Avi kecil dulu tuh gimana?
Percaya gak sih, setiap individu yang terlahir di dunia ini memiliki latar belakang, kebiasaan, maupun tingkah perilaku yang berbeda - beda? Hal itu tampaknya juga terjadi kepadaku.
Pertama, fun-fact aku waktu kecil ternyata suka menyilangkan dua jari telunjuk dan jari tengah.
Hal ini kerap diceritakan berulang-ulang kali oleh ibu, bahkan dari kecil ternyata aku dianggap punya satu kebiasaan yang bisa dibuktikan dari hasil tangkapan kamera Fujifilm ayah dan ibu yang saat itu sangat rajin mendokumentasikan tumbuh kembang anak semata wayangnya.
Kedua, Punya bantal kesayangan yang selalu di bawa - bawa sampai kelas lima SD.
Konon katanya, guling ini selalu di bawa kemana - mana, gak kebayang gemesnya anak kecil ini suka nentengin guling dengan sarung bantal putih yang gak pernah diganti. Bukan dikarenakan jorok sih, lebih tepatnya sarung bantal guling itu memang gak boleh di ganti. Setahuku, kondisi bantal guling kecil itu sudah sangat tidak layak. Bahkan kapas di dalamnya sudah tidak utuh lagi karena terlalu lama digunakan. Ada histrory di belakangnya mengapa bantal guling tersebut cuma tinggal sebelah? Konon katanya, guling yang satunya lagi hilang atau ketinggalan di kapal laut saat sedang menyebrang di Bakauheni hendak pulang kampung.
Ketika ayah memboyong kami sekeluarga pindah menetap di kampung tahun 1998, konon beberapa mainan dan koleksi boneka - boneka lucu ku saat itu sengaja ditinggal dan dibagi - bagikan ke tetangga yang kebetulan teman kecilku. Saat itu, ibu berfikir bantal guling keramat ini bakalan bisa ditinggal juga, taunya aku malah kekeuh dan gulingnya harus ikutan di bawa ke kampung.
Begitupun saat mulai masuk sekolah, bermacam cara dan upaya yang dilakukan oleh ayah dan ibu agar aku gak lagi ketergantungan dengan si bantal mini ini, bahkan sampai di imingi beli mainan lain, nah biasa kan! Kalian juga waktu kecil juga sering di buat begitu? Hehe. Namun mereka gagal dan tidak berhasil. Hingga akhirnya baru benar - benar bisa di paksa untuk membuang guling tersebut saat aku kelas 5 SD, itu pun awalnya aku sangat histeris. Aku masih bisa mengingat dengan jelas beberapa hari setelah kejadian tarik paksa bantal guling kesayangan, aku masih sering merengek - rengek untuk minta dikembalikan, hingga berjalannya waktu aku sudah mulai bisa dan terbiasa tidur tanpa guling kesayangan tersebut bahkan sampai sekarang.
Anyway, ini dia penampakannya si guling buluk bin kucel yang selalu diuyel - uyel kemana - mana :)
Ketiga, Anak ayah bangeeet!
Rata - rata anak perempuan selalu lekat dengan sosok ayah gak sih?Bahkan seringkali menganggap bahwa sosok ayah adalah cinta pertama sampai malas pacaran segala. Hehe
Dari kecil, paras ku 70% lebih dominan mirip dengan ayah. Bahkan aku cuma kebagian turunan warna kulit ibu saja dan hidung minimalisnya. Sisanya, All of me is Dad!
Pernah ada satu kejadian waktu kelas 6 SD, ketika ayah berangkat Haji selama 40 hari ke Tanah Haram, dan dalam kurun waktu tersebut aku tidak bisa bertemu dengannya, and you know what? Selama itu pula aku terus mengalami demam tinggi yang tak berkesudahan hingga beberapa kali bolak-balik ke Dokter Anak.
