Prosedur Persalinan SC di Rumah Sakit Ibu dan Anak
Manusia bisa merencanakan hal apa pun yang ingin dilakukan, walau pada akhirnya...
1. Surat Rujukan
Sekitar pukul empat sore, aku ditemani oleh suami mendatangi praktik umum dr. Azra untuk meminta surat rujukan persalinan. Sempat ditolak mengingat kondisi calon bayi baik-baik saja, sudah masuk di jalan lahir tanpa ada lilitan tali pusar ataupun pecah ketuban sama sekali, bahkan panggul besar dengan postur badan tinggi seperti ku biasanya akan mudah melahirkan dengan cara alami. Sejujurnya, aktivitas bolak-balik Bidan hingga dokter kandungan dengan kuantitas tinggi diliputi kekhawatiran yang menyertai, membuatku semakin histeris. Usai menceritakan kronologi serta kondisi terbaru terkait kesiapan mental yang tak lagi kondusif serta serangan panik saat anak tak kunjung lahir, ahirnya aku mendapatkan rujukan online untuk bersalin di Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Bunda.
RSIA Permata Bunda
2. Instalasi Gawat Darurat
Dipandu oleh arahan seorang kenalan Bidan yang bertugas di RSIAPB, usai memarkirkan kendaraan kami menelusuri koridor Rumah Sakit menuju IGD. Kedatanganku kemudian disambut oleh dokter kandungan bernama dr. Mikhail yang sedang bertugas di Instalasi Gawat Darurat. Awalnya ia sempat penasaran, hal apa yang membawaku masuk ke layanan yang disediakan untuk pasien berkebutuhan darurat. Terlebih jika dilihat dari fisik, dicocokkan dengan catatan pemeriksaan ibu hamil serta mengkaji riwayat medis, tidak ada permasalahan serius. Setelah mempertimbangkan beberapa hal dan berulangkali mengkonfirmasi terkait keputusan yang ku buat, akhirnya Dokter Obgyn tersebut menuruti keinganku untuk melahiran dengan cara di bedah.
3. Administrasi
Sebagai pasien yang akan ditindak di ruang operasi, seorang petugas administrasi kemudian datang meminta data diri seperti e-KTP dan BPJS Kesehatan. Mengingat banyaknya pasien yang keluar masuk RSIA, aku sempat kehabisan tempat rawat inap sesuai kelas 1 yang tertera di kartu fasilitas kesehatan hingga harus dialihkan ke ruang VIP. Selanjutnya, untuk kepentingan prosedur serta penanganan, suami kemudian menandatangani surat persetujuan sebagai wali yang akan dibedah.
4. Sebelum masuk Ruang Operasi
a. Puasa
Disarankan berpuasa sebelum masuk ke ruang operasi, aku pikir akan ditindak esok hari mengingat ketentuan 6 jam menahan diri untuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman sebelum dibedah menggunakan anestesi sudah menjadi pengetahauan umum. Namun, tidak semua petugas medis melakukan hal tersebut.
Dilansir dari laman Halodoc, sebagian dokter berpendapat jika praktek puasa sebelum operasi tidak lagi efektif.
b. Cek Darah
2,5 jam berlalu, prosedur lainnya yang harus dilakukan adalah pengecekan darah ke dalam ruangan Laboratorium RSIA Permata Bunda dengan mengambil sampel guna mengetahui kadar hemoglobin beserta golongan darah yang harus dilakukan untuk persiapan transfusi apabila dibutuhkan.
c. Menyerahkan Hospital Bag kepada Perawat
Mengambil tindakan yang terburu-buru, aku bahkan tidak sempat membawa hospital bag yang sudah dipersiapkan sejak minggu ke-30 kehamilan seperti pembalut nifas, kain, pakaian bayi maupun korset.
d. Ganti Jubah Operasi
e. Suntik Skin-test
Setelah mengenakan jubah dan berbaring di atas hospital bed, pasien mulai bersiap untuk melakukan serangkaian persiapan prosedur pembedahan. Seorang perawat kemudian menyuntikkan jarum tepat di bawah kulit ari bagian lengan bawah, dimana sensasi sakit yang dirasakan kali ini cukup kuat. Hal ini dilakukan guna mendeteksi alergen yang dapat memicu alergi, termasuk untuk mengetahui apakah pasien alergi obat – obatan atau tidak.
f. Pasang Infus: Kemudian, perawat menusukkan jarum ke bagian pembuluh darah vena untuk menghubungkan cairan infus kedalam tubuh pasien melalui selang yang berfungsi sebagai pengganti cairan serta zat makanan.
g. Pasang Selang Kateter: Mencukur rambut kemaluan sebelum memasukkan selang kateter menjadi prosedur menakutkan sejauh ini, tak heran jika prosesnya memakan waktu cukup lama.
