hal yang asing, bahkan narasi yang sudah disusun sedemikian rupa setiap harinya seolah berlomba – lomba menayangkan urutan negara mana saja penduduknya yang paling banyak terjangkit wabah mematikan tersebut, termasuk Indonesia. How terrifying it is

Semakin kesini, kata – kata zona merah, isolasi bahkan lockdown pun menjadi clickbait dan terdengar sangat familiar di telinga. Namun dibalik bencana besar ini, ternyata masih terselip satu kebaikan untuk mengajak kita semua menjadi lebih peduli dengan pola hidup bersih dan sehat. Dimulai dengan:

  1. Mencuci tangan sebelum dan setelah bersentuhan dengan hal yang bersifat benda, apalagi melakukan kontak fisik dengan manusia. 
  2. Penggunaan alat – alat kebersihan lainnya seperti penggunaan hand sanitizer yang menjadi kebiasaan baru, meskipun secara pribadi hal ini sudah menjadi kebiasaan lamaku yang selalu digunakan saat akan atau setelah makan di luar. Bahkan benda berisikan alkohol dengan kemasan kecil ini selalu ada di dalam tas yang biasa dibawa saat sedang berpergian. Hal yang tadinya dibutuhkan hanya dalam keadaan tertentu saja, kini banyak dicari – cari termasuk penggunaan masker. 
  3. Pelanggan setia ojek online seperti ku juga salah satu dari sekian banyak orang yang sering menggunakan masker, karena asap kendaraan dan buruknya polusi udara di kota besar menjadi musuh terbesar. Tidak heran, tumpukan kain penutup di area mulut dan hidung yang sudah pernah dipakai menjadi banyak dijumpai di tumpukan sampah depan rumah. Namun lihatlah sekarang! Setiap orang bahkan diwajibkan untuk menggunakan benda – benda yang keberadaannya sempat disepelekan tersebut.

Bertahun lamanya penyakit Flu dan batuk bisa diibaratkan seperti bagian dari masyarakat kita. Coba deh sekarang? Bersin dikit saja disinisin, semua pasang mata langsung tertuju pada sumber suara tersebut. Seolah seseorang telah berbuat kesalahan fatal dan tatapan tersebut mengisyaratkan seperti sedang melihat seorang pendosa. Dan hal itu terjadi ketika Kannel dan aku sedang berada di dalam pesawat, lalu anakku tiba – tiba bersin. 

Oleh karenanya, mencari tahu terlebih dahulu adalah hal yang harus dilakukan ketika akan melakukan suatu hal, termasuk memutuskan untuk balik ke Jakarta kali ini. Bukan karena banyaknya pertimbangan, melainkan tingkat kewaspadaan yang semakin bertambah, yah akibat world issue satu ini lagi – lagi semuanya memang harus ekstra hati- hati. Aku sempat bertanya kepada beberapa source dan yang menjadi informan adalah teman - teman yang sudah pernah melakukan penerbangan baru – baru ini. Kepada mereka aku menanyakan banyak hal, seperti apa saja yang berubah setelah pandemi ini dan seperti apa protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah selama melakukan penerbangan? Salah satu bentuk kesadaran yang menjadi sebuah kewajiban untuk dilakukan terhadap diri sendiri adalah dengan menggunakan masker wajah dan face – shield.

Jika biasanya sebelum masuk ke dalam bandara, calon penumpang disambut oleh petugas di pintu keberangkatan guna menunjukkan bukti kemana dan kapan jadwal keberangkatan akan dilakukan dalam bentuk SMS; e-mail atau lembaran tiket yang sudah di print, namun sekarang ada beberapa penjagaan yang harus dilewati sebelum itu.

Pertama, Petugas yang melakukan administrasi dimana setiap penumpang akan ditanya satu per satu terlebih dahulu, apakah sudah pernah melakukan rapid or antigen test atau belum. Dimana saja kira - kira test tersebut bisa dilakukan? Nih, aku punya beberapa pilihan informasi berikut petimbangan harga yang variatif pula.

1. Kantor cabang LION AIR

Salah satu informan ku yang bertugas sebagai cabin crew di maskapai penerbangan tersebut pernah membagikan informasi terkait kebijakan yang diberlakukan oleh penerbangan satu ini, dimana maskapai tersebut memfasilitasi seluruh penumpangnya untuk melakukan Rapid - test di kantor cabang terdekat yang kebetulan berada di Jln. Ulak Karang - Padang, lokasi yang cukup dekat dari Bandara Internasional Minangkabau dan membandrol harga Rp 90.000,- untuk setiap penumpangnya.

2. di Klinik atau Rumah Sakit terdekat dari tempat tinggal

Sejujurnya, aku memilih opsi ini dan melakukan persiapan tersebut tiga hari sebelum jadwal keberangkatan untuk menjalani tes di Klinik Assabil Medika – Solok bersama anak. Berbeda jika ingin tes Swab, justru dilakukan H-1 sebelum jadwal keberangkatan. 

