1 Dekade Purna Paskibra Kota Solok
10 Tahun berlalu, tidak terasa pertemuan ku dengan rekan sejawat Purna Paskibraka Indonesia (PPI) tingkat kota Solok kini tinggal kenangan. Siapa sangka, anak manja yang dicap tidak bisa apa-apa ini memiliki pengalaman ditempa luar biasa selama berlatih di lapangan.
Selama kurang lebih satu bulan, aku merasakan betapa kerasnya latihan fisik yang diterapkan kepada masing-masing peserta sebelum tampil maksimal sebagai Pengibar Bendera di hari peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang setiap tahun digelar pada perayaan 17 Agustus di Kota Solok.
Jika seluruh SMA di kota Solok mengutus siswa baru mengikuti seleksi berdasarkan pilihan senior yang pernah mengikuti pelatihan di lapangan sebelumnya, lain halnya dengan pemilihan calon anggota pasukan pengibar bendera dari sekolah ku, karena langsung dipilih oleh prajurit TNI-AD Kodim 03/09. Dari ratusan siswa lalu terpilih menjadi 10 orang, aku salah satunya. Kemudian, bagi peserta yang sudah dipilih langsung dikirim ke lapangan untuk mengikuti seleksi selanjutnya dan mau tidak mau harus meninggalkan aktivitas belajar mengajar.
Di hari berikutnya, semua peserta diospek sebagai salah satu latihan pengenalan. Mulai dari lari mengitari lapangan sepak bola yang terbilang cukup luas, merangkak, merayap, jalan jongkok hingga guling-guling di atas tanah rerumputan dari ujung ke ujung lapangan.
Merayap serta ambil posisi guling-guling ke arah gawang lainnya |
Aku yang tidak kuat latihan fisik, kerap hampir menyerah namun berjalannya waktu mulai bisa mengikuti ritme pelatihan yang diadakan oleh pelatih. Bahkan pernah ada satu kejadian yang tak luput dari sorotan kamera seorang videografer ketika aku menangis sesegukan tidak kuat ditempa saat menghadapi pelatihan fisik di hari pertama. Dokumentasi tersebut kemudian sengaja ditaruh sebagai hasil video yang sudah disunting, parahnya berbulan-bulan hal tersebut masih menjadi objek lawakan bagi pelatih dan teman-teman lain setiap kali bertemu.
Ditempa di luar ruangan dengan kegiatan baris-berbaris di bawah terik mulai dari pagi hingga sore hari, membuat kulit terutama di bagian wajah menjadi gosong, bau matahari, dan tidak jarang saat pulang ke rumah dalam keadaan penuh lumpur, karena kegiatan merayap hingga guling-guling di lapangan menjadi aktivitas yang tak terelakkan. Cara duduk, cara bersikap, serta arahan yang didapat selama di lapangan, persis seperti peserta militer yang sedang ditempa.
Paskibraka Kota Solok 2007
Tidak terasa saat mendekati peringatan HUT RI ke-62, berbagai persiapan kerap dilakukan. Selain memantapkan diri untuk selalu kompak dan seirama dalam baris-berbaris, berbagai aktivitas lainnya juga harus dipersiapkan. Fitting pakaian, gladi resik, make-up hingga pengukuhan dan tampil di hari-H. Bahkan, latihan yang tadinya hanya di lapangan, justru dilakukan di rumah dinas Walikota Solok hingga bolak-balik menggunakan bus pariwisata.
Pasukan 17
Pasukan 8
Rio Satria Wijaya, SMA N 3 Solok |
Satria, SMA N 3 Solok |
Lidya Handayani, SMA N 1 Solok |
Riani Khairozy, SMA N 2 Solok |
Randa Devita, SMA N 3 Solok |
Fanny Angelia, SMA N 1 Solok |
Roza Dewita, SMA N 1 Solok |
Pasukan 45
Mustika Juwita Rani, SMA N 3 Solok |
Cica Novika, SMA N 3 Solok |
|
Azola D. SMK N 1 Solok |
Dela Ramadiyanti, SMA N 3 Solok |
Ega Novelicia, SMA N 3 Solok |
|
|
|
|
|
Riki Maret Nugraha, SMA N 3 Solok |
Ikhra Abdi Putera, SMA N 1 Solok |
Aldi Andreas Satria Pratama, SMA N 2 Solok |
Setelah menyelesaikan tugas untuk tampil saat penaikan hingga penurunan bendera, kemudian malam harinya diadakan acara pengukuhan hingga aku resmi sebagai Purna Paskibraka Indonesia (PPPI).
Beberapa minggu kemudian, setelah bersusah payah mengikuti pelatihan dari awal hingga selesai, masing-masing peserta diberi reward untuk menikmati penginapan gratis yang difasilitasi gratis oleh Dinas Pendidikan Kota Solok ke salah satu resort selama 1 malam disana.
Calon Paskibra Provinsi Sumatera Barat dan
Paskibraka di Istana Merdeka 2008
Diberi berkat luar biasa memang menjadi hal yang tidak pernah ternilai harganya. Ku jadikan ketidak tahuan ku serta sifat tidak begitu ambisi untuk melakukan sesuatu yang dirasa pada saat itu sebagai pelajaran hidup untuk hari ini.