Melihat kondisi kesehatan yang tidak stabil, Dokter pun menyarankan ibu agar aku di rawat inap di Rumah Sakit. Alhamdulillah nya juga sampai detik ini, aku belum pernah di opname. (Jangan sampe deh!). Ibu bilang saat itu dia cuma bisa pasrah dan berharap ketika ayah pulang aku bisa benar - benar sembuh. Ternyata benar! Begitu pun ketika aku kerap ditinggal ayah pergi keluar kota, pasti ujung – ujungnya demam tinggi lagi. Makanya ibu lebih mengkhawatirkan kondisi ku saat ayah meninggal dunia karena tahu jika anak semata wayangnya ini begitu ketergantungan dengan ayah.
Tadinya, kalian bisa lihat bagaimana pose foto kecil ku kerap mengenakan gaun kembang, di didandani seperti anak perempuan yang gemesin oleh ibu. Namun sejak pindah ke kampung, penampilan dan sifat ku berubah menjadi boyish. Salah satu faktor yang menyebabkan hal itu terjadi dikarenakan oleh aksi Ayah yang seringkali mengenalkan ku bermain dengan alam dan hobi laki-laki pada umumnya seperti memancing ikan di kolam, menangkap ikan di sungai, maupun menembak burung menggunakan senapan angin besar yang di kokang di tengah sawah.
Ayah memang sering bepergian keluar kota untuk urusan bisnis dan bolak-balik Jakarta. Pulang - pulang, ia selalu membawa baju 2-3 koper yang didominasi oleh baju kembaran anak dan ayah. Aku masih bisa mengingat dengan jelas, pada saat itu ada sedikit rasa cemburu yang dirasakan oleh ibu mengingat sosoknya mulai terlupakan sejak kehadiran anak perempuan di dalam kehidupan ayah.
Aku ingat banget, kami punya pajama samaan, jaket hitam samaan, topi sebo samaan, sampai peralatan yang dibuat sama seperti jaring penangkap ikan, pancingan yang selalu ada versi mininya, dll. Begitupun dengan pakaian, ayah lebih sering membelikanku pakaian casual layaknya anak laki - laki yang menggunakan celana pendek di atas lutut, celana cargo yang punya banyak kantong dan di matching - in dengan atasan kaos. Masih pada ingat dengan sepatu merk Carvil gak sih? SPY, dan sejenis sepatu ala - ala Jaka Tingkir. Apalagi waktu itu rambut ku lebih sering dipotong cepak pendek daripada panjang terurai haha.
Ayah juga gemar melakukan olahraga hingga memiliki koleksi raket dengan harga fantastis pada zamannya. Selain gemar menembak menggunakan senapan kokang, ayah juga jago bermain catur, tenis meja, sepak bola hingga bulu tangkis.
Dari kecil, aku terbiasa diajak ke Hall atau sekedar menemani ayah latihan. Bahkan dari usia 3 tahun, aku sudah mulai dibiasakan memegang raket Badminton hingga akhirnya aku mulai mengikuti perlombaan olahraga Bulu Tangkis tingkat sekolahan.
Biasanya, kami selalu meluangkan waktu untuk latihan memukul bola di minggu pagi. Dan tahu apa hal yang paling ku benci? Diberi smash kencang oleh ayah namun aku tidak bisa menangkalnya dengan cepat. Bahkan sudah kompetitif dari kecil.
Kesamaan lain ku dengan ayah adalah kami berdua terlahir menjadi orang - orang kidal dan lebih banyak melakukan aktivitas menggunakan tangan bagian kiri. Seperti halnya menyikat gigi, memasak, pegang raket, sisiran, dan banyak kesamaan lainnya. Namun pengecualian untuk menulis karena dari kecil memang sudah dibiasakan untuk melakukannya di tangan kanan.
Sebenarnya sebuah kebiasaan itu terjadi karena didikan dari kecil. Salah satu hal yang terbiasa aku lakukan adalah cium tangan ayah, ibu, uwak dan angku hingga tumbuh besar seperti sekarang, bahkan saat pamit dan balik berjumpa dengan orang di rumah. Kadang aku juga masih suka mencium pipi mereka. Aku rindu cium pipi ayah. Lihat deh fotonya, LUCU YAAAAH ?



Comments