English Department: TV/Radio Broadcasting 2011
Mungkin bagi sebagian orang, masa remaja yang dilalui di bangku sekolah terasa menyenangkan. Namun tidak bagi ku, karena masa peralihan dari remaja menuju dewasa lah yang terasa jauh lebih berwarna apalagi saat memasuki bangku kuliah. Di sana, aku bertemu dengan teman - teman yang satu frekuensi, candaan yang tetap respect satu sama lain, menjaga untuk tetap saling menghargai apa yang disukai atau tidak agar tidak ada yang bawa perasaan; bahkan keintiman pertemanannya yang selalu terasa hangat. Apapun itu, yang pasti setiap orang punya kisah yang bisa dikenang dalam hidupnya dan aku bersyukur pernah dipertemukan dengan mereka yang ku panggil "Geng Maliang Ayam" ini. Dori, Dita, Ilham, Vindo, alm. Inaf, Chintya, Lisa, Soffia dan masih banyak lagi. Selain menjadi teman, mereka sudah seperti sahabat bahkan terasa seperti saudara yang kerap berada di urutan chat teratas karena siapapun seringkali memulai percakapan dengan pembahasan random. Yap! Selain chat personal, masing - masing kita juga masih tergabung di group WhatsApp “Etek – etek pasa”, hmm nama yang aneh. Entah dari mana awalnya bisa tercetus punya ide untuk menamakan group obrolan seperti itu.
Semua cerita ini berawal ketika kami menjadi MABA di Politeknik UNAND tahun 2011.

di Studio ED Gedung C Lt. 2 Politeknik Negeri Padang
MABA
Kebetulan di hari pertama, aku tidak sengaja bertemu Chintya, satu - satunya orang yang ku kenal pada saat itu. Surprisingly kita mengambil jurusan yang sama bahkan tanpa janjian dan komunikasi sebelumnya. Aku mengenal Chintya karena kami berasal dari sekolah dan daerah yang sama. Yap, dia teman main ku dari SMP dan masih satu sekolahan di SMK pula, teman gym, bahkan less di tempat yang sama. Sebagai mahasiswa baru, di awal kami wajib mengikuti serangkaian pelatihan yang diadakan oleh kampus. Tidak hanya dari kami berdua, atau jurusan Bahasa Inggris saja melainkan semua jurusan di angkatan tersebut.
Untuk satu minggu ke depan, kami dijadwalkan untuk mengikuti pelatihan fisik maupun pendidikan dasar kedisiplinan yang dibagi menjadi dua batch, kebetulan aku masuk kepada golongan pertama untuk mengikuti pelatihan di SECATA B Rindam 1 Bukit Barisan - Padang Panjang. Mungkin bagi teman - teman yang dulunya menjadi anggota PASKIBRA tidak akan asing dengan pelatihan dasar seperti latihan semi militer satu ini. Selama di lapangan ini lah mental kami ditempa agar tidak rapuh hehe.
Setiap peserta DIKSARLIN diwajibkan untuk menggunakan seragam lengkap seperti tentara serta menggunakan sepatu PDL. Selama itu pula, kami harus tinggal di asrama dan berbagi tempat tidur tingkat seperti prajurit tentara yang sedang ditempa. Berada jauh dari orangtua, no gadget pula.
Seminggu kemudian usai pelatihan pertama berakhir, kami dipulangkan ke rumah masing - masing dan dijadwalkan kembali untuk datang ke kampus karena masih ada beberapa pelatihan lagi yang wajib untuk diikuti, salah satunya pelatihan agama SQL sebagai kebutuhan rohani.
Ketika semua kegiatan sudah dilakukan, kemudian mahasiswa baru mulai bergabung bersama prodi masing-masing dan akan menjalani masa orientasi. Di sinilah masing - masing kami mulai dipertemukan dengan teman satu jurusan, wajah - wajah yang baru kutemui dan akan bertatap muka untuk tiga tahun ke depan. Siapa sangka akan menjadi akrab hingga sekarang! Dan inilah foto pertama kami saat acara pengenalan dengan senior maupun jurusan Bahasa Inggris.
Tidak butuh waktu lama untuk menjadi akrab satu sama lain, bahkan bisa dibilang hampir setiap hari kami selalu menghabiskan waktu bersama – sama, yah namanya juga masih mahasiswa baru dan di awal kuliah pula! Jadi aktivitas ngampus berlangsung hanya sekedar mata kuliah pengenalan lalu sisanya lebih banyak memiliki waktu luang.