Andai bisa mengulang waktu,
Andai bisa menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya,
Andai pada saat itu cara berfikir ku jauh selangkah lebih maju atau seperti sekarang,
Andai manusia bisa merubah takdir Tuhan...
Kalimat pengandaian ini memang masih sering muncul sesekali di kepala ketika memikirkan kembali, hal-hal apa yang dulunya sangat mudah diraih namun tidak dipergunakan sebaik mungkin.
Salah satu pelatih yang didatangkan secara langsung dari kantor Gubernur Sumatera Barat mengutus salah satu anggotanya untuk mempersilahkan ku naik ke atas tribune seorang diri dan diminta menghadap langsung beliau di saat rekan yang lain masih berbaris di lapangan. Ada juga beberapa petugas Dinas Pendidikan Kota Solok disana. Aku tidak paham maksud dari mereka yang sengaja mempersilahkan ku langsung menghadap dan diberi akses untuk langsung lolos ke tahap pemilihan sebelum dilakukan seleksi di lapangan.
- Aku diminta untuk mempertunjukkan bagian dahi
- Disuruh kasih unjuk meluruskan bagian tangan, padahal secara tidak langsung mereka telah memberi ku akses satu langkah terlebih dahulu daripada rekan lainnya untuk bisa dibawa ke tingkat provinsi.
- Selain itu, tanpa basa-basi mereka meminta ku untuk melepas behel yang tertempel di gigi ku
- Sengaja meminta nomor hp orang tua untuk menghubungi ayah dan ibu
Aku diminta balik lagi ke lapangan dan bergabung kembali bersama rekan-rekan lainnya yang sudah dari tadi menunggu kapan seleksi akan dimulai. Satu per satu dari puluhan peserta kemudian gugur dan tersisa 10 orang, kemudian dipasangkan menjadi 5 kelompok. Partner ku ternyata berasal dari jurusan dan sekolah yang sama, hingga dijadwalkan untuk mengikuti tes wawancara dan juga wawasan langsung ke kantor Dinas Pendidikan Kota Solok. Mulai dari wawasan seputar kebangsaan, budaya Minangkabau, penguasaan bahasa asing hingga memainkan alat musik atau hobi. Namun sebelum itu, kami di bawa ke salah satu bilik berdasarkan jenis kelamin, layaknya sedang tes fisik seperti masuk angkatan dan diperiksa secara keseluruhan terutama bagian tubuh tanpa sehelai benangpun sambil jalan di tempat.
Usut punya usut, nama ku ternyata masuk ke daftar calon paskibraka nasional yang nantinya akan tampil di Istana Negara-Jakarta 2008, bukan sebagai calon paskibraka tingkat provinsi Sumatera Barat saja. Namun hal tersebut sirna lantaran behel yang sedang digunakan konon katanya tidak bisa dilepas karena belum cukup satu tahun penggunaan.
Dengan berat hati aku
mengubur mimpi besar dan juga harapan orang-orang disekitar. Ada Kepala
Dinas Pendidikan Kota yang saat itu sangat menyayangkan keputusan yang
sekiranya diambil secara terburu-buru, bolak-balik ia meyakinkan ku
untuk menerima tawaran tersebut, karena mereka menaruh harapan lebih
untuk ku bisa maju sebagai perwakilan dari kota Solok dimana hingga
detik ini belum ada yang sampai lolos ke Istana Negara. Ada juga guru
hingga kepala sekolah yang sangat menyayangkan keputusan ku mundur dari
pemilihan ini dengan alasan yang tidak begitu logis dan masuk akal ini.
Purna Paskibra Kota Solok
Tahun 2008
Sebagai gantinya, ini juga menjadi tahun pertama ku sebagai almamater yang sengaja datang ke lapangan untuk mengikuti upacara bukan sebagai peserta pengibaran bendera, namun sebagai senior yang duduk di tribune VIP menyaksikan angkatan selanjutnya tampil sebagai pengibar bendera di hari kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan setiap 17 Agustus. Kali ini, berkesempatan untuk bertemu dengan rekan sejawat tidak lagi dengan muka gosong, buluk dan ceking namun dengan tampilan yang jauh lebih baik.
Tahun 2009
Bisa di bilang, aku tidak pernah absen datang menghadiri upacara bendera yang diadakan setiap tahunnya, sebagai perayaan yang diselenggarakan di lapangan, dan diikuti hampir seluruh perwakilan di kota Solok, sebut saja dari Walikota beserta wakil, Dinas Pendidikan Kota, TNI-POLRI, perwakilan siswa masing-masing SMP dan SMA yang ada di kota Solok, dsb.
Tahun 2010
Ini tahun ketiga dan juga terakhir kalinya aku menghadiri perayaan HUT RI sebagai almamater paskibra dengan menggunakan baju kebanggaan secara berturut-turut untuk menyaksikan langsung pengibaran bendera merah putih yang dilakukan oleh para junior.
Selain aktif menghadiri upacara peringatan setiap tahunnya, sesama alumni juga kerap menyambangi masing-masing sekolah berbeda dan bisa saling akrab dengan almamater lainnya sebagai senior paski.
Bukber
*












































Comments