Memutuskan resign untuk full ASI hingga jadi IRT, why not?
Siapapun berhak menentukan pilihan hidupnya, akan seperti apa...
Semata, ia berhak memilih apa yang ingin dilakukan.
Quote anonim di atas seharusnya bisa mewakili jawaban yang tepat untuk menanggapi pertanyaan orang - orang disekitar yang kerap bertanya WHY?
Lo resign vi?
Cabut gegara anak ya?
Ah elah perasaan masih banyak tuh ibu-ibu ninggalin bayinya di rumah!
I can't tolerate how everyone evaluates me in my private life because they only want to comment and have a loud mouth! LMAO
Pertama, what makes you happiest? Sure, I'll do it.
Sebenarnya memilih kebahagiaan itu gift banget sih ya apalagi bisa menemani anak full-ASI di rumah!
Ditambah, memiliki background dibesarkan oleh perhatian penuh, ayah yang memilih bisnisnya dijalankan oleh orang lain, serta ibu yang menjadi IRT membuat ku sedikit ragu untuk tetap bekerja alih-alih meninggalkan anak di rumah bersama kerabat ataupun pengasuh.
Kedua, momen berharga yang terjadi hari ini belum tentu akan terulang kembali.
Kannel yang sekarang tidak akan pernah menjadi bayi yang baru saja dilahirkan kembali. Dan aku juga tidak ingin melewatkan momen dimana memandikan anak, menyusui secara eksklusif mendengarkan kata pertama si anak harus diwakilkan oleh orang lain.
Ketiga, aku hanya ingin menjalani hidup sesuai porsinya.
Sadar akan peran menjadi seorang istri dan sudah menjadi ibu sekarang membuat ku semakin yakin bahwasanya keberadaan perempuan memang sebaiknya di rumah.
Realitanya, banyak juga perempuan di luar sana yang tidak ingin mengorbankan karirnya dan tetap bekerja karena merasa itu adalah passion mereka sehingga mengorbankan banyak waktu bersama suami dan juga anak-anak nya di rumah, apa itu salah? Enggak. Untuk saat ini, aku ingin mengistirahatkan pikiran sejenak dari kejenuhan di lingkungan pekerjaan, memilih untuk gap year sebentar dari kejaran deadline.
"Oh jam sekian aku sudah harus tiba di kantor nih, takut telat dan gak enakan sama orang - orang sekitar karena telat macet sepersekian menit, bahkan setiap pulang kantor kerap mengeluh capek."
Nyatanya, setelah resign aku tidak lagi membenci hari senin! Mau weekend or apapun kini semua terasa sama saja. Bahkan tidak ada lagi yang namanya tanggal tua maupun harus bolak - balik cek kalender menunggu kapan tanggal gajian."
Ternyata hidup bahagia sesederhana itu sekarang!

Comments