Hello Djogja!
Documentation : Camera Fujifilm x-A2
Setelah menamatkan perguruan tinggi, bisa dibilang kuantitas pertemuanku dengan sahabat sudah tidak sesering dulu lagi. Alangkah senang rasanya ketika mendapat kabar salah satu dari mereka ingin berkunjung ke Jakarta, apalagi dia bilang ingin diajak bepergian ke luar kota. Tanpa berfikir panjang, aku pun memutuskan untuk mengajak mereka berlibur ke salah satu provinsi yang terkenal dengan budaya dan Candi melegenda yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta.
Setelah reservasi tiket kereta, daripada ribet mengurus itinerary sendiri, akhirnya aku menghubungi salah rekan kerja yang berdomisili di sana. Kebetulan aku bekerja di salah satu perusahaan yang sedang berkembang dan lagi gencar-gencarnya membuka kantor baru di setiap daerah yang ada di seluruh Indonesia. Bahkan perjalanan ku kali ini tidak hanya mengajak rekan di Jogja tapi juga melibatkan salah satu kantor yang berasal dari Surabaya.
Akhirnya aku, Dori dan Ilham berkesempatan bepergian bareng ke luar kota! Tentu saja perjalanan kali ini akan terasa menyenangkan karena bisa menikmati keindahan daerah di pulau jawa saat menggunakan transportasi darat Kereta Api.
Stasiun Lempuyangan menjadi pemberhentian pertama saat kami menginjakkan kaki di Jogjakarta. Malam itu Tethys tidak sendiri, bersama rekannya kemudian ia mengajak kami berkeliling kota di sekitar Jalan Malioboro sebelum menuju ke tempat penginapan.
Usai menaruh barang-barang, kami pun menuju “The House of Raminten”, salah satu tempat kuliner hits yang wajib dikunjungi jika bertandang ke sini. Tawa canda pun di guyur oleh suasana malam khas Jogjakarta sambil diiringi oleh musik mendayu - dayu.
4 Hari di Jogja
Keesokan harinya, kami memutuskan untuk berkeliling kota menuju pasar tradisional Batik yang dikayuh oleh bapak becak hingga berkesempatan menikmati Gudeg khas dari daerah asalnya.
Historical budaya menjadi daya tarik di provinsi ini dikenal karena tidak hanya terdapat bangunan Candi kuno, namun juga pemerintahannya yang menganut sistem kerajaan.
Candi Prambanan di Klaten.
Hutan Pinus Imogiri, Bantul
Setelah puas berwisata budaya dan mengunjungi hutan pinus, tiba - tiba cuaca mendadak hujan. Untungnya kami menemukan pondok yang bisa sekalian berteduh lalu menghabiskan hampir seharian bercengkrama di sana.
Malam harinya, kami menuju tempat kuliner terkenal lainnya yaitu Sate Klathak Pak
Pong di daerah Bantul. Bahkan yang menjadi ciri khas di tempat ini
adalah tusukan sate terbuat dari besi jeruji sepeda.
Mengunjungi candi sudah, ke hutan pinus sudah, kulineran juga sudah!
Sekarang waktunya menghabiskan malam minggu gowes di sepanjang Alun - alun Kidul.
Alun - Alun Kidul, Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta.



Comments