Antara perspektif, teori sosial hingga budaya masyarakat soal mendampingi anak

Kerap bertemu orang dengan sifat, watak, maupun karakter yang berbeda - beda, sebagai manusia yang hidup bersosial pasti tidak asing dengan namanya komentar hingga kebiasaan masyarakat kita yang seringkali :

Selalu membanding – bandingkan

Pernah gak sih, kalian terjebak di lingkungan tempat tinggal yang kerap membandingkan satu sama lain? Sesimpel kebiasaan makan anak. Meskipun aku bukan orangtua yang selalu up-to-date dengan menu hidangan makanan pendamping ASI (MPASI) seperti yang dilakukan banyak selebgram yang ditayangkan gratis di channel youTube. Namun, aku sangat tidak setuju dengan kebanyakan orangtua yang sepertinya akan merasa puas ketika piring makanan yang dihabiskan oleh anaknya harus selalu bersih tanpa sisa, tidak peduli apakah si anak suka ataupun tidak. 

Bagiku, selagi asupan nutrisi anak terpenuhi dengan ASI dan hidangan sehat lainnya, tidak masalah apakah MPASI yang masuk sedikit atau banyak. Bahkan hanya memberinya dua atau tiga suap kecil sekalipun. Aku juga tidak bisa menampik, agar anak bisa makan dengan lahap membutuhkan bantuan asupan vitamin, dan terkadang juga menyeimbangkannya dengan memberi snack kering ataupun buah – buahan. Asalkan si ibu selalu rajin mengenalkan kepada anak berbagai jenis makanan, jadi setiap hari ada ragam makanan yang masuk ke tubuh anak, dan tidak melulu nasi sebagai standar kehidupan. 

Balik lagi, salah satu budaya yang mengharuskan anak makan nasi dari kecil, padahal kebutuhan tubuh kan tidak selalu karbohidrat semata. Ya, meskipun batita yang susah makan merupakan masalah bagi sebagian besar ibu baru, termasuk aku. Rasanya begitu sedih ketika anak kerap dipaksa memenuhi hasrat orangtua.

Ada satu kejadian saat anak ku yang sedang susah makan ini dipaksa menerima suapan yang mau tidak mau harus masuk ke dalam mulutnya. Lalu salah satu kerabat berkata dengan bangganya :

"Tuh, kan mau dia!"

Kesal dan marah! 
Konsep parenting yang aku bangun dari awal tiba-tiba dihancurkan oleh orang terdekat. Aku tidak suka memaksa anak melakukan suatu hal yang membuat dirinya merasa tidak nyaman. Apalagi jika sudah dibanding-bandingkan seperti ini:

“Udah gede masih aja mandi air hangat! Padahal anak ku umur dua hari aja udah gini .. gini..”

“Pokoknya kamu harus juara, jangan mau kalah sama si ini!”

“Bandel banget, coba liat anak si ini baik, nurut gak kayak kamu apa – apa ngeyel dan susah dibilangin!”

Omongan yang secara tidak langsung sudah menjadi hal biasa didapat dari orang-orang sekitar, namun perlahan menghancurkan orang yang dikritik, terutama untuk tumbuh kembang anak itu sendiri ke depannya. Jika boleh jujur, aku tidak suka gagasan seperti ini! Seolah menjadikan anak sebagai objek perbandingan untuk kepuasan para orangtua yang merasa anaknya harus lebih unggul dari anak lain. 

“Anaknya kok belum bisa jalan, dulu anakku 8 bulan sudah bisa, lho!”

“Tumbuh gigi nya lambat, ya? Anak ku aja dulu 6 bulan udah tumbuh tiga”.

Melarang anak dengan kata JANGAN!

“Jangan lari – larian nanti jatoh!”

“Diam! Jangan menangis nanti di tangkap pak polisi. Dia pemarah”

Pada akhirnya, itu semua hanya akan membuat anak menjadi takut untuk mengeksplor diri mereka dan menciptakan trauma terhadap seorang. Terlebih, ketakutan akan satu sosok yang dimunculkan oleh orangtua yang kurang bijak bersikap. Aku belajar, alih-alih menggunakan kata umum tersebut ada baiknya mengganti dengan penjelasan yang lebih masuk akal dan mudah diterima oleh anak seumurannya. Takutnya, ketika anak dihadapkan dengan suatu keadaan yang mengharuskannya untuk benar - benar jangan berbuat, namun dia yang sejak awal sudah terbiasa diberi peringatan dengan kata - kata “jangan” begini dan jangan begitu pada akhirnya tidak bisa lagi membedakan apa hal yang begitu  membahayakan atau hal yang masih bisa ditoleransi. Ini juga salah satu pemicu yang menyebabkan anak menjadi tambeng dan susah untuk diberitahu. 