5. Masuk ke Ruang Operasi
Bertemu ahli tenaga medis di ruang tindakan dan bertugas sesuai tanggung jawab masing-masing, ternyata bilik operasi tidak semencekam yang dibayangkan. Mulai dari dokter obgyn sebagai ahli bedah persalinan utama dibantu oleh dokter bedah, dokter anastesi, serta didampingi oleh asisten/atau OB tech yang khusus untuk mengurus bayi baru lahir, bidan, perawat disusuh kedatangan dokter anak.
a. Pasang Selang Oksigen
Dipasangkan selang oksigen jenis karbondioksida ke lubang hidung pasien, cara kerja alat ini biasanya akan meniupkan gas atau bubuk yang ada di dalam tabung kemasan gas medis Rumah Sakit. Diketahui, CO2 akan berfungsi untuk menstimulasi pernapasan sebelum dan setelah anestesi.
b. Suntik Epidural
Di suruh duduk meringkuk dan kembali diberikan suntikan untuk yang ke empat kali, seorang petugas medis bertugas untuk memasukkan bius epidural ke area tulang belakang.
Diketahui, bius ini hanya bereaksi di bagian perut ke bawah saja. Ada dokter anestesi yang berdiri persis di sampingku untuk memastikan ada atau tidaknya reaksi negatif dari dalam tubuh terhadap dosis yang diberikan sebelum dilakukan proses pembedahan.
6. Operasi Sesar
a. Pembedahan
Di beri kain pembatas di bagian dada saat berbaring di meja operasi, kali ini tubuhku menjadi objek pertama yang ditindak guna mengeluarkan bayi yang ada di dalam kandungan dengan proses operasi sesar. Agar tidak merasa tegang, seorang petugas kemudian mengalihkan fokus ku dengan mengajak berbicara. Di tengah proses operasi dan dalam keadaan sadar, tiba-tiba aku merasakan sensasi tubuh yang luar biasa saat bayi berusaha dikeluarkan dari dalam tubuh. Rupanya dokter sedang melakukan praktik manuver dengan membolak – balikan posisi bayi agar mudah dikeluarkan, lalu tali pusat yang terhubung dengan plasenta pun dipotong.
Tepat 07 Mei 2019 pukul 19.45 WIB, aku sah menjadi seorang ibu.
Seketika suasana langsung riuh, untuk pertama kalinya aku mendengar tangisan bayi yang baru saja dikeluarkan dari dalam rahim. Alih-alih mendekap anak yang baru saja dilahirkan, perawat langsung membawa bayi ku yang berjenis kelamin laki-laki ini ke sebuah bilik khusus disusul oleh dokter anak.
b. Pemeriksaan Kondisi Bayi
Selama proses operasi berlangsung, di tempat berbeda kemudian dokter anak yang dibantu oleh petugas medis lainnya seperti bidan dan perawat melakukan prosedur standar terhadap bayi yang baru saja dilahirkan seperti:
- Memastikan kondisi dan organ bayi dalam keadaan sehat
- Sedot lendir
- Tes APGAR: Menilai keadaan bayi di menit 1-5 usai tali pusar dipotong
Hal yang diperhatikan berdasarkan denyut jantung, pernafasan, tonus otot, reflek gerak hingga warna kulit - Timbang BB dan mengukur panjang dan lingkar kepala
- Oles salep mata
- Pemberian Vitamin K1 dan suntik vaksin Hepatitis B
- Dimandikan untuk menanggalkan bekas lapisan lemak di tubuh yang masih tersisa
- Balut tubuh bayi agar tetap hangat dengan kain bedong
c. Jahit bekas sobekan
Di sisi lain, tiba–tiba aku mulai merasa jika seluruh tubuhku menggigil kedinginan. Semakin kesini, sensasi shacking yang dirasakan begitu kencang. Aku langsung bertanya, ada apa gerangan? Rupanya ruang operasi sengaja di setting dengan temperatur udara yang rendah agar bakteri yang menyebabkan infeksi terhadap tubuh pasien di dalam ruangan tidak dapat berkembang biak selama proses operasi berlangsung.