Sesekali jika diberi tugas kampus, kami pun bersemangat untuk mengerjakannya secara bersama – sama dan setelah itu, main deh. Bahkan ketika jam kelas berakhir, para ma-ba ini sepakat untuk menggunakan fasilitas bus kampus menuju kosan Oren (kebetulan itu kosan ku bersama salah satu teman kelas, namanya Vanny) untuk istirahat siang dan kembali ke kampus jika ada kelas tambahan. Jika tidak ada kelas, maka kosan ku menjadi tempat penampungan mereka hingga menjelang magrib bahkan baru ingat untuk pulang ke rumah masing - masing jika sudah diingatkan adzan dan itu terjadi hampir setiap hari.
Kami mengaduk adonan lalu memasak hingga menyantapnya secara bersama - sama. Masaknya sih seharian tapi mungkin untuk menghabiskannya hanya butuh hitungan menit saja.

Tidak ada lagi privacy karena tempat tidur ku bisa diakses siapapun bahkan sembari makan seperti ini.
Selain itu, aku juga memfasilitasi mereka dengan koleksi film ter-update agar bisa nonton bareng seperti layaknya di bioskop. Mungkin laptop ku lebih sering digunakan untuk kegiatan ekstra seperti bermain game on/offline dan nonton daripada menggunakannya untuk kepentingan kampus.
Bersama mereka, tiada hari tanpa canda tawa. Dan tidak akan cukup waktu juga untuk menceritakan segala aib dan hal - hal lucu lainnya yang terjadi setiap hari selama tiga tahun bersama. Bahkan sampai sekarang pun, bertemu dengan mereka selalu menjadi pelipur lara, dimana segala rasa resah bisa hilang seketika ketika sudah bersama- sama. Di setiap percakapan, lawakan, dan celaan yang keluar selalu mengalir begitu saja dari mulut mereka, baik disengaja maupun tidak. Hal yang seperti ini selalu menjadi suasana yang selalu dirindukan kala mengingat segala hal tentang mereka.
Praktik di Studio PenyiaranDan di semester tiga inilah, kami dihadapkan dengan pilihan, yaitu memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat masing - masing. Pilihannya adalah Televisi and/or Radio Broadcasting, atau Translation.
Kalian tidak perlu bertanya lagi jurusan apa yang harus ku pilih karena sudah pasti melanjutkan pendidikan ku sebelumnya di kampus ini yaitu jurusan Broadcasting.
Ruang Siaran Radio 107.9 Politeknik FM
Dan di kelas ini pula kami dipertemukan dengan salah satu dosen @dkalamsyah, yang sangat sangat support mahasiswanya dari berbagai sisi. Beliau benar - benar membantu kami dalam hal pengembangkan diri untuk mencaritahu minat dan bakat yang terpendam, bukan sekedar memberikan motivasi saja atau sekedar bilang “Ayok,ayok bikin film!” tapi tidak terealisasikan. Dengan beliau, ide apapun yang tercetus bahkan dari sebuah lawakan dan banyolan sampah begitu saja, saat itu bisa dijadikan sebuah project keren yang akhirnya terealisasikan.
Syuting
Tidak tanggung-tanggung, Pak Apik juga memfasilitasi segala kebutuhan syuting hingga segala hal yang berhubungan dengan proses pembuatan film dari awal sampai akhir. Mulai dari kamera, lensa, kendaraan bahkan budget dan yang paling penting adalah beliau mau meluangkan banyak waktunya secara sukarela walaupun kami tahu ia adalah orang yang punya sejuta kesibukan di luar sana.
Konten YouTube
Syuting bersama Komunitas Minang Dance Crew, Kota Padang
Syuting Pembuatan Songket Tradisional Koto Gadang, di Bukittinggi
Film Dokumenter
Suatu hari, Inaf tiba – tiba memanggil @sriresti dengan sebutan "Mak Jubay" secara random hanya karena sering melewati plang nama di kawasan kampus UNAND.
Punya Dosen imajiner, terbukti ditangannya berangkat dari sebuah celetukan berujung menjadi materi bahan kuliah yang dibahas serius di kelas hingga sebuah karya di kelas praktik di semester 3. Untuk beberapa minggu ke depan, kami pun disibukkan dengan produksi pembuatan film dokumenter yang berjudul “Hikayat Mak Jubay”.
Aku di beri peran penting dalam pengambilan gambar selama proses produksi yang biasa disebut DOP (Director of Photography).