Menyalah benda sekitar saat anak berbuat salah

Hal yang paling sering ku lihat saat anak kecil terjatuh, seringkali orang-orang sekitar menyalahkan benda sekitar seperti memukul lantai, papan atau objek yang terlihat di sekitar. Hal itu dilakukan semata agar anak tidak menangis. 

"Udah .. udah jangan nangis lagi, sini pukul lantainya. Lantainya jahat!"

HAHA
Benda mati kok disalahin!
Emang dia akan bereaksi seperti apa?
Berharap lantainya akan memukul balik juga gitu?
Emang anaknya bakal berhenti nangis?

Aku? Ketika anakku terjatuh saat sedang bermain atau saat ia tidak sedang berhati - hati, aku langsung mengejar dan memeluknya, lalu memberi sedikit jeda dan ruang untuk ia menangis dan mengekspresikan perasaan yang sedang dirasakan, yah rasa sakit tentunya. Perlahan, aku mulai menenangkan, lalu memberitahu agar ke depannya lebih berhati - hati lagi. 

Menutupi kesalahan dengan alasan pembenaran

Aku pernah mendapati anakku yang sedang asyik dengan mainan yang digenggam tiba – tiba direbut oleh anak lain. Seraya menyaksikan dari kejauhan, kira - kira seperti apa respon sang Bunda saat menyaksikan anaknya merebut mainan? Surprisingly, ia hanya diam. Lantas, aku mulai bertindak dan mewakili anak ku untuk meminta kembali mainan tersebut serta mencoba mengganti dengan mainan yang lain, tidak dengan apa yang sedang dimainkan oleh anakku.

Mood anak kecil yang masih sesuka hati seringkali tidak bisa ditebak, terlebih untuk anak ku yang belum bisa berbicara. Ia belum bisa mengatakan atau membantah kecuali bereaksi dengan tindakan. Aku mencoba back-up hal tersebut dengan cara memberikan pilihan lain kepada anak yang sedang berusaha mengambil mainan di genggaman Kannel. Meski terkadang tidak semua hal selalu berjalan sesuai keinginan, namun ini menjadi salah satu pembelajaran yang muali diterapkan agar anakku bisa mempertahankan apa yang ia punya, untuk gigih dengan hal yang seharusnya tetap menjadi miliknya dan tidak suka lari dari masalah dengan cara dialihkan ke  mainan lain. 

Kemudian aku mendapati reaksi sang Bunda dari anak tersebut:

“Dia masih kecil, belum mengerti apa - apa. Coba deh nanti kalau mereka diajak ke tempat bermain anak atau playkids lainnya pasti masih banyak yang lebih parah dari si ini (dia menyebutkan nama anaknya sendiri)”

Sebuah pembelaan yang seharusnya saat itu langsung ku bantah. Ya, kurasa semua orang paham jika sikap dan perilaku anak adalah cerminan dari orangtua mereka. 

Negosiasi sejak dini

Anak ku memang belum sepenuhnya bisa berkomunikasi secara verbal, artinya ia masih terbata - bata untuk mengulang kata per kata yang dicontohkan sebelumnya, akan tetapi ia selalu menyimak dan merespon dengan bahasanya sendiri. Satu hal yang selalu diterapkan sejak dini, ia sudah ku ajak berkompromi. Alih-alih menggunakan seruan:

"Kannel, mandi!" 

dengan seruan membentak, aku memilih menggantinya dengan ajakan yang lebih menyenangkan.

"Yuk, mandi."

Sambil bilang hore ketika menemukan air mengalir dari selang ke bak penampungan air. Agar lebih seru biasanya aku menambah properti tambahan seperti balon air dan water plays lainnya bahkan di alam bebas, tepat di samping pekarangan rumah. 