Tidak hanya itu, aku juga mendengar seperti suara air yang sedang disedot. Ternyata dokter sedang membersihkan air ketuban sembari mengeluarkan darah kotor pasca persalinan.
Sebelum sadar, secara tidak langsung aku bisa menyaksikan dari pantulan kaca ruangan jika petugas medis sedang berkonsentrasi menggunakan alat bedah medis di atas perutku untuk menutup dan menjahit kembali bekas sayatan. Hampir 20 menit berlangsung, rupanya prosedur ini memakan waktu jauh lebih lama jika dibandingkan dengan proses mengeluarkan bayi di dalam rahim ibu.
7. Pindah ke Ruang Inap
Setelah oksigen dilepas dan semuanya beres, aku langsung dipindahkan ke ruang inap, rupanya efek obat bius masih terasa sehingga reaksi tubuhku masih menggigil seperti orang yang sedang kedinginan. Bisa dibilang, pasca operasi aku masih bisa tersenyum dan menceritakan kondisi ruangan bersalin kepada keluarga yang menyambut ku dengan pelukan hangat sambil mengucap syukur berulang – ulang.
Setelah tiba di dalam ruangan, aku merasa tidak sabar bertemu dengan sosok yang selama ini begitu dijaga di dalam kandungan. Untuk pertama kalinya yang ditunggu – tunggu pun datang.
8. IMD
Umumnya, Inisiasi Menyusui Dini kerap dilakukan saat ibu masih berada di dalam ruang operasi. Namun hal itu tampaknya tidak berlaku di RSIA Permata Bunda karena IMD dilakukan saat kami sudah dipindahkan ke ruang inap. Didera rasa panik karena ASI pertama (kolostrum) keluar setetes demi setetes. Berbagai upaya kemudian mulai dikerahkan, pumping, pijat di bagian punggung hingga mengkonsumsi tape, sayur daun katuh, buah kurma dan anggur.
9. Recovery
Ketahanan cairan anastesi yang dimasukkan ke dalam tubuh jelang operasi sesar, konon hanya bertahan selama 3 jam. Setelahnya, reaksi tubuh akan kembali normal, ditandai dengan perasaan nyeri di bagian bekas sayatan hingga sensasi kaki yang terasa kesemutan.
- Hari pertama, proses pemulihan akan terus dipantau oleh petugas medis yang ganti-gantian berjaga dengan mengontrol obat anti nyeri ke dalam cairan infus beberapa jam sekali. Selama 24 jam ke depan, aku hanya diperbolehkan berbaring di tempat tidur termasuk membersihkan tubuh pasca operasi dibantu oleh perawat Rumah Sakit.
- Hari kedua, aku mulai disarankan menggerakkan bagian tubuh tertentu secara perlahan. Mulai dari menegakkan kepala, beralih ke posisi, mencoba duduk miring. Bberapa jam sekali dokter bersama jajaran petugas medis datang berkunjung ke ruangan untuk mengontrol kondisi dan perkembangan ibu dan anak.
- Hingga hari ketiga, perawat bekas operasi masih terus dilakukan, namun selang infus dan kateter urin mulai dilepas. Aku disarankan untuk melatih fisik guna melancarkan sirkulasi darah dengan berjalan perlahan menuju ke kamar mandi.
- Hari keempat, proses administrasi yang harus diselesaikan sebelum diizinkan pulang, seperti kepengurusan Akta Kelahiran anak tak lagi repot- repot ke kantor sipil. Selain diberikan resep obat antibiotik, sebagai ibu baru aku juga dibekali edukasi mengenai perawatan bayi baru lahir, jadwal imunisasi anak serta perawatan bekas sayatan mandiri usai operasi.
10. Kontrol Bekas Operasi
Disuruh balik untuk melakukan pemeriksaan serta membuka plaster di bagian bekas sayatan jika keadaan berangsur membaik, di hari ketujuh perlahan aktivitas mulai berjalan normal seperti biasanya. Pemulihan pasca operasi dibantu dengan mengkonsumsi ikan bakok, serta makanan tinggi nutrisi konon dapat membantu bekas luka sayatan kering lebih cepat.


Comments