Baby Blues Syndhrome
Setelah hiatus beberapa bulan terakhir ini karena disibukan dengan persiapan melahirkan dan sudah menjadi ibu baru, akhirnya aku memutuskan kembali menulis di halaman blog. Sebenarnya aku ingin sekali menceritakan banyak hal, akan tetapi rasanya aku masih terlalu larut menikmati momen bersama si buah hati. Dan ternyata bener banget, setiap hari ada saja pembelajaran serta hal baru yang didapat.
Syndrome Panic
Tidak pun menjadi seorang ibu seperti sekarang, pada dasarnya aku memang sosok orang yang gampang sekali dilanda rasa panik. Syndrome panic yang tidak sampai ke panic attack, nah gimana tuh? Maksudnya jika sedang dihadapkan dengan suatu hal baru yang belum pernah dilakukan atau diketahui sebelumnya, akan secara spontan bertindak gelagapan seperti munculnya rasa takut atau gelisah berlebihan; di waktu yang bersamaan detak jantung berdegup cepat; napas menjadi pendek dan sesak; serta diikuti oleh kondisi tubuh yang ikut gemetaran.
Menghadapi new - born dengan berbagai peristiwa yang baru pertama kali dialami, butuh waktu untuk melewati beberapa fase - fase tertentu yang membuat ku akhirnya bisa survive dari rasa depresi pasca melahirkan.
Namun percaya atau tidak bahwasanya ibu baru sangat amat wajar mengalami yang namanya baby blues di masa postpartum. Ada banyak faktor yang paling mempengaruhi, misalnya :
Hormon yang tidak stabil
Menurunnya hormon tubuh hingga menyebabkan kondisi tidak stabil berbarengan dengan produksi hormon menyusui yang membuat keadaan tubuh menjadi kurang nyaman menjadi salah satu pemicu timbulnya perasaan maupun pikiran yang sifatnya negatif (mood swing) sehingga membuat perasaan hati campur aduk, bahkan hal yang tidak diharapkan pun kerap terjadi.
Kurangnya persiapan mental untuk menjadi seorang ibu
Perubahan yang terjadi dalam sekejap sangat mempengaruhi kesehatan mental ibu baru pasca melahirkan, karena pada dasarnya mana ada sih persiapan yang maksimal?
Pasti semuanya terjadi setelah adanya pembelajaran yang didapat dari kesalahan dan juga ketidaktahuan yang dilakukan sebelumnya. Dihadapkan menjalani peran ganda sebagai ibu, istri bahkan harus tetap bisa merawat diri sendiri dengan baik usai melahirkan.Air Susu Ibu Pertama yang tidak langsung keluar
Selain masalah hormon dan mental, sangat penting untuk ibu baru sepertiku selalu upgrade pengetahuan seputar pasca persalinan. Dari awal, aku sudah paham bahwa bayi yang baru saja lahir seharusnya masih bisa bertahan dengan stok makanan yang dibawa dari plasenta ibu yang ada di dalam kandungan, bahkan itu cukup untuk tiga hari kedepan. Namun tetap saja pada hari-H nya, ini akan menjadi salah satu dari sekian banyaknya ketakutan yang terbesit di dalam pikiran, "Kenapa ASI tidak langsung keluar ya?" Bahkan setelah keluar dari ruang bersalin, bayi ku tidak langsung diberikan ke ibunya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini) seperti yang pernah ku baca pada saat hamil. Mungkin karena kebanyakan referensi membuat ku jadi overthingking. Padahal, ini lumrah terjadi! Bahkan butuh keinginan dan usaha yang cukup kuat untuk mengeluarkan setetes demi setetes ASI.
Selama masa pemulihan di ruang perawatan inap, aku selalu bertanya kepada setiap perawat atau bidan yang datang untuk melakukan kontrol pasien. Coba bayangkan, seberapa sering dari mereka dalam sehari menghadapi pertanyaan berulang? Di sisi lain, aku terus mencoba untuk melakukan pijatan di area punggung dibarengi mengkonsumsi buah kurma, anggur dan tape. Dibantu upaya tersebut, ASIP mulai keluar menggunakan alat pompa ASI elektrik.Puting lecet dan perih
Pernah mendengar curhatan ibu baru saat pertama kali menyusui gak? Semuanya pasti akan selalu bercerita bagaimana menderitanya puting menjadi lecet bahkan terasa sangat perih saat air susu sedang mencari jalan keluar, dan ini juga yang membuat ku tidak bisa menahan air mata untuk keluar setiap kali akan menyusui bayi ku. Lagi - lagi ini bagian drama ter-melow yang ku alami saat dihadapkan baby blues.
Ketakutan menggendong anak sendiri
Pasca melahirkan, aku menjadi ibu baru yang punya ketakutan berlebihan pada saat ingin menggendong bayi yang baru lahir. Kalau boleh jujur, Kannel adalah bayi pertama yang mau tidak mau harus bisa ku gendong karena sebelumnya aku sama sekali tidak berani untuk menggendong new born.
Ada satu kejadian dimana ibu yang meluangkan waktunya untuk menemaniku di ruang inap usai melahirkan sedang mencari udara segar ke luar, lantas aku didera rasa kepanikan yang luar biasa sambil diiringi tangisan, lagi dan lagi saat bayi menangis. Pemicu yang tak lain disebabkan karena popok basah. Ibaratnya nih jangankan untuk mengganti popok, menggendong anak sendiri saja belum berani. Tangisan bayi ku pun semakin menjadi - jadi, suami kemudian berinisiatif memanggil perawat sekaligus mencari ibu yang sedang berada di luar ruangan. Selama ditinggal, aku merasa tangisku jauh lebih pecah ketimbang pekikan suara bayi saat popok yang dikenakan basah. Bahkan di bulan-bulan pertama, setiap kali anak menangis aku pun jadi ikut - ikutan menangis hingga tersedu - sedu.Drop hingga darah rendah
Setelah keluar dari Rumah Sakit, selama dua malam ke depan aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku selalu menangis saat menatap bayi ku. Selain bersyukur, ini mungkin puncaknya baby blues yang tengah kualami. Namun seiring berjalannya waktu, bahkan dengan usaha ku untuk beradaptasi dengan cepat mau tidak mau aku sudah mulai terbiasa, kondisi mental ku pun membaik dan berangsur normal. Sebagai ibu baru, berjaga di malam hari saat anak terjaga bukanlah perkara asing, diikuti perasaan lelah yang disebabkan insomnia, menurunnya konsentrasi serta kurang istirahat.Alhasil, aku pun dihampiri tensi rendah hingga mencapai angka 75/90.
Terlalu sensitif dengan perkataan orang lain
Aku juga menjadi ibu baru yang sangat amat sensitif dengan perkataan orang lain dan akan meledak-ledak jika ucapan yang dilontarkan terkesan mengintimidasi sekalipun mereka tidak bermaksud untuk menyinggung melalui perkataan yang dilontarkan.
Over protective
Selain mudah tersinggung, aku menjadi parno ketika anak disentuh oleh orang asing. Hal itu terus berlangsung sampai anakku berusia 1,5 tahun.
Selama postpartum, ibu baru masih kerap merasa luka jahitan yang belum kering tiba-tiba perih, secara fisiologis bentuk tubuh pun berubah total. Selain merasa capek, aktivitas sebagai ibu baru membuat tubuh dan pikiran mendapat kurang istirahat. Agar tidak terpuruk dalam kondisi tertentu, selama menjadi ibu baru aku terus memerangi kecemasan, ketakutan berlebih hingga perlahan mulai menikmati proses dengan santai.
Comments