Cara ku menciptakan suasana mandi yang menyenangkan agar ia menganggap jika membasuh tubuh dengan air adalah hal yang mengasyikkan. Langkah ini ku gunakan sebagai metode bermain yang ku buat sekaligus membangun kebiasaan baik. Biasanya, aku memberi kesempatan untuk bermain air selama 20 menitan lalu pelan - pelan mulai mengajak untuk udahan. Sekali dua kali kalau anaknya masih belum mau merespon, biasanya aku mencoba untuk mematikan air kran yang mengalir di selang air dan ketika ia sadar dengan sendirinya langsung bergegas ke dekapanku pertanda mandinya udahan tanpa harus mencegat anak saat asyik bermain air.

Bahkan di usianya yang masih 14 bulan, sekarang aku sudah tidak direpotkan lagi untuk membujuknya tidur karena jika ia mengantuk, Kannel  sudah tahu kapan waktunya tidur tanpa harus rewel terlebih dahulu. Anak ku tahu kapan harus berhenti bermain lalu berjalan menuju kamar dan menutup pintu sendiri. Mendisiplinkan anak tanpa harus memaksa atau mendikte sejak dini.

Kebiasaan negosiasi juga yang diterapkan oleh ibu ku kepada anaknya dari saat remaja hingga sekarang. Aku tidak pernah sungkan untuk bercerita, selalu diberi kesempatan untuk mengungkapkan apa yang saat itu sedang dirasakan entah itu sedang sedih, bahagia, murung dan ibu ku juga tidak sungkan untuk memberi pemecahan dari masalah yang tengah dihadapi oleh anaknya. 

Sebagai seorang anak, aku tidak punya alasan untuk melampiaskan emosi kepada hal - hal yang bersifat negatif. Bahkan semenjak memutuskan hidup mandiri dan jauh dari pantauan orangtua, ibuku tidak perlu melontarkan kalimat peringatan setiap saat. Usia dua puluhan, aku sudah diberi tanggung jawab moral penuh oleh orangtua. Oleh karenanya, aku tidak mau rugi untuk mengkhianati kepercayaan tersebut. Cara simpel untuk membuat anak merasa dianggap dengan keberadaannya, meskipun ibuku bukan typical ekspresif yang menunjukkan kasih sayang dengan cara pelukan dan sebagainya, tapi ia selalu belajar untuk mengerti anak. Kadang, ia juga bisa menempatkan diri menjadi teman cerita atau orangtua yang mampu memberi nasihat.  

Salah memaknai anak manja dan memanjakan anak

Seringkali ketika orangtua memfasilitasi segala kebutuhan dicap seperti anak manja. Gegara hal tersebut, aku kerap menjadi objek cemooh orang-orang disekitar karena dianggap tidak bisa melakukan apa-apa karena terlahir sebagai anak tunggal dan lekat dengan imej anak manja. 

Ditambah, penerapan pola asuh ayah yang tidak mewajibkan anak perempuannya melakukan pekerjaan rumah cukup menuai pro kontra. Ayah yang menginginkan anaknya cakap berkarir daripada mempersiapkan anak satu-satunya ini menjadi istri yang jago masak serta cekatan dalam mengurus rumah menjadi kontroversial dimata mereka. 

Sebenarnya ini bukan masalah salah atau benar, karena aku tidak butuh pembenaran. Sebaliknya, justru orang-orang sekitar yang memberi cap tersebut justru terlihat memanjakan anak dengan pola asuh yang hanya mengantarkan perilaku menyimpang seperti:

  • Membela anak yang jelas-jelas berbuat salah karena takut anak balik membentak
  • Khawatir jika anak berbuat yang aneh saat berada jauh dari pantauan orangtua karena terbiasa apa-apa dituruti
  • Terlalu mendikte dan tidak menaruh kepercayaan kepada anak sejak awal sehingga tidak jarang menimbulkan perbuatan yang menyusahkan mereka sendiri sebagai orangtua baik dari segi pikiran serta materi

Aku tidak berhak menjudge seseorang salah ataupun persepsi ku selalu benar. Balik lagi, setiap orangtua mempunyai caranya sendiri bagaimana menuntun anak - anak mereka untuk bersikap karena semua tergantung dari pola asuh yang biasa diterapkan kepada anak. Dan itu semua sangat mempengaruhi karakteristik, cara bersikap dan kebiasaan anak hingga nanti.

Comments