Pengenalan MPASI pada anak beserta Suka Dukanya
Ada yang mengalami hal serupa denganku? Dimana anaknya menolak saat diberi bubur bayi meskipun berbagai varian produk bayi sudah pernah dicoba. Mulai dari rasa beras merah, pisang susu, kacang ijo, dan terakhir ayam kampung & bayam. Ternyata hasilnya tetap saja nihil.
Cuma icip sedikit lalu dilepeh, bahkan saking tidak inginnya bayi enam bulan ku ini sudah bisa menolak dengan enggan membuka mulut lalu menjauhkan sendok yang didekatkan ke mulutnya itu menggunakan tangan.
Konsultasi ke Bidan
Untuk hal ini, aku mencoba berkonsultasi dengan bidan yang biasa menangani anakku imunisasi. Petugas kesehatan tersebut kemudian menyarankanku untuk mulai memberikan makanan yang dimasak sendiri di rumah seperti nasi tim. Ternyata benar saja, pelan - pelan sudah mulai terlihat ada keinginan untuk makan meskipun belum sepenuhnya bisa mencerna makanan tersebut.
Sejauh ini, Kannel merasa jika ASI satu-satunya yang membuat ia kenyang, bukan MPASI.
Setiap kali diberikan makanan pendamping, anaknya masih tetap minum ASI lagi seperti biasa. Wajar sih, namanya masih pengenalan. Lagi pula anak ku mulai diberikan MPASI di saat usia nya memasuki 5 bulan, walaupun seharusnya bayi mulai diberikan makanan pendamping saat memasuki usia 6 bulan, itu satu. Dan juga anak yang baru berusia 6 Bulan seharusnya mulai diperkenalkan dengan makanan yang sangat encer dan masih banyak mengandung air, justru anakku sudah mulai makan makanan dengan tekstur yang lebih kasar dari bubur bayi walaupun pembuatannya sendiri masih disaring menggunakan saringan.
Cara memperkenalkan MPASI yang salah
Usut punya usut, ada satu hal lain yang baru saja ku ketahui terkait kebiasaan makan anak. Konon, semua hal yang terjadi pada anak tergantung dari makanan jenis apa yang diperkenalkan pertama kalinya oleh orang tua kepada anak?
Ternyata, Kannel diperkenalkan dengan jenis makanan produk bayi olahan pabrik, bukan homemade. Itulah alasan mengapa ia kurang suka dengan jenis makan yang sifatnya organik.
Percaya atau tidak, hal ini diceritakan langsung oleh salah satu Bidan yang juga memiliki dua balita. Saat sharing, ia mengatakan hal tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya yang sempat diterapkan kepada anak pertama maupun kedua. Sama halnya dengan Kannel, anak sulungnya pun juga memiliki permasalahan yang sama dengan yang ku alami, dimana mereka susah sekali untuk diajak mengkonsumsi makanan yang disajikan melalui hasil olahan dapur dan lebih suka ngemil jajanan. Satu hal yang ku sadari sebagai ibu baru, lagi-lagi aku merasa jika setiap harinya learning by doing in any situations terhadap tumbuh kembang anak.
Siasati hidangan MPASI
Menilik sedikit ke belakang, pertama kali membuatkan nasi tim untuk anak awalnya aku sengaja merebus kentang dengan wortel secara terpisah. Lalu aku mencoba untuk tidak menggunakan garam halus dan menggantinya dengan daun seledri, karena masih ragu apakah boleh menambahkan garam atau tidak. Sempat ada kekhawatiran karena kandungan yodium yang terdapat pada garam dapat menimbulkan beberapa efek samping saat dicerna oleh bayi yang belum cukup umur satu tahun ini.
Kesimpulan yang diambil setelah mencari tahu hal tersebut, aku memutuskan untuk menambah sedikit saja bumbu dapur tersebut selagi masih dalam kadar normal. Benar saja ternyata Kannel mulai terlihat nyaman dengan makanan yang diberikan. Mulai lah aku mencoba dengan aneka bahan makanan lainnya seperti brokoli, buncis, siam, hingga telur puyuh. Ternyata anakku suka dengan masakan yang ada rasanya bahkan tidak suka makanan produk bayi yang dibuat secara instan sama sekali. Ini juga yang mendasari ku dari yang biasanya masak menu soup - soup an 2-3 kali selama seminggu sekarang malah menjadikannya sebagai hidangan menu wajib setiap hari.
Lengkapi dengan asupan buah segar
Untungnya lagi, anak ku sangat suka dengan yang namanya buah - buahan. Mulai dari buah pepaya, pisang, jeruk, alpukat, naga, dan mangga. Namun berjalannya waktu, kesukaannya pun semakin berkurang. Percaya atau tidak percaya dia bisa saja melepeh makanan yang diberikan menggunakan sendok kalau sedang tidak ingin makan, akan tetapi dia akan merengek dan sangat marah ketika aku telat sedikit saja memberinya buah, bahkan buah yang disajikan tidak harus dicairkan terlebih dahulu, tapi langsung buah potong yang sudah dikupas. Alhasil setiap hari aku harus selalu mengecek stok buah – buahan di rumah agar menyimpan lebih banyak lagi. Supaya selalu fresh aku menyimpannya di dalam lemari pendingin di rumah yang sekarang isinya jauh lebih bervariasi karena selalu ada buah dan sayuran segar di dalamnya.
Berkat kegigihan ku itulah yang selalu berupaya agar si anak mau makan perlahan – lahan pun mulai terbiasa makan. Walaupun aku tidak pernah memaksanya sama sekali harus menghabiskan makanan yang ku buat, yah paling tidak dalam sehari dia sudah terbiasa makan sebanyak 1-2 kali dan lama – lama sudah menjadi rutinitasnya. Dan sekarang upaya tersebut tampaknya mulai membuahkan hasil, hehe.

Comments