Gegara Dian Pelangi, hijab jadi menclang-menclong
TREN HIJAB
Membawa tren sejak 2009, nama Dian Pelangi sukses menjadi kiblat fashion hijab Indonesia pertama dengan mengusung mode penggunaan penutup kepala dengan corak warna yang full color. Setelah itu, muncul yang namanya Komunitas Hijab dari berbagai kalangan, tanpa kecuali selebriti yang ikut serta. Tren yang masuk begitu cepat, kemudian cara penggunaan turban hingga pashmina yang diakali dengan berbagai cara turut diikuti oleh muslimah pada masanya, hingga tabrak warna menjadi tren yang bisa dipraktekan oleh siapapun tanpa mempedulikan atau menyesuaikan dengan warna kulit hingga bentukan wajah.
Penggunaan hijab Dian Pelangi
Saat itu, untuk ukuran anak kuliah yang notabene masih diberi uang jajan oleh orangtua bahkan aku rela menggelontorkan uang yang tak sedikit hanya untuk membeli pashmina asli lengkap dengan tanda tangan Dian Pelangi yang dibandrol seharga Rp150 ribu.
Lalu, Hana Tajima menjadi kiblat hijab selanjutnya yang sukses mendunia dan masuk ke Indonesia. Bahkan nama-nama lain seperti Iymel, Ria Miranda dan lainnya menjadi trensetter yang turut merambah bisnis hijab dan pakaian muslimah hingga menggunakan nama besar tersebut menjadi ladang cuan.
Selain penggunaan hijab dililit dan berlapis-lapis, bahkan dengan tampilan yang sudah dibikin ribet dan full motif, belum afdol rasanya jika tidak menambahkan aksesoris besar yang wajib disematkan di sisi kepala.
Inner yang semula ditaruh di dalam kerudung wanita turut beralih fungsi menjadi pelengkap tampilan ekstra saat berhijab, tanpa kecuali pada penggunaan jilbab segi empat.
Tren pun berlalu, kini orang-orang semakin memilih berpenampilan kerudung simpel.
Jika dilihat-lihat lagi, pada masanya kok bisa sih kepikiran bergaya model seperti ini dan itu dianggap keren banget? Maksudnya selagi ada cara simpel penggunaan hijab, kenapa harus dibikin ribet gitu lho. Karena satu hal, tidak semua orang cocok bergaya seperti ini, termasuk aku pastinya.







Comments