Untuk sekarang ini, berurusan dengan petugas medis aksesnya sangatlah terbatas. Selain seluruh petugasnya menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, komunikasi antar petugas kesehatan dan pasien juga lebih dibatasi lagi dan dibuatkan sekat oleh kaca pembatas, jadi kemungkinan untuk kontak langsung dengan orang lain sangatlah kecil. Pasien yang berada di klinik tersebut juga tidak diperkenankan untuk masuk dan berada di dalam ruangan kesehatan untuk menghindari penularan virus C19. Untuk Rapid test, prosesnya cukup memakan waktu 1- 2 Jam hingga hasilnya keluar, karena proses administrasi yang cukup memakan waktu. Berbeda dengan SWAB, bahkan selama 15 menit saja kita bisa tahu apakah hasilnya positif atau negatif, itu pun kedatangan ke klinik bisa dilakukan secara online melalui aplikasi yang didownload di ponsel satu hari sebelumnya. Kira – kira prosesnya seperti apa sih?

A. Rapid Antibody Test

  • Petugas administrasi akan meminta data diri pasien berupa e-KTP untuk melakukan administrasi data terlebih dahulu, lalu pasien disuruh menunggu hingga namanya dipanggil.

  • Kemudian petugas kesehatan dari klinik tersebut akan membawa beberapa peralatan medis yang pastinya sudah steril dan baru, seperti jarum suntik; tissue yang sudah dibasahi oleh alkohol; dan juga Kit Rapid – test.
    Menurutku, ini sama halnya ketika kita hendak melakukan tes darah seperti mau periksa golongan darah. Kira-kira, apakah anakku akan menangis jejeritan? Enggak sama sekali. Karena baginya, berurusan dengan jarum suntik bukan hal pertama kalinya mengingat kebutuhan bayi yang rutin melakukan imunisasi, jadi kesannya seperti digigit semut saja sih, reaksi kaget seketikanya tidak menimbulkan kegaduhan pada saat itu. Ya, anak ku yang biasanya cuma jerit sebentar lalu diam ketika diimunisasi, kali ini agak sedikit kalem.

  • Setelah mendapatkan sampel darah tersebut, dalam hitungan menit aku langsung bisa melihat hasilnya. Sesuai dugaan, hasilnya pun Negatif (-)

  • Setelah hasilnya keluar, dari pihak Klinik akan mengeluarkan surat keterangan yang menyatakan Rapid Test Antibodi Igm/IgG Non Reaktif dengan cap resmi dari Klinik tersebut, beserta tanda tangan dokter yang menjadi penanggung jawabnya.

B. SWAB Test

Semakin maraknya perkembangan C19 di Indonesia, membuat peraturan setiap waktu bisa berubah - ubah sesuai urgensi keadaan yang terjadi di negara kita. Dari yang awalnya rapid antibodi kini setiap orang yang ingin beraktivitas diluar rumah diwajibkan untuk menunjukkan hasil swab antigen yang sudah dinyatakan negatif termasuk keluar masuk daerah menggunakan kendaraan umum. Sebagai warga negara yang baik, kita wajib mematuhi prokes yang sudah dianjurkan oleh pemerintah. As a simple way to live a better life agar terhindar dari penyebaran virus covid 19 varian Delta yang ganas. Bisa jadi karena pelayanan yang berada di kota besar lebih simpel, praktis dan mudah, jadi aku melakukan reservasi H-1 dan bisa memilih klinik atau rumah sakit mana yang ingin dikunjungi menggunakan aplikasi Halodoc dan sudah langsung check - out payment, bahkan tidak butuh menggunakan uang cash lagi seperti transaksi di kasir. 

Bagusnya lagi beberapa jam sebelum jam temu dokter dilakukan, kita juga diingatkan oleh aplikasi tsb. Jadi tidak ada alasan untuk lupa atau ketinggalan lagi deh.

Setelah tiba di Klinik Kimia Farma Joglo, aku justru pasien pertama yang terdaftar jadi tidak harus antri menunggu dan bertemu orang banyak. Sedikit deg - deg an sih karena pertama kalinya benda asing dimasukkan ke rongga hidung dalam sepersekian detik guna mendapatkan lendir, kemudian mereka akan menyimpan hasil tersebut ke dalam tabung plastik dan akan diuji di lab agar mengetahui, apakah pasien positif atau negatif terkena virus corona? Syukurnya hasil tes tersebut sesuai dengan yang diharapkan yaitu Non - reactive.

Oh iya sedikit tips dari aku jika nakes memasukkan cotton bud panjang ke dalam rongga hidung, usahakan untuk membuka mulut agar reaksi kaget pada tubuh tidak berlebihan guna menghindari kecolok dan rasa sakit.

3. On the spot di Bandara

Jika belum pernah melakukan Rapid Test sebelumnya, calon penumpang akan diarahkan ke petugas selanjutnya untuk mengikuti prosedur kesehatan yaitu melakukan tes dan pengambilan darah untuk mengetahui, apakah seseorang terjangkit Virus Corona atau tidak? 

Perlu diingat:
Jika ingin melakukan test di Bandara sebaiknya datang tiga jam lebih awal dari jadwal keberangkatan, agar tidak ingin ketinggalan pesawat. 

Tadinya sempat kepikiran, ya udah langsung tes di bandara aja deh, tidak apa – apa lebih cepat sampai dibandaranya! Dengan pertimbangan penerbangan ku kali ini bersama anak yang sedang aktif – aktifnya, alasan ini membuatku mengurungkan niat tersebut. Sempat juga diberitahu oleh teman yang saat itu memutuskan tes langsung di Bandara, katanya kalau mau test jangan di pos yang persis di pintu masuk, mendingan yang satu lagi biar tidak berdesak – desakan dengan yang lain. Nah untuk tarif memang menjadi lebih mahal karena perorangan akan membayar sebesar Rp 300.000,-

Kedua, Setelah semua calon penumpang sudah dipastikan mendapati lembaran surat keterangan dan dinyatakan Negatif, petugas yang berjaga di Pos akan memberi cap VALID di surat tersebut. Kemudian kita semua akan dipandu untuk melakukan langkah selanjutnya yang bisa dilakukan sebelum maupun setelah melakukan penerbangan. Ada dua opsi untuk pengisian data diri dalam pengisian keterangan tersebut:

  • Setiap penumpang akan dipandu untuk mengakses aplikasi e-HAC Indonesia yang merupakan sebuah aplikasi yang dirancang langsung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, perkembangan dari yang sebelumnya setiap penumpang diminta untuk mengakses situs https://inahac.kemkes.go.id/ 
    Hal tersebut diawali dengan melakukan sign-up dan verifikasi alamat email terlebih dahulu, sebelum mengisi data diri dan mengikuti arahan yang harus diisi hingga akhir. Setelah hasilnya keluar, penumpang pun harus menunjukkan hasil tersebut ke petugas, atau scan barcode di pos hingga dinyatakan lolos pemeriksaan dan akan menunjukkan hasil tersebut kepada petugas setelah tiba di bandara tujuan dengan cara barcode.

  • Melakukan opsi kedua yaitu pada saat setengah jam sebelum landing, ada cabin - crew yang bertugas untuk menanyakan satu per satu kepada para penumpang untuk memastikan, apakah sudah melakukan registrasi di situs yang dibahas sebelumnya. Jika belum, penumpang tersebut akan diberi selembar kertas kuning yang juga diterbitkan oleh Kemenkes yaitu Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Health Alert Card) untuk mengisi data diri. 

  • Menurutku tindakan ini hampir sama dengan penumpang yang pulang bepergian dari luar negeri dan biasanya harus berurusan dengan bea cukai, dimana sebelum mendarat kita diminta untuk mengisi data diri di formulir jikalau membawa beberapa barang yang terkena pajak, lalu diserahkan kepada petugas yang menunggu kedatangan di Bandara tujuan. Tapi cara seperti ini sekarang sudah tidak berlaku lagi, walaupun sebenarnya cara ini lebih simple untuk ibu satu anak yang punya cukup banyak barang bawaan seperti ku. The world transforms after I bring up a toddler

Ketiga, Balik lagi ke proses pemeriksaan di area Keberangkatan, setelah selesai berurusan dengan administrasi awal mengenai tes pengambilan darah, mendapatkan hasil lalu mendaftarkan hasilnya ke tujuan yang di maksud, pemeriksaan selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengukur suhu tubuh menggunakan termometer elektronik yang ditujukan ke arah dahi. Untungnya, pengecualian untuk pemeriksaan anak dibawah umur. Dan itu cukup melegakan sekali, mengingat issue diluar sana tentang dampak negatif yang diakibatkan terhadap anak setelah menggunakan alat uji tersebut.

Keempat, Lalu sedikit bergeser ke depan, kita akan dihadapkan dengan petugas berseragam TNI – AD) yang meminta calon penumpang untuk menunjukkan Surat Keterangan yang di dapat dari Klinik. Mereka hanya ingin memastikan apakah surat tersebut sudah di validasi dan mendapatkan cap Valid sesuai dengan peraturan penerbangan terbaru.

Terakhir, tahapan yang harus dilalui selanjutnya yaitu mengikuti dari hal yang biasa dilakukan ketika akan melakukan penerbangan di bandara. Setiap calon penumpang diminta untuk menunjukkan tiket penerbangan; pemeriksaan barang bawaan; termasuk penumpang itu sendiri sebelum melakukan boarding pass bagi yang mempunyai barang bawaan; dan check – in menggunakan kartu identitas seperti biasa sebelum pemeriksaan kedua dan memasuki ruang tunggu.

Ada yang baru kali ini dimana penerapan physical distancing dan petunjuk jaga jarak yang bisa ditemukan di banyak tempat. Entah itu pada saat melakukan antrian, tempat duduk di ruang tunggu, maupun di dalam pesawat. Penerapan yang cukup baru ini dilakukan untuk mengajak masyarakat  hidup lebih beraturan dan tertib lagi. Sangatlah bagus mengingat semakin kesini semuanya dituntut serba kondusif, dan dengan cara ini perlahan – lahan masyarakat kita lebih diingatkan lagi untuk membiasakan diri menjalani kehidupan new-normal, meskipun tidak menutup kemungkinan masih banyak yang bandel untuk tidak mengikuti anjuran pemerintah.

Comments