Selama shooting berlangsung sejujurnya aku lupa ada di scene berapa, namun ternyata mereka berhasil berfoto bersama Mak Jubay yang asli, begini penampakannya :
Jika ingin menyaksikan seperti apa serunya proses pembuatan film kalian bisa akses link berikut ini BTS Crew after shooting HMJ
Dan ini karya Film Dokumenter lainnya, walaupun aku tidak terlibat dalam proses pembuatan Film tersebut karena jika tidak salah karya ini di produksi saat aku bersama dua rekan lainnya yaitu Olivia dan Soffia sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di televisi Nasional Jakarta.
Menginap di rumah Dosen
Do you remember guys? Kita pernah menginap semalaman di rumah Mr. Apik dan setelahnya, hal ini menjadi bahan perbincangan dosen - dosen di jurusan. Malam itu, setelah aktivitas bakar - bakar ikan dan bernyanyi bersama diiringi petikan gitar yang kemudian dimainkan oleh Vindo, tercetuslah ide lain untuk memberi kejutan ulang tahun kepada alm. Inaf dengan cara memaksanya untuk menyelesaikan naskah film Dokumenter HMJ yang tengah di garap. Namun kejadian yang tidak pernah di duga – duga muncul, Inaf mengalami kesurupan, and you knew the night was scary, right? OMG!
Random
Dan inilah beberapa hal memalukan dan hal un-faedah yang sempat diabadikan di henpon jadul.
Dan hal seru lainnya adalah perayaan ulang tahun yang selalu berujung dengan
Perayaan ulang tahun
Hingga lama kelamaan, ucapan ulang tahun pun became a limited text only

ucapan ultah dari Dosen
Bahkan setelah di pisahkan oleh jarak, the other stupidest situations occur frequently. Idk why?
Vacation
Kegemaran lainnya adalah mengunjungi tempat - tempat baru, dan perjalanan ini membuat destinasi tersebut menjadi bagian dari trip keluar kota kita yang luar biasa. Lihatlah!
Kita juga pernah menyebrangi pulau menggunakan perahu menuju Pantai Carocok, Painan. Yonder!
Selama di tengah pulau bahkan yang kami lakukan nyaris seperti yang dilakukan bocah. Di sana, kami bermain dan menulis nama, built sand castles on the beach hingga mengubur teman di dalam pasir.
Dan yang paling menantang adrenalin adalah kami berkesempatan untuk menaiki banana boat. Untuk pertama kalinya aku berkesempatan menaiki wahana air . Awalnya terasa tidak ada yang menakutkan, namun saat tiba di tengah laut, guide yang menjalankan boat tersebut sengaja menjatuhkan kami yang beranggotakan delapan orang ini hingga tercebur masuk ke dalam air laut. Untungnya kami menggunakan pelampung jadi tidak perlu ada hal yang dikhawatirkan.
Ada sedikit insiden ketika boat tersebut digulingkan dimana salah seorang dari kami tidak sengaja menendang hidung Dita hingga mengeluarkan darah. Aku langsung menghampirinya yang saat itu berada persis dihadapanku. Kaget bukan kepalang melihat darah bercucuran di hidungnya. Dita pun langsung histeris usai mengetahui hal tersebut, dan tiba – tiba mendadak nyeplos bilang hidungnya bergeser. Ya tuhan, ada - ada saja!
Dari yang tadinya prihatin justru semua ikutan tertawa. Siapa yang gak parno duluan saat mendengar celetukannya? Setelah tragedi itu aku ingat betul lagi booming banget lagu "Pengamen jalanan - Aku yang dulu". Nah, jadilah sebuah lawakan baru di kelas yang di create Ilham, bahkan setiap kali ketemu Dita, ia reflek bernyanyi :
"Hidungku dulu ... bukanlah yang sekarang...
Dulu berbatang sekarang agak tempang".
Bahkan saat aku sedang mengetik lirik lagu ini langsung reflek menyanyikannya dalam hati karena selalu terngiang - ngiang kejenakaan mereka saat sedang menciptakan kata – kata nyeleneh yang selalu dibuat dengan cara spontan ini, uhuy!
Hunting Sunset di Pantai Malin Kundang.
Foto ini mendeskripsikan tentang timbangan mereka yang dulu masih berat di sebelah kiri (exception me) dan masih "aluih co lidi lidian". Tapi aku tidak punya foto before - after mereka sebagai bahan pertimbangan karena sekarang semuanya membuai seiring bertambahnya dosa hehe.
Bermain sepeda di Taplau
Jika mahasiswa menggunakan seragam atasan putih dan bawahan hitam, itu artinya mereka tengah melakukan examination. Yaps! setelah UAS berakhir, kami merayakannya dengan bermain sepeda di pinggir pantai Kota Padang yang biasanya disebut Taplau”.















